.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Andaikan Abraham Lincoln Menjadi Presiden RI 2014-2019
14 Mei 2014

Link PDF ( untuk melihat versi e-paper)

 

AGUS PAKPAHAN

 

Saya ingin berbagi di sini: mengapa kita tidak belajar dari data presiden-presiden dunia yang memiliki sukses besar dalam mengatasi krisis besar di negaranya? Saya teringat ungkapan yang menyatakan bahwa menghadapi musuh dari luar lebih mudah daripada menghadapi musuh dari dalam. Pikiran ini membawa pada sejarah perang saudara di Amerika Serikat yang terjadi pada 1860-an, menelan korban luar biasa besarnya, baik berupa korban jiwa maupun harta benda. Perang saudara tersebut dampaknya sangat besar, yang hampir membuat negara tersebut luluh lantak.

Bagi saya perang saudara di Amerika Serikat sangat menarik dijadikan bahan pembelajaran mengingat setelah kejadian hal tersebut, tidak pernah terjadi lagi perang saudara di sana. Apakah ini bisa dikatakan bahwa perang saudara sebagai media mencapai solusi kedamaian? Tentu bukan. Ia sebuah tragedi untuk pembelajaran.

Perang saudara tersebut dilatarbelakangi oleh permasalahan mendasar manusia yaitu perbudakan. Pihak Selatan mempertahankan perbudakan sedangkan pihak Utara ingin menghapuskan perbudakan. Pada masa itu Presiden Amerika Serikat adalah Abraham Lincoln. Munculah pertanyaan: Andaikan Abraham Lincoln menjadi Presiden Indonesia pada 2014-2019? Tentu bukan wujudnya yang ditekankan di sini, tetapi karakter kepemimpinannya.

Saya coba cari bahan bacaan mulai dari yang sudah ada, kebetulan memang saya pengagum Lincoln, jadi saya banyak menyimpan tulisan-tulisan tentangnya. Salah satu ungkapan Lincoln yang saya suka kurang lebihnya: “Semua jawaban permasalahan ada di dalam buku, berilah aku buku supaya bisa menemukan jawaban setiap persoalan”. 

Dari sumber-sumber yang saya baca, saya menemukan sumber yang memuat hasil riset Chicago Tribune  pada 1982. Chicago Tribune  tertarik pada isu keakbaran Presiden-Presiden AS. Chicago Tribune meminta 49 pakar sejarah dan politik Amerika Serikat untuk menemukan siapa Presiden AS terakbar pada masa George Washington hingga Jimmy Carter. 

Dengan menggunakan lima kriteria berikut, yaitu: kualitas kepemimpinan, pencapaian/pengelolaan krisis, keahlian dalam politik, periode menjadi presiden dan karakter/integritas, mereka menemukan Presiden Amerika Serikat terakbar adalah Abraham Lincoln. Sedangkan Presiden Franklin D. Roosevelt dan George Washington, menempati urutan ke-2 dan ke-3. Saya senang karena ke tiga Presiden AS yang keluar sebagai pemenang tersebut adalah idola saya.

Bapak Sosialisme seperti Karl Marx juga mengagumi Lincoln sampai Marx menulis surat pada 1864. Pesan utama Marx adalah bahwa dengan terpilihnya kembali Lincoln sebagai Presiden Amerika Serikat, itu berarti kematian bagi perbudakan. Selanjutnya, Leo Tolstoy juga menilai bahwa nama besar Abraham Lincoln lebih besar daripada Iskandar yang Agung, Caesar atau Napoleon. Tidaklah main-main apabila kita mengandaikan Lincoln menjadi Presiden Indonesia, untuk menyelesaikan segudang permasalahan kita.

Relevansi untuk Indonesia

Apa yang paling saya nilai adanya relevansi kepemimpinan Lincoln untuk Indonesia? Pertama, Lincoln pada dasarnya sejalan dengan paham Pancasila dan UUD 1945. Kita bisa memahami ini dari, antara lain, bagian pidatonya di Gettysburg, 19 November 1863, yang sangat terkenal itu. Lincoln menyatakan bahwa “...bangsa ini, di bawah perlindungan Tuhan, harus melahirkan jenis kemerdekaan baru”....”dan bahwa pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat tidak boleh punah dari muka bumi”. Lincoln seorang yang religius dan juga seorang demokrat. Jiwa yang diharapkan menjadi pengubah Indonesia.

Dalam praktik, apa yang sangat relevan dari kebijakan Lincoln untuk Indonesia sekarang? Kita sering mendengar pernyataan bahwa Indonesia merupakan Negara agraris. Amerika Serikat pada zaman Lincoln juga sebagai negara agraris. Untuk mewujudkan negara AS yang maju dengan pertaniannya yang kokoh sebagai landasan industrialisasi AS, untuk pertama kalinya setelah hadir 15 Presiden Amerika Serikat sebelumnya, Lincoln menciptakan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Oleh Lincoln, USDA ini ditempatkan pada posisi penting dan terhormat.

Lincoln tercerahkan bahwa pertanian itu bukanlah pekerjaan sederhana, apalagi sekadar pekerjaan mencangkul. Ia menyatakan bahwa tidak ada kegiatan manusia yang lebih kompleks daripada pertanian. Ia katakan bahwa kita harus memahami perilaku matahari, bintang-bintang, angin, tanaman, tanah, mikroorganisme, hukum, ekonomi, pasar, transportasi, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, kekokohan pertanian juga harus dilandasi oleh kemakmuran petani. Kemakmuran petani sangat ditentukan oleh aksesnya terhadap lahan. Atas dasar ini maka Lincoln mengundangkan Homestead Act 1862 dan Morrill Act 1862, yang mana keduanya merupakan warisan sejarah besar sebagai peninggalan Lincoln untuk kemajuan Amerika Serikat hingga sekarang. Tolstoy tampaknya benar.

Homestead Act 1862 memberikan akses petani terhadap lahan dengan ukuran per unit lahan kurang-lebih sekitar 64,74 hektare. Sekarang, rata-rata petani Amerika Serikat memiliki lahan 200 hektare. Di kita malahan menggurem.

Adapun, Morrill Act 1862 melahirkan Land Grant Universities sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, seni dan teknologi. Daniel E. Williams (2009) mengungkapkan bahwa Morrill Act tersebut, walaupun berlatar belakang pertanian, dampaknya sangat besar terhadap kemajuan luar biasa pendidikan engineering  di sana.

Jadi, apabila Presiden Indonesia 2014-2019 mengikuti cara Lincoln membangun Amerika Seerikat, untuk masa depan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur, tiga hal saja sudah cukup: menjadikan pembangunan sebagai pemerdekaan bagi seluruh rakyat dan bangsa Indonesia, menciptakan model baru perguruan tinggi dan pusat riset pertanian dalam arti luas sebagai pusat ilmu, teknologi dan seni; dan menciptakan Departemen Pertanian Republik Indonesia seperti bagaimana Lincoln membangun USDA sebagai institusi utama kemajuan.

 

 

PENULIS ADALAH DIRJEN PERKEBUNAN 1998-2003,

DEPUTIMENTERI BUMN 2005-2010 DAN

PROFESOR (RISET) EKONOMI PERTANIAN

 

== end ==

klik di sini untuk melihat versi e-papaer

PDF