.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
R&D Sebagai Investasi Prioritas
03 Mei 2013

 

Agus Pakpahan

 

Philosophyadalah cinta kebijakan.  Seorang dikatakan bijak atau bijaksana apabila ia bisa membedakan mana salah/benar dan mana baik/buruk; dan sekaligus pula ia kuat untuk mengamalkan kebijakannya itu.  Untuk bisa membedakan mana salah/benar atau mana baik/buruk diperlukan ilmu. Karena itu, philosophy(filosofi), dalam rumusan sederhananya, adalah cinta ilmu atau cinta pengetahuan.

Jadi, kalau kita tertinggal dalam bidang perkebunan, misalnya, maka pasti kita tertinggal dalam bidang ilmu atau pengetahuan dalam lingkup perkebunan.  Artinya, kita tidak pula memahami apa itu kebijakan.  Apalagi filosofi di balik kebijakan itu semua.

Melakukan sesuatu tanpa ilmu ibarat kita berjalan di tempat yang gelap.  Kita tak merasakan gelapnya perjalanan ke depan itu mengingat masih terdapat sinar cahaya di belakang kita, cahaya peninggalan Belanda yang masih dilanjutkan oleh para peneliti kita yang bekerja di pusat-pusat penelitian perkebunan.  Cahaya yang makin meredup relatif terhadap dunia lain yang lebih maju.

Dalam pengamatan saya, cahaya tersebut sebenarnya bisa lebih dicerahkan, bahkan diperbesar daya meneranginya.  Hal tersebut sangat dimungkinkan apabila kita langsung saja meniru Malaysia, yang pada tempo dulu banyak belajar dari Indonesia, yaitu memandang dan memberlakukan R&D sebagai investasi prioritas.

Dengan melihat kondisi Malaysia sekarang, sebetulnya kita tidak perlu merasa rendah diri, tetapi segera saja akui kesalahan kita dan kemudian segera memperbaikinya. Menurut Headrick dalam tulisannya "Botany, Chemistry, and Tropical Development,"yang diterbitkan dalam Journal of World History 7, No. 1 (Spring 1996): 1-20, bahwa Malaysia itu hebat. Headrick menyatakan bahwa Malaysia adalah satu-satunya negara yang berada di daerah tropis di sepanjang khatulistiwa yang cara berpikirnya sudah seperti bangsa-bangsa negara maju. 

Karena itu tidaklah mengherankan bagi Headrick kalau Malaysia bukan hanya ekonomi karetnya selamat dari kebangkrutan pada 1960an tetapi ia bangkit bersama kelapa sawit, yang mana komoditas yang terakhir ini kemudian dikembangkan secara besar-besaran oleh Indonesia.  Bahkan, pada saat Malaysia tidak lagi menjadikan kelapa sawit sebagai komoditas prioritas, Indonesia masih terus memperlakukannya sebagaimana Malaysia memperlakukan kelapa sawit pada tahap awal pengembangannya.

Apa yang dijadikan ukuran oleh Headrick sehingga ia mengatakan bahwa budaya berpikir pemimpin Malaysia sama seperti cara berpikir bangsa yang telah maju? Pemimpin Malaysia menempatkan R&D pada posisi prioritas.  Kira-kira filosofi yang dianut para pemimpin Malaysia adalah "elmu tungtut, dunya siar", menuntut ilmu dan barulah harta-kekayaan. Itulah the East Asian way of development, istilah yang digunakan Amartya Sen.

Menurut Headrick, anggaran riset pertanian Malaysia per kapita pada 1985 lebih tinggi daripada anggaran riset pertanian per kapita  Amerika Serikat.  Demikian juga tenaga peneliti pertanian per satu juta penduduk di Malaysia lebih tinggi daripada tenaga peneliti pertanian per satu juta penduduk di Amerika Serikat.Apabila dibandingkan dengan Indonesia, pada tahun 1985 anggaran riset pertanian per kapita Malaysia 8 kali lebih besar dari anggaran riset per kapita Indonesia.  Adapun jumlah peneliti pertanian per satu juta penduduk Malaysia adalah 6.4 kali lebih banyak daripada peneliti yang sama yang dimiliki Indonesia.

                Pada tahun 2012, menurut jumlah penerbitan publikasi ilmiah dunia, posisi Malaysia berada pada urutan ke 42, sedangkan Indonesia berada pada urutan ke 63.  Permasalahan berat lebih terlihat manakala kita menggunakan ukuran jumlah publikasi ilmiah per 1000 penduduk yang menunjukkan bahwa di kawasan ASEAN jumlah publikasi ilmiah Indonesia hanyalah setingkat lebih tinggi dari Myanmar dan berada di bawah Kamboja. Dengan menggunakan ukuran ini, Malaysia berada di urutan ke tiga dan Singapura menempati urutan pertama. 

                Gambaran Malaysia sebagaimana diuraikan di atas merupakan gambaran yang berlaku untuk dunia perkebunan mereka. Mengapa di Indonesia tidak berlaku seperti yang berkembang di Malaysia?

                Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pelembagaan atau institusionalisasi budaya riset bukanlah persoalan yang mudah. Pengembangan ilmu tidak dapat dilakukan melalui perintah atau instruksi apalagi melalui tekanan.  Pengembangan ilmu tidak pula hanya tergantung pada dana.  Pengembangan ilmu tidak pula hanya tergantung pada fasilitas.  Ia merupakan resultante dari sistem sosial yang kompleks.

