.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Article
Strategi Ekoindustri (Bag.1)
02 Maret 2010

Strategi Ekoindustri Untuk Pembangunan Berbasis Sumber Daya Alam Terbarukan

Oleh :
Dr. Ir. Agus Pakpahan

 


I. PENDAHULUAN

Letak strategis sumber daya alam, khususnya yang terbarukan seperti tanah, air, atau hutan, dalam perekonomian suatu negara bukanlah suatu hal yang baru. Bahkan tidak terlalu berlebihan apabila dikatakan bahwa perkembangan ilmu ekonomi dan kebijakan pembangunan ekonomi suatu  negara pada awalnya berbasis pada sumber daya alam, khususnya pertanian. Pada era ini, kemakmuran suatu bangsa ditentukan oleh sumber daya alam yang dimilikinya. Malthus (1766-1834) dan Ricardo (1722-1823) merupakan dua tokoh klasik1  yang menaruh perhatian yang sangat besar terhadap kedudukan dan arti lahan pertanian terhadap perekonomian suatu bangsa. Kedudukan dan arti sumber daya lahan ini terus berkembang sejalan dengan kemajuan di berbagai bidang, khususnya teknologi, perdagangan, dan politik internasional.

Sejalan dengan perkembangan industrialisasi di Eropa Barat pada abad ke 19, tuntutan akan bahan baku yang bersumber dari sumber daya lahan terus meningkat. Dengan dukungan armada  pelayaran dan militer yang kuat, maka zaman kolonialisme berkembang. Negara-negara di kawasan asia, Afrika dan Amerika Latin pada umumnya menjadi negara-negara jajahan yang menjadi pemasok bahan baku industri yang berkembang di Eropa dan Amerika Utara. Bukan hanya itu, dampak dari kolonialisme juga perbudakan menjadi bagian dari sisi gelap peradaban manusia.

Situasi di kepulauan Nusantara juga tidak berbeda. Portugis, spanyol, Inggris dan Belanda datang ke wilayah ini pada mulanya untuk memperoleh  rempah-rempah. Tetapi kemudian mereka menduduki wilayah ini dan mengambil manfaat dari sumber daya alam yang tersedia di wilayah ini baik untuk keperluan perkebunan maupun untuk sumber pendapatan lainnya. Tanaman jati di  jawa menarik para pengusaha belanda dan kalangan Eropa lainnya untuk memanfaatkan hutan di jawa. Perkebunan tebu, teh, karet, kopi, kakao dan lain – lain juga di kembangkan di Nusantara. Pola hubungan yang berkembang lebih bersifat eksploitatif, dalam arti manfaat untuk masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat lokal minimal. Bahkan pola hubungan eksploitatif tersebut lebih banyak bersifat menyengsarakan rakyat sehingga banyak yang melakukan perlawanan fisik. Sepanjang abad ke XVII dan XVIII, misalnya, sejarah mencatat perlawanan Sultan Iskandar Muda di Aceh (1607-1645). Sultan Agung di mataram (1613-1645). Truno Joyo (1671-1679), pemberontakan Sultan Banten dan Pemberontakan yang dimotori oleh masyarakat keturunan Tionghoa di Batavia pada tahun 1740 yang memakan banyak korban jiwa yang menghancur industri gula di jawa2 . pada abad XIX kita menyaksikan praktek ekonomi perbudakan oleh pemerintah kolonial3. Pada abad  XX pun sejarah masih mencatat berbagai bentuk ketidak-puasan masyarakat disekitar daerah perkebunan. Bahkan dalam era pasca kemerdekaan pun konflik sosial antara masyarakat dengan usaha perkebunan masih terus berlangsung. Akhirnya abad XX ini (1998) kita masih mencatat suatu ledakan konflik sosial yang  sangat besar hingga mencapai kerugian ekonomi perkebunan sekitar Rp. 2,6 Trilyun4 .  hal serupa juga di bidang usaha kehutanan dengan tingkat kerugian ekonomi yang makin meningkat dari hari ke hari.

