.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Article
Mantan Deputi Menteri BUMN Sulap Lalat Jadi Pakan Ternak Bikin Lab
06 November 2014

Jumat, 08 Agustus 2014 , 07:54:00

Mantan Deputi Menteri BUMN Sulap Lalat Jadi Pakan Ternak

Bikin Lab di Rumah, Temukan Solusi Limbah Sampah


PROTEIN TINGGI: Agus Pakpahan menunjukkan prepupa lalat di ”laboratorium” mini di halaman rumahnya. Foto: Hari Setiawan/Jawa Pos Radar Jember
PROTEIN TINGGI: Agus Pakpahan menunjukkan prepupa lalat di ”laboratorium” mini di halaman rumahnya. Foto: Hari Setiawan/Jawa Pos Radar Jember
BERITA TERKAIT

 
 

 

UNTUK masuk ke rumah Agus Pakpahan di Jalan Bangka II, Mampang, Jakarta Selatan, setiap tamu harus memasuki lorong sejauh sekitar 30 meter. Di ujung lorong, tepatnya di halaman rumahnya, Agus membuat tempat penelitian atau ”laboratorium” mini khusus lalat.
-----------
Hari Setiawan, Jakarta
-----------
Setelah tidak menjabat deputi bidang agroindustri di Kementerian BUMN, Agus memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan penelitian. ”Mungkin saya ini termasuk aneh. Sebab, latar belakang pendidikan saya manajemen sumber daya alam, tapi sekarang malah meneliti lalat,” katanya ketika ditemui Jawa Pos Radar Jember di rumahnya di Jakarta pertengahan bulan lalu.

”Pertemuan” dirinya dengan lalat berawal sekitar tiga tahun lalu. Suatu saat Agus membaca sebuah laporan bahwa IQ rata-rata orang Indonesia 80. Padahal, orang negara lain rata-rata 150. Ternyata, yang membuat IQ rata-rata orang Indonesia relatif rendah adalah kekurangan protein.

Dalam laporan itu disebutkan, sel-sel otak sulit berkembang karena kekurangan protein. Disebutkan pula, ibu hamil yang kekurangan yodium akan mengakibatkan anaknya kelak kuntet (kerdil) dan daya tahan tubuhnya rendah. Ibu hamil harus mengonsumsi yodium 200 mg. Padahal, sebutir telur hanya mengandung 15 mg yodium.

”Lalu saya berpikir, harus ada pakan ayam dan ikan yang tinggi yodium. Mengapa ayam dan ikan? Karena ayam dan ikan sumber protein yang relatif murah,” kata Agus.

Kebetulan, setelah tak lagi menjadi deputi menteri BUMN, Agus beternak bebek di Bogor. Saat itulah dia menambahkan yodium dalam pakan bebeknya. ”Indonesia tidak akan maju kalau tidak punya pabrik pakan ternak yang murah dan tinggi protein,” tandas doktor lulusan Michigan State University, Amerika Serikat, itu.

Tepung ikan sebagai salah satu bahan baku pakan ternak, kata Agus, masih harus diimpor Indonesia dengan harga mahal. Volume impor tepung ikan Indonesia bisa mencapai 95 persen dari kebutuhan. Padahal, Indonesia yang beriklim tropis memiliki karakter panas, lembap, dan basah. Dalam tiga hal itu, proses yang dominan adalah pembusukan.

Yang paling diuntungkan dalam proses pembusukan adalah lalat. Dalam sebuah literatur, Agus menemukan fakta bahwa lalat merupakan sumber protein untuk pakan ternak. ”Dari sini saya menemukan benang merah antara kebutuhan bahan pakan murah berprotein tinggi serta potensi yang dimiliki Indonesia yang beriklim tropis,” terangnya.

Dalam proses dekomposer, yang menjadi unsur penghancur adalah bakteri. Tapi, proses pembusukannya lama karena memakan waktu enam bulan. Di satu sisi, ada satu makhluk yang makan barang-barang busuk, yakni lalat. Lalat selama ini dianggap sebagai hewan menjijikkan dan penebar penyakit.

Agus menjelaskan, 1 kg sisa makanan akan menjadi tempat hidup bagi 100 ribu ekor lalat. Jika 1 kg rumah tangga membuang sampah dan sisa makanan 2,5 kg, ada 250 ribu ekor lalat yang siap menyerbu. Jika separo dari lalat itu betina, seekor lalat bisa menghasilkan telur hingga 500.

Dengan demikian, dalam satu life circle selama satu bulan, 2,5 kg sampah menghasilkan 62,5 juta telur lalat. Nah, sumber protein dari lalat terdapat pada fase larva dan prepupa. Sumber protein di fase tersebut bisa mencapai 45 persen.

