.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Lingkungan Rusak, Refleksi Kerusakan Nurani
04 Februari 2010

 

SUARA PEMBARUAN DAILY


Lingkungan Rusak, Refleksi Kerusakan Nurani

Agus Pakpahan

Dalam pandangan ekologi, manusia adalah bagian dari ekosistem alam. Apabila terjadi satu atau mata rantai alam yang terputus, maka ekosistem alam akan terguncang, dunia akan bergerak ke arah keseimbangan yang baru. Apakah keseimbangan baru itu akan menjadi suatu posisi yang lebih baik, tergantung pada apakah kekuatan atau energi untuk kembali ke posisi yang baik lebih besar daripada energi atau kekuatan sebaliknya.

Suksesi hutan alam yang sudah terlanjur menjadi padang alang-alang atau gurun pasir tentunya akan membutuhkan waktu ribuan tahun atau bahkan tidak akan kembali lagi pada posisi semula. Indikator telah terjadinya pemanasan global, berlubangnya lapisan ozon dan krisis banjir di musim penghujan serta kekeringan di musim kemarau merupakan tanda-tanda alam bahwa energi yang diciptakan manusia lebih besar daya rusaknya daripada daya untuk memulihkan alam raya ini.

Kita membangun tapi pada saat yang bersamaan kita juga merusak. Kita mencapai kepuasan yang lebih tinggi, tetapi pada saat yang sama kita juga menerima kekecewaan yang mendalam. Kita merasa menang tetapi saat itu juga kita adalah kalah. Pada saat awal kita merasa menjadi orang yang kuat, tetapi akhirnya kita tidak berdaya.

Dua kutub yang bertentangan itu ternyata satu, apabila kita mengenalinya, yaitu terdapat dalam nurani dan pikiran kita. Idul Fitri mestinya menjadi wahana pencipta sifat pemelihara dan penjaga alam, berkah dari Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

Contoh yang paling sederhana dapat diambil dari "ilmu listrik" dimana arus negatif bertemu arus positif di ruang lampu hampa udara, yang kemudian menghasilkan cahaya. Maka, gelap menjadi terang. Ilmu ini mengajarkan bahwa dua kutub yang bertentangan itu (negatif-positif) adalah sumber energi untuk mencapai suatu kebaikan apabila kita memiliki nurani yang cerah. Kerusakan lingkungan yang kita alami sekarang mestinya dijadikan energi untuk membangun kebaikan-kebaikan, menjaga dan memelihara alam untuk kita dan generasi mendatang.

Defisit air pada saat dibutuhkan di berbagai wilayah di sekitar kita berada, pada dasarnya adalah pertanda telah terjadinya kerusakan hutan di gunung-gunung dan kerusakan alam di lembah- lembah.

Pembalakan hutan yang berlebihan, penambangan pasir yang mengupas bukit dan membuat rongga-rongga di permukaan bumi, "penambangan" tanah-tanah pertanian yang menimbulkan erosi, serta penumpukan sampah di sungai-sungai adalah akibat dari perbuatan kita yang terperangkap oleh tujuan untuk mendapatkan kepuasan sendiri saat ini, tanpa mempertimbangkan kesejahteraan kita atau anak-cucu kita pada saat yang akan datang.

Mesin perbuatan yang sudah menjadi pola rutin kehidupan kita selama ini, sehingga menimbulkan situasi dunia sebagaimana digambarkan di atas, memerlukan pendobrakan nilai-nilai yang sudah membelenggu kita semua: kembali ke fitrah sebagai manusia yang mampu mengendalikan dirinya untuk kuat dan bisa menjaga dan memelihara alam raya yang menjadi tugasnya, apabila perkembangan peradaban kita sebagai manusia ingin berkelanjutan.

Ilmu pengetahuan, teknologi, sastra, seni, dan hasil akal budi manusia telah berevolusi dan mencapai tingkat yang sering berada di luar jangkauan imajinasi manusia. Eksplorasi ruang angkasa, gunung-gunung dan samudera telah lama menjadi kenyataan. Eksplorasi dunia mikro seperti atom dalam fisika dan DNA dalam biologi, juga telah menghasilkan pengetahuan dan teknologi yang kemajuannya sudah mencapai tingkat yang luar biasa.

