.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Keynote
Pemikiran Tentang Pendidikan Perkebunan Indonesia
01 Maret 2010

PEMIKIRAN TENTANG PENDIDIKAN PERKEBUNAN INDONESIA1

Oleh :
DR. Ir. Agus Pakpahan, APU
Direktur Jenderal Bina Produksi Perkebunan

 

I. PENDAHULUAN

Yang terhormat:
Sdr. Rektor beserta segenap Civitas Academica INSTIPER,
Sdr. Pengurus Yayasan Pendidikan Hader Perkebunan (YPKP),
Saudara Dosen dan Pegawai INSTIPER
Saudara Pengurus Organisasi Kemahasiswaan,
serta Para Undangan yang saya muliakan
Assalamu'alaikum Warahmatullahiwabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,


Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia, rahmat, hidayah dan inayahNya kepada kita semua sehingga dapat menghadiri acara peringatan Dies Natalis Institut Pertanian STIPER (INSTIPER) yang ke-43, 10 Desember 2001. Pada kesempatan yang berbahagia ini perkenankan pula saya menyampaikan selamat menjalankan ibadah puasa bagi Bapak, Ibu dan Saudara sekalian yang sedang menjalankannya. Semoga ibadah puasa kita semua diterima oleh Allah SWT.

Atas nama pribadi dan institusi Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan saya mengucapkan selamat kepada INSTIPER, YPKP dan seluruh jajaran yang telah memberikan sumbangannya terhadap bindang pendidikan, khususnya pendidikan perkebunan selama ini. Perkenankan pula saya menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan INSTIPER kepada saya untuk menyampaikan pidato dalam acara yang sangat penting.

Hadirin dan Undangan yang saya hormati,

Saya akan mencoba menyampaikan pemikiran tentang pendidikan perkebunan Indonesia, dengan segala keterbatasan yang ada pada saya. Pidato ini akan saya awali dengan menyampaikan pemikiran mengenai pentingnya pendidikan bagi kehidupan manusia.

II. KEHIDUPAN MANUSIA DAN PENDIDIKAN
 
Saudara-saudara yang berbahagia,

Ada pepatah yang mengatakan bahwa kehidupan ini adalah ibarat sekolah, tetapi sekolah yang tidak ada bukunya. Buku itu harus kita tulis sendiri. Pendidikan adalah proses menulis buku itu, yaitu buku kehidupan kita, kehidupan masyarakat dengan segala atribut, karakter dan dinamikanya. Dengan menggunakan cara pandang ini maka kita akan memahami bahwa keberadaan pendidikan adalah sama tuanya dengan keberadaan umat manusia itu sendiri.

Untuk memahami perkembangan pendidikan, kita dapat mengambil refleksi dari perkembangan peradaban manusia. Pada era neolitik, manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara berburu, mengail dan memungut hasil hutan. Kemudian tiba era pertanian menetap, dimana manusia memasukkan teknologi budidaya, beternak, mengolah makanan, membuat rumah dan sebagainya sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada saat ini kita memasuki abad informasi yang mampu menghapus jarak dan batas-batas negara, dan membuat dunia menjadi menyatu.

Apa yang menyebabkan kemajuan peradaban manusia sehingga ia tidak mengalami kepunahan seperti halnya berbagai jenis tanaman dan hewan ? Bahkan kita menyaksikan penduduk dunia terus bertambah sejalan dengan perkembangan waktu. Hal yang paling penting yang dapat menjelaskan fenomena itu adalah telah terjadinya revolusi noogenetic, yaitu telah terjadi revolusi dalam replikasi informasi dan pengetahuan. Replikasi informasi dan pengetahuan ini telah meningkatkan kemampuan umat manusia bukan hanya beradaptasi dengan alam bahkan menciptakan "dunia baru" yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.

Namun demikian kita masih harus bertanya pula mengapa ada bangsa yang tadinya maju sekarang menjadi bangsa yang tertinggal, sebaliknya ada juga bangsa yang tadinya tertinggal sekarang menjadi bangsa yang maju. Dua kelompok lainnya adalah bangsa yang tadinya tertinggal sekarang masih tertinggal, dan yang tadinya maju juga sekarang masih menjadi bangsa yang maju.