                Namun demikian, proses awal perkembangan ilmu pengetahuan  yang berlangsung dalam suatu masyarakat kurang lebih sama yaitu didahului oleh lahirnya kesadaran baru atau renaissance dari suatu bangsa yang akan bangkit.  Darimana mulainya melahirkan kesadaran baru tersebut?

                Coba kita amati dunia perkebunan di sekitar kita.  Tidak ada yang tidak tahu bahwa R&D kita tertinggal jauh dari Malaysia.  Tidak ada pula yang tidak tahu bahwa perkebunan kelapa sawit Indonesia adalah perkebunan yang terluas di dunia dengan luasan areal kurang-lebih 9 juta hektar.  Tidak ada pula yang tidak tahu bahwa sebagian besar perkebunan kelapa sawit tersebut adalah milik para konglomerat Indonesia yang menempati sebagai orang-orang terkaya di Indonesia.  Tetapi mengapa R&D kelapa sawit kita lemah? Mengapa produk akhir yang kita ekspor yang dihasilkan dari kelapa sawit sebagian besar masih berupa minyak mentah saja? Apakah kita tidak sayang dengan nilai tambah yang "hilang" atau kesempatan kerja yang "terbuang"?  Ataukah memang tidak ada agenda jangka panjang untuk kemajuan negara di bidang perkebunan yang hadir di dalam para pengusaha perkebunan kita?  Apa pun pertanyaan yang kita ajukan, melakukan riset merupakan jawabannya.

                Pada kesempatan ini saya ingin memfokuskan pada satu aspek permasalahan yang mungkin dapat menjadi titik awal dari segala ketertinggalan kita dalam bidang R&D ini.  Hal yang saya maksud adalah cara pandang kita terhadap dunia R&D ini yang harus segera kita tanamkan.

                Pertama, R&D adalah kegiatan untuk menjawab tantangan atau permasalahan masa depan, yang jawabannya sudah kita persiapkan dari sekarang.  Termasuk di dalamnya adalah menjawab pertanyaan apa yang harus dipersiapkan agar persaingan pada masa depan dapat dimenangkan.  Pemahaman tentang dimensi masa depan ini mengandung banyak implikasi strategis.  Sebagaimana telah disinggung, satu di antaranya adalah cara pandang bahwa R&D adalah kegiatan investasi. Faham inilah yang dianut oleh Malaysia, RRC, Jepang, Korea Selatan dan negara-negara maju pada umumnya.  Sebagai ilustrasi, Monsanto mengalokasikan anggaran berkisar US$ 120 juta- US$ 300 juta selama 8-10 tahun untuk menghasilkan satu trait produk rekayasa genetik tanaman.  Untuk melakukan kegiatan riset Monsanto memiliki sekitar 1500 peneliti dengan 500 orang peneliti berkualifikasi Ph.D dalam bidang biologi molekuler.  Sekarang, apabila Indonesia menanamkan investasi dalam R&D kelapa sawit setara 2.5 % dari nilai ekspor melalui skim CESS sebagaimana yang dilakukan Malaysia, maka Indonesia akan menginvestasikan sekitar US$ 450 juta pada tahun lalu. Saya sungkan menuliskan berapa investasi riset kelapa sawit yang dilakukan Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Sumatera Utara.

                Kedua, dengan memandang R&D sebagai suatu investasi maka fenomena ini sudah semestinya masuk dalam tata-cara akuntansi kita, yaitu pengeluaran untuk R&D dikelompokkan sebagai pengeluaran untuk investasi.  Untuk urusan ini saya memiliki pengalaman pribadi yaitu betapa sulitnya meyakinkan mitra-mitra terkait, khususnya yang memiliki kewenangan dalam pengaturan di bidang akuntansi ini, sehingga sistem akuntasi terbaru yang menjadi pedoman akuntansi perkebunan untuk BUMN Perkebunan, belum menggunakan faham bahwa R&D adalah kegiatan investasi.  Walaupun begitu, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI) yang sebelumnya merupakan asosiasi, sekarang ini sudah menjadi Badan Usaha Perseroan Terbatas (PT) yang bernama PT. Riset Perkebunan Nusantara (RPN). Dengan terbentuknya PT. RPN ini diharapkan para pemegang saham dan pengurus PT. RPN lebih terpacu lagi untuk berinvestasi di bidang R&D perkebunan.  Dengan demikian ada harapan untuk mendambakan dunia perkebunan yang lebih maju.

                Ketiga, apabila R&D ini jelas merupakan bidang investasi, maka diharapkan makin bertumbuh dukungan supra dan infrastrukturnya seperti pemberian keringanan bea masuk, keringanan pajak, dan dukungan-dukungan lainnya yang sifatnya menurunkan biaya-biaya R&D di satu pihak dan berkembang masyarakat investor dalam bidang R&D di pihak lainnya.  Apabila hal ini terwujud maka ini adalah penciri telah lahirnya masyarakat ilmu pengetahuan dan teknologi perkebunan yang lebih maju dengan dukungan lingkungannya yang positif.

                Apa yang diuraikan di atas, sudah berkembang di negara maju.  Apakah hal tersebut akan berkembang di negara kita? Sangat tergantung apakah para pemimpin kita memiliki filosofi pembangunan atau tidak, yaitu filosofi yang berarti cinta ilmu atau tidak sebagai cahaya yang menyinari untuk menemukan suatu kebijakan yang tepat untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.