.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Article
Ekonomi-Politik Pertanian Bioteknologi
19 Februari 2010

Kamis, 10 Maret 2005 11:46 WIB - wartaekonomi.com

 

Oleh: Agus Pakpahan

Pertanian tak pernah sepi dari isu  ekonomi-politik--persenyawaan antara kepentingan ekonomi dan politik dan cara-cara  mencapainya  yang  dilaksanakan dalam satu tarikan  napas.  Pada  pra-Belanda, bangsa Portugis datang lebih dahulu dan menjajah  Nusantara.  Menurut  sejarawan MC Ricklefs, dampak paling  kekal  dari penaklukan  Malaka oleh Portugis adalah hancurnya jaringan  (network) perdagangan di kawasan Asia.

Motivasi pertama penjelajahan dunia memang berdagang,  sedangkan  penjajahan adalah solusi politik.  Vereenigde  Oost-Indische Compagnie  (VOC)  didirikan  Belanda pada  1602  dengan  motivasi ekonomi, tetapi implementasi politiknya adalah penjajahan. Keunggulan dalam kekuatan militer menjadi alat utamanya. Pada masa itu yang  diburu adalah keuntungan dari pertanian, khususnya  rempah-rempah dan tanaman industri.

Selama  sekitar  400 tahun negara-negara  temperate  (beriklim sedang) membangun industri yang berbasis pada komoditas pertanian dari  daerah  tropis.  Pada saat  yang bersamaan,  negara-negara tersebut  membangun  pertaniannya  sehingga  mampu   menghasilkan surplus yang dapat mengisi pasar dunia. Hasilnya, industri  cokelat,  ban, kopi, dan lain-lain, yang mengolah  hasil  pertanian, berkembang  pesat di negara-negara temperate. Demikian juga  produksi  jagung, gandum, kedelai, dan tanaman pangan  lainnya  yang melebihi  kebutuhan domestik, semuanya kemudian mengalir  mengisi pasar  dunia  dan  menjadi sumber  ekonomi-politik  penting  bagi negara-negara tersebut.

Sebagai ilustrasi, AS memproduksi sekitar 42,8% kedelai  dunia pada  2001/2002 dengan volume 78,67 juta ton.  Bandingkan  dengan Indonesia  pada 2001 yang hanya menghasilkan 0,82 juta ton  kedelai.  Kalau dibandingkan produktivitasnya, AS  menghasilkan  2,66 ton  kedelai  per hektar, sedangkan Indonesia hanya 1,2  ton  per hektar, atau cuma 45%-nya.

Jadi, negara-negara temperate bukan hanya maju dalam  industri dan  militer, tetapi juga pertanian. Bahkan tak  berlebihan  jika dikatakan bahwa ketersediaan pangan dunia menjadi terjamin karena kelebihan produksi pangan di negara-negara maju. Mengapa  demikian?  Inti  di balik itu semua adalah bahwa  ekonomi-politik  yang berkembang  di negara-negara di daerah temperate tersebut  sangat mendukung pertaniannya.
 
Dewasa ini berkembang pertanian berbasis bioteknologi (biotech agriculture). Di sini yang dibicarakan bukan komoditasnya, semisal  kedelai, tetapi teknologi yang menciptakan  karakter  kedelai seperti apa yang diinginkan. Pertanian biotek ini sebagian  besar merupakan output perusahaan raksasa. USDA menyebutkan bahwa sejak 1976-2000 jumlah paten biotek telah mencapai 11.073 unit. Sepuluh institusi  (termasuk  anak-anak  perusahaannya)  penerima   paten terbanyak  dalam  bidang biotek di AS adalah Monsanto  Co.,  Inc. (674 unit), Du Pont, E.I. De Nemours and Co. (565 unit),  Pioneer Hi-Bred International, Inc. (449 unit), USDA (315 unit), Syngenta (284 unit), Novartis AG (230 unit), University of California (221 unit),  BASF  AG  (217 unit), Dow Chemical Co.  (214  unit),  dan Hoechst Japan Ltd. (207 unit).

Sebagai  ilustrasi  mengenai kekuatan ekonomi  pemegang  paten tersebut  adalah Pioneer dan Monsanto,  masing-masing  memperoleh pendapatan  dari  hasil penjualan benih sebesar US$2  miliar  dan US$1,6 miliar pada 2002. Ini baru dari benih tanaman biotek!

Posisi  perusahaan multinasional ini sangatlah  besar.  Bahkan dari 100 urutan institusi terkaya dunia (termasuk negara), terdapat 51 perusahaan multinasional. Jadi, banyak perusahaan multinasional  yang lebih kaya daripada sebuah negara.  Contohnya,  pada 2002   Wal-Mart  menempati  peringkat  ke-19  dengan   pendapatan US$246.525 juta, sementara  PDB Swedia US$229.772 juta.