Di buku Stephen A. Marshall yang berjudul Flies, papar Agus, disebutkan, di dunia ini ada 400–800 spesies lalat.

”Lantas, lalat apa yang aman dan sehat untuk pakan ternak? Ternyata, lalat tropis dengan nama latin Hermetia illucens atau yang dikenal dengan sebutan black soldier flies, lalat tentara hitam. Keren namanya,” katanya sambil tersenyum.

”Lalat jenis ini tidak mengandung penyakit dan tidak menjadi vektor (perantara, Red) penyakit,” tambah alumnus IPB tersebut.

Menurut Agus, black soldier flies memiliki banyak keunggulan untuk dikembangkan sebagai bahan pakan ternak. Antara lain, ia dikenal tahan banting dan makan banyak, kandungan protein larva dan prepupanya mencapai 45 persen, lemaknya 35 persen, dan asam aminonya lengkap.

Selain itu, lalat tersebut mengandung zat kitin yang baik untuk pupuk, kemampuan berkembang biaknya cepat, dan hidup di iklim tropis.

Mengembangbiakkan black soldier flies atau yang biasa disebut maggot sebenarnya relatif mudah. Di sebuah lahan yang tidak terlalu luas, disiapkan ruang berjaring untuk mencegah lalat berkeliaran.

Di dalamnya disiapkan kotak sampah dari rangka kayu yang diberi saringan. Dari tempat itu nanti muncul belatung yang biasa disantap lalat. Sedangkan bagian atas tempat itu diberi potongan-potongan kardus sebagai tempat lalat bertelur. Telur di rongga-rongga kardus tersebut nanti jatuh dan ditampung sampai menjadi larva.

Larva yang menjadi prepupa itulah yang mengandung protein sampai 45 persen, lemak 35 persen, dan asam amino lengkap. Prepupa itulah yang oleh Agus diolah menjadi pengganti tepung ikan. ”Ini tidak bau,” kata Agus yang tidak jijik sedikit pun menciduk prepupa dari sebuah boks gabus.

Dengan mengembangkan teknik semacam ini, Agus berharap persoalan sampah yang menjadi masalah pelik, terutama di kota-kota besar, bisa diatasi. Pasalnya, volume sampah rumah tangga dan restoran selama ini cukup tinggi.

Di negara berkembang seperti Indonesia, 70–80 persen sampah merupakan sampah organik. Tapi, selama ini baru sampah anorganik yang dimanfaatkan menjadi barang daur ulang. Sedangkan sampah organik dibiarkan membusuk di tempat pembuangan akhir (TPA). Hanya sedikit yang dimanfaatkan menjadi kompos.

Karena itu, berdasar perhitungan Agus, persoalan sampah bisa diatasi bila masyarakat mau membuat tempat pengembangan maggot di lingkungan masing-masing. Dengan lahan 1 meter persegi, tempat pengembangan maggot itu mampu mengolah sampah seberat 1 kuintal per 20 hari menggunakan teknik biokonversi.

”Biaya pembuatan tempat ini juga murah. Masyarakat bisa patungan per dasawisma untuk satu lokasi. Insya Allah masalah sampah akan selesai,” tandasnya.

Berkat keuletannya meneliti maggot itu, kini ada dua perusahaan perkebunan yang menjalin kerja sama dengan Agus untuk mengembangkan maggot. Sebab, perusahaan perkebunan juga menghasilkan sampah organik dalam jumlah besar. ”Bila sampah itu tidak dikelola, bisa jadi masalah baru,” katanya.

H M. Arum Sabil, petani sekaligus peternak besar dari Jember, Jawa Timur, termasuk salah seorang yang tertarik dengan pengembangan maggot karya Agus tersebut. Melalui bendera Arum Sabil Farm, Arum yang memiliki ratusan ribu ekor ayam petelur dan ratusan ekor sapi pedaging sangat berkepentingan dengan maggot.

”Setiap hari ayam dan sapi menghasilkan kotoran organik, yang kalau tidak dikelola dengan baik bisa menjadi masalah lingkungan,” ujarnya.

Dengan mengembangkan maggot, persoalan di dua peternakan Arum teratasi. Yakni pengolahan limbah sampah organiknya dan ketersediaan bahan pakan berprotein tinggi.

”Jika maggot bisa dikembangkan secara masal, persoalan limbah ternak akan teratasi karena tidak mencemari lingkungan. Ternak sendiri mendapat bahan pakan murah yang berprotein tinggi. Ini bagus sekali,” tuturnya.

Agus dan Arum sudah lama bersahabat. Karena itu, saat Arum tertarik untuk mengembangkan maggot di peternakannya di Jember, Agus menyatakan siap membantu. ”Semoga maggot bisa menjadi solusi bagi persoalan limbah dan sampah organik di peternakan Pak Arum,” harap Agus. (*/c9/ari)