Disamping fenomena ekonomi sebagaimana diuraiakan diatas, selama abad ke XX ini telah terjadi suatu perkembangan dunia yang tidak pernah terjadi sebelumnya dengan laju yang makin tepat. Bagi  negara maju, sumber daya alam memang telah berubah terhadap perekonomian (Pendapatan, kesempatan kerja dan sumber devisa) negara maju telah menurun dengan tajam. Jumlh petani di amerika serikat dewasa ini misalnya, tinggal sekitar 2 % demikian juga di jepang dan korea selatan saat ini jumlah petaninya sekitar 9 % dari penduduk total negara tersebut. Reformasi ekonomi melalui industrialisasi di negara maju dewasa ini telah melahirkan sektor ekonomi baru yang makin dominan, yaitu industridan jasa.

Sejalan dengan kemajuan yang terjadi di negara maju, sumber daya alam kedudukan dan fungsinya  bergeser dari sebagai pemasok lahan bahan baku menjadi sumber kesejahteraan masyarakat dalam bentuk lainnya yaitu lebihh sebagai penghasil jasa lingkungan. Salah satu diantaranya adalah eko-wisata. Pandangan ini sejalan dengan tumbuh dan berkembangnya pengetahuan dan perhatian masyarakat terhadap mutu lingkungan hidup dimana pada era sebelumnya banyak mengalami perusakan akibat dampak negatif  dari industrialisasi. Hal ini berkembang sangat cepat sehingga perhatian akan aspek lingkungan hidup ini sekarang telah menjadi  standar ilmiah yang mencakup pula persyaratan – persyaratan yang harus diikuti oleh negara-negara  berkembang dalam menjalankan roda pembangunan.

Bersamaaan dengan pengembangan diatas, diakhir abad ke XX ini terjadi pula revolusi pula di bidang transportasi dan telekomunikasi. Kedua hal iini membuat dunia menjadi  sempit dan lokasi menjadi aspek yang kurang signifikan. Era ini sering di namakan era globalisasi yang kurang lebih artinya dunia ini telah menjadi satu, dan bagian dunia yang satu dengan bagian dunia yang lainnya menjadi saling tergantung. Hampir dapat dikatakan semua  hal yang dapat  di hasilkan dimana saja dan berasal dari mana saja. Mobilitas barang, jasa, informasi dan manusia menjadi demikian tinggi dan peranan suatu negara menjadi demikian kecil yang muncul adalah kekuatan-kekuatan baru dalam bentuk kelembagaan internasional seperti WTO, APEC, AFTA, NAFTA dll. Dalam era ini sumber kekuatan suatu negara bukan lagi terletak pada jumlah penduduk yang besar, misalnya tetapi lebih pada penguasaanya akan ilmu pengetahuan teknologi yang didukung oleh kemajuan yang andal dalam bidang manajemen dan organisasi pemanfaatnya secara keseluruhan.

Perkembangan situasi di atas memiliki implikasi yang  sangat penting terhadap indonesia. Disatu pihak perkembangan dunia dimana kita berada telah berubah sedemikian rupa. Tetapi dipihak lain kondisi sosial ekonomi masyarakat indonesia kesiapannya untuk memasuki era globalisasi ini masih beragam terdapat sebagian masyarakat indonesia yang sudah hidup lama lingkungan era informasi tetapi sebagian besar masyarakat  indonesia pada umumnya masih berada pada era argraris krisis ekonomi yang terjadi akhir –akhir ini bahkan memperlihatkan bahwa sektor pertanian (dalam arti luas) merupakan andalan ekonomi nasional sebagai mana yang dialami pada krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1990 an. Hal ini menunjukan bahwa sektor ekonomi yang berbasis sumber daya alam khususnya petani, bagi bangsa indonesia masih tetap menjadi sektor kehidupan yang  utama bagi sebagian besar bangsa Indonesia. Yang menjadi pertanyaan mendasar adalah bagaimana indonesia harus mengelola sumber daya alam tersebut berbagai basis kesejahteraan, kemajuan, dan kemandirian ekonomi bangsa indonesia pada era yang sangat berbeda dengan era yang telah kita lalui.

Pada kesempatan orasi ilmiah ini saya akan memusatkan perhatian pada sektor kehutanan dan perkebunan sebagai kegiatan ekonomi yang memilki potensi besar untuk mendukung perekonomian nasional pada masa mendatang, terutama dalam kaitannya dengan pegembangan basis ekspor dan agroindustri dengan sistematika sebagai berikut : pertama, wajah dunia yang  akan dihadapi pada era abad XXI. Uraian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai situasi dunia dan juga situasi nasional yang menjadi  konteks atau lingkungan yang perlu diperhatikan agroindustri khususnya dan pertanian pada umunya. Kedua, kondisi industri kehutanan dan perkebunan saat in berserta permaslahannya. Ketiga, potensi dan peluang pengembangan industri kehutanan dan perkebunan. Keempat, wujud dan peran industri kehutanan dan perkebunan. Kelima, Rekonseptualisasi kebijakan pembangunan industri kehutanan dan perkebunan serta uraian penutup sebagai akhir dari orasi ini.

