.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Ilmu Pengetahuan dan Kemajuan Bangsa
14 Februari 2013

opini
Kamis, 07 Februari 2013

Ilmu Pengetahuan dan Kemajuan Bangsa

Agus Pakpahan

Ekonom Kelembagaan dan Sumberdaya Alam

Melalui artikel ini, saya ingin berbagi pendapat bahwa pendapatan per kapita, Indeks Pembangunan Manusia, atau Indeks Ketahanan Pangan sebagaimana berlaku untuk negara-negara yang tergolong di dalam kelompok negara maju, tidak akan datang dengan sendirinya.  Perubahan mendasar dalam variabel-variabel indikator kemajuan itu merupakan hasil kerja berbagai faktor yang didorong oleh faktor tunggal yaitu lahir dan berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai inti budaya masyarakat secara keseluruhan.

Jadi, sendi-sendi kehidupan yang sebelumnya berdasarkan mitos atau tradisi turun temurun telah diganti dengan pengetahuan yang diperoleh dari hasil kerja ilmu pengetahuan yang telah dibuktikan kebenarannya secara empiris (induktif) atau berdasarkan pengujian logika (deduktif), yang juga terus menerus diperbaiki melalui kegiatan riset dan pengembangan. Hasilnya, secara terus menerus pula dipublikasikan dalam beragam jurnal ilmiah. Dunia keilmuan tersebut akhirnya bersenyawa dalam segala tindakan atau perilaku masyarakat secara keseluruhan.

Kemajuan ilmu pengetahuan tampak pada kemajuan dalam publikasi jurnal ilmiah, baik dalam jumlah maupun mutunya. Sebagai ilustrasi, jumlah jurnal ilmiah yang terbit di RRC dan Korea Selatan pada tahun 1996 masing-masing 27.549 dan 9.757 dokumen; pada periode yang sama jumlah jurnal ilmiah yang terbit di Indonesia dan Malaysia masing-masing 513 dan 937 dokumen. Pada tahun 2011, jurnal ilmiah yang terbit di RRC, Korea Selatan dan Malaysia masing-masing meningkat menjadi 373.756, 60.846, dan 18.875 dokumen.  Adapun, jumlah jurnal ilmiah yang terbit di Indonesia pada tahun 2011 hanyalah mencapai 2.741 dokumen atau hanya 14.5%, 4.5 %, dan 0.73 %  masing-masing dari produksi jurnal ilmiah di Malaysia, Korea Selatan, dan RRC.

Lebih spesifik lagi, jurnal di bidang ilmu-ilmu pertanian dan biologi (seluruh kategori) yang terbit di RRC, Korea Selatan, dan Malaysia pada 2011 masing-masing mencapai jumlah 6.098, 597, dan 376 dokumen. Untuk bidang ini Indonesia menerbitkan 76 dokumen atau hanya 20.2 %, 12.7% dan 1.2 % dari jumlah jurnal dalam kategori yang sama yang masing-masing diterbitkan di Malaysia, Korea Selatan dan RRC.  Dalam bidang energi, sebagai ilustrasi lainnya, Indonesia pada 2011 menerbitkan 57 jurnal ilmiah. Pada tahun yang sama, RRC, Korea Selatan, dan Malaysia masing-masing menerbitkan   10.414, 957, dan 388 dokumen. Di bidang ini pun kita menyaksikan produksi jurnal ilmiah Indonesia hanya 14.6 %, 5.9%, dan 0.54% masing-masing dari produksi jurnal di bidang energi di Malaysia, Korea Selatan dan RRC pada tahun 2011 (Scimago Journal & Country Rank (SJR), 2012).

Apa yang terjadi apabila ukurannya kita ubah menjadi jumlah dokumen per kapita pada tahun 2011.  Dengan menggunakan jumlah penduduk suatu negara sebagai pembobot maka kita mendapatkan gambaran jumlah jurnal per 1000 penduduk di Amerika Serikat, Jepang, RRC dan Korea Selatan masing-masing  tersedia 19.5, 12.6, 1.6, dan  9.9 jurnal ilmiah.  Posisi Singapura dalam hal ketersediaan jurnal ilmiah per 1000 penduduk, berada dalam ranking teratas, yaitu sebanyak 23.8 jurnal per 1000 penduduk Singapura.  Jadi, kapasitas Singapura dalam memproduksi jurnal ilmiah menurut ukuran tersebut adalah lebih tinggi dari Amerika Serikat dan Jepang. 

