.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Article
Ketahanan Pangan sebagai Ketahanan Budaya
11 Februari 2010

Ketahanan Pangan sebagai Ketahanan Budaya1

 

Oleh :

Agus Pakpahan2

 

Dan raja berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus, dan tujuh tangkai yang hijau dan (tujuh tangkai) lain yang kering. Hai para pembesar, terangkanlah kepadaku tentang mimpiku jika kamu dapat mengartikan mimpi”. (Al Qur’an, 12: 43).

 

(Yusuf berkata, ”Kamu bercocok tanam tujuh tahun sebagaimana biasa, maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan ditangkainya, kecuali sedikit untuk kamu makan. (Al Qur’an, 12: 47)

 

Kemudian setelah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit menghabiskan apa yang kamu sediakan itu kecuali sedikit yang kamu simpan. (Al Qur’an, 12: 48).

 

Makna Ketahanan Pangan

Sejarah pangan sama lamanya dengan sejarah umat manusia itu sediri. Mulai dari berburu, meramu, perladangan berpindah hingga pertanian menetap (agriculture) dan pertanian modern sebagaimana yang berkembang saat ini merupakan proses evolusi segala upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Lowdermilk (1948)3 bahkan menunjukkan bahwa dalam proses pencarian upaya pemenuhan kebutuhan pangan itu, manusia bukan hanya mendapatkan sumber pangan tetapi juga meninggalkan berbagai jenis kerusakan alam seperti gurun pasir atau kota mati.

Perkembangan peradaban yang didukung oleh keberhasilan manusia memenuhi kebutuhan pangannya tersebut ternyata menghasilkan kenyataan bahwa manusia semakin tergantung pada satu atau dua jenis tanaman utama saja, khususnya terdiri dari kelompok serealia. Masyarakat Asia sangat tergantung pada padi (beras) dan masyarakat Barat sangat tergantung kepada gandum (wheat). Tanpa kedua jenis makanan ini seolah-olah ”kiamatlah sudah dunia ini”, walaupun alam ini memberikan berbagai jenis makanan yang nilai kandungan bahan kimianya dapat mencukupi kebutuhan gizi bagi manusia.

Wadley dan Martin (1993)4 antara lain, menjelaskan mengapa kita ini sangat tergantung kepada kedua jenis pangan tersebut atau bahkan dapat dikatakan ”ketagihan”. Menurut Wadley dan Martin (1993) manusia tergantung (ketagihan) kepada padi dan gandum karena di dalam kedua jenis makanan ini terdapat exorphin yaitu sejenis morphin.

Ketergantungan ini merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya pemusatan pangan dari banyak jenis pada saat tahapan evolusi manusia sebagai pemburu dan peramu ke hanya sedikit jenis pangan pokok pada era pertanian sekarang ini.  Economies of scale dalam sistem produksi pangan yang sangat besar untuk padi dan gandum ini didukung oleh economies of scale  yang sangat tinggi pula dalam hal konsumsi pangan. Bahkan dapat dikatakan bahwa ”at any cost” kebutuhan akan padi atau gandum ini diupayakan untuk memperoleh kepastian akan tersedianya beras karena tanpa adanya beras ini (untuk kita), seolah-olah Indonesia terancam akan ”ambruk”.

Di sinilah letaknya makna ketahanan pangan yang utama, yaitu bagaimana kita bisa dan kuat mentransformasi sesuatu yang telah membudaya, yaitu kebiasaan atau habit  dari sebagian besar masyarakat kita yang sangat tergantung kepada beras dalam memaknai sumber utama pangan kita, ke arah pola pangan yang bukan hanya hemat dan waspada sebagaimana diajarkan oleh Nabi Yusuf a.s. tetapi juga bersumber dari keanekaragaman pangan yang telah disediakan oleh alam di sekitar kita. Jadi, persoalan mendasarnya bukanlah berada dalam ruang-lingkup teknis, melainkan berada dalam alam budaya kita.

Arah dan Kecenderungan Budaya Pangan

Sesuatu dikatakan sudah membudaya apabila kita mengerjakannya tanpa didahului oleh pertimbangan-pertimbangan atau pemikiran terlebih dahulu. Hal itu terjadi karena ia sudah menjadi hasil artikulasi dari hasil evolusi pemikiran, perasaan dan proses kognitif lainnya dalam masyarakat yang sudah berlangsung lama. Hal yang sama juga dengan pangan, bahwa kita setiap hari makan nasi adalah karena memang makan nasi itu sudah menjadi bagian dari budaya pangan kita.

Karena itu bukanlah hal yang sederhana dalam membangun ketahanan pangan ini. Vaclav Smil (1993) menunjukkan sebenarnya lebih murah upaya meningkatkan ketahanan ini melalui perubahan budaya, khususnya dalam mengubah kebiasaan makan, dengan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap satu atau dua jenis tanaman saja, dibandingkan dengan meningkatkan supply sarana dan prasarana produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang terus meningkat.5

Dalam proses perubahan budaya pangan ini, para analis ekonomi pangan banyak melihat faktor pendapatan sebagai peubah utama. Permintaan terhadap keanekaragaman konsumsi pangan adalah elastis terhadap perubahan pendapatan. Namun demikian, peningkatan pendapatan masyarakat di Indonesia ternyata lebih banyak mendorong ke belanja pangan berbahan baku terigu dengan elastisitas pengeluaran pangan berkisar antara 0.44-0.84 %. Artinya, untuk setiap peningkatan pendapatan 1 %, minimal 0.44 % dibelanjakan untuk pangan yang dibuat dari terigu (Fabiosa, 2006)6. Hal ini menandakan bahwa para pengusaha di pasar global telah berhasil mengubah budaya pangan orang Indonesia dengan berbagai caranya sehingga makanan tradisional sudah terancam oleh jenis makanan yang bahan bakunya diimpor dan dengan jenis pangan olahan yang berbeda pula dengan kebiasaan sebelumnya.