II. WAJAH DUNIA YANG DIHADAPI PADA ERA ABAD XXI


Penduduk dunia yang saat ini mencapai 5,84 miliar jiwa pada tahun 2025 diperkirakan akan meningkat menjadi 8,04 Milliar jiwa dengan komposisi 15,3 % berada di dunia maju dan 8,4 % berada di negara berkembang5 . distribusi penduduk tidak berimbang, dimana populasi penduduk miskin sebagian besar di negara berkembang dan dengan ekonominya yang sangat terbatasdan ekonomi nya masih tergantung pada sumber daya alam. Akibatnya, tekanan terhadap sumber daya alam makin meningkat sehingga persoaalan kemiskinan serta kerusakan fungsi lingkungan hidup. Bagi indonesia beban berat ini diperparah d engan kondisi hutang luar negri dan tinggi.

Dalam konstelasi jumlah penduduk yang besar di negara berkembang tersebut, tantangan yang dihadapi juga berkaitan dengan konsekuesi pilihan dunia dalam  membangun masyarakatnya yaitu melalui mekanisme pasar bebas. Dengan pilihan ini maka aturan main yang  disepakati oleh masyarakat dunia adalah seumber daya di alokasikan menurut prinsip – prinsip efsiensi yang menyatu dalam mekanisme pasar bebas. Artinya , perdagangan dunia akan bersifat semakin liberal, makin bebas dan instutisi-instutisi ekonomi yang memiliki jangkauan yang tidak terhalangi oleh batas – batas yuridis suatu negara. Bagi negara berkembang ini merupakan peluang dan sekaligus tantangan yang berat mengingat pada kenyataanya medan perasaingan yang  dihadapi tidaklah berimbang.

Dalam konstelasi perdagangan internasional, persayaratan yang perlu di penuhi bukan hanya  terletak pada daya saing ekonomi, tetapi juga terkait erat dengan kebijakan pembatasan manfaat seperti standar kesehatan yang makin tepat, persyaratan yang terkait dengan hak asasi manusia serta persyaratan lingkungan hidup. Perkembangan pasar komoditas primer pertanian juga memeberikan tantangan tersendiri yaitu adanya kecenderungan harga riil komoditas pertanian di pasang internasional yang terus menurun, yang mendadak bahwa supali komoditas pertanian di pasar gelobal, termasuk subtitusinya, melebihi permintaan agar komoditas di maksud. Hal ini hanya mungkin terjadi akibat adanya peningkatan produktivitas yang cukup nyata, khusunya yang terjadi di negara maju.

Apa yang  menyebabkan kecenderungan di atas adalah kesenjangan yang cukup nyata dalam hal penguasaan, pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) antara negara maju dan berkembang. Kemajuan dalam bidang bioteknologi, misalnya telah membuat negara maju mampu meningkatkan produktivitas atau menciptakan komoditas subtitusi yang selama ini dihasilkan oleh negara berkembang. Selama ini juga pada beberapa dekade mendatang negara berkembang di perkirakan akan masih tergantung kepada suplai iptek yang berkembang di negara maju. Hal ini tentu membuat situasi persaingan dalam pasar internasional yang makin berat bagi produk – produk yang berasal dari negara berkembang seperti indonesia.

Disamping ketergantungan negara berkembang dan teknologi, tidak kalah pentingnya adalah kekuatan summmber permodalan di negera maju. Hutang luar negeri Indonesia yang menuntut pembayaran segera mengkondisikan pilihan – pilihan yangtentu saja membatasi ruang gerak indonesia.  Di satu pihak Indonesia harus meningkatkan prduktivitas serta menjalankan proses tarnsformasi ekonominya yang memerlukan investasi yang besar. Tetapi di pihak lain Indonesia harus segera menlunasi hutangnya agar tidak terlalu lama membebani neraca pembayaran dan membuka peluang yang lebih besar bagi percepatan pengembangan perekonomian generasi yang akan datang.