Pada kesempatan ini saya mengajukan hipotesis bahwa kemajuan suatu bangsa erat kaitannya dengan kemajuan dunia pendidikan dalam anti yang seluas-luasnya. Hal ini dapat dibuktikan oleh bangsa-bangsa yang dewasa ini tergolong sebagai bangsa yang maju. Kemajuan mereka dimulai dengan adanya "revolusi" di bidang pendidikan. Renaissance di Eropa yang dimulai pada abad ke 14 di Italia, yang dicirikan oleh berkembangnya kesenian, literature dan ilmu pengetahuan, dan Restorasi Meiji di Jepang, merupakan gambaran bagaimana pentingnya pendidikan terhadap perkembangan kehidupan manusia. Bangsa Eropa "menulisnya" dengan renaissance dan bangsa Jepang "menulisnya" dengan Restorasi

Kontribusi utama dari pendidikan adalah membuat manusia sebagai manusia. Yang dimaksud "manusia sebagai manusia" adalah sebagai totalitas manusia dengan segala hak, kewajiban, posisi, relasi, fungsi dan status sebagai manusia. Artinya adalah bahwa pendidikan membuat kita mampu mengenali diri kita sendiri sebagai manusia yang sama seperti manusia lainnya dan pada saat yang bersamaan juga memahami keunikan diri kita sendiri. Hal inilah menurut saya yang paling utama manfaat dan pendidikan.

Berikutnya adalah membuat manusia sebagai capital, sehingga kita menamakannya sebagai human capital. Dengan pendidikan kita membuat kapitalisasi manusia dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam menghasilkan manfaat bagi orang lain dan bagi dirinya. Investasi dalam bidang pendidikan adalah investasi dalam human capital dimana inyestasi inilah yang membuat ekonomi masyarakat berkembang atau tidak. Kemajuan suatu bangsa dicirikan oleh tingginya komponen human capital dalam perekonomiannya.

Kedua hal diatas menghasilkan resultante "what people can do or can be" dari suatu masyarakat atau suatu bangsa. Suatu bangsa yang tadinya tertinggal kemudian sekarang menjadi bangsa yang maju, pasti bangsa tersebut telah berhasil meningkatkan "what people can do or can be"-nya melampaui bangsa-bangsa lain yang ia susul.

Demikianlah secara ringkas kita dapat memahami bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan, kesejahteraan dan kemandirian suatu masyarakat atau bangsa-bangsa.

III. PERKEBUNAN DAN RE-KREASI KESEJAHTERAAN

Salah satu ukuran kemajuan suatu bangsa adalah tingkat kesejahteraannya. Banyak parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat, di antarannya adalah pendapatan per kapita dan proporsi pengeluaran rumah tangga untuk pangan. Untuk ukuran yang terakhir ini, makin tinggi proporsi pengeluaran rumah tangga untuk pangan maka makin rendah tingkat kesejahteraan rumah tangga tersebut.

Pada tahun 1820 diperoleh gambaran pendapatan per kapita (dalam 1990 international dollars) bangsa-bangsa tropis dan subtropis (temperate) masing-masing adalah US $ 543 clan US $ 794. Dengan demikian, kesenjangannya hanyalah US $ 251. Adapun gambaran pada tahun 1992 adalah pendapatan per kapita bangsa¬bangsa tropis naik menjadi US $ 2.556 dan untuk bangsa-bangsa temperate menjadi US $ 10.095.2 Dengan demikian kesenjangannya menjadi USS 7.539, atau dalam waktu 172 tahun kesenjangan itu berkembang menjadi 30 kali dibanding tahun 1820.

Sachs (2001) juga menunjukkan bahwa negara-negara tropis sangat tertinggal di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini diperlihatkan oleh paten yang dikeluarkan pada tahun 1995, yaitu hanya 1.880 paten diterima oleh negara-negara tropis dibanding 101.330 paten diterima oleh negara-negara temperate. Hal ini menggambarkan bahwa kemampuan human capital, yang pada akhirnya tercermin pada ekonomi suatu bangsa, bangsa-bangsa tropis sangatlah tertinggal.