Dalam  bidang  pangan, kita menyaksikan  bagaimana  perusahaan multinasional seperti Philip Morris, Cargill, dan Nestle  masing-masing  memperoleh pendapatan US$53,2 miliar, US$50  miliar,  dan US$40,2  miliar. Bandingkan dengan ekspor seluruh komoditas  perkebunan Indonesia yang hanya US$5 miliar per tahun.

Dewasa  ini luas areal pertanian biotek dunia  sudah  mencapai lebih dari 80 juta hektar. Induk dari pertanian biotek ini adalah perusahaan-perusahaan multinasional. Waktu yang dibutuhkan  untuk mencapai luas areal 80 juta hektar pertanian biotek ini  tidaklah lama,  yaitu hanya sekitar 10 tahun, mulai 1995.  Tanaman  biotek sudah  menyebar ke seluruh belahan bumi. Di Asia, negara  terluas pengguna tanaman biotek adalah Cina, kemudian India dan Filipina, dan  Afrika Selatan sebagai satu-satunya negara pertanian  biotek di  Afrika  dengan luas tanaman sekitar 0,5 juta  hektar.  Secara keseluruhan,  tanaman  biotek  terluas diusahakan  di  AS  (59%), Argentina (20%), Kanada (7%), dan Brasil (6%). Tanaman utama yang dikembangkan  dengan  teknologi biotek  adalah  kedelai,  jagung, kapas, dan kanola.

Perkembangan  situasi ini memberikan pengaruh  nyata  terhadap konstelasi ekonomi-politik dunia pada waktu mendatang.  Pemusatan kekuatan ekonomi dunia pada perusahaan multinasional dalam bidang inti kehidupan merupakan hal yang perlu segera dicari alternatifnya  untuk mengantisipasi dampak buruknya. Ini  mengingat  budaya perusahaan bukanlah budaya demokrasi, melainkan  mencari  untung sebesar-besarnya.  Dominasi budaya ini akan berdampak nyata  bagi kehidupan  dan tingkat peradaban dunia mendatang. Sekarang  saja, negara-negara berkembang sudah dirugikan oleh sistem  perdagangan dunia yang tidak fair, khususnya dalam hal perdagangan  komoditas pertanian.

Salah satu pelajaran utama dalam kasus pertanian biotek, dalam rangka  mencari jalan keluarnya, adalah melihat perkembangan  Uni Eropa  yang hingga sekarang belum mengembangkan pertanian  biotek secara besar-besaran. Bahkan, negara-negara Eropa mencoba melihat alternatif  atau  sudut pandang lain dalam  hal  kasus  pertanian biotek  ini. Di sisi lain, perlu dilihat juga Brasil,  Argentina, dan  negara-negara  lain yang mengikuti jejak AS.  Demikian  pula Cina,  India, Filipina, dan yang belakangan ini cukup nyata dalam mengembangkan pertanian bioteknya.

Hampir  setiap perkembangan teknologi memang tak dapat  dikendalikan dengan cara melarang atau membatasinya melalui  penerapan hukum. Keberadaan peraturan perundang-undangan memang diperlukan, tetapi,  di  atas itu, diperlukan tumbuhnya  nilai,  etika,  atau moralitas baru yang mampu membimbing agar ekses dari suatu penerapan teknologi dapat diminimalkan atau bahkan dicegah. Hal tersebut  tak hanya berlaku untuk aspek lingkungan hidup, tetapi  bagi segala  sendi  kehidupan,  baik untuk  generasi  sekarang  maupun mendatang.  Indonesia, sebagai negara ke-4 terbesar  penduduknya, perlu proaktif mencari formula tatanan ekonomi-politik  pertanian biotek dunia yang bersahabat dengan keadaan atau kondisi  negara-negara berkembang.

Angin perubahan besar sedang bertiup kencang ke Indonesia,  ke arah  negara-negara tropis-tertinggal. Perubahan  besar  tersebut sangat berbeda dengan apa yang pernah terjadi pada 400 tahun yang lalu. Di balik teknologi yang dikembangkan di  laboratorium-laboratorium  itu, tiupan angin kencang yang mengarah ke kita  diatur oleh sistem ekonomi-politik yang diciptakan dunia dengan  kecepatan  yang luar biasa. Sebagai ilustrasi, booming kelapa sawit  di Indonesia memerlukan waktu lebih dari 100 tahun; sedangkan  booming  pertanian  biotek kurang dari 10  tahun.  Perkembangan  yang sangat cepat, mungkin lebih cepat daripada kemampuan kita  berpikir!

Siapkah  kita  memanfaatkan  secara  positif  perubahan  besar tersebut,  ataukah  hanya akan kembali menjadi  korban  perubahan besar?

Penulis adalah ketua Badan Eksektutif Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (Gapperindo) dan penulis buku Petani Menggugat (2004).