Apa yang harus dikerjakan walaupun memenuhi kebutuhan pangan itu lebih murah melalui perubahan budaya pangan (Smil), tetapi ternyata bahwa kecenderungan budaya pangan kita mengarah ke budaya pangan Barat (Fabiosa)?  Kecenderungan ini sekilas tidak masalah, namun kecenderungan ini akan menambah rumitnya persoalan ketergantungan pangan: ketergantungan kepada negara lain!

Bukan Sekedar Persoalan Supply dan Demand  Saja Melainkan Persoalan Strategi Budaya

Dampak globalisasi memang luar biasa terhadap perubahan budaya masyarakat di seluruh belahan muka bumi ini. Bahkan Friedman (2005) sudah menyebutnya: The World Is Flat, sebagai ungkapan bahwa dampak globalisasi itu sudah membuat dimensi spatial sebagai persoalan besar. Karena itu, apabila pandangan ini kita terima dan kita pegang maka sudah tidak menjadi persoalan lagi apabila kita mengganti pangan kita sehari-hari nasi menjadi roti yang dibuat dari terigu.

Terus terang saja, penulis melihat bahwa The World Is Flat  adalah benar adanya bagi bangsa-bangsa di Negara maju. Namun tidaklah demikian bagi Negara-negara miskin seperti Indonesia, dimana sama atau lebih pangsa pengeluaran untuk belanja pangannya lebih dari 50 % (hidup ini hanya untuk mencari makan). Dalam ”The 3rd world choice of teak or oak” ( The Jakarta Post, 2 Agustus 2007) (Lihat Kotak 2) penulis menyampaikan pemikiran bahwa kita harus melihat persoalan globalisasi ini dengan kritis. Di antaranya adalah kita harus bisa dan kuat beradaptasi dengan lingkungan di mana kita berada, khususnya dalam membangun budaya ketahanan pangan.

Dalam membangun budaya ketahanan pangan ini penulis juga mengibaratkan bahwa kita lebih baik menjadi ”bangsa ayam kampung” daripada menjadi ”bangsa ayam broiler”. (Lihat Kotak 1). Intinya adalah bahwa perubahan budaya pangan itu perlu dimulai dengan perubahan sikap mental yang tidak terpisahkan dengan nilai-nilai nasionalisme, persatuan bangsa dan kesejahteraan sosial. Hal ini merupakan titik awal dalam membangun ketahanan pangan kita ke depan.

Kotak 1:

Busung Lapar, Ayam Kampung, dan Pohon Jati

 

Kotak 2:

The 3rd world choice of teak or oak

 

Penutup

Pembahasan mengenai ketahanan pangan sudah banyak dilakukan dengan hasil yang sudah banyak pula. Namun demikian, pada kenyataannya kita masih belum bisa mengembangkan perilaku dalam konteks suatu budaya baru yang memberikan jaminan atas masa depan akan kebutuhan pangan kita. Bahkan, hal yang sebaliknya terjadi, yaitu makin tergantung pada satu atau dua jenis makanan, dan tanpa kita sadari pula bahwa ketergantungan tersebut adalah akibat dari exorphin (baik pada nasi maupun pada roti) yang sudah menjadi bagian dalam diri sebagian besar masyarakat kita. Lebih jauh lagi, bahwa walaupun telah terjadi pergeseran kebiasaan makan, ternyata pergeseran tersebut mengarah ke ketergantungan akan pangan yang dihasilkan dari terigu. Kalau ini terus terjadi, maka lengkaplah sudah bahwa kita bukan hanya tergantung pada satu atau dua jenis makanan pokok saja, juga kita akan tergantung kepada makanan yang diberikan oleh negara lain.

Tidak ada cara lain untuk membangun ketahanan pangan kita, kecuali dengan melakukan revolusi kesadaran dan diikuti oleh gerakan nasional: jadilah kita ”bangsa ayam kampung—bukan ayam broiler” atau jadilah kita ”pohon jati”, yang mampu hidup baik dan kuat walaupun berada di tanah yang gersang dan keras. Inilah perubahan budaya ketahanan pangan yang harus diciptakan.

 

1 Makalah disampaikan pada Dies Natalis IPB, Bogor, 30 Oktober 2008.

2 Deputy Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Bidang Usaha Agroindustri, Kehutanan, Kertas, Percetakan dan Penerbitan.

3 Lowdermilk, C.W. 1948. Conquest of the Land Through Seven Thousand Years. USDA. Lowdermilk menguraikan bahwa perkembangan peradaban (pertanian) di Syria mewariskan sekitar satu juta hektar lahan yang hancur akibat erosi tanah, hancurnya hutan di Lebanon, dan kota-kota yang hilang karena erosi tanah yang telah menimbunnya (kisah Hundred Dead Cities).

4 Wadley, G dan A. Martin. 1993. The origins of agriculture ? a biological perspective and a new hypothesis. Australian Biologist 6: 96 - 105, June 199

5 Vaclav Smil. 1993. Global Ecology: Environmental change and social flexibility. Routledge, London

6 Fabiosa, 2006. Westernization of the Asian Diet: The case of rising wheat consumption in Indonesia.