.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Article
PERGULAAN INDONESIA AKAN DIBAWA KEMANA?
26 Februari 2013

Oleh:

Agus Pakpahan

Ketua Umum Badan Eksekutif Gapperindo

 

http://farm9.staticflickr.com/8389/8508515015_00e27e2bf5_z.jpg

Gambar 1. Trend harga gula dunia 1950-1999

 

                Gambar 1 memberikan cerita yang sangat panjang dan sangat kaya tentang pergulaan dunia.  Pada kenyataannya selama kurun 50 tahun tersebut, kecenderungan harga gula di pasar dunia itu dapat dikatakan turun terus.  Apabila harga gula pada tahun 1975 kita pakai, maka harga gula sekarang pun masih jauh  di bawah US$ 1.6/kg. 

                Harga gula yang tinggi pada pertengahan tahun 1970an tersebut telah membuat Amerika Serikat banting setir dari pasokan gula impor ke pengembangan bahan pemanis dibuat dari jagung, yang biasa dikenal dengan istilah High Fructose Corn Syrup (HFCS).  Keputusan itu telah melahirkan konstelasi dunia pergulaan baru, yaitu berkurangnya permintaan impor gula oleh Amerika Serikat dari negara-negara berkembang dengan jumlah sekitar 4 juta ton.  Di pihak lain, Amerika Serikat merajai produksi HFCS hingga sekarang.  Dalam hal jagung ini, Amerika Serikat semakin unggul dengan dengan dibudidayakannya jagung transgenik sejak 1996. Hampir seluruh pertanian jagung di Amerika Serikat dewasa ini berbasis pada budidaya jagung transgenik. 

                Harga gula yang tinggi pada tahun 1970an awal itu, disikapi lain oleh Brazil.  Brazil merupakan negara besar di Amerika Selatan yang kebutuhan bahan bakar minyak (BBM)-nya tergantung dari pasokan impor. Pemimpin Brazil mengambil makna naiknya harga gula sebagai kesempatan untuk membangun industri gula yang sekaligus juga terpadu dengan energi berbasis tebu, yaitu etanol.  Mengingat semua jenis industri dan kebutuhan manusia memerlukan energi, maka dengan bermodalkan lahan yang masih tersedia luas pada saat itu, Brazil memutuskan kebijakan pembangunan ekonomi berdasarkan kapasitas menghasilkan energi terbarukan.  Akibatnya, industrialisasi Brazil disesuaikan dengan ketersediaan pasokan etanol yang bersumber dari tebu. Mulai dari industri otomotif hingga industri rumah tangga sumber energinya berasal dari tebu.  Lebih jauh lagi, sumber protein hewani pun berasal dari sapi yang pakannya didukung oleh tebu ini, yang dikenal dengan program Sweet Success.  Dapat dikatakan bahwa tebu merupakan anugrah Tuhan YME penyelamat Brazil.

                Thailand juga memberikan respon terhadap "krisis harga" gula tahun 1970an tersebut.  Respon Thailand adalah membangun industri gula baru yang dilaksanakan oleh perusahaan swasta Thailand.  Mengingat Thailand tidak memiliki lahan luas seperti Brazil, maka pilihan industrialisasi gulanya adalah industri gula berbasis tebu hasil petani.  Dapat dikatakan tidak ada perusahaan pabrik gula di Thailand yang memiliki perkebunan tebu.  Sebagian besar produksi gula Thailand masuk ke pasar ekspor mengingat Thailand penduduknya relatif tidak banyak dibandingkan dengan luas areal pertanian yang tersedia.Konsumsi domestik hasil produksi gula berkisar sekitar 1/3 dari produksi nasionalnya. Sekarang pun luas areal per petani di Thailand lebih dari 3 hektar. Salah satu penyebabnya adalah keberhasilan Thailand dalam industrialisasinya.