Tetapi, mengapa kita belum bisa memanfaatkan potensi tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari? Mengapa kemiskinan dan keterbelakangan masih terjadi? Mengapa kita tidak mampu mengatasi masalah-masalah lingkungan hidup yang sudah kita ketahui pasti akan terjadi?

Berbagai ilmu pengetahuan yang kita pelajari dan kemudian kita ajarkan jarang ditempatkan pada konteks saling hubungan antar manusia atau antar-generasi. Dalam ilmu ekonomi yang banyak kita pelajari adalah perilaku komoditas, maka kita mengenal istilah supply dan demand dari suatu komoditas. Memang pengambil keputusan: produsen, konsumen, dan pemerintah dan pelaku ekonomi lainnya dinyatakan secara eksplisit, tetapi nilai yang melatar-belakangi keputusan yang dibuatnya adalah diasumsikan.

James Buchanan, salah seorang penerima Hadiah Nobel dalam bidang ekonomi pada 1986, menyatakan bahwa seandainya ilmu ekonomi itu hanya sebatas mencari kondisi optimum sebagaimana yang diajarkan sekarang, maka sebaiknya ilmu ekonomi itu diserahkan saja kepada para matematikus. Buchanan menyatakan bahwa sebaiknya ilmu ekonomi lebih banyak mendalami bidang kehidupan manusia dalam konteks saling hubungan antar-manusia melalui transaksi, "to truck or to barter", sebagaimana Adam Smith juga sudah ingatkan.

Dengan menempatkan saling hubungan antar-manusia sebagai landasan mencari solusi, maka kita bisa menemukan tiga kemungkinan yang akan terjadi: pertama, menang-menang (sama-sama untung), kedua, menang-kalah (untung-rugi), dan ketiga, kalah-kalah (rugi-rugi). Dengan terdapatnya tiga kemungkinan tersebut maka apabila dua pihak (A dan B) melakukan transaksi, misalnya, maka solusi "menang-menang" peluangnya hanyalah 1/9 atau hanya 0,11 apabila kita asumsikan peluang untuk memilih setiap kemungkinan dari seluruh kemungkinan adalah merata, yaitu 1/9. Artinya, untuk mencapai kondisi "semua untung", sangatlah sulit.

Dalam kenyataannya, kekuatan bargaining yang seimbang itu jarang terjadi. Informasi yang sifatnya asimetris atau kekuatan yang sifatnya monopoly atau oligopoly merupakan suatu kenyataan kita dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian besar masyarakat berada dalam posisi yang lemah, khususnya kelompok masyarakat miskin dan tenaga kerja kasar.

Kerusakan lingkungan di negara-negara miskin, dengan demikian tidak terlepas dari keputusan-keputusan transaksi yang kita buat dengan negara-negara kaya. Kerusakan di gunung-gunung, di lembah-lembah, di samudra dan di desa- desa, juga pada dasarnya hasil dari transaksi yang telah terjadi sepanjang sejarah kita, yang hasilnya adalah tidak seimbang: kita kalah (rugi) dan mereka menang (untung).

Kerusakan lingkungan adalah refleksi kerusakan hati nurani dan jiwa pikiran kita, yang mendapat kesenangan kalau pihak lain kalah (rugi), atau kalau pun untung maka keuntungannya itu tidak cukup untuk membiayai pemeliharaan dirinya atau penjagaan lingkungannya.

Sikap tersebut tentu tepat apabila diterapkan pada pertandingan olahraga, tetapi tidak layak apabila diterapkan dalam wujud kehidupan riil yang makin beradab. Peradaban akan berkelanjutan apabila kita bisa dan kuat menerapkan prinsip "menang-menang" untuk seluruh umat manusia. Memang kita harus bergerak cepat tetapi kita harus selalu ingat si "lumpuh" pun ingin tetap hidup.

 

Penulis adalah Natural Resource Economist


Last modified: 2/11/06