.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Article
NURANI UNTUK GLOBALISASI ABAD 21
22 Februari 2010

NURANI UNTUK GLOBALISASI ABAD 21

Oleh:
Agus Pakpahan

 

Ada baiknya kita berbicara tentang nurani dalam zaman yang sering dinamakan globalisasi ini. Dari zaman dahulu, umat manusia sudah terus mencari dan mencari kedamaian, kemajuan, kesejahteraan yang lebih baik dari waktu ke waktu. Umat manusia terus memperjuangkan kebenaran dan kebaikan yang diyakininya untuk umat manusia yang hidup di dunia ini. Berabad-abad lamanya tiada henti perjuangan itu terus dilakukan.

Dalam dua abad terakhir ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai tahapan yang luar biasa. Semua yang dulunya tidak terbayangkan sekarang menjadi kenyataan. Penjelajahan ruang angkasa telah dilakukan dengan hasil yang sangat menakjubkan. Penelitian mendalam tentang kehidupan telah sampai pada tahap yang sangat dalam dan hasilnya bukan hanya telah membangkitkan optimisme bare tetapi juga bercampur kekhawatiran yang mendalam. Di antara para peneliti, Lee M. Silver dalam bukunya 'Remaking Eden: Cloning, genetic engineering and the future of humankind?, telah menggambarkan dengan gamblang tahapan dan perkiraan di bidang ilmu hayat (biologi), dan implikasinya terhadap kehidupan umat manusia. Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan lainnya juga telah memberikan landasan yang membuat umat manusia berhasil sebagai "pencipta" apa yang dikehendakinya.

***

Apa yang telah dicapai dewasa ini memang menggembirakan. Tetapi dibalik kegembiraan itu masih banyak keprihatinan, kesedihan dan kekhawatiran. Kasus meledak dan hancurnya WTC itu adalah gambaran bahwa kedamaian dan kebahagiaan yang diharapkan menjadi bagian terpenting ciri dari kehidupan umat beradab perlu dipertanyakan kembali. Perang di Afganistan adalah suatu pertanda bahwa memang perang masih menjadi alat perdamaian. Alat perdamaian ? Ya, alat perdamaian yang tentu bersifat semu karena perdamaian itu dasarnya adalah kekalahan dan ketakutan di satu pihak. Yang kalah ini akan mencari peluang entah lima, 10, atau 20 tahun yang akan datang. Secara hakikat, perang di Afganistan tidak ada bedanya dengan perang di Bosnia, dan perang di daerah lainnya. Namanya saja berperang, tentu tujuannya adalah mengalahkan, bukan perdamaian. Apakah tidak mungkin terjadi Perang Dunia - Perang Dunia ke IV dan seterusnya?

Dalam buku 'Practical Ethics for Our Time" karya Eiji Uehiro (1998) dilukiskan penderitaan akibat born atom yang dijatuhkan di Hiroshima. Kejadian ini telah melahirkan dan membangkitkan nurani Tuan Uehiro untuk menyelesaikan satu persoalan: bagaimana menghindarkan perang dan konflik pada masa mendatang. Kesimpulannya adalah: "as long as hate and conflict remain in people's minds, there will be no end to armed conflict".

***

Ada kalangan yang berpandangan bahwa perang adalah suatu proses alamiah untuk memenangkan persaingan terhadap kelangkaan. Persoalannya di sini adalah siapa yang mendefinisikan kelangkaan itu. Pejajahan atau kolonialisme adalah manifestasi mencapai kelimpahan bagi segolongan yang berkuasa melalui pemanfaatan sumber daya yang ada padanya atas kelemahan pihak lain. Ini adalah eksploitasi. Akibatnya, mengalirlah ratusan tahun produk dari negara jajahan ke negara yang menjajahnya, berakumulasi menjadi aset dan kekayaan di negara yang disebut terakhir, tetapi sebaliknya terjadi proses dehumanisasi di negara yang dijajah dan ketimpangan kesejahteraan yang makin melebar antara negara-negara yang dijajah dan yang menjajah.

Sebagai gambaran, dalam tulisan Jeffrey D. Sachs (2001):" Tropical Underdevelopment", kita dapat mencatat bahwa pada tahun 1820 GDP per capita (1990 international dollars) untuk negara-negara non-temperate dan temperate masing-masing adalah US$ 543 dan US$ 794. Jadi perbedaannya hanyalah US$ 251. Kondisi tersebut menjadi melebar pada tahun 1992 yaitu, masing-masing menjadi US$ 10.095 dan US$ 2.556, atau kesenjangannya menjadi US$ 7.539. Kondisi ini jelas menggambarkan bahwa walaupun GDP per kapita negara-negara non-temperate ada pertumbuhan, pertumbuhan tersebut jauh dibawah pertumbuhan negara-negara temperate. Negara-negara non-temperate pada umumnya adalah negara-negara tropis dan sebagian besar merupakan negara-negara bekas jajahan.