Pulihnya krisis ekonomi yang terjadi di asia diharapakan akan menjadi potensi besar bagi pasar komoditas pertanian yang di hasilkan indonesia. Republik rakyat cina (RRC) dan india serta jepang dan korea akan menjadi pasar yang sangat penting. Demikian pula negara – negara di timur tengah dan asia tengah terutama sejalan dengan perkembangan dan perekonomian di kawasan ini. Pasar eropa dan amerika serikat tentu akan tetap penting, terutama bagi produk – produk pertanian tradsional yang mungkin di tingkatkan mutunya.

Negara – negara penghasil komoditas kehutanan dan perkebunan seprti brasil dan malaysia akan terus meningkat muutu dan ragam produk yang selama ini di hasilkan. Samapai sejauh mana kita dapat bersaing dengan negara- negara itu tentu saja sangat tergantung dari kecepatan indonesia akan semakin mundur dan akan semakin lebih sulit lagi untuk dapat memeperoleh manfaat  dari pasar internasional.

Perkembangan perekonomian dunia yang terjadi pada masa mendatang juag memiliki konsekuensi akan terjadinya perubahan konstelasi internasional. Yang menjadi persoalan dsini adalah samapai sejauh mana hubungan utara – selatan dapat menjadi lebih berimbang sehingga pola perdagangan keduannya akan semakin berimbang pola. Tanpa adanya peningkatan keseimbangan politik perdagangan di  antara negara – negara  yangterdapat di kedua belahan dunia maka pola perdagangan antara kedua pihak tersebut tidak akan banyak berubah  dalam beberapa dekade mendatang. Situasi seperti ini tentu kurang menguntungkan bagi negara berkembang.
 
Salah satu hasil negara berkembang yang makin penting perannya dan akan menjadi komoditas baru dalam perdagangan inetrnasional adalah jasa  lingkungan hidup jasa lingkungan yang dimaksud dapatberupa konstribusi  negara berkembang terhadap permasalahan lingkungan global seperti penyerapan gas-gas rumah kaca atau jasa lingkungan lainnya seperti konservasi biodiversity atau eko-wisata. Dengan di berlakunya kompensasi dari masyrakat dunia maka potensi negara berkembang untuk memperoleh pendapatan sebagai insentif untukmenjaga  lingkungan hidup akan meningkat.

Wajah dunia akan dihadapi kepada era mendatang pada prinsipnya merupakan wajah dunia yangmakin kompetitif, terbuka dan dinamik negara – negara maju masih tetap merupakan pusat kekuatan baik secar ekonomi, politik maupun kebudayaan. Namun, pulihnya krisis ekonomi  di Asia dan besarnya pangsa pasar dikawasan ini tentunya membuka peluang – peluang baru, khususnya RRC, India dan Timur Tengah samapai sejauh mana dunia kehutanan dan perkebunan indonnesia dapat hidup sehat dan terus berkembang dalam situasi dunia seperti di atas sangat tergantung  daya adaptasi dan daya inovvasi bangsa indonesia terhadap segala bentuk perkembangan dunia yang terjadi.

Bersambung

_____________________________________________________________________________________
1 Samuelson, P. A. 1982. L’Economic, Armand Colin, p. 633-639.
2 Lihat, antara lain : Deer, N. 1949. The History of Sugar. Chapman and Hall Ltd. London ; Bulletin Economique de I’Indochine, No. 33, 1930 : Handbook of the Netherlands East Indies. Edition 1924 : Van der Mandere. 1928. De Java Suikerindustrie in Heden en Verleden. Amsterdam ; Money, J.W.B. 1861. Java or How to manage a Colony. Hurst and Blacket. Publisher, London ; Van der Eng, P. 1993. Agricultural Growth in Indonesia since 1880. Rijksuniversiteit Groningen, The Netherland : dan terutama Dennys Lombard. 1997. Nusa Jawa : Silang Budaya. Vol. I. II. III. Gramedia , Jakarta.
3 Lihat Kartodiharjo, S. 1966. The peasants’ revolt of banten in 1888 : its conditions, Course and Sequel. Protest Movement in Rural Daya. Oxford Univ. Singapura; serta Scott J.C. 1993. Perlawanan Kaum Tani Edisi Terjemahan. Yayasan Obor, jakarta.
4 Data dari gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia, Maret 1999.
5 World Population Data Sheet. Population Review Bureu, USA