.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Article
Formula baru untuk usaha pangan
13 Februari 2012

Formula baru untuk usaha pangan

Usaha tani perdesaan kian menggurem

oleh : Agus Pakpahan


Aasan utamanya adalah jangan sampai sejarah kelam di bidang pertanahan ter-ulang dan yang akhirnya berbahaya bagi penca-paian cita-cita kemerdekaan, NKRI yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Sejarah mencatat datangnya perusahaan besar sebagai VOC, Tanam Paksa, dan Onderneming Perusahaan Partikelir Perkebunan setelah Agrarischwet 1870 diberlakukan. Karena itu, datangnya perusahaan besar di perdesaan ini harus membangun sistem ekonomi baru yang menjadi sistem hubungan ibarat ikan dengan air.

Kita mulai dengan mengikuti sabda Nabi Muhammad SAW: “Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China”. Pemerintah RRC menciptakan Household Responsibility System (HRS) di mana negara memberikan hak kepada para petani untuk menggarap lahan negara, sesuai dengan keampuannya.

Para petani dalam HRS, seolah menyewa lahan negara, maka membayar negara sekitar 20 % dari hasil produksinya. Penerimaan dari petani sebanyak 20% inilah yang menjadi sumber stok nasional pangan RRC.

Pemerintah RRC mengembang kan Township and Village Enterprises (TVE), sebagai lembaga ekonomi perdesaan, sebagai wadah ekonomi petaninya juga. Yang menarik untuk di simak adalah bahwa evolusi dari sistem komunal bukan ke pasar dan bukan pula ke perusahaan besar, melainkan evolusi dari ekonomi masyarakat petani itu sendiri. Hasilnya adalah RRC bukan hanya kuat dalam hal ketahanan pangan nasionalnya, kita pun sudah mengimpor beras dari RRC.


Berkaca pada Barat

Sekarang kita ke Barat. Pertanian di Amerika Serikat (AS) dan di Uni Eropa, walaupun basisnya pemikiran aliran pasar, subsidi pemerintah kepada petaninya sangat besar. 30 tahun terakhir abad ke-20, terjadi perubahan besar dalam sistem agribisnis AS yang melahirkan istilah Profesor Ikerd (2003) yang me namakan kejadian tersebut sebagai “The Colonization of Rural America”.

Ikerd menyatakan bahwa solusi untuk perdesaan Amerika bukanlah menyerahkan urusan kepada korporasi besar untuk dikolonisasi, tetapi memerdekakan diri secara ekonomi dan mulai membangun kembali komunitas dari dalam secara berkelanjutan secara ekonomi, ekologi, dan budaya.

Pemikiran Ikerd tersebut serupa dengan pandangan Aldrich Bloomquist , Ketua Asosiasi Petani Gula Beet di North Dakota, yang mengambil alih salah satu perusahaan gula terbesar di AS: US Crystal Sugar Company, yang sudah terdaftar di New York Stock Exchange tetapi mengalami kebangkrutan pada 1971.

Dengan hasil pemungutan suara yang dimenangkan oleh 70% anggota yang menghendaki perusahaan tersebut dibeli, maka American Crystal Sugar Company beralih menjadi milik koperasi petani, dengan harga US$86 juta, pada 15 Februari 1973.

Dalam tempo 4 tahun, luas area bertambah hampir dua kali lipat, mutu dan jumlah bahan baku meningkat, dan produksi juga meningkat pesat. Industri selamat, dan masyarakat juga meningkat kesejahteraan dan kerukunannya.

Luas area yang dikelola perusahaan dengan kelembagaan koperasi ini adalah lebih dari 200 ribu hektare, merupakan perusahaan gula beet terbesar di AS.

Namun, sejalan dengan perkembangan yang terjadi dengan American Crystal Sugar Company di atas, perkembangan sistem agribisnis dunia, khususnya di Amerika Serikat, memang sangat pesat pada 30 tahun terakhir abad ke-20. Asosiasi Petani Jagung Amerika (American Corn Growers Association) menyatakan bahwa harga jagung, kedelai, dan beras di Amerika Serikat masing-masing menurun 3%, 5%, dan 1% dalam periode 1975/1979-1996/1999, walaupun pada saat yang bersamaan, indeks harga konsumen untuk pangan meningkat 235 % (1982/84 =100).

Penyebabnya adalah konsentrasi kekuatan perusahaan yang secara dominan menentukan perilaku pasar, khususnya terhadap petani. (Heffernan et. al., 2002).

Selanjutnya, Adamopoulos (2006) dalam tulisannya “Land Inequality and the Transition to Modern Growth”, menyatakan bahwa ketimpangan pemilikan lahan merupakan penghambat industrialisasi.

Indonesia memiliki sejarah kelam mulai dari sejarah monopoli ekonomi rakyat oleh VOC, Tanam Paksa oleh Pemerintah Belanda, hingga intervensi serta kolonisasi daerah pedalaman dan perdesaan oleh perusahaan asing sejak Agraris chwet 1870.

Ternyata, walaupun sudah hampir 1,5 abad perusahaan besar beroperasi meng usaha kan lahan, industri hilirnya juga belum terwujud dan masyarakat perdesaan tetap masih banyak yang miskin dan usaha ta ni nya semakin menggurem.

Legacy sistem penguasaan lahan pada masa lalu itu bukan hanya menghambat industrialisasi sebagaimana Adamopoulos sampaikan, membangun struktur oligopoli sebagaimana Heffernan kemukakan, atau telah mengolonisasi perdesaan sebagaimana Ikerd tunjukkan, ternyata juga tidak diterapkan di RRC yang telah menunjukkan ketahanan pangan dan ekonomi nya meningkat pesat.

Karena itu, perlu pemikiran yang mendalam khususnya dalam mencari formula hubungan perusahaan besarmasyarakat perdesaan dalam membangun ke tahanan pangan nasional Indonesia. Jangan sampai sejarah terulang dan Indonesia dihadapkan pada permasalahan yang makin sulit nanti.

 

Sumber : Koran Bisnis Indonesia Edisi Cetak, Sabtu 11 Februari 2012 Halaman 2

Untuk versi PDF dapat klik link berikut (link)