.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Article
Untuk Pertanian Indonesia Masa Depan
26 Februari 2010

KERANGKA KELEMBAGAAN UNTUK PERTANIAN INDONESIA MASA DEPAN1

Oleh :
Dr. Ir. Agus Pakpahan
Ahli Peneliti Utama

 

I. PENDAHULUAN

Pertama-tama marilah kita mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah S.W.T. yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita sehingga pada pagi hari ini kita semua dapat berkumpul dalam Acara Simposium Nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Alumni dan Keluarga Besar IPB dengan tema :  Rekonseptualisasi Pembangunan Pertanian Sebagai Basis Perekonomian Bangsa, Proposal untuk Pemerintahan Baru. Saya berpendapat bahwa Simposium Nasional ini merupakan hal penting bagi kita semua mengingat melalui forum ini kita berharap dapat menghasilkan suatu masukan berharga bagi pemerintahan yang akan datang, khususnya dalam hal pengembangan kelembagaan pertanian guna memajukan dan mensejahterakan kehidupan segenap rakyat kita.

Kita menyaksikan bahwa tidak ada negara besar di dunia ini yang kuat tanpa didukung oleh pertaniannya yang tangguh. Pengalaman Uni Soviet sebagai negara adidaya yang akhirnya harus menerima pengalaman pahit karena pertaniannya yang lemah, sehingga harus menggantungkan kebutuhan pangannya kepada negara-negara Barat, dan akhirnya terpeca-belah, tentunya menyadarkan kita semua. Demikian pula kita menyaksikan bagaimana negara-negara di Afrika mengalami kesulitan di dalam menjalankan roda pembangunannya, bahkan beberapa negara mengalami pertumbuhan negatif, karena pertaniannya tidak mendukung ketahanan pangan yang kuat sebagai landasan berjalannya keseluruhan proses pembangunan. Kita juga sering menilai bahwa negara besar akan maju apabila industrinya maju. Pandangan tersebut tidak salah, tetapi kita sering lupa bahwa pertanian di negara tersebut juga pasti sudah terlebih dahulu maju. Bahkan kemajuan dari pertanian itulah, dalam proses kemajuan negara tersebut, merupakan tulang punggungnya.

Kita pun merasakan bahwa dalam krisis ekonomi yang melanda tanah air dewasa ini, pertanian merupakan "dewa penyelamat" kita dari kehancuran total.
 
Kita belajar bahwa kemajuan atau kemunduran suatu bangsa bukanlah suatu proses yang linier. Sejarah peradaban umat manusia mentinjukkan bahwa ada peradaban suatu bangsa yang mengalami kemunduran, tetapi ada juga kita saksikan peradaban bangsa yang makin maju. Suatu bangsa yang maju dan berkembang tampaknya merupakan suatu bangsa yang memiliki daya adaptasi yang kuat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi melalui suatu proses pembelajaran (learning), yaitu proses perubahan perilaku yang permanen, yang dilandasi oleh adopsi atau asimilasi pengetahuan baru yang terus berkembang dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Dalam kaitan ini, Boulding mengatakan bahwa kemajuan peradaban umat manusia sebagaimana kita saksikan hari ini adalah hasil dari revolusi noogenelik, yaitu replikasi informasi dan pengetahuan yang sangat cepat sebagai landasan proses pembelajaran individu atau kelompok dalam masyarakat.

Apabila replikasi informasi dan proses learning itu sebagai landasan kemajuan suatu bangsa, yang tentunya juga menipakan landasan kemajuan pertanian, maka yang menjadi pertanyaan utama dalam konteks pembicaraan kali ini adalah institusi pertanian seperti apa yang akan menciptakan iklim yang kondusif untuk berlangsungnya proses kreativitas dan inovasi serta proses pembelajaran yang kuat di bidang pertanian.

Saya akan mencoba menjawab pertanyaan ini dengan memulainya dari melihat wajah pertanian kita dewasa ini.

II. WAJAH PERTANIAN KITA DEWASA INI

Pengertian pertanian yang dimaksud dalam tulisan ini secara sederhana adalah kegiatan manusia dalam menghasilkan pangan, bahan baku industri, atau jasa yang bersumber dari pengelolaan atau budidaya sumber daya alam atau eskosistem dengan tanaman atau hewan sebagai basis usahanya, baik dengan motivasi untuk memperoleh keuntungan atau untuk memenuhi kebutuhan sendiri dengan demikian, pertanian merupakan kegiatan manusia yang sudah tua usianya. Kegiatan ini sering dipandang sebagai kelanjutan dari berburu, mengumpul atau meramu.

Untuk dapat membangun citra pertanian seperti apa yang diinginkan pada masa mendatang, sangat penting bagi kita untuk mengetahui wajah pertanian kita dewasa ini. Wajah yang dimaksud di sini lebih pada pengenalan kita terhadap hal-hal pokok atau strategic untuk kita jadikan patokan dalam menilai apakah pertanian kita dewasa ini cukup tangguh atau maju. Dengan kecenderungan dunia kita pada masa mendatang itu kompetitif dan global, maka tentunya patokan yang digunakan harus memenuhi kecenderungan tersebut.

Ekspor-Impor. Ekspor-impor perlu dijadikan patokan pertama dalam menilai pertanian. Hal ini sangat penting mengingat dengan kerangka ini pertanian kita disandingkan dengan pertanian negara-negara lain. Negara yang memiliki daya saing yang tinggilah yang akan lebih banyak mengekspor produk-produk pertanian. Apabila lebih banyak produk pertanian yang kita impor daripada yang diekspor, maka artinya pertanian kita menghadapi masalah.