Perkembangan perekonomian bangsa-bangsa Eropa banyak berkaitan dengan perkembangan perkebunan di Asia dan Afrika, khususnya kawasan tropis di wilayah ini. Sebagai ilustrasi, pada tahun 1920, kontribusi nilai ekspor gula tebu mencapai 70,2% dari nilai ekspor total pulau Jawa atau 46,8% dari nilai ekspor total Hindia Belanda yang pada waktu itu mencapai 2,3 milyar gulden. Sehingga pada masa itu kita mengenal istilah : "De suikerindustrie is de kurk waarop Nederlandsch Indie drijft" (Industri Gula adalah gabus tempat Hindia Belanda mengapung).

Kopi, teh, kelapa sawit, tembakau, kina, karet, kakao, dan berbagai jenis tanaman perkebunan lainnya dikembangkan di Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda. Perlu ditegaskan bahwa human capital yang melandasi pengembangan perkebunan besar di Indonesia pada masa itu adalah orang-orang Belanda atau orang Eropa lainnya. Komoditas tersebut berkembang iuga sebagai perkebunan rakyat tetapi kualitas kebunnya jauh di bawah perkebunan besar.

Nasionalisasi perkebunan besar milik perusahaan asing pada tahun 1957 menyebabkan disintegrasi asset perusahaan, yaitu kebun secara fisik karena sifatnya yang immobile tetap berada di tempat, sedangkan human capital kelas manajemen, kembali ke Eropa atau pergi ke tempat lain.

Dalam perkembangan selanjutnya kita menyaksikan bahwa secara kuantitatif, khususnya luas areal perkebunan, mengalami perkembangan yang signifikan. Tetapi secara kualitatif, perkebunan setelah. 43 tahun nasionalisasi tidak banyak beranjak, bahkan beberapa di antaranya, khususnya gula, mengalami kemunduran .

Apakah perkebunan masih dapat menjadi andalan sebagai sumber kesejahteraan sebagaimana telah dinikmati oleh bangsa-bangsa Eropa di masa lalu ? Hal ini sangat tergantung dari kita semua, yaitu apakah kita mampu mengisi zaman baru yang sama sekali berbeda dengan zaman abad 18 atau 19 yang lalu. Semua tergantung kreativitas masyarakat, yaitu kemampuan re-kreasi atau mencipta-ulang hal-hal yang diperlukan untuk mampu mengarungi abad-abad mendatang, bukan mendaur-ulang pemikiran yang sudah usang.

Perlu dipahami bahwa dasar ekonomi global yang melandasi pengembangan perkebunan besar adalah ruh kapitalisme yang diterapkan melalui kolonialisme. Hal tersebut secara prinsip sudah berlalu. Zaman global baru telah muncul dan berkembang yaitu terjadinya dunia yang makin menyatu sebagai akibat revolusi  dalam informasi, komunikasi, dan transportasi. Sistem keuangan dunia pun sudah demikian berbeda dengan yang ada pada zaman "normal" dulu. Demikian pun halnya dengan pasar, produk yang dipasarkan dan system pemasarannya. Rifkin (2000) menamakan zaman itu dengan istilah hypercapitalism.3 Dalam zaman ini, kepemilikan menjadi hal yang bukan utama sebagaimana dalam kapitalisme, tetapi akseslah yang menentukan gerak laju perkembangan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

Atas dasar pemikiran ini, maka daya re-kreasi kesejahteraan dari perkebunan ditentukan oleh akses tersebut dimana akses ini merupakan produk dari knowledge dan jaringan (networks). Sejalan dengan pemikiran terdahulu, kembali kita dapat menyimpulkan bahwa daya re-kreasi perkebunan bagi kesejahteraan tergantung pada human capital. Tetapi sekarang human capital saja tidak cukup, perlu ditambah dengan networks. Pemahaman ini membawa kita pada pengertian bahwa kemampuan indiyidual yang tinggi saja tidak cukup, tetapi yang diperlukan adalah kemampuan individu yang tinggi plus kemampuan membangun dan bekerja secara networking.

