.: Column :.
16 Feb : Kelaparan
25 Mei : Motivasi
.: Column :.
 < 1 2 3 4 >  Last ›
10 September 2020

TABLOIDSINARTANI.COM - Penulis perlu mengemukakan sejak awal bahwa apa yang disampaikan di sini bukan merupakan upaya memarginalisasi bangsa sendiri dan kemudian mengagungkan bangsa Malaysia. Isi tulisan ini sebatas merupakan analisis dari data yang tersedia dan kemudian kita mencoba mengambil pembelajaran daripadanya dengan hati yang lapang dan berpikiran terbuka. Apabila dalam buku Kano (https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/agri-tokoh/14196-Kemerdekaan-bagi-Petani-Kemerdekaan-bagi-Kita-Semua-5-Tantangan-Kano) kita mendapatkan Tantangan Kano, yaitu belum tampak adanya jalan baru yang merupakan kepeloporan Indonesia untuk membangun masa depan yang lebih baik, maka untuk kasus Malaysia kita menemukan penemuan Headrick yang penting untuk pembelajaran bagi Indonesia dalam rangka mencari jalan baru tersebut. Headrick dengan tegas menyatakan bahwa “The case of natural rubber in Malaysia gives us a clue to understanding the economic impact of technological change on different parts of the world. The decisive factor is not chemistry versus botany, or the temperate zone versus the tropics. Rather, it is research”. (Daniel Headrick, “Botany, Chemistry, and Tropical Development,” Journal of World History 7, no. 1 (Spring 1996): 1–20).

10 September 2020

TABLOIDSINARTANI.COM - Pada tahun 1970-an luas perkebuan kelapa sawit Indonesia belum mencapai 200 ribu hektar. Sedangkan Malaysia sudah terlebih dahulu menggenjot peningkatan skala luas areal perkebunan kelapa sawit ini. Secara global memang kelapa sawit pada saat itu memperlihatkan prospek yang tinggi. Dari catatan yang ada harga riil minyak sawit ketika itu masih berada di atas USD 1000 per ton. Mulai pada tahun 1980-an Indonesia mengikuti jejak Malaysia, memacu pengembangan perkebunan kelapa sawit di luar daerah tradisional pengembangan kelapa sawit seperti Sumatera Utara. BUMN Perkebunan mengembangkan sayapnya dengan menerapkan pola PIR di pelbagai daerah seperti di Riau, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Dengan melihat kesuksesan BUMN dalam mengembangkan perkebunan kelapa sawit di luar Sumatera Utara maka perkebunan swasta nasional pun kemudian berkembang pesat di bawah bendera kebijakan PBSN (Perkebunan Besar Swasta Nasional).

10 September 2020

TABLOIDSINARTANI.COM - Dengan jumlah utang luar negeri kita sekitar USD 400.2 milyar sekarang ini dan akan menjadi dua kali lipatnya pada tahun-tahun menjelang 2045, apabila diasumsikan beban bunga yang dikenakan sekitar 3-4 persen per tahun, bunga berbunga dan pembayaran sekaligus. Telah diuraikan pada bagian sebelumnya dalam seri artikel KEMERDEKAAN BAGI PETANI KEMERDEKAAN BAGI KITA SEMUA No. 10-11, bahwa tanpa adanya “revolusi industri Indonesia”, kemungkinan besar utang luar negeri yang jumlahnya besar tersebut tidak dapat dikembalikan tepat pada waktunya.

10 September 2020

TABLOIDSINARTANI.COM - Pada artikel ke-10 ( https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/agri-tokoh/14259-Kemerdekaan-bagi-Petani-Kemerdekaan-bagi-Kita-Semua-10) dalam seri artikel KEMERDEKAAN BAGI PETANI KEMERDEKAAN BAGI KITA SEMUA telah disampaikan bahwa nilai hutang luar negeri kita pada posisi April 2020 secara total telah mencapai jumlah USD 400.2 milyar.

10 September 2020

TABLOIDSINARTANI.COM - Pada artikel ke-9 telah disampaikan hubungan antara lama periode pembayaran utang, bunga dan beban utang menjadi dua kali lipat utang awal apabila formula bunga berbunga dan pembayaran sekaligus dilakukan. Apabila formula ini diterapkan pada jumlah riil utang luar negri Indonesia kita akan mendapatkan gambaran sebagai berikut.

 < 1 2 3 4 >  Last ›