Data impor Indonesia untuk beberapa produk pertanian memberikan gambaran sebagai berikut :

a. Nilai impor daging sapi meningkat dari US$ 6,13 juta pada tahun 1993 menjadi US$ 36,52 juta pada tahun 1997;
b. Nilai impor beras meningkat dari US$. 1,3 juta pada tahun 1993 menjadi US$. 5,3 juta pada tahun 1997;
c. Nilai impor susu meningkat dari US$ 96,5 juta pada tahun 1993 menjadi US$. 114,8 juta pada tahun 1996, dan kemudian menurun menjadi US $. 94,4 juta pada tahun 1997 sebagai darnpak krisis moneter ;
d. Nilai impor mentega meningkat dari US$. 19,0 juta pada tahun 1993 menjadi US$. 42,2 juta pada tahun 1997;
e. Nilai impor keju meningkat dari US $. 7,8 juta pada tahun 1993 menjadi US $. 11,2 juta pada talum 1997 ;
f. Nilai impor kacang tanah kupas meningkat dari US 5. 58,9 juta pada tahun 1993 menjadi US $. 101,1 juta pada tahun 1997 ;
g. Nilai impor bawang putih segar meningkat dad US 5. 20,6 juta pada tahun 1993 menjadi US $. 44,6 juta pada tahun 1997;
h. Nilai impor gula meningkat dari US$ 7,2 juta pada tahun 1993 menjadi US$ 310,69 juta pada tahun1997;
i. Nilai impor kapas meningkat dari US$. 557,0 Juta pada tahun 1993 menjadi US $. 817,0 Juta pada tahun 1997.


Sedangkan dari sisi ekspor, kita menyaksikan bahwa nilai ekspor komoditas pertanian secara umum meningkat dari US$. 3,27 juta pada tahun 1997 menjadi US$. 3,65 juta pada tahun 1998, namun nilai totalnya masih jauh di bawah nilai impor bidang pertanian.

Pada bidang kehutanan dan perkebunan, perkembangan nilai ekspornya adalah sebagai berikut :

a. Nilai ekspor komoditas perkebunan menurun dari US$ 5,23 milyar pada tahun 1997 menjadi US$ 4,13 milyar pada tahun 1998;
b. Nilai ekspor komoditas kehutanan (kayu olahan) menurun dari US$ 5,30 milyar pada tahun 1997 menjadi US$ 3,22 milyar pada tahun 1998;

Dipandang dari sudut ekspor-impor sebagaimana diperlihatkan oleh data di atas, kita dapat menilai bahwa untuk komoditas pertanian di luar perkebunan dan kehutanan menunjukkan defisit yang cukup besar. Berbagai informasi menunjukkan bahwa produk pertanian kita belum mampu bersaing dengan produk pertanian di negara lain.

Nilai Tukar Petani. Telah menjadi pengetahuan kita bersama bahwa pendapatan sebagian besar petani dan nelayan kita masih belum cukup untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Kenyataan ini berhubungan dengan menurunnya harga riil dari komoditas primer pertanian selama hampir 100 tahun, sedangkan harga riil produk olahannya, seperti misalnya minurnan penyegar, cenderung meningkat (Grilli dan Yang, 1988)2. Data perkembangan nilai tukar petani (NTP) menunjukkan gambaran serupa, dimana NTP hanya sedikit di atas 100, bahkan di beberapa propinsi seringkali berada di bawah 100. Kondisi ini secara implisit menggambarkan bahwa sebagian besar produk petani kita masih merupakan produk primer.

Product Development. Dari sekian banyak produk primer yang kita hasilkan, ternyata baru sedikit saja yang kita olah. Dari data yang ada, kita dapat menyaksikan bahwa sebagian besar produk kita masih diekspor dalam bentuk produk primer, seperti misalnya ubi kayo dalam bentuk gaplek, udang dan ikan segar, kopi biji, kakao biji, karet remah (crumb rubber), minyak sawit kasar (crude palm oil), mete glondong dan seba.gainya.Padahal kita tahu bahwa kita dapat memperoleh nilai tambah dari produk yang kita olah. Di samping itu, sebagaimana telah diungkapkan, harga riil produk olahan relatif lebih stabil dan bahkan cenderung meningkat. Oleh karena itu, product development adalah hal yang sangat penting guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat pertanian.

Struktur Usaha Pertanian. Usaha pertanian di Indonesia di dominasi oleh pertanian rakyat dengan jumlah petani yang begitu banyak tetapi output per unit usaha relatif kecil dibandingkan dengan pasar. Akibatnya petani hanya berperan sebagai price taker berhadapan dengan pengusaha yang secara spasial seringkali bersifat monopsonistik atau oligopsonistik, khususnya di daerah yang sarana transportasinya buruk. Dalam struktur pasar seperti ini mutu produk seringkali tidak berkembang. Kondisi ini menyebabkan petani sulit mengembangkan unit usahanya. Bahkan data Sensus Pertanian 1983 dan 1993 menunjukkan adanya peningkatan jumlah petani gurem dari sekitar hampir 8 juta petani menjadi hampir 11 juta petani gurem, yang menandakan bahwa struktur produksi masih jauh dari skala ekonomi. Kondisi ini ditambah pula dengan kenyataan bahwa lokasi usaha , pertanian rakyat yang tersebar dan heterogen sehingga struktur biaya menjadi relatif lebih tinggi, terutama marketing cost. Kita juga menyaksikan masih tampaknya struktur ekonomi dualistik sebagai ciri utama sistein pertanian kita.

