.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
PERKEBUNAN INTI-RAKYAT (PIR) GENERASI KE II:
03 Mei 2013

PERKEBUNAN INTI-RAKYAT (PIR) GENERASI KE II:

Transformasi dari ketergantungan ke kemandirian ekonomi

 

Agus Pakpahan

 

          Menjelang sekitar seperempat abad ke 20 berakhir, yaitu pada tahun 1980an Indonesia dengan dukungan Bank Dunia mengembangkan konsep pembangunan perkebunan yang dinamakan Nucleous Estate Smallholders (NES) yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan nama Perkebunan Inti-Rakyat (PIR).  Model ini banyak disukai mengingat diyakini sebagai model pembangunan pertanian yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan struktur ekonomi dualistik yang telah melembaga.  Dalam struktur ekonomi dualistik ini petani/pekebun menjalankan usaha di bidang perkebunan secara apa adanya, memungut spill over atau limpasan eksternal apa yang diterapkan oleh perusahaan perkebunan besar seperti benih, teknologi budidaya atau pengolahan.  Sebaliknya perusahaan perkebunan besar menerapkan apa yang sering dipadang modern seperti organisasi, teknologi dan jangkauan pasar dari produk yang dihasilkan.

          Model PIR mencoba mengintegrasikan kepentingan pekebun dengan perusahaan perkebunan dalam suatu konstruksi bahwa kebun milik petnai/pekebun dibangun oleh perusahaan inti dengan dana kredit perbankan yang menjadi hutang petani.  Petani mendapatkan haknya berupa kebun melalui proses yang dinamakan konversi.Setelah dikonversi hak tersebut maka petani mengelola  kebunnya sendiri-sendiri atau melalui koperasi.

          Apa kesimpulan kita terhadap model PIR ini setelah satu generasi perkebunan hasil PIR berlangsung ? Jawaban atas pertanyaan ini sangat penting untuk menjawab pertanyaan, misalnya, apa yang harus kita perbaiki dalam model perkebunan rakyat pada masa mendatang apabila kita ingin mendapatkan atau mewujudkan kinerja yang lebih baik?

          Jawaban atas pertanyaan apakah model PIR ini berhasil atau tidak tergantung dari sudut pandang atau kriteria yang kita gunakan.  Apabila kriterianya adalah pinjaman kredit petani peserta PIR ini sebagian besar tidak kembali maka dapat dikatakan bahwa memang hal tersebut yang telah terjadi, kecuali untuk PIR kelapa sawit. Informasi tambahan untuk menjelaskan keberhasilan PIR kelapa sawit ini diperlukan, yaitu apakah keberlanjutan atau sustainability dari petani plasma sawit ini terwujud.  Memang diperlukan batasan waktu sampai kapan sebagai kriteria keberlanjutan PIR sawit ini.  Apabila diukur dengan peremajaan kebun plasma sebagai tanda keberlanjutan saat ini, maka saat ini kurang-lebih terdapat 400 ribu hektar perkebunan kelapa sawit plasma yang menunggu dukungan peremajaan perkebunannya. Proses peremajaan ini belum terancang dengan baik pada saat model PIR diciptakan pada tahun 1980an awal.

          Dengan jawaban atas pertanyaan sebagaimana telah disampaikan maka dapat dikatakan bahwa model PIR memerlukan penyempurnaan untuk pecapaian kinerja yang lebih baik pada masa mendatang. Alangkah naifnya kita apabila kita mengharapkan hasil yang lebih baik dengan menggunakan metode yang sama.

          Sebagai pembanding atau patokan/benchmark, dalam rangka mencari inspirasi tentang apa yang baik yang ingin kita maksudkan baik itu, kita dapat melihat model perkebunan lain yang berkembang di negara lain.  Di Malaysia kita mengenal model FELDA (Federal Land Development Authority) yang mengelola perkebunan milik petani.  Model FELDA melihat pembangunan perkebunan ini analog dengan pembangunan permukiman berdasarkan land economics yang biasa dinamakan property. Pendekatan FELDA adalah pendekatan korporasi, walaupun yang dikelola adalah kebun-kebun milik petani/pekebun. Anak perusahaan FELDA yang paling besar adalah Felda Global Ventures Holdings yang mengelolan 811 ribu hektar lebih perkebunan kelapa sawit di Semenanjung Malaysia dan daerah lain. Pada peringatan ulang tahunnya yang ke 50, FELDA merayakannya dengan mensyukuri berdirinya gedung FELDA di Kualalumpur yang berukuran 50 lantai pada 2010. 

          Berapa kuat FELDA sebagai korporasi? Reuter baru-baru ini memberitakan melalui IPO, FELDA menerima US $3.1 milyar atau sekitar Rp 30 triliun, penerimaan korporasi terbesar di Asia. Pendapatan ini tentu berdampak positif terhadap petani/pekebun dan keluarganya.