IV. PENDIDIKAN PERKEBUNAN

Saudara-saudara yang saya hormati,

Pertanyaan sederhana tetapi mendasar yang harus kita jawab dengan baik adalah apakah untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya, berkelanjutan dan berkeadilan dari perkebunan ini diperlukan suatu institusi pendidikan yang tersendiri? Ataukah sudah cukup disediakan di Fakultas Pertanian atau lembaga pendidikan sejenisnya ?

Jawaban atas pertanyaan tersebut tergantung kemana kita akan menuju dan sumber daya apa yang kita miliki. Kemana kita akan menuju jelas kita ingin memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari perkebunan ini. Yang dimaksud manfaat itu termasuk di dalamnya prospek manfaat yang dapat dicapai apabila kita menyiapkan infrastruktur untuk membangun human capital yang memadai untuk kehidupan masa-masa mendatang. Hal tersebut harus kita bangun dalam konteks persaingan global. Sebagai contoh, prospek yang sangat besar dari kelapa sawit untuk masa mendatang adalah sumbangannya terhadap energi (misalnya, biodiesel) dan industri kimia baik untuk kebutuhan pangan maupun non-pangan. Ilmu pengetahuan dan teknologi akan terus menguak rahasia alam perkebunan sehingga potensi manfaatnya itu akan terus berkembang. Kita harus menyiapkan diri untuk mampu menangkap data merealisir potensi tersebut pada waktu-waktu mendatang.

Salah satu karakter perkebunan adalah spesialisasi industri. Perkebunan harus dipandang sebagai industri yang berbasis pada sumber daya biologis. Ini sudah lama berlaku. Perbedaannya sekarang kita masuk kedalam era bioteknologi yang semakin canggih, era informasi dan transportasi yang semakin cepat. Pasar juga berubah cepat. Harga yang bersaing bukan lagi satu-satunya parameter yang menentukan. Selain kualitas produk, juga time delivery, supply yang kontinu serta eksklusifitas produk di mata konsumen. Bahkan hak asasi manusia dan persyaratan lingkungan hidup sudah menjadi persyaratan umum di pasar internasional. Dengan demikian, membangun perkebunan tidak lagi semata-mata membangun kebun seperti dahulu, tetapi membangun sistem dan usaha agribisnis yang sanggup memiliki karakter penghasil produk dan jasa sebagaimana diuraikan di atas.

Untuk dapat menghasilkan karakter sistem dan usaha agribisnis di atas diperlukan human capital dan networks yang memadai. Artinya adalah bahwa sistem dan usaha agribisnis yang terwujud akan sangat tergantung pada sistem pendidikan perkebunan yang tersedia. Sistem pendidikan perkebunan harus mampu menghasilkan tenaga terdidik yang memiliki sikap, sifat dan kemampuan teknis yang memenuhi persyaratan era hypercapitalism sebagaimana telah diuraikan.

Saya berpandangan bahwa sistem pendidikan perkebunan yang ada dewasa ini belum memenuhi kriteria tersebut. Kita mengetahui bahwa makin tinggi ilmu yang diharapkan dapat dikuasai, makin tinggi tuntutan spesialisasinya. Mengingat perkebunan sebagaimana dimaksud di atas adalah suatu spesialisasi maka pendidikan perkebunan juga memerlukan derajat spesialisasi yang mendalam dan lengkap. Apabila kita bicara mengenai kelapa sawit misalnya, maka kita harus bicara mulai dari pembibitan hingga pengolahan konsumen dan penanganan lingkungan hidup. Hal ini diperlukan    apabila    kita ingin menguasai perkelapa-sawitan sedalam-dalamnya dengan berbagai disiplin keilmuan, sehingga kita memiliki daya saing yang tinggi. Demikian pun halnya untuk agribisnis tanaman perkebunan lainnya.