                Pada tahun 1975, Indonesia juga membuat keputusan besar dalam bidang pergulaan ini.  Keputusan besar tersebut adalah ditetapkannya Inpres No. 9 Tahun 1975 Tentang Tebu Rakyat Intensifikasi. Inpres tersebut bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani tebu, peningkatan produksi gula dan mencapai swasembada gula konsumsi rumah tangga. Dalam Inpres ini Presiden Soeharto mengintruksikan jajaran Kabinet, termasuk Bank Indonesia dan Bulog serta BUMN Gula untuk menjalankan kebijaksanaan yang telah digariskan. Dalam kebijaksanaan ini pula petani tebu diberikan tempat istimewa, bahkan sering disebutkan bahwa kebijaksanaan ini menempatkan petani tebu sebagai "raja" di tanahnya sendiri.

                Apa yang terjadi setelah 23 tahun berlalu sejak 1975? Pada tahun 1997 terjadi krisis ekonomi Indonesia dan pada tahun 1998, Inpres No. 9 tahun 1975 tentang Tebu Rakyat Intensifikasi dicabut dengan ditetapkannya Intruksi PresidenNo.5 tahun 1998. Pada saat tersebut kondisi pergulaan memburuk dan berada pada posisi lembah terdalam, yaitu produksi gula nasional terendah sepanjang periode di atas.  Produksi gula  pada tahun 1999 hanya 1.49 juta ton. Dengan perkataan lain strategi Inpres No. 9 Tahun 1975 tidak berhasil membawa Indonesia ke tujuan yang telah ditetapkan.

                Dengan menghadapi harga gula di pasar dunia di bawah US$ 0.20/kg, dan dengan masuknya masalah gula ini di dalam LoI Indonesia-IMF pada saat mengatasi krisis ekonomi 1998 tersebut, kita dapat bertanya: pilihan kebijakan apa yang kiranya paling rasional untuk Indonesia tahun 1998? 

                Situasi tahun 1998 jelas sangat berbeda dengan situasi tahun 1975.  Misalnya, hasil Sensus Penduduk menunjukkan bahwa pada 1971 penduduk Indonesia baru mencapai 119.2 juta jiwa, sedangkan penduduk Indonesia tahun 2000 sudah menjadi 205.1 juta jiwa, meningkat hampir 2 kali dalam tempo 29 tahun. Adapun penduduk Pulau Jawa pada tahun 2000 adalah sekitar 120 juta di mana Pulau Jawa hanya 6.9 % dari luas daratan Indonesia.  Dengan rendahnya harga gula dunia (murah) dan tidak efisiennya industri gula ( milik BUMN) dan  sesuai LoI dengan IMF, maka keputusan yang paling rasional berdasarkan atas informasi di atas adalah menutup industri gula dan mengandalkan pasokan pada gula impor-yang juga pada saat itu sudah masuk melalui bermacam saluran, termasuk penyelundupan dan pemasaran langsung gula mentah (raw sugar) ke masyarakat konsumen.

                Realitanya, keputusan Pemerintah pada waktu itu tidak menutup industri gula di Jawa.  Benar disadari bahwa harga gula impor lebih rendah daripada biaya produksi gula di dalam negeri, tetapi itu terjadi akibat besarnya subsidi untuk gula di negara asalnya. Benar juga bahwa industri gula di dalam negeri banyak yang tidak efisien tetapi bukankah itu menjadi tugas kita untuk meningkatkan efisiensinya? Di atas segalanya, saya pikir, gula ini dapat dijadikan "laboratorium pembangunan" yang baik mengingat semua elemennya sudah tersedia, kecuali mungkin kerja yang benar yang masih perlu ditingkatkan lagi. Hipotesa saya: Apabila pergulaan Indonesia tidak dapat dihidupkan kembali, maka ini dapat dijadikan sebagai indikator mikro akan terjadinya kegagalan pembangunan nasional.

                Setelah masa perjuangan seluruh elemen masyarakat pergulaan Indonesia, khususnya para petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), sebagai organisasi resmi petani yang baru berdiri, selama 1999-2002, kelahiran SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 643 Tahun 2002 dapat dikatakan sebagai pertanda tonggak baru kebijakan Pemerintah Indonesia dalam hal pergulaan ini.