Jawa dan Luar Jawa. Di Indonesia terdapat kecenderungan yang paradoksal dimana pertanian, khususnya pangan, berkembang di daerah yang penduduknya padat, yaitu pulau Jawa. Sementara itu kondisi luar Jawa pada umumnya lebih cocok untuk tanaman keras. Yang menjadi persoalan adalah kepadatan penduduk3 dikaitkan dengan perkembangan ekonomi di Jawa maupun di luar Jawa. Intinya adalah pertanian di Jawa yang swat ini lebih banyak untuk pengembangan tanaman pangan (staple food) dengan biaya .produksi relatif mahal, seharusnya diupayakan untuk "bergeser" ke pengembangan high value crops seperti tanaman Hortikultura. Di luar Jawa, di pihak lain, kita menyaksikan minimnya sarana dan prasarana, khususnya sarana perhubungan, irigasi, gudang, penelitian dan pengembangan.

Kaitan Pertanian dengan Ekonomi makro Indonesia. Keadaan sekarang ini menunjukkan bahwa dari sekitar 80 juta angkatan kerja sekitar 50% diantaranya masih bekerja pada bidang pertanian. Ini belum banyak berubah dibandingkan kondisi 30 tahun yang lalu, relatif terhadap penurunan pangsa PDB dari 39% menjadi sekitar 15%. Pasar tenaga kerja yang sebagian besar berada pada bidang pertanian dicirikan oleh mobilitas intersektoral dan spasial yang relatif rendah. Hal ini akan menimbulkan daerah kantong-kantong yang tidak responsif terhadap perubahan parameter ekonomi makro, khususnya yang bersifat kebijakan moneter. Suku bunga tinggi menyebabkan rendahnya investasi pada bidang pertanian, akibatnya tenaga kerja mengumpul di pedesaan. Kalau pun mereka imigrasi ke kota-kota besar, kualitas hidupnya bahkan banyak yang menurun. Rendahnya investasi ini dapat dilihat dari realisasi investasi pertanian, misalnya, pada tahun 1996197, investasi penanaman modal dalam negeri pada bidang, pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan, yang masih menjadi tumpuan untuk menyerap tenaga kerja ternyata hanya 13,8% dari investasi total.

Kaitan Pertanian dengan Lingkungan Hidup. Banyak kalangan berpandangan bahwa beratnya tekanan penduduk di Jawa telah menurunkan daya dukung lahan pertanian. Akibat yang ditimbulkannya antara lain adalah dalam bentuk erosi tanah, penurunan kesuburan tanah sebagai akibat penggunaan pupuk kimiawi dan pestisida. Penggunaan pestisida juga sering diikuti dengan terkontaminasinya rantai pangan yang berdampak negatif terhadap kesehatan. Ekspansi pertanian ke luar Jawa, khususnya pengembangan lahan hutan untuk tanaman pangan dan perkebunan telah banyak digugat karena dinilai memberikan kontribusi yang besar terhadap penurunan biodiversity.

III. WAJAH PERTANIAN MASA DEPAN

Pada awal tulisan ini telah digambarkan bahwa negara-negara industri maju di dunia ternyata memiliki kekuatan pertanian yang besar, yang mampu menghasilkan surplus guna mendukung pertumbuhan industrinya. Kita dapat pula belajar dari pengalaman Inggris yang sebelum era Keynes menggantungkan kebutuhan pangan bangsanya dari daratan Eropa, tetapi ketergantungan tcrsebut ternyata kemudian telah menghancurkan perekonomian negara tersebut. Pengalaman ini tentunya merupakan pelajaran berharga bagi kita sebagai salah satu negara berpenduduk besar di dunia untuk tidak mengabaikan pembangunan pertanian.

Sejarah perkembangan umat manusia menunjukkan bahwa sumber kesejahteraan telah bergeser dari sumber daya alam ke power energy (mesin uap energi combustive) dan sekarang ke pengetahuan dan teknologi sebagai sumber kesejahteraan baru. Oleh karena itu, era mendatang adalah apa yang sering dinamakan para pakar sebagai era pengetahuan dan informasi. Hal ini mengandung implikasi yang sangat mendalam bagi pembangunan pertanian, yang pada intinya adalah bagaimana produk pertanian yang kita hasilkan itu menjadi makin padat teknologi dan ilmu pengetahuan. Produk pertanian yang demikian adalah suatu produk yang berdaya saing tinggi, yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga mampu menghasilkan devisa karena produk pertanian kita dibutuhkan oleh negara lain. Artinya, dari sisi ekspor-impor produk pertanian kita unggul.

Atas dasar pemikiran di atas, pertanian yang kita inginkan adalah pertanian yang modern yang berlandaskan budaya industri. Pertanian yang berbudaya industri adalah suatu sistem pertanian yang dibangun melalui rekayasa dan pemanfaatan iptek guna meningkatkan nilai tambah setinggi mungkin. Dengan rekayasa dan menerapkan teknologi secara tepat, baik masukan, proses maupun pengendalian kualitasnya, akan diperoleh produk yang tepat seperti yang dikehendaki, baik dalam jenis, jumlah, meth maupun waktu. Sejak awal, produk serupa itu tentunya sudah diperhitungkan sebagai kehendak pasar atau konsumen. Bahkan dengan teknologi pemasaran dikembangkan produk-produk yang bukan hanya memenuhi pasar yang ada saja, tetapi juga membentuk pasar atau permintaan baru. Adaptasi teknologi yang berkembang dari pengalaman memproduksi dan pemantauan keinginan serta selera konsumen, membuat produk-produk industri menjadi fieksibel dan mudah disesuaikan. Produk-produk sudah semakin terspesialisasi dan metoda produksi tidak terikat lagi pada produksi massal yang harus menghasilkan barang yang seragam. Dalam proses itulah industri memperoleh nilai tambah. Makin tepat hasilnya keinginan konsumen, makin tinggi nilainya.