          Tentu saja setiap model pembangunan akan memiliki kelemahan. Namun demikian secara gamblang terlihat bahwa model FELDA lebih memberikan harapan dibandingkan model PIR.

          Apa hipotesa yang bisa kita bangun untuk menjelaskan mengapa model PIR kurang berhasil?

          Dari model ekonomi yang diturunkan dari teori search atau contract dapat disampaikan bahwa sebagai konsekwensi karakter pelaku ekonomi seperti perusahaan besar ini yang selalu memaksimumkan keuntungan bagi dirinya sendiri, maka akibat dari kondisi informasi asimetrik antara pengusaha dan pekebun, pengusaha akan (i) mengambil sumberdaya lahan yang terbaik baginya terlebih dahulu dan menyisakan sisanya untuk pekebun, (ii) akan memanfaatkan modal atau bahkan kredit keseluruhan untuk dirinya terlebih dahulu atau mungkin bahkan akan mengalokasikan sumberdaya tidak sesuai dengan alokasi yang semestinya bagi pekebun, dan (iii) aturan yang dibangun untuk mengatasi konflik antar pekebun dan perusahaan inti akan dibuat lebih menguntungkan perusahaan inti.Konversi itu sendiri sebetulnya secara implisit dapat diartikan sebagai pelepasan tanggung jawab atas keberlanjutan kebun petani.  Dengan menerapkan teori di atas kita dapat memprediksi bahwa model PIR akan gagal dengan sendirinya, kecuali perusahaan inti bersifat altruistik, benevolence atau budiman. Sayang, yang karakter terakhir ini sangat jarang ditemukan.

          Apakah model FELDA dapat diterapkan langsung di Indonesia? Sebagai hipotesa, saya berpendapat mungkin tidak bisa diterapkan apabila model BUMD atau BUMN dipakai sebagai cermin, yang mana model PIR juga menjadi bagian dari kinerja BUMN.  Namun demikian sebagai second best alternatif dapat dipertimbangkan pembentukkan BUMN baru yang analog tugas dan fungsinya seperti FELDA dengan pengawasan yang ketat dan profesional dari para petani dan pemerintah dalam pemangkuan dan pengelolaan kebun-kebun petani.

          Alternatif lain yang saya pikir lebih menarik adalah pengembangan Community's Corporate (CC) atau saya sering namakan Badan Usaha Milik Petani (BUMP). Falsafah dasar dari model ini adalah mewujudkan masyarakat petani atau pekebun yang "merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur".  Pengalaman menjadi petani plasma selama kurang-lebih 25 tahun tentunya telah memberikan proses pembelajaran yang sangat penting badi petani dan lingkungannya.  Apabila pada saat awal pekebun datang sebagai transmigran, misalnya, petani belum mengetahui apa dan bagaimana berkebun kelapa sawit.  Setelah 25 tahun atau lebih berkebun kelapa sawit maka berkebun kelapa sawit sudah menjadi profesi mereka.

          Oleh karena itu menjadi suatu hal yang sangat lemah argumennya apabila pada generasi kedua membangun perkebunan kelapa sawit milik petani plasma ini kemudian petani malah akan dipisahkan dengan kebunnya dan kebun mereka akan dibangun ulang oleh perusahaan inti.  Alasan bahwa petani tidak dapat mengelola kredit yang dipinjamannya apabila tidak dilewatkan dan tidak dikelola oleh inti juga tidak dapat dijadikan sebagai argumen mengingat kredit macet juga bahkan banyak dilakukan oleh perusahaan besar.  Hanya satu permasalahan yang berbeda antara kredit melalui inti lebih mudah adalah permasalahan mengelola jumlah peminjam yang besar apabila kredit tersebut diberikan kepada petani langsung per individu petani. Jadi, permasalahannya adalah permasalahan bagaimana membangun organisasi petani ini.

          Model Inti-Plasma adalah model integrasi atau koordinasi vertikal yang mana inti bertindak sebagai leader atau koordinator. Model ini terbukti kurang menguntungkan petani, terutama dilihat dari sudut pandang pengembangan masyarakat.  Model BUMP yang diajukan sebagai alternatif adalah model kontrak. Dengan bersama-sama membangun sistem kontraktual yang fair, adil dan efisien maka kedua belah pihak akan mendapatakan keuntungan yang lebih baik. Keberlanjutan dan risiko serta ketidak-pastian juga menjadi tanggungan dan tugas bersama. Akibatnya potensi konflik sosial akan diatasi bersama. Dengan mengembangkan model ini maka inti dan plasma setara.

          Bagaimana mewujudkan model CC atau BUMP ini? Inilah menjadi tugas kita berama.