.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Article
BUMP - Sebuah Pengantar
07 Februari 2010

Kata Pengantar

Badan Usaha Milik Petani:

Membangun daya leverage modal melalui gotong royong modern

(BUMP)

Buku ini merupakan hasil karya tulis Prof. Dr. Totok Mardikanto, sebagai hasil pemikiran dan pengalamannya dalam proses pemberdayaan masyarakat petani pada khususnya dan ekonomi perdesaan pada umumnya.  Diberi judul Badan Usaha Milik Petani (BUMP) karena buku ini berisikan hasil awal dari konsep yang kami kembangkan selama kurang lebih 10 tahun terakhir, yaitu pada saat kami mendapatkan amanah Direktur Jendral Perkebunan, Departemen Pertanian, antara tahun 1998-2002. Pada masa itu kami menamakannya “Corporate Community” yaitu perusahaan milik komunitas/masyarakat.  Bersamaan dengan konsep tersebut juga dikembangkan apa yang biasa dinamakan KIMBUN singkatan dari Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan.  Lahirnya Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTRI) dan asosiasi-asosiasi petani perkebunan lainnya merupakan keluaran dari konsep Corporate Community dan KIMBUN ini.

Sejak pertengahan tahun 2005, saat kami mendapatkan amanah baru sebagai Deputi Bidang Usaha  Agro Industri, Kehutanan, Kertas, Percetakan dan Penerbitan, Kementrian Negara BUMN, evolusi dari konsep di atas terus berlanjut. Kami melihat bahwa mengapa pertanian tidak berkembang adalah disebabkan oleh karena belum terciptanya organisasi atau institusi ekonomi yang bisa dan kuat untuk meleverage potensi yang tersedia menjadi output ekonomi masyarakat pertanian secara keseluruhan. Oleh karena itu pula sebagian besar hasil pertanian menjadi “limbah” dan hanya sebagian kecil saja yang memberikan manfaat bagi kehidupan petani dan masyarakat pada umumnya.  Situasi sekarang ini kami ibaratkan bahwa kita sudah memiliki “bendungan” tetapi belum memiliki “turbin pembangkit listrik” sehingga kita hanya memperoleh, misalnya, beras dari padi atau minyak mentah sawit dari kebun sawit. Padahal potensi untuk menghasilkan energy, pangan, pakan, papan, dan pupuk sangatlah besar.  Badan Usaha inilah yang kami maksud sebagai turbin pembangkit listrik tersebut. Sebagai ilustrasi dari 10.000 hektar sawah, kita bisa mendapatkan listrik dengan daya 5 Mega Watt.

Memang benar bahwa selama ini telah banyak dikembangkan berbagai jenis organisasi dalam lingkup petani.  Hal tersebut dapat dipandang sebagai modal sosial yang menjadi agen penting dalam pengembangan BUMP ini.  Fokus pertanyaan hanyalah satu saja, yaitu: format organisasi seperti apa yang cocok untuk masyarakat perdesaan yang memberikan peluang untuk melakukan transaksi atau kerjasama dengan masyarakat lainnya dan sekaligus pula mampu melakukan leveraging capital, termasuk di dalamnya: modal bio-fisik, modal sosial, modal manusia dan modal spiritual.  Perusahaan adalah tempatnya semua pihak untuk melaksanakan gotong royong modern melalui kepemilikan saham atau kontribusi lainnya yang dilakukan tidak secara fisik atau penggunaan otot. Dinamakan BUMP apabila di dalamnya terdapat kepemilikan saham para petani sehingga BUMP ini dapat dikatakan sebagai perusahaan terbuka tetapi belum terdaftar sahamnya di pasar modal.

Buku ini merupakan usaha awal yang perlu mendapat dukungan dari semua pihak agar segala hal yang terjadi atau berproses dalam  usaha mengembangkan ekonomi perdesaan melalui BUMP tercatat dengan baik.  Peran serta perguruan tinggi dengan mahasiswa sebagai komponen yang tak dapat dipisahkan dalam proses produksi iptek dan persiapan pergantian generasi petani dan pertanian, tentunya sangatlah penting.  Kami menyampaikan ucapan terima kasih dan selamat kepada Prof. Dr. Totok Mardikanto atas hasil karyanya ini. Semoga Prof. Dr. Totok Mardikanto akan lebih banyak lagi meneliti dan menulis tentang BUMP pada masa mendatang.

Mengingat masih jarangnya bahan pustaka di bidang ini, maka pada kesempatan ini juga kami mengundang para peneliti dan penulis untuk mencurahkan lebih banyak perhatiannya pada bidang pengembangan ekonomi perdesaan dalam upaya kita mengembangan sistem ekonomi yang modern tetapi tetap merakyat, khususnya dalam pengertian rakyat (petani) mendapatkan manfaat yang pantas dari hasil kerja dan sumbangannya bagi masyarakat luas.

Selamat membaca.

 

Terima kasih,

 

Agus Pakpahan