Ke arah itulah masyarakat pertanian perlu kita bangun bersama. Pendekatannya dapat dinamakan pendekatan industri. Maksudnya adalah membangun masyarakat yang mampu menangani pertanian secara industri. Mungkin ini bukan konsep yang baru, karena perekayasaan sebagai intinya industri, dalam batas-batas tertentu juga telah sejak lama diterapkan dalam bidang pertanian. Namun pendekatan ini penting untuk dikemukakan agar kita series lagi mengembangkannya.

Pengertian industri di sini bukan semata-mata mendirikan Pabrik-pabrik . pengertian yang lebih fundamental adalah membangun sikap mental dan budaya sebagaimana yang hidup di masyarakat industri. Kebudayaan industrial ini mempunyai ciri sebagai berikut4 :

a. pengetahuan merupakan landasan utama dalam pengainbilan keputusan (bukan intuisi atau kebiasaan saja) ;
b. kemajuan teknologi merupakan instrumen utama dalam pemanfaatan sumberdaya ;
c. mekanisme pasar merupakan media utama dalam transaksi barang dan jasa ;
d. efisiensi dan produktivitas sebagai dasar utama dalam alokasi sumberdaya dan karenanya membuat hemat dalam penggunaan sumberdaya ;
e. mutu dan keunggulan merupakan orientasi, wacana, sekaligus tujuan
f. profesionalisme merupakati karakter yang menonjol ; dan
g. perekayasaan harus menggantikan ketergantungan pada alam sehingga setiap produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan yang telali ditetapkan lebih dahulu dalam mufti, jumlah, berat, volume, bentuk, warna, rasa, khasiat, dan sifat-sifat lainnya, dengan ketepatan waktu.

Dengan demikian, membangun masyarakat pertanian berkebudayaan industri adalah dengan mengembangkan ciri-ciri tersebut di atas dalam penanganan bidang pertanian, mulai dari kegiatan hulu, tengah dan hilir. Dengan pendekatan ini maka kelemahan-kelemahan dalam sistem pertanian yang tradisional dapat dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat lebih efisien. Produktivitas pertanian dapat ditingkatkan, demikian pula harkat dan martabat para pelakunya, khususnya para petani. Oleh karena itu pula, membangun masyarakat pertanian yang berkebudayaan industri juga sejalan dengan keinginan kita untuk lebih memberdayakan ekonomi rakyat dan sekaligus pula meningkatkan daya saing pertanian secara keseluruhan. Saat ini adalah momentum yang tepat untuk melaksanakan pendekatan tersebut, mengingat dampak krisis ekonomi yang kita alami saat ini telah mengembalikan posisi pertanian sebagai andalan kita dalam proses pemulihan dan pembangunan ekonomi nasional pada dekade-dekade mendatang.

Tekonologi yang dimaksud tidak selalu harus berupa teknologi canggih. Bahkan dianjurkan kita memulai dari penerapan dan pengembangan local genius atau tacit knowledge. Dengan pendekatan kita akan mampu mengembangkan keunggulan kompetitif yang bersumber pada kondisi local specific. Hal ini sangat penting mengingat kondisi sumber daya alam, kekayaan budaya dan kondisi sosial ekonomi Indonesia yang beraneka ragam.

Hal yang tidak kalah pentingnya di dalam sistem pertanian modern dimaksud adalah pemanfaatan keaneka-ragaman biologi (biodiversity) yang kita miliki. ini tidak berarti kita menentang alam dan merusak lingkungan. Yang dikembangkan adalah bagaimana kita memanfaatkan iptek agar kita tidak merusak lingkungan. Dengan kekayaan Indonesia akan keanekaragaman plasma nutfah, nomor dua di dunia setelah Amazon di Brazil, maka demikian besar potensi plasma nutfah Indonesia untuk mendukung kehidupan umat manusia pada masa yang akan datang. Langkah pertama telali kita kerjakan dalam tiga puluh tahun terakhir ini, yaitu kita telah menetapkan, baik kawasan-kawasan konservasi maupun bentuk penanganan lainnya. Yang kemudian perlu kita usahakan adalah bagaimana memanfaatkan sumber daya biologis tersebut, baik yang berupa tanaman, hewan, maupun mikro-organisrne yang terdapat di daratan atau di perairan. Wajah pertanian masa depan adalah pertanian modern yang memperhatikan prinsip keberlanjutan (sustainability) baik dari aspek sosial, ekonomi maupun ekologi. Yang akan kita bangun adalah suatu sistem pertanian yang memperhitungkan kebutuhan generasi yang akan datang.

Apabila kita berhasil membangun pertanian yang modern dan berbudaya industri sebagaimana tersebut di atas, maka kita dan khususnya masyarakat pertanian dapat berharap untuk hidup lebih makmur dan lahan yang relatif lebih subur berkat keberhasilan rekayasa dan pemanfaatan iptek yang kita jalankan. Rekayasa dan pemanfaatan iptek diharapkan pula dapat menghemat penggunaan sumber daya sehingga tidak sampai terkuras.

