.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Kesatria Pembangunan
02 Juli 2013

OPINI
SENIN, 24 JUNI 2013

Kesatria Pembangunan

Agus Pakpahan, 


ekonom kelembagaan

Diskusi yang banyak menyoroti lemahnya politik pembangunan pertanian dan tak terlihatnya kepentingan jangka panjang menjadi perhatian penting dalam politik pembangunan nasional.

Masyarakat dunia sekarang banyak mengkaji mengapa negara-negara di Asia Timur pada akhir abad ke-20 banyak mencapai kemajuan. Negara yang dimaksudkan mencakup Jepang, Korea Selatan, Republik Rakyat Cina (RRC), dan Taiwan. Pada pertengahan 1980-an, di Amerika Serikat, juga telah banyak dibahas mengapa mahasiswa yang berasal dari negara-negara tersebut juga hebat dalam sains dan matematika, sehingga menyebabkan kekhawatiran bagi penguasaan ilmu-ilmu dasar di Amerika Serikat.

Beruntung bagi masyarakat dunia, karena kebijakan yang memenangkan perdebatan pada waktu itu adalah kebijakan Amerika yang terbuka. Hal ini pun tentunya menambah kesempatan bagi masyarakat dunia, khususnya kaum cerdik cendekia Asia Timur, untuk belajar di Amerika Serikat, yang masih merupakan pusatnya ilmu pengetahuan dan teknologi dunia hingga sekarang.

Keterbukaan Amerika Serikat ini sangat penting untuk dikemukakan, mengingat kemajuan negara-negara di Asia Timur pada dasarnya adalah keberhasilan dari bangsa di kawasan ini dalam memanfaatkan "lautan" ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan beragam produk yang bernilai tinggi yang diperlukan dunia. Kemajuan di negara-negara tersebut merupakan manifesto kemajuan manusianya. Jadi, bukan hasil dari ekspor sumber daya alam, seperti minyak bumi, hasil hutan, atau hasil lautnya.

Mengapa mereka bisa melompat menjadi bangsa yang cerdas atau penuh komitmen untuk kemajuan bangsa dan negaranya? Kemajuan Jepang bukan hasil perjuangan yang singkat. Sifat dan sikap kesatria bangsa Jepang dibentuk pada tahun 1200-an dengan lahirnya Bushido atau kaum Samurai. Pada awal tahun 1600-an, ketika bangsa-bangsa Eropa masuk ke Asia, bangsa Jepang menjalankan kebijakan pintu tertutup. Meski demikian, untuk mengetahui kemajuan yang terjadi di Barat serta mendapatkan pelajaran dari Barat secara langsung, Jepang memberikan hak tinggal di Jepang yang dimonopoli Belanda. Jalur Holland-Batavia-Jepang hidup, bukan hanya interkoneksi ekonomi, tapi juga ilmu pengetahuan. Posisi Jepang beruntung karena bukan dalam posisi koloni Belanda. Pembenahan persatuan dan kesatuan Jepang juga diwujudkan melalui reposisi petani dan pertanian pada posisi kedua setelah Samurai. Jadi, pertanian berada di atas perdagangan dan industri.

Amartya Sen-ekonom dunia-menyebutkan, pada 1912, publikasi di Jepang sudah lebih banyak daripada publikasi di Inggris dan Amerika Serikat. Pada awal 1930-an, Jepang sudah memproduksi mobil walaupun hasilnya belum laku di pasar Barat. Namun, 50 tahun kemudian, Toyopet kualitas 1930-an sudah menjadi kualitas Lexus yang tak kalah bersaing dengan mobil buatan Barat.

Korea Selatan dan Taiwan menunjukkan geliat belakangan. Sifat kesatria pemimpin bangsa ini berawal dari keinginan melepaskan diri dari situasi masa lalu yang telah menjajah dirinya. Pada 1920, bangsa Taiwan jauh lebih miskin dibanding bangsa Indonesia atau Filipina. Bahkan bangsa Filipina pada tahun itu merupakan bangsa terkaya di ASEAN. Kemerdekaan bagi Korea Selatan dan Taiwan diartikan sebagai memutus penjajahan masa lalu, yang sebenarnya sama dengan kalimat pertama dalam UUD 1945: "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan".

Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang menerjemahkan arti memutus dari penjajahan masa lalu itu dengan mengartikannya sebagai mempersempit jurang kesenjangan sosial-ekonomi dalam masyarakat. Mengingat, pada masa itu, sumber kesejahteraan masyarakat masih bergantung pada pertanian, maka land reform merupakan variabel kebijakan negara yang sifatnya mempersempit jurang kesenjangan dimaksud. Dengan demikian, terbangunlah satu rasa, satu bangsa, serta negara Korea Selatan dan Taiwan. Kondisi ini membangunkan spirit gotong royong yang hasilnya luar biasa: peningkatan mutu sumber daya manusia dan institusi negara yang melahirkan kapabilitas negara menjadikan negara dan rakyatnya berkelas dunia. Dunia menamakan model developmental state yang sukses.

RRC menjadi model dengan latar belakang, kebijakan, serta proses perubahan yang berbeda dengan Jepang, Korea, dan Taiwan. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia dan dengan paham sosialisme-komunisme yang relatif unik, RRC sekarang berubah menjadi negara dengan kekuatan ekonomi, politik, dan militer yang disegani dunia.

Fondasi utama yang dibangun sejak awal revolusi adalah pedesaan dan pertanian, di mana pada masa lalu sebagian besar penduduknya berada di sini serta sebagian besarnya miskin dan kelaparan. Kebijakan lompatan jauh ke depan ternyata memberi dampak terhadap terjadinya kematian rakyat RRC akibat kelaparan, penyakit, dan kemiskinan yang mencapai puluhan juta jiwa. Kebijakan Deng Xiaoping, yang menata kembali pertanian dan pembangunan pedesaan, menghasilkan perubahan luar biasa, yaitu dari kelaparan ke kelimpahan pangan, dari keterpurukan ekonomi ke kekuatan ekonomi dunia, dan dari ketertutupan politik ke keterbukaan menghadapi tantangan global.

Dalam pertemuan diskusi yang diselenggarakan YAPARI, 3 Juni 2013, di Bogor, Prof Dr S.M.P. Tjondronegoro, sesepuh ilmu sosiologi pedesaan kita, dengan nada yang serius menyatakan bahwa "nilai-nilai idealisme 1945 sekarang ini, selain sudah luntur, juga sudah jatuh ke tanah". Diskusi yang banyak menyoroti lemahnya politik pembangunan pertanian dan tak terlihatnya kepentingan jangka panjang menjadi perhatian penting dalam politik pembangunan nasional. Hubungan pusat dengan daerah tak menunjukkan adanya sinergi, melainkan lebih banyak menggambarkan pengkotakan-pengkotakan dengan ego sendiri-sendiri.

Situasi di atas memicu pemikiran penulis tentang cerita-cerita sejarah bahwa hanya sifat dan sikap kesatria suatu bangsa dan negara yang akan menyelamatkan negara dan bangsa dari suatu kehancuran. Cerita itu terjadi sejak zaman kejayaan Majapahit, pembentukan bangsa dan negara Jepang, serta menjadi negara majunya Korea Selatan dan Taiwan, apalagi lahirnya RRC modern yang menguasai dunia. Sekarang kita pun sangat memerlukan hadirnya Kesatria Pembangunan. *

 

sumber : tempo.co SENIN, 24 JUNI 2013