.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Revolusi Hijau, Ketahanan Pangan, dan Kesejahteraan Petani
12 September 2012

opini
Selasa, 03 Juli 2012
FREE!

Revolusi Hijau, Ketahanan Pangan, dan Kesejahteraan Petani

Agus Pakpahan,
DIREKTUR JENDERAL PERKEBUNAN DEPARTEMEN PERTANIAN (1998-2003)

Seusai Perang Dunia II, masyarakat dunia, khususnya negara-negara maju, mencari format baru hubungan di antara negara-negara di dunia yang secara radikal berubah dari format sebelumnya, yaitu hubungan antara negara yang menjajah dan negara yang dijajah menjadi hubungan antara negara-negara maju atau negara industri dan negara-negara berkembang, yang sebagian besar struktur ekonominya bercorak agraris. Pada saat itu jumlah penduduk dunia masih sekitar 2 miliar jiwa. Dalam hal itu masyarakat negara-negara berkembang menghadapi masalah pokok yang sama, yaitu bagaimana menghadapi kebutuhan pokok rakyat yang mendesak, khususnya di bidang pemenuhan kebutuhan pokok pangan. Bagi Indonesia, yang dinamakan pangan adalah identik dengan beras. Konsumsi pangan Indonesia pada 1950-an diperkirakan baru mencapai 1.700 kalori per kapita per hari.

Revolusi hijau merupakan terminologi yang pada intinya menerapkan kemajuan produk ilmu pengetahuan dan teknologi kimia yang diterapkan pada pertanian yang berkembang di negara maju pada saat itu, sebagai hasil pengembangan riset yang dilakukan dalam periode-periode sebelumnya, khususnya hasil riset yang diperoleh pada akhir 1800-an dan awal 1900-an. Satu di antara banyak penemuan tersebut adalah pupuk nitrogen hasil penemuan ahli kimia Jerman, Fritz Haber, yang meraih hadiah Nobel pada 1918. Dikatakan "revolusi" mungkin karena dampaknya terhadap peningkatan produktivitas pertanian dengan penggunaan teknologi tersebut sangatlah besar. Misalnya, produktivitas padi per hektare per musim meningkat dari 2 ton menjadi 5 ton. Tentu saja, setiap teknologi selalu ada saja hal yang menjadi titik kelemahannya, yaitu dampaknya terhadap lingkungan, seperti polusi nitrogen dan kandungan kimia lainnya dalam sistem kehidupan secara keseluruhan.

Tidak dapat disangkal bahwa Revolusi Hijau telah memberi dampak yang luar biasa, baik terhadap sistem ketahanan pangan dunia secara keseluruhan maupun terhadap ketahanan pangan Indonesia sebagaimana diperlihatkan oleh statistik yang menunjukkan bahwa ketersediaan energi pada 2000, dari padi saja, sudah mencapai 2.032 kalori dari total ketersediaan kalori per kapita 3.103 kalori (BPS, 2004). Bahkan menjadi bahan diskusi kebijakan pangan nasional, bahwa rata-rata konsumsi beras dari penduduk Indonesia yang sudah terlalu tinggi adalah juga bagian dari "keberhasilan" Revolusi Hijau.

Persoalan yang kemudian berkembang adalah apakah Revolusi Hijau juga memberi dampak positif terhadap petani? Secara logika sederhana mestinya: ya. Tetapi secara empiris bisa saja tidak. Buktinya adalah, kalau di Amerika Serikat, dengan menggunakan ukuran kesejahteraan bahwa kesejahteraan rumah tangga petani secara keseluruhan lebih baik daripada rata-rata kesejahteraan rumah tangga di sana (Mishra et., al., 2002); di negara maju pada umumnya dengan menggunakan penguasaan luas area lahan per rumah tangga petani yang terus meningkat; tapi ternyata pada umumnya tidak demikian kondisinya untuk negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Apabila kita pakai tahun 1970 sebagai tahun awal Revolusi Hijau di Indonesia, setelah dihasilkan pengetahuan hasil riset lapangan IPB di Karawang, yaitu Bimas (Bimbingan Massal), yang memulai gegap-gempitanya pembangunan pertanian pada saat itu, maka Sensus Pertanian 1973 menunjukkan bahwa rata-rata rumah tangga pertanian indonesia (RTPI) masih menguasai lahan 0,99 ha. Ternyata, 30 tahun kemudian, pada saat ketersediaan kalori dari beras saja sudah mencapai 2.000 kal, rata-rata luas lahan per RTPI menurun menjadi 0,79 ha (BPS).

Selanjutnya, dari jumlah RTPI pada 2003 tersebut, 13,25 juta RT (53,29 persen) berstatus petani gurem, yaitu menguasai tanah kurang dari 0,5 ha. Apabila RT beranggotakan 3,9 orang, total RTPI pada 2003 berjumlah 96,9 juta jiwa, dengan komposisi jumlah jiwa dari kelompok petani gurem 51,67 juta jiwa. Artinya, keluarga petani gurem pada 2003 sekitar 24 persen dari total penduduk Indonesia, sedangkan jumlah petani dan anggota keluarganya mencapai 44 persen dari populasi Indonesia. Suhariyanto (2012) menyampaikan data bahwa 71,26 persen RT miskin berada di pedesaan dan bekerja di sektor pertanian.

Dengan menggunakan data di atas, kita dapat mengatakan bahwa Revolusi Hijau telah berhasil meningkatkan ketahanan pangan dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Meski demikian, ketahanan pangan yang dicapai tersebut dapat dikatakan tidak berkelanjutan mengingat pada akhirnya petani menjadi bertambah miskin dan rasa ketidakadilan sosial lebih merebak. Lebih parah lagi, petani pada akhirnya juga menjadi net-consumers.

Dengan pertambahan penduduk yang terus meningkat di satu pihak, tapi kita dihadapkan pada keterbatasan sumber daya lahan dan kendala lingkungan di pihak lain, maka diperlukan Revolusi Hijau Abad Ke-21, yang tidak hanya lebih berpihak kepada petani, tetapi juga ramah lingkungan dan sesuai dengan kondisi Indonesia mutakhir.

 

Sumber : KORAN TEMPO, 03 Juli 2012