Pembangunan pertanian yang modern akan berdampak positif kepada pengembangan kegiatan lainnya baik pada kegiatan hulu maupun hilir (backward and ftrward linkages). Dengan demikian kita dapat berharap terjadinya akselerasi pertumbuhan bidang agroindustri dan berkurangnya ketergantungan kita kepada bahan baku impor. Perkembangan ini akan memperkuat sisi penerimaan devisa sebagai dampak positif surplus perdagangan internasional bidang pertanian, berkat tingginya daya saing produk pertanian yang kita hasilkan.

Dari uraian tersebut di atas, dapat kita pahami bahwa kunci utama untuk membangun sistem pertanian modern tersebut terletak kepada keberhasilan kita membangun sistem pengembangan sumber daya manusia dan penguasaan iptek yang diperlukan di dalam mendukung sistem dimaksud. Keberhasilan kita di dalam mengembangkan bidang itu akan menghasilkan peningkatan produktivitas masyarakat pertanian kita. Terkait dengan hal ini, kita juga membutuhkan sustu sistem penelitian dan pengembangan (R & D) yang terkoordinasi dengan baik yang menerapkan prinsip sharing dan networking sehingga sumber daya yang ada benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal dan tepat sasaran.

IV. KELEMBAGAAN UNTUK PERTANIAN MASA DEPAN

Di samping keberadaan sumber daya alam, permodalan, teknologi dan sumber daya manusia, kelembagaan memainkan peranan yang penting dalam pembangunan pertanian. Bahkan tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa pada akhirnya semua jenis faktor penentu kemajuan pertanian tersebut di atas dikondisikan oleh kelembagaan.

Dengan perkataan lain, kinerja apa yang akan dicapai seperti produktivitas, efisiensi dan distribusi pendapatan adalah ditentukan oleh kelembagaan yang mendasari usaha pertanian dalam suatu masyarakat. Dapat dikatakan demikian karena kelembagaanlah yang mengendalikan, mengontrol, atau mengatur interdependensi antar pelaku ekonomi terhadap keseluruhan sumber daya. Artinya pula kelembagaan itulah yang mengatur siapa memperoleh apa dan berapa banyak.

Kelembagaan selalu berada claim konteks sosial. Dalam ekonomi dimana unitnya adalah transaksi, kelembagaan memiliki peran ganda.

Pertama, kelembagaan mendefinisikan nilai, baik dalam artian baik atau buruk, maupun dalam artian salah atau benar. Produktivitas, misalnya, merupakan nilai yang dipandang baik untuk dicapai bahkan harus terus ditingkatkan. Demikian pula halnya dengan efisiensi. Apabila masyarakal memberikan nilai yang rendah terhadap efisiensi atau dengan perkataan lain memberikan nilai yang tinggi terhadap kemubaziran, maka masyarakat tersebut akan menghasilkan alokasi sumber daya yang tinggi tingkat kemubazirannya. Contoh lainnya adalah yang menyangkut anti kemajuan atau kemandirian, misalnya, petani yang tidak menggantungkan dirinya kepada pihak lain adalah baik.

Dalam hal salah atau benar, kelembagaan dapat dijumpai dalam bentuk tradisi, atau peraturan perundangan. Dalam konteks ini, suatu kegiatan dikatakan salah, yang diukur oleh penyimpangannya dari tradisi atau aturan main yang ada. Apabila masyarakat menerima bahwa mencuri itu sesuatu hal yang benar, maka dapat dipastikan masyarakat tersebut akan sulit maju mengingat akan sangat mahal bagi masyarakat tersebut untuk menghasilkan barang dan jasa. Hubungan dimensi salah atau benar ini dengan dimensi baik atau buruk akan berkembang secara dinamis sesuai dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi di dalam suatu masyarakat.

Kedua, kelembagaan dalam artian organisasi. Dalam artian ini yang dimaksud kelembagaan bukan hanya terdiri atas nilai dan aturan main, tetapi juga struktur, partisipan, teknologi, dan lingkungan yang mampu mentransformasikan input menjadi suatu output masyarakat. Dalam pengertian ini, organisasi bukan hanya terdiri atas organisasi pemerintahan, misalnya, tetapi juga termasuk pasar.

Berdasarkan  uraian yang disampaikan pada Bab III, kita mengetahui bahwa pertanian yang kita inginkan adalah pertanian yang berkebudayaan industri, yang tentunya berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang mampu menghasilkan pertanian yang berkelanjutan. Melalui cara tersebut, kita mengharapkan harkat dan martabat petani akan makin meningkat dari hari ke hari dan produk pertanian kita bukan hanya dapat bersaing di dalam negeri, tetapi juga dapat menembus pasar global. Yang harus selalu kita ingat adalah dunia yang kita hadapi adalah dunia yang cepat berubah dan makin meningkat derajat kompetisi di dalamnya. Hal yang disebut terakhir ini mengandung implikasi yang sangat luas terhadap kelembagaan untuk mendukung pertanian pada masa yang akan datang.

Dalam banyak pernyataan, kita mendengar bahwa alokasi sumber daya yang paling efisien akan dicapai apabila kita menerapkan mekanisme pasar. Apakah artinya kita harus berdiam pasif dan menyerahkan semua aktifitas ekonomi kepada mekanisme tersebut ? Saya ingin mengemukakan bahwa banyak hal yang harus kita lakukan khususnya dalam pengembangan institusi apabila kita ingin memperoleh manfaat dari mekanisme pasar global yang hampir pasti tidak dapat kita hindarkan, apabila kita tidak malu hanya menjadi penonton saja, dan menjadi korban dari mekanisme tersebut.