Apa gunanya kita mengalokasikan sumberdaya untuk mendalami hal tersebut ? Jawabnya adalah sangat sederhana yaitu bahwa perekonomian nasional akan sangat tergantung pada perkembangan kemajuan agribisnis. Perkebunan adalah sistem agribisnis dan usaha agribisnis yang relatif memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian rakyat dan perekonomian nasional secara keseluruhan4. Ketertinggalan dari negara-negara lain di bidang ini sebagian besar disebabkan oleh rendahnya human capital sehingga kurang memadai untuk memenuhi kebutuhan zaman yang terus berkembang.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa diperlukan adanya institusi khusus yang menangani pendidikan perkebunan, untuk mengejar ketertinggalan dan negara-negara lain dan untuk menyiapkan human capital perkebunan yang memiliki sikap, sifat dan keahlian serta pengetahuannya sesuai dengan tuntutan zaman baru.

Sumberdaya apa yang kita miliki untuk mewujudkan institusi tersebut ?

Terlebih dahulu ingin ditegaskan bahwa prinsip yang harus dikembangkan adalah prinsip networks. Dengan networks sebagai landasan, bukan hanya biaya akan berkurang, karena dengan sendirinya akan berpola sharing, tetapi juga pendidikan perkebunan dapat dijadikan sebagai inspirasi, simpul dan jembatan untuk memperkokoh perekonomian nasional dan persatuan bangsa sekaligus. Networks juga terlepas dari hirarki dan partisi balk kekuasaan, wilayah maupun sektor. Dengan networks pendidikan perkebunan secara nasional, maka Indonesia dengan sendirinya menjadi satu kesatuan.

Faham networks juga menjadi suatu hal yang sangat penting untuk mampu memasuki zaman global sebagaimana sudah diuraikan. Perlu diingat bahwa kita sebagai bangsa juga berhadapan dengan network global. Artinya adalah tanpa kita mampu membangun networks nasional yang kuat, adaptif dan inovatif, maka kita hanya akan menjadi bagian "pinggiran" dari sistem yang diciptakan pihak lain.

Dewasa ini kita telah memiliki lembaga pendidikan dan penelitian perkebunan. Dalam lingkup perkebunan ini sekarang kita memiliki enam pusat penelitian, yaitu: (1) Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Medan, (2) Pusat Penelitian Karet di Sungai Putih, Sumatera Utara; (3) Pusat Penelitian Teh dan Kina di Bandung, (4) Pusat Penelitian Perkebunan di Bogor, Jawa Barat; (5) Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember, dan (6) Pusat Penelitian Gula Indonesia di Pasuruan, Jawa Timur. Adapun Lembaga Pendidikan Perkebunan di Yogyakarta dengan dua kampusnya, yaitu di Medan dan Yogyakarta; serta Instiper sendiri yang juga berkedudukan di Yogyakarta.

Pusat-pusat penelitian perkebunan di atas selain memiliki asset peneliti dengan kualifikasi S-3, S-2 dan S-1 yang relatif memadai juga didukung oleh fasilitas penelitian baik berupa laboratorium dan lapang percobaan yang memadai pula. Demikian pun halnya dengan lembaga pendidikan perkebunan memiliki tenaga dan sarana yang relatif mencukupi.

Perlu dicatat bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tergantung dari interaksi antara riset pendidikan Ketiganya saling mempengaruhi, dan kelemahan salah satu dari ketiga unsur tersebut akan menyebabkan lemahannya seluruh sistem. Keberadaan dunia usaha merupakan sumber energi maju-tidaknya sistem ilmu pengetahuan dan teknologi. Dunia usaha perkebunan yang tidak kondusif terhadap berkembangnya iklim ilmu pengetahuan dan teknologi juga akan menghambat berkembangnya kemajuan sistem itu. Selanjutnya, dalam sistem yang dinamis, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga ditentukan oleh adanya "new blood" yang masuk kedalam sistem, yaitu mahasiswa. Mahasiswa adalah darah baru dari suatu sistem ilmu pengetahuan dan teknologi, serta dunia usaha perkebunan. Elemen inilah yang hampir tidak ada dalam sistem ilmu pengetahuan dan teknologi perkebunan dewasa ini

Sesuai dengan kerangka pemikiran di atas, yang kita perlukan sekarang adalah membangun jaringan (network) antar lembaga-lembaga tersebut agar teriadi sinergis antara pendidikan, riset, dan pengembangan. Dalam istilah pengembangan ini sudah termasuk elemen bisnis yang dilandasi oleh suatu hasil penemuan atau inovasi. Jadi, istilahnya sudah tidak R&D lagi tetapi menjadi Research, Education and Development (RED).