                Dampak dari kebijakan SK No. 643 tersebut dapat dilihat pada Tabel 1 berikut (tolong ditik ulang dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia).  Harga jaminan yang diterima petani selalu mengalami penyesuaian dan pendapatan petani akan meningkat, apalagi kalau produksinya meningkat. Hasilnya, secara nasional produksi gula terus meningkat.  Dengan lahirnya SK tersebut harga gula tani mejadi terkelola. Petani memberikan reaksi positif terhadap sinyal jaminan harga minimal tersebut yang terlihat dalam data areal pertanaman tebu yang semakin meluas. Data menunjukkan bahwa dari tahun 2003 ke tahun 2009 areal tebu meningkat 84 ribu hektar, sebagian besar adalah kebun tebu milik petani. Hasilnya adalah produksi gula meningkat dari 1.49 juta ton pada 1999 menjadi 2.7 juta ton pada 2009, atau meningkat 1.8 kalinya.

                Apabila standar konsumsi gula per kapita RRC digunakan, yaitu sekitar 10 kg/kapita, maka kebutuhan gula konsumsi nasional kita baru mencapai 2.37 juta ton, atau surplus 0.33 juta ton, mengingat populasi Indonesia pada 2010 adalah 237.6 juta jiwa.  Artinya, pada 2009 kita sudah mencapai swasembada gula.  Sedangkan apabila konsumsi gula per kapita menjadi 15 kg/kapita, 50 % lebih tinggi daripada konsumsi/kapita di RRC, maka kebutuhan gula konsumsi akan meningkat dari 2.37 juta ton menjadi kurang-lebih 3.56 juta ton.  Akibatnya adalah kita kekurangan gula.  Kekurangan ini didorong oleh standar konsumsi gula per kapita yang relatif tinggi. Pertanyaannya apakah kita akan mendorong masyarakat untuk mengkonsumsi gula dalam jumlah yang tinggi ataukah akan menjalankan kebijakan seperti di Jepang atau negara maju lainnya yang mendorong penurunan konsumsi gula bagi rakyatnya. 

                Antara tahun 2006-2010 juga sudah direncanakan untuk membangun industri gula baru berbahan baku tebu hasil budidaya di tanah air plus upaya-upaya perbaikan pabrik-pabrik gula yang ada dengan anggaran perbankan mencapai jumlah lebih dari Rp 9 triliun.  Bahkan Sekretariat Kerjasama-nya pun sudah disepakati di BRI selaku lead-bank yang akan mendukung program revitalisasi pergulaan berbasis bahan baku tebu produk di dalam negeri ini.  Sayang program ini tidak berjalan.

http://farm9.staticflickr.com/8249/8509631414_59f456f0e4_z.jpg                Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin menyampaikan kisah American Crystal Sugar Company (ACSS), salah satu kasus transformasi korporasi favorit saya.  Asalnya ACSC merupakan salah satu perusahaan besar yang sudah terdaftar di pasar modal New York Stock Exchange.  Pada tahun 1972 jatuh bangkrut dan ditutup.  Para petani di sekitar PG yang berbahan baku bit itu kebingungan. Akhirnya, dengan kepemimpinan Aldrich Bloomquist selaku Ketua Asosiasi Petani Gula Bit di Red River Valley, menembus cakrawala pemikiran yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan, yaitu dengan anggota koperasi sekitar 1300 orang, para petani tersebut membeli ACSC pada tahun 1973 seharga US$ 86 juta.  Tentu para petani tersebut difasilitasi oleh perbankan dan dibantu para profesional dalam menyiapkan langkah-langkahnya.

                Segera setelah peralihan kepemilikan itu, managemen profesional baru diangkat dan petani sebagai pemilik ACSC mendukungnya. Tak lama kemudia, rendemen gula bit meningkat dari 14 % menjadi 18 %, dan produktivitas bit per hektar meningkat dari 4.8 ton menjadi 7.6 ton.  Perusahaan pun berkembang menjadi salah satu perusahaan (koperasi) gula yang terbesar di Amerika Serikat. 

                Saya membayangkan mungkin transformasi industri gula model ACSC ini yang cocok untuk Indonesia, khususnya untuk industri gula di Jawa.