Di balik istilah pasar tersembunyi asumsi bahwa yang akan memperoleh rnanfaat dari mekanisme tersebut adalah para pihak yang mampu menghasilkan produknya secara efisien. Dengan demikian, bagi para pihak yang tidak dapat bersaing, dia harus keluar dari pasar. Pengalaman dengan gula yang kita hadapi akhir-akhir ini merupakan salah satu contoh dimana apabila proteksi tidak diterapkan dan apabila kita tidak dapat segera meningkatkan efisiensi di bidang ini, maka dalam waktu singkat industri gula kita khususnya yang berada di Jawa harus tutup. Hal ini akan berlaku juga untuk usaha bidang pertanian lainnya apabila kita tidak dapat segera meningkatkan daya saing kita.

Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah menggeser paradigma pembangunan pertanian kita dari memproduksi komoditas menjadi meningkatkan kapabilitas. Pergeseran paradigma ini akan mengandung implikasi yang sangat luas serta membuka cakrawala baru dalam melihat dunia pertanian kita. Apabila kita tetap menggunakan paradigma menghasilkan komoditas, maka yang akan kita lakukan adalah lebih terkonsentrasi kepada bagaimana meningkatkan produksi dengan meningkatkan penggunaan input. Sedangkan apabila landasan paradigma pembangunan pertanian adalah peningkatan kapabilitas, maka konsentrasi kita akan lebih banyak pada bagaimana menemukan cara baru agar kita dapat menghasilkan produk yang lebih banyak, lebih baik atau lebih unggul dengan input yang lebih sedikit. Inilah yang dinamakan peningkatan kapabilitas yang landasannya berupa inovasi teknologi atau proses kreasi lainnya.

Oleh karena itu yang menjadi pertanyaan pokok apabila paradigma diterapkan adalah wujud kelembagaan atau organisasi seperti apa yang mampu membangkitkan, mendorong atau meningkatkan proses kreatifitas masyarakat.

Secara sederhana kapabilitas dapat diartikan sebagai "what people can do": "People" ini dapat diartikan sebagai petani, pedagang komoditas pertanian, pengusaha industri pengolahan, birokrat, perumus kebijakan, bankers, lembaga pendidikan, lembaga R & D atau para pelaku lainnya di bidang pertanian. Semua pelaku ekonomi tersebut harus memiliki kerangka berpikir dan sikap mental yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkait dengan kapabilitas, bukan dengan penampilan atau bahkan kekuasaan. Dengan perkataan lain, persepsi akan kemajuan, efisiensi, produktivitas dan elemen lainnya dalam pertanian berkebudayaan industri sudah menjadi nilai bersama selurnh anggota masyarakat dimaksud.

Mengingat wajah pertanian kita dewasa ini masih dicirikan oleh kondisi sebagaimana telah diuraikan di atas, maka pertanyaan yang relevan adalah apakah kita akan mengikuti kecenderungan tatanan kelembagaan yang menjadi landasan kehidupan pertanian dewasa ini ? Saya ingin mengemukakan struktur pertanian yang ada dewasa ini tidak akan mampu membawa kita kepada kenyataan yang kita inginkan. Pertimbangannya adalah sebagai berikut :

1. Mayoritas petani dengan lahan sempit, modal terbatas, dan terdisorganisasi tidak mungkin dapat bersaing dengan pertanian yang berkembang di negara lain, mengingat daya asimilasi atau daya absorbsi terhadap kemajuan di bidang iptek serta mahalnya bagi inerekti menembus pasar secara sendiri-sendiri ;
2. Melembaganya struktur ekonomi dualistik di bidang pertanian pada umumnya akan menciptakan hubungan sosial yang disharmonis sehingga menimbulkan ongkos transaksi yang relatif tinggi bagi sistem pertanian kita ;
3. Dalam kondisi (1) dan (2) di atas, tercipta persaingan langsting
4. maupun tidak langsung antara petani dengan para pengusaha besar yang menghasilkan produk yang satna, baik dalam hal pemanfaatan lahan serta sara.na produksi lainnya, maupun dalam mengisi pasar ;
5. Struktur yang ada sekarang juga masih berbias pada upaya menghasilkan komoditas semata bukan untuk meningkatkan kapabilitas ;
6. Struktur yang ada sekarang masih berbias kepada usaha di hulu dan
belum banyak berkembang pada tahapan tengah dan hilir (final product).

Oleh karena itu, kita harus berupaya sekuat tenaga membangun institusi atau struktur barn untuk menyiapkan pertanian kita dalam mengisi era mendatang, dengan kerangka kelembagaan sebagai berikut :

1. Petani harus menjadi pelaku utaina dalam usaha on farm dengan meningkatkan skala usahanya ataupun kapabilitasnya, termasuk di dalarnnya kapabilitas menyerap teknologi barn, dan manajemen usahataninya. Institusi yang tepat untuk mewujudkan hal ini adalah melalui pengembangan koperasi petani. Dengan struktur ini masalah skala usaha, network, permodalan, serta hal-hal lain yang tidak dapat diatasi secara individu dapat dibangun dengan membangun kebersamaan dalam suatu koperasi.