Kawasan tropis ini merupakan kawasan dengan penduduk yang padat. Indonesia saja merupakan negara terpadat penduduknya yang keempat di muka bumi ini. Pada tahun 1995 kawasan ini dihuni oleh penduduk 2,019 milyar dari 5,653 milyar penduduk dunia, atau 35,7 % dari penduduk dunia. Dengan jumlah penduduk yang lebih sepertiganya itu, pangsa GDP-nya hanya 17,1 % saja.

Apabila GDP dipandang sebagai indikator kasar kesejahteraan, maka ketimpangan yang makin mengkhawatirkan masa mendatang adalah ketimpangan dalam kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai gambaran kasar, dari 101.330 paten yang dikeluarkan dunia pada tahun 1995, negara-negara tropis hanya menerima 1,880 paten atau hanya 1.9 % dari paten dunia. Hal ini menunjukkan bahwa "what people can do or can be" dari bangsa-bangsa tropis sangatiah lemah. Bagaimana mungkin bangsa-bangsa ini dapat bersaing dengan bangsa-bangsa temperate apabila kemampuan iptek yang menjadi syarat utama kemajuan umat manusia begitu jauh tertingal.

***

Kemiskinan, keterbelakangan, kerusakan lingkungan hidup sekarang ini masih menjadi warna masyarakat dunia. Secara struktural masyarakat dunia ini ini belum banyak berubah dibandingkan dengan kondisi 200 tahun yang lalu. Memang ekonomi dunia telah pesat maju tetapi pesatnya ekonomi tersebut meninggalkan pekerjaan besar yang harus segera dikoreksi. Situasi yang berkembang saat ini tidak dapat menghilangkan rasa benci dan konflik sebagaimana yang diharapkan oleh Tuan Uehiro yang pernah merasakan siksaan radioaktif yang disebarkan bom atom waktu itu. Demikian juga tidak dapat menghilangkan siksaan mereka yang menjadi korban ledakan WTC akibat serangan bunuh diri dengan menabrakan pesawat terbang sipil, yang kemungkinan masih akan terjadi dengan rupa dan bentuk lain pada masa mendatang. Pendek kata situasi dunia sekarang ini masih ada dalam cekaman kekhawatiran yang mendalam yang pemecahannya tergantung pada para pemimpin dunia dewasa ini.

***

Sebagai bagian warga dari bangsa tropis saya menilai bahwa kita perlu membangun etika kehidupan baru. Landasan etika yang mengilhami kehidupan 200 atau lebih hingga dewasa ini adalah etika kapitalisme yang diterjemahkan dalam bebas. Etika ini diwujudkan dalam bentuk persaingan antarbangsa untuk ma, kemakmuran masing-masing bangsa itu. Persaingan adalah suatu hal yang akan selama persaingan itu dilakukan oleh pihak-pihak yang kemampuannya seimbang Seperti halnya dalam bertinju, maka ada kelas pentinju yang boleh bertanding dalam. kelasnya saja. Fakta yang dikemukakan Jeff Sachs diatas jelas tidak menggambarkan kemampuan yang seimbang antarbangsa di muka bumi.

Pertanyaan yang harus kita jawab bersama adalah Apa batas antara persaingan sehat dengan eksploitasi atas kaum yang lemah ?". Pertanyaan ini sangat penting untuk kita jawab dalam rangka mencari format saling-hubungan antarbangsa yang adil dan fair. Mengapa ? Karena kedamaian, kesejahteraan dan kemajuan adalah hasil dari saling hubungan antar-bangsa yang adil dan fair itu. Di luar itu adalah hanya eksploitasi atas kaum yang lemah oleh kaum yang kuat dan berkuasa. Nuansa inilah yang terjadi dewasa ini.

Pergolakan antar-bangsa pada masa lalu dapat dijadikan cermin yang sangat penting. Bung Karno jauh hari sebelum Indonesia merdeka telah meramalkan akan terjadinya kobaran Perang Pasifik, yang intinya adalah pergolakan akibat dari kesengsaraan dan kemelaratan rakyat. Dalam era globalisasi mendatang dua kutub yaitu kemelaratan dan kesengsaraan di satu pihak dan kemewahan dan kekayaan di pihak lain akan sangat transparan adanya. Tak dapat lagi kemewahan dan kekayaan yang bergelimang di satu pihak dapat ditutupi dari penglihatan pihak lain yang miskin dan melarat. Penglihatan itu terjadi di dalam suatu negara/masyarakat dan juga antar-negara/masyarakat. Apabila ini terus berlanjut maka kembali lagi apa yang diimpikan oleh Tuan Uehiro hanyalah menjadi mimpi belaka.

***

Sekarang kita lihat satu segmen masyarakat, yaitu petani. Pertanian adalah sumber kehidupan dan penghidupan utama bagi masyarakat di negara tropis yang pada umumnya masyarakat miskin. Lebih dari 60 % penduduknya tergantung dari sektor ini. Demikian juga perekonomian negaranya. Pertanian di negara-negara ini sangat jauh tertinggal dibandingkan pertanian di negara-negara maju. Kemudian globalisasi dan liberalisasi menjadi bendera dunia yang harus dikibarkan, termasuk bagi pertanian di negara-negara tropis.

