.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Article
GUREM
10 Februari 2010

oleh:

Agus Pakpahan 

 

Pertanian Indonesia bercorak pertanian gurem. Pertanian yang berlandaskan pada luas areal usahatani yang terlalu sempit untuk dikatakan sebagai lahan usahatani yang pantas digarap petani. Dengan luas lahan usahatani rata-rata 0.2 ha per petani atau seluas seperlima lapangan sepak bola, maka sudah dapat dibayangkan berapa banyak produksi per petani yang dapat dihasilkan. Apabila petani menanam padi, maka hasilnya sekitar satu ton gabah atau 600 kg beras apabila hasil per hektar mencapai 5 ton dan rendemen dari gabah ke beras 60 %. Dengan anak dua orang dan seorang istri, maka rumahtangga tersebut membutuhkan beras sekitar 480 kg per tahun. Kelebihan beras 120 kg adalah surplus dengan nilai rupiah sekitar Rp 420 ribu. Jadi, apabila satu musim tanam sekitar 4 bulan, maka pendapatan petani per bulan adalah sekitar Rp 105 ribu. Apabila kebutuhan belanja per hari Rp 5000, maka diperlukan Rp 150 ribu per bulan, sehingga rumah tangga tani tersebut akan kekurangan anggaran belanja sekitar Rp 45 ribu per bulan. Dengan upah kerja di desa Rp 15 ribu per hari, maka dalam satu bulan diperlukan minimal 3 hari kerja apabila rumahtangga tani tersebut ingin memenuhi kebutuhan anggaran belanja rumah tangganya. 

Apabila seorang pembantu rumahtangga di kota besar mendapatkan upah per bulan sekitar Rp 400 ribu. Dalam empat bulan, sama dengan satu musim tanam padi, seorang pembantu rumahtangga dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp 1.6 juta rupiah. Kebutuhan makan sudah ditanggung oleh rumahtangga pemberi kerja, dan kemungkinan juga kebutuhan pakaian dan kebutuhan pokok lainnya apabila kebetulan ia memperoleh sang majikan yang baik hati. Seorang pembantu rumah tangga yang sial sekalipun akan memperoleh pendapatan per bulan sekitar Rp 200 ribu, lebih banyak Rp 95 ribu dibandingkan dengan pendapatan petani dengan luas lahan usahatani padi 0.2 ha. Diukur dengan pendapatan di atas, maka bekerja sebagai pembantu rumah tangga lebih baik daripada bekerja sebagai petani. Apalagi sumber pekerjaan di desa tidak banyak, sehingga relatif sulit untuk mendapatkan tambahan penghasilan. 

Apa yang kita harapkan dari pertanian yang berukuran skala gurem? Apakah ada peluang untuk menembus kendala luas lahan ini apabila kita ingin nasib petani berubah? Apa yang harus kita lakukan dengan skala usaha ini apabila kita ingin memiliki ketahanan pangan yang kuat? 

Jawaban atas pertanyaan di atas tidaklah sederhana. Namun, apabila kita tetap berjalan dengan melanjutkan pola gurem di atas, sudah dapat dipastikan bahwa ketahanan pangan kita akan makin melemah mengingat kehidupan petani akan semakin susah. Pembangunan pertanian selama lebih 30 tahun lebih menunjukkan bahwa membangun pertanian pangan di luar Jawa juga tidak mudah sebagaimana ditunjukkan oleh fakta bahwa 50 % atau lebih produksi pangan Indonesia masih tetap dihasilkan di Jawa dengan basis pertanian gurem. 

Perkembangan pertanian di negara maju menunjukkan bahwa luas areal usahatani per petani dari hari ke hari makin meningkat. Perhitungan sederhana menunjukkan bahwa setiap pengurangan pangsa Produk Domestik Bruto (PDB) pertanian satu persen, hal ini diikuti oleh penurunan tenaga kerja pertanian lebih dari 1.5 % untuk Korea Selatan dan lebih dari 1 % untuk Malaysia dan Thailand. Sedangkan untuk Indonesia, penurunan pangsa PDB pertanian hanyalah kurang dari 0.5 % per penurunan pangsa PDB pertanian satu persen. Hal ini menunjukkan bahwa industrialisasi di Indonesia tidak berjalan sehingga proses transformasi ekonomi perdesaan tidak berlangsung baik.  

Keberhasilan dalam transformasi ekonomi merupakan suatu keharusan apabila perkembangan kemajuan masyarakat ingin dicapai. Transformasi ekonomi yang berhasil  itu sendiri pada dasarnya adalah membesarkan kapasitas pertanian dimana salah satunya adalah perluasan lahan usahatani per unit petani. Jadi, apabila ketahanan pangan kita mau kuat, maka caranya adalah kita harus berhasil dalam mentransformasikan model pertanian gurem melalui penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor ekonomi, khususnya sektor ekonomi yang bisa berkembang di perdesaan. 

Bagaimana kita bisa dan kuat mengembangkan sektor ekonomi yang bisa berkembang di perdesaan apabila basisnya adalah petani gurem? Tidak ada cara lain kecuali dengan membangun institusi ekonomi yang mampu menembus sifat atau karakter gurem itu sendiri. Ibarat lidi yang tercerai-berai tidak memiliki kekuatan untuk menyapu lantai, maka dengan mengikatnya menjadi sapu lidi kekuatan organisasi akan menjadi modal utama untuk transformasi ekonomi. Sapu lidi ini adalah institusi perusahaan yang dimiliki oleh para petani atau saya beri nama Badan Usaha Milik Petani (BUMP). Reformasi institusi ekonomi petani ini dapat dipercepat dengan dukungan perusahaan-perusahaan yang sudah berkembang seperti BUMN. Sebagai ilustrasi, per 10.000 ha unit pengelolaan BUMP, maka akan dapat dihasilkan 80.000 ton jagung per musim atau 70.000 ton padi per musim. Nilai jagung ini paling tidak mencapai Rp 80 miliar/musim atau Rp 160 miliar 2 kali musim tanam. Nilai transaksi ini belum termasuk nilai tambahnya apabila jagung tersebut diolah, misalnya, menjadi pakan ternak. Dengan nilai transaksi sebesar itu, sudah cukup menarik untuk memikat CEO andal masuk di bidang pertanian.  

Kita gurem apabila kita seorang diri, tetapi kita bisa menjadi lebih berarti apabila kita menjadi ”sapu lidi”, bersatu bersenyawa dalam satu institusi mandiri.