2. Memberikan insentif yang tinggi bagi para pengusaha di bidang pertanian yang dari hari ke hari selalu memperbaiki teknologi maupun manajemen yang digunakannya, sehingga dihasilkan produk yang lebih baik dan lebih murah. Sebaliknya, dikenakan disinsentif bagi pengusaha di bidang pertanian yang memboroskan atau membuat sumber daya itu mubazir. Dengan cara ini diharapkan akan bangkit dan berkembang para pengusaha yang memiliki core competence di bidang pertanian.

3. Memberikan insentif kepada dunia usaha di bidang pertanian yang membangun dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi clan peningkatan kualitas SDM bidang pertanian.

4. Membangun kelembagaan keuangan yang secara khusus menyediakan dana untuk membiayai usaha di bidang pertanian yang dimiliki oleh para petani, koperasi pertanian, dan para pengusaha bidang pertanian.

5. Membangun lembaga-lembaga pernasaran yang mampu menjadi media bagi berkembangnya pasar komoditas pertanian yang maju dan canggih, sebagaimana dijumpai di negara-negara maju.

6. Melengkapi dunia usaha pertanian dengan peraturan perundangan yang mampu mendorong investasi di bidang pertanian dan menekan ekonomi biaya tinggi di bidang ini.

7. Mengembangkan aliansi strategis dengan lembaga-lembaga internasional khususnya yang bergerak di bidang R&D, pendidikan, dan pemasaran komoditas pertanian.

8. Membangun sarana dan prasarana, baik sarana irigasi, transportasi, maupun komunikasi yang mampu meningkatkan interaksi antar para pelaku ekonomi bidang.pertanian secara cepat dan murah.

9. Meningkatkan rasa cinta dan kebanggaan masyarakat akan produk-produk pertanian yang diproduksi di dalam negeri dan pada produk pertanian yang didatangkan dari luar negeri.

10. Secara konsisten menerapkan politik industrialisasi yang berbasis pada pengembangan agroindustri dan agribisnis. Dalam kaitan ini, Departemen yang menangani pertanian harus pula diberi kewenangan menangani industri primernya.

Uraian di atas membawa kita kepada suatu kesimpulan bahwa kelembagaan pertanian yang mampu hidup pada masa mendatang
 
kelembagaan pertanian yang dapat mengembangkan keterpaduan kualitas sumberdaya manusia, peningkatan penguasaan iptek, pengembangan sarana dan prasarana, dan pengembangan bentuk dan sistem institusinya. Untuk menciptakan interaksi yang harmonis diperlukan kelembagaan pertanian yang :

a. Fleksibel dan inovatif.
Kelembagaan pertanian baru mampu menjadi dinamisator dan katalisator bagi masyarakat claim pelaksanaan pembangunan pertanian, dan mampu menyesuaikan dengan perkembangan sosial, ekonomi, budaya, politis dan ekologi yang berubah begitu cepat di kalangan masyarakat. Disamping fleksibel, kelembagaan juga harus bersifat inovatif sehingga harus mampu mengemban visi dan misi pembangunan pertanian, mampu memanfaatkan peluang yang ada dan mampu secara konsisten inendinamisasikan seluruh pelaku pertanian.

b. Networking dan sharing.
Tanpa dukungan semua pihak, maka pelaksanaan kebijakan yang beratjuan ineningkatkan produktivitas masyarakat secara berkeadilan akan mengalami hambatan. Oleh karena itu, kita harus mampu mengikutsertakan seluruh komponen bangsa dalain suatu jaringan (network) yang sinergis, yang terdiri atas lembaga penelitian dan pengembangan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), mahasiswa dan birokrat.

Untuk memberdayakan ekonomi kerakyatan, pemisahan porsi yang disesuaikan dengan core competence mutlak diperlukan. Selama ini pengusaha besar dapat berkiprah di semua usaha, baik tengah maupun hilir. Ke depan, porsi usaha hulu Iebih tepat jika diusahakan oleh petani, koperasi dan pengusaha kecil, sedangkan usaha tengah dan besar dapat diusahakan oleh pengusaha menengah dan besar. Pengusaha besar harus memberikan peluang untuk berbagi saham (sharing ownership) dengan petani, koperasi dan pengusaha kecil. Sehingga kesenjangan diantara pelaku dapat diminimalkan.

c. Learning dan Unlearned
Untuk membangun masyarakat pertanian yang maju, mandiri dan sejahtera yang berbudaya industri dan menguasai iptek diperlukan pendidikan dalam arti luas yang berkesinambungan sebagai learning process. Proses perubahan perilaku dapat berlangsung melalui 3 (tiga) tahanan yaitu psychomotor domain yang ditandai dengan perubahan
 
keterampilan (skill), cognitif domain yang ditandai dengan perubahan pengetahuan (knowledge) dan proses pembelajaran terakhir adalah affective domain yang ditunjukkan dengan perubahan sikap (attitude). Ketiga tahapan pembelajaran tersebut akan menentukan tingkat kinerjanya yang merupakan modal dasar untuk mengembangkan kelembagaan pertanian yang kokoh dan utuh. Sebaliknya, kita juga membutuhkan proses unlearned terutama terhadap nilai-nilai, sikap atau tradisi, peraturan maupun organisasi ekonomi yang memang dirasakan sudah tidak sesuai lagi dengan berbagai perubahan yang terjadi.

d. Perubahan dari orientasi komoditi ke kapabilitas

Tradisi pertanian yang selama ini tergantung pada alam harus dikembangkan pada tradisi bekerjasama dengan alam melalui rekayasa teknologi dan sosial untuk meningkatkan mutu kehidupan masyarakat. Dengan demikian orientasi pertanian kita yang masih lebih di titik beratkan pada produksi/komoditi harus diubah menjadi kemampuan sumber daya manusia untuk memenuhi permintaan pasar. Pasar sendiri dalam pengertian yang dinamis, mengingat taraf hidup, kesejahteraan masyarakat, selera dan tuntutan pasar juga tentu berkembang. Konsumen mempunyai kecenderungan lebih menginginkan produk yang mutunya baik, higienis dan ramah lingkungan.

e. Otonomi/kewenangan

Kelembagaan pertanian di masa depan harus mempunyai kewenangan yang memadai agar mampu berperan untuk mewujudkan pertanian sebagai basis ekonomi bangsa. Sehingga semua unsur manajemen harus dimulai dari kondisi di lapangan (bottom up management).