Saya menamakan seluruh sistem di atas: Institut Perkebunan Indonesia (IPI). Institut ini dibangun atas dasar kerangka networking dengan fokus pendalaman komoditas perkebunan utama mulai dari hulu hingga hilir sesuai dengan kerangka sistem agribisnis. Untuk daerah-daerah yang memiliki areal perkebunan yang cukup luas tetapi belum tersedia unit-unit seperti di atas, kegiatan RED dilaksanakan di Uniyersitas atau Institut yang sekarang sudah ada. Sesuai dengan sumberdaya yang tersedia, input yang sangat diperlukan bukanlah input fisik, tetapi kurikulum dan institusi baru yang perlu diciptakan.

Dalam kerangka global, Institut Perkebunan Indonesia harus memiliki reputasi internasional. Untuk itu dibangun kolaborasi dengan institut atau perguruan tinggi yang memiliki subyek yang sama di luar negeri. Dengan cara ini, secara bertahap dapat dibangun institut yang memiliki reputasi dimaksud.

Selanjutnya, untuk setiap subyek komoditas diundang dunia usaha untuk menjadi "anchor business" dari IPI. Misalnya, P.T. Nestle diundang untuk menjadi bagian integral sistem IPI  yang menangani kopi dan kakao; PT. Indo Food untuk IPI yang menangani kelapa sawit; P.T. Bridgestone untuk IPI yang menangani karet. Demikian pun halnya dengan BUMN Perkebunan mengambil bagian dalam "anchor business" yang sesuai dengan "core businessnva".

Tentu saja gagasan ini perlu dibahas lebih lanjut secara terinci. Apa yang disampaikan di sini lebih bersifat umum sebagai pancingan untuk diskusi lebih lanjut.

V. PENUTUP

Saudara-saudara yang saya hormati,


Demikianlah beberapa hal yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan Dies Natalis ke-43 Instiper ini seraya berharap kiranya kita segera memiliki sebuah lembaga pendidikan perkebunan yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan perkebunan yang multidimensional, bukan saja menyangkut persoalan teknologi, ekonomi, tetapi juga sosial-budaya, politik, kebijaksanaan dan ekologi.

Institut Perkebunan Indonesia dalam kerangka networking and sharing diharapkan mampu dengan cepat bukan hanya menghasilkan human capital yang unggul dalam kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki sifat dan sikap yang senantiasa mampu menjadi jembatan, simpul dan inspirasi untuk kemajuan, kesejahteraan serta persatuan dan kesatuan Indonesia.

Sekali lagi saya sampaikan selamat kepada seluruh Civitas Academica INSTIPER, semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan dan petunjukNya bagi kita semua. Amien.

Terima kasih.

Wabillahitaufik wal hidayah,
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


YOGYAKARTA, 10 DESEMBER 2001
Agus Pakpahan



________________________________________________________
1 Pidato Dies Natalis ke-43 Institut Pertanian STIPER Yogyakarta, 10 Desember 2001
2 Sachs, J.D. (2001), "Tropical Under Development", NBER Working Paper Series 8119, Cambridge, MA
3 Rifkin. I. (2000). The Age of Access: The new culture of hypercapitalism where all life is a paid for experience. Penguin Putnam, Inc., New York.
4 Pada tahun 1999 PDP perkebunan dalam komoditas primer adalah Rp 37 triliun, dan Nilai Tambah Bruto komoditas olahan perkebunan tercatat sebesar Rp. 166,6 trilyun atau 4,4 kali PDB komoditas primer perkebunan, dan Nilai Outputnya mencapai Rp. 499,4 trilyun. Sementara itu. PDB total non migas atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp. 1.011,8 trilyun dan PDB total sebesar Rp. 1.107,3 trilyun.