.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Article
Pancasila dan Amalannya
25 Mei 2011

Sejak era reformasi bergulir maka terasa Pancasila kehilangan makna.  Entah mengapa, saya tidak terlalu jelas. Mungkin kita merasakan itu hasil era Orba, maka falsafah negara sekarang sudah dengan sendirinya harus berubah. Atau, mungkin juga karena tanpa kita sadari Indonesia ini sudah “menjadi bagian” dari negara atau budaya lain, karena itu yang berbau lokal harus dibuang atau paling tidak disimpan dulu.  Yang paling formal sekalipun, yaitu penataran Pancasila juga dihentikan.  Mungkin ada benarnya juga mengingat banyak yang berpandangan bahwa penataran P4 itu lebih bernuansa indoktrinasi. Benarkah? Ataukah ada agenda lain yang tidak terlihat dan tidak disadari oleh negara dan bangsa kita? Saya juga tidak tahu karena untuk menjawab pertanyaan tersebut juga bukan vak saya.  Tetapi, kalau bertanya seperti itu, saya pikir sudah kewajiban kita semua sebagai bagian dari anak bangsa Indonesia.

Alhamdulillah, sekarang Pancasila sudah berkibar lagi.  Tapi, jangan sampai juga kita ini menafsirkan bahwa yang mengibarkan Pancasila itu adalah akibat dari merebaknya berbagai bentuk kekerasan atau makin kuatnya faham radikalisme di negeri ini.  Kalau itu yang menjadi alasannya, maka Pancasila hanyalah dipandang sebagai akibat dari adanya sesuatu, situasi atau kondisi saja. Bahkan, faham yang lebih kerdil lagi adalah apabila memandang Pancasila itu sebatas alat atau obat sakit kepala saja.  Kalau itu yang dikerjakan maka hasilnya akan percuma saja.  Buang-buang waktu dan biaya saja.

Pancasila adalah “Top-nya” dari segala faham untuk melandasi berdirinya suatu negara yang didasarkan atas kenyataan Kebhinekaan kaumnya, faham untuk menjadi ruh dan jiwa Bhinneka Tunggal Ika.  Ini adalah suatu keyakinan yang hidup di dalam dada bangsa dan rakyat Indonesia.  Keyakinan yang benar adalah keyakinan yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.  Karena itu lah Pancasila akan hadir dalam setiap detak jantung dan desah nafas bangsa dan rakyat Indonesia apabila NKRI bisa dan kuat menghidupkan ruh dan setiap desah nafas dan detak jantung  semua rakyat dan bangsa Indonesia ini.

Dalam amalannya, butir-butir Pancasila tidak bisa dipisah-pisah dan dihafal satu-satu.  Ibarat air yang rumus kimianya H2O, maka Pancasila adalah persenyawaan ke lima nilai sila di dalam Pancasila itu secara keseluruhan.   Penanggulangan kemiskinan, misalnya, bukan hanya isi amalan dari keadilan sosial saja, tetapi juga dari Ketuhanan Yang Maha Esa dan nilai-nilai Pancasila lainnya. Demikian pun dengan pemerataan sarana dan prasarana transportasi, pendidikan, hukum, dan semua sendi-sendi kehidupan bernegara dan bermasyarakat adalah harus diisi oleh ruh, jiwa dan semangat nilai-nilai Pancasila. 

Mungkin banyak juga kalangan yang skeptis.  Apa mungkin nilai-nilai Pancasila bisa menjadi ruh, jiwa dan semangat rakyat dan bangsa Indonesia?  Jawaban optimis akan memberikan situasi kehidupan kita yang lebih baik daripada jawaban pesimis atau tidak peduli.  Semua masyarakat atau bangsa pasti pernah mengalami pasang-surut zaman.  Berapa lama suatu zaman itu berlangsung? Tidak ada satu jawaban yang persis. Tetapi ada satu jawaban yang “pasti”: hukum pasang surut itu selalu berlaku.

Tapi apa persyaratan dari posisi surut ke posisi pasang? Kalau dalam kasus muka air laut, maka satu kondisi untuk terjadinya pasang adalah  terjadinya jarak terdekat antara bulan-bumi.  Jadi, pasang muka laut itu terjadi apabila ada kekuatan besar yang bisa dan kuat menarik bumi ini sehingga muka air laut berubah menjadi pasang.Kondisi sosial-ekonomi juga sudah mengalami pasang surut yang luar biasa, paling tidak dalam sejarah perkembangan ekonomi modern sejak abad ke 16.  Namun, karena kelemahan kita, kita tidak berhasil mengikuti irama pasang tersebut. 

Kekuatan Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok menggambarkan telah terjadinya pasang ekonomi yang cukup kuat di wilayah Asia Timur itu.  Kita menyaksikan bahwa kekuatan Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok itu bukan terletak pada sumber daya alamnya atau kekuatan militernya.  Kekuatan di wilayah itu bersumber dari nilai-nilai dasar atau falsafah yang diyakininya dan kemudian dijalankannya secara teguh dan disiplin. 

Dengan berpegang pada nilai-nilai yang diyakininya itu maka kualitas sumber daya manusia meningkat, kekuatan iptek berkembang dan ekonomi nasional menguat serta akhirnya Kawasan Asia Timur bisa dan kuat bertransformasi menjadi negara yang disegani oleh dunia—semua itu karena keberhasilannya dari mengikuti pasang ekonomi di berbagai belahan muka bumi ini. Bangsa Barat juga sama. Jangan dikira bangsa Barat itu bebas ideologi.  Bangsa Barat itu berpegang teguh pada ideologi kebersamaan berdasarkan kompetisi secara demokratis menurut ukuran ideal bangsa ini.

Bangsa Indonesia tidak akan bisa dan kuat naik pasang apabila kita tidak menjadikan Pancasila sebagai ruh, jiwa dan semangat yang hidup terus menyala di dalam dada setiap anak bangsa Indonesia.   Pancasila yang terukur, dan ukurannya itu adalah amalannya.  Semoga Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2011 yang segera kita rayakan ini, juga menjadi Hari Kebangkitan Pancasila

(Agus Pakpahan)

 

sumber : http://pikirkanrakyat.com/artikel/pancasila-dan-amalannya-agus-pakpahan.php