V. PERAN PEMERINTAH

Pemerintah akan tetap memegang peranan penting dalam mewujudkan pertanian yang kita inginkan di atas. Peran pemerintah utamanya dalam hal-hal berikut :

1. Meningkatkan akses bagi petani khususnya dan para pelaku ekonomi lainnya terhadap pendidikan, pelatihan, dan upaya lainnya dalam meningkatkan kualitas SDM pertanian secara berkesinambungan. Upaya pengembangan Land Grant dan Levy and Grant sebagaimana yang saat ini sedang dirintis, perlu terus dioptimalkan dan dilanjutkan.
 
2. Pemerintah memiliki peranan yang sangat penting dalani menjaga terwujudnya persaingan yang sehat dan mencegah terjadinya kekurangan-kekurangan di antara para pelaku ekonomi dibidang pertanian.

3. Pemerintah tetap memiliki peran yang strategis dalam mencegah terjadinya kerusakan lingkungan atau kemunduran kualitas hidup khususnya para petani.

4. Pemerintah berfungsi sebagai fasilitator dan katalisator bagi terselenggaranya perundingan-perundingan atau kerjasama khususnya dengan lembaga-lembaga internasional.

5. Pemerintah tetap memegang peranan penting dalam mendukung program-program pengembangan iptek pertanian terutama iptek yang sifatnya masih ada dalam dimensi frontier.

6. Melakukan redistribusi asset produktif khususnya sumber daya lahan dan permodalan untuk mendukung penyediaan lahan bagi petani atau koperasi pertanian.

7. Pemerintah perlu merumuskan dan menetapkan serta melaksanakannya secara konsisten suatu politik industrialisasi yang berlandaskan atas kebutuhan untuk membangun agroindustri dan agribisnis di tanah air.

Dengan memainkan peran-peran di atas, maka dapat diharapkan pertanian kita akan berkembang ke arah terwujudnya wajah pertanian masa depan sebagaimana yang digambarkan di atas.


VI. PENUTUP

Dunia yang kita hadapi pada masa yang akan datang, kondisinya sangat  berbeda dibandingkan dengan kondisi di masa lalu. Kemajuan dalam iptek khususnya di bidang komunikasi dan transportasi telah membuat dunia ini menjadi satu. Dalam dunia tersebut hanya yang efisienlah yang akan tetap hidup. Oleh karena itu, usaha pertanian kita juga tidak akan dapat bertahan kecuali apabila secara radikal kita dapat segera memperbaiki diri khususnya dalam meningkatkan daya saing pertanian kita. Landasan ke arah tersebut adalah membangun pertanian kita yang akomodatif dan adaptif terhadap kemajuan di bidang iptek yang bergerak semakin cepat.

Dalam bidang kelembagaan, telah diuraikan langkah-langkah yang perlu ditempuh, yang harus kita laksanakan secara sungguh-sungguh dan konsisten. Secara ringkas proposal bentuk kelembagaan yang perlu wujudkan adalah kelembagaan yang mampu membuat para petani dan para pelaku ekonomi lainnya di bidang pertanian bersaing secant global. Kelembagaan dimaksud dapat diwujudkan melalui peningkatan kemampuannya dalam inovasi, dalam meningkatkan dan meredistribusi insentif secara adil dan merata, dalam membangun mekanisme yang demokratis dan yang mampu menginternalisasikan seluruh eksternalilas sehingga terwujud pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Salah satu unsur strategis adalah mengintegrasikan kewenangan mengelola bagian on farm dan industri primernya dalam satu Departemen agar keseluruhan proses dapat dibangun secara sinergis.





Jakarta, 23 Juli 1999


_________________________________________
1Disampaikan Pada Simposium Nasional Rekonseptualisasi Pembangunan Pertanian Sebagai Basis Ekonomi Bangsa Proposal untuk Pemerintahan Baru. Jakarta, 23 – 24 Juli 1999
2Grilli. E.R. and M.C. yang. 1988. Primary Comodity Prices, Manufactured Goods prices, and the terms of Trade of Developing Countries : What the Longrun Shows. The World Bank Economic Review, Vol.2.(1), January 1988; 1-48
3 Data BPS tuenunjukkan bahwa pada tahun 1997 kepadatan penduduk pulau Jawa tnencapai 926 jiwa/km2. Sementara itu kepadatan penduduk di luar Jawa masing.-ma sing adalah Suinatera 88 juta/km2, Bali, NTT. NTB dan Timtim 129 jiwa/km2 , Kalimantan 20 jiwa/km2, Sulawesi 74 jiwa/km2 dan Irian Jaya 8 jiwa/km2.
4 Ciri-ciri kebudayaan industrial ini telah disampaikan oleh Ginanjar Kartasismita pada Dies Natalis ke 33 Institut Pertanian Bogor tahun 1996