Tuan Gerard Doornbos dalam pidatonya pada 7th World Sugar Farmers' Congress di Durban, Afrika Selatan, 11 September 2000, menyampaikan pernyataan berikut: "..In contrast, fanning is in a very precarious situation. Even low cost, progressive farmers are strugling to survive.... The World Bank forecasts that over the next 25 years (to 2025) the world population will grow by another 2 billion, and that global food production will again need to double. What does really mean for farmers?"

Rendahnya harga-harga produk pertanian berimplikasi terhadap rendahnya pendapatan petani. Hasil penelitian Grili dan Young menunjukkan bahwa trend jangka panjang harga riil produk pertanian primer adalah terus menurun, kecuali produk olahannya. Walaupun dalam kondisi menurunnya harga rill tersebut, dalam 30 tahun terakhir telah terjadi lonjangkan produksi pangan dan pertanian lainnya yang sangat signifikan sehingga secara global ketersediaan pangan dunia secara umum berada pada posisi yang aman. Produksi pangan ini telah melampaui pertumbuhan penduduk dunia. Tuan Doornbos mengistilahkan: "This is good news for humanity, but will the farmer deft?" , Menurut Tuan Doornbos, pada masa lalu kita menyaksikan bahwa manfaat peningkatan produktivitas dan efisiensi dalam pertanian telah dinikmati oleh antarapihak di luar masyarakat petani. Saya sependapat dengan Tuan Doornbos ini.

***

Apa yang harus kita lakukan ? Apakah kita harus menambah utang kepada negara-negara temperate ? Apakah kita dapat bekerja sendiri tanpa bantuan negara-negara kaya ? Saya pikir kita harus bangkit berdiri dan memikirkan sendiri secara serius masalah ini, sebelum kita meminta bantuan. Mengapa? Karena selama ini kita bangsa-bangsa tropis pada umumnya telah menyerahkan hal yang paling fundamental kepada bangsa lain atau organisasi dunia-lewat konsultan mereka, yaitu kita meminta mereka untuk mencipta bagi kita. Kita terlena oleh kemanjaan terhadap hal yang mudah sehingga kita lupa bahwa membangun diri kita adalah tugas kita yang utama.

Potensi yang sangat besar adalah manusia baik sebagai human maupun sebagai capital. "What people can do or can be" sebagaimana Amartya Sen sampaikan harus kita tingkatkan. Pertanian adalah instrumen utama untuk itu karena pertanian merupakan bidang pekerjaan yang ada dan hidup rill dalam sebagian besar masyarakat kita. Yang dimaksud pertanian bukanlah hanya bercocok tanam, tetapi juga seluruh sistem yang berkaitan dari hulu, tengah hingga hilir. Makin ke hilir makin besar nilai tambahnya, maka makin kita mampu mengembangkan keseluruhan sistem agrobisnis tersebut, maka potensi untuk memberikan sumber kehidupan dan penghidupan yang makin sejahtera makin terbuka. Hal ini sudah terlalu sering kita bicarakan, tetapi kita belum mampu menjadikannya sebagai bagian kehidupan nyata.

Perjuangan ke arah sang memang tidak mudah. Hal tersebut karena sejarah juga dan tergantung dari etika atau nurani yang hidup dan berkembang di negara maju. Karena itu saya ingin menyinggungnya dari sudut nurani, mengingat hanya nuranilah yang bisa menjawabnya.

Ingatkah pembaca yang budiman akan ceritera Max Havelaar karya Multatuli atau Eduard Douwes Dekker ? Pemikiran yang dilahirkan adalah sentuhan akal-budi yang berkaitan dengan perubahan nurani. Fakta yang ada kita sudah terlalu jauh tertinggal sehingga bagaimana mungkin kita menang bersaing dengan negara maju. Tetapi ingat, mereka kaya karena kita juga. Sebagai ilustrasi, pada tahun 1920 kontribusi nilai ekspor gula tebu mencapai 70,2 % dari nilai total ekspor P. Jawa atau 46,8 % dari nilai total ekspor Hindia Belanda, yang pada waktu itu mencapai 2,3 milyar golden. Hal tersebut telah melahirkan julukan industri gula adalah gabus tempatnya Holland mengapung. Tidak berarti bahwa kita meminta belas kasihan dan menyebar kebencian. Yang saya maksudkan adalah perlu ditumbuhkannya etika baru yang lebih berdasarkan pada nurani untuk mencari tatanan saling hubungan antarbangsa yang adil dan fair demi mewujudkan masa depan dunia yang aman, damai, dan sejahtera sebagaimana menjadi cita-cita kita semua. Bahkan, apabila negara-negara tropis ini menjadi makin sejahtera maka negara-negara kaya akan menjadi semakin kaya juga. Yang perlu menjadi komitmen dunia adalah jangan sampai ketimpangan semakin melebar, penduduk miskin dan tertinggal semakin banyak, dan kerusakan lingkungan hidup semakin parah. Saya sependapat bahwa kita harus cepat maju, tetapi kita hams selalu ingat bahwa si lemah dan si lumpuh juga ingin hidup. Inilah nurani untuk globalisasi abad-21.