Adapun posisi Indonesia, Vietnam, Filipina, Kamboja, Myanmar dan Laos digambarkan oleh nilai jumlah jurnal per 1000 penduduk masing-masing adalah 0.06, 0.14, 0.12, 0.08, 0.02, dan 0.13. Jadi posisi Indonesia hanya berada di atas posisi Myanmar.

Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Singapura pada 2010 sudah mencapai US$ 41.987.  Pendapatan Singapura ini hanya sedikit di bawah PDB/kapita Amerika Serikat pada tahun yang sama yaitu US$ 46.702.  PDB/Kapita untuk Indonesia, Vietnam, Filipina, Kamboja dan Laos pada tahun tersebut masing-masing adalah  US$ 2.952, US$ 1.224, US$ 2.140, US$ 795, dan US$ 1.158.  Namun demikian kita melihat bahwa walaupun PDB/kapita Indonesia lebih tinggi dari PDB/kapita Vietnam, Filipina, Kamboja dan Laos, ternyata produksi ilmu pengetahuannya, yang dicerminkan oleh produksi jurnal ilmiah, lebih rendah dari negara-negara tersebut. Apabila kita mengandaikan Indonesia memiliki kapasitas produksi seperti yang dicapai Vietnam pada pendapatan/kapita US$ 1.224, maka dengan PDB/kapita Indonesia pada tahun 2010, Indonesia mestinya mencapai nilai produksi journal ilmiah per 1000 penduduk sebesar 0.33 atau 5.5 kali lebih banyak dari yang dihasilkan sebagaimana dinyatakan di atas.

Apa yang istimewa dari indikator jumlah jurnal ilmiah yang dihasilkan suatu negara? Dari data yang ada prestasi tertinggi dari RRC sebagai negara yang belum lama ini tingkat kelaparannya serius, sekarang sudah berada pada tingkat kelaparang yang rendah. Padahal tingkat pendapatan per kapita RRC masih jauh di bawah Korea Selatan atau Malaysia, misalnya. Global Hunger Index RRC pada 2012 adalah 5.1, lebih baik 0.1 point dari Malaysia yaitu 5.2, padahal pendapatan per kapita Malaysia pada 2010 adalah US$ 8373 atau 1.88 kali pendapatan per kapita RRC pada tahun tersebut yaitu  US$ 4433.  Adapun indeks kelaparan Indonesia pada 2012 adalah 12.0, lebih tinggi dari Lesotho, Mongolia dan Vietnam masing-masing 11.9, 11.7, dan 11.2 (IFPRI, 2012). Indeks kelaparan yang semakin kecil dibaca semakin baik dan semakin besar semakin buruk. Posisi indeks Indonesia 12.0 menunjukkan bahwa Indonesia mengalami kelaparan pada situasi serius. 

IFPRI menggolongkan indeks kepalaparan kurang dari 5.00 berarti tingkat kelaparannya rendah. Seluruh negara maju nilai indeks kelaparannya lebih rendah dari 5. Satu-satunya negara yang belum tergolong sebagai negara maju, tetapi produksi ilmu pengetahuannya berada di atas seluruh negara maju, kecuali apabila dibandingkan dengan Amerika Serikat, hanyalah RRC.  Demikian pula dengan indeks kelaparannya, walaupun pendapatan per kapitanya setengahnya dari Malaysia, tetapi jumlah penduduknya sekitar 46 kali lipat jumlah penduduk Malaysia, ternyata tingkat kelaparan RRC sedikit lebih rendah dari Malaysia.

Berdasarkan argumen di atas, apabila kita ingin maju, khususnya dalam mengatasi kelaparan, marilah kita belajar sampai ke Negeri Cina, khususnya menempatkan ilmu pengetahuan dan budaya berilmu pengetahuan pada posisi tertinggi—bukan mengejar pendapatan tanpa menggunakan ilmu pengetahuan.

 

sumber : Koran Tempo, 7 Februari 2013

<!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 10]>