.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Arah Pertanian dan 'Tepungisasi'
26 Agustus 2014

OPINI
KAMIS, 21 AGUSTUS 2014

Arah Pertanian dan 'Tepungisasi'

Agus Pakpahan


Ekonom Kelembagaan dan Sumber Daya Alam

Era Revolusi Industri ketiga menurut Rifkin akan dicirikan antara lain oleh Internet-energi, yang berasal dari bermacam sumber energi, khususnya bioenergi. Reiner Kümmel (2011), dalam bukunya The Second Law of Economics: Energy, Entropy, and the Origins of Wealth, menunjukkan bahwa kunci utama kemajuan suatu negara secara dominan adalah dukungan energinya.

Kümmel menunjukkan bahwa elastisitas perubahan output terhadap perubahan input energi untuk industri di Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat (ekonomi keseluruhan) masing-masing adalah 0,73, 0,52, dan 0,35.Jadi, selain masalah pangan, yang juga berada dalam kondisi tertinggal sebagaimana diperlihatkan oleh Global Food Security Index (GFSI) dari The Economist dan Global Hunger Index (GHI) dari IFPRI, Indonesia perlu berkonsentrasi pada pembangunan pertanian dengan manfaat multidimensi, sebagaimana peran dan fungsi pertanian itu sendiri yang bersifat multidimensi.

Walau fakta dunia menunjukkan bahwa hampir semua negara yang berada di garis khatulistiwa dan beriklim tropis ini-di belahan bagian utara maupun selatan khatulistiwa-merupakan negara miskin (Sachs, 2000), kita punya potensi besar untuk bisa melepaskan diri dari kemiskinan dan ketertinggalan selama ini.

Karena itu, kita perlu membangun kerangka dasar cara berpikir kita sendiri. Sumber daya utama pertanian adalah sinar matahari, yang kemudian diolah oleh tanaman menjadi hasil-hasil pertanian. Selama ribuan tahun, telah terjadi evolusi tanaman lokal yang telah berhasil beradaptasi dengan lingkungan setempat. Namun, mengingat kita mengikuti pihak pendatang yang mengusahakan komoditas-komoditas untuk kepentingan mereka di tanah Nusantara, sampai sekarang flora dan fauna asli tidak termanfaatkan atau bahkan semakin terdesak dan banyak yang sudah punah atau mendekati kepunahan.Apa artinya semua itu bagi kepentingan jangka panjang Indonesia?

Apabila tidak ada perubahan yang mendasar dalam kerangka berpikir tersebut, sudah dapat dipastikan pertanian Indonesia tidak akan berkelanjutan atau hanya akan bergantung pada input dari luar.Mengingat pertanian merupakan fondasi peradaban yang dibangun di atasnya, maka ketidakmandirian dalam budaya membangun pertanian Nusantara akan membuat kemiskinan permanen bangsa-bangsa di wilayah tropis menjadi kenyataan.

Sifat wilayah tropis adalah memiliki banyak jenis tanaman atau hewan (biodiversitas tinggi). Berbeda dengan sifat alam temperate, yaitu sedikit jenis tanaman atau hewannya tapi volumenya per unit wilayah besar. Karena itu, pemikiran yang berkembang di negara temperate adalah pemikiran skala ekonomi sebagai basis industrialisasi. Bagi kita, untuk mencapai skala ekonomi yang tinggi, diperlukan proses transformasi dari banyak jenis komoditas ke jenis sekunder sebagai kombinasi, atau campuran dari banyak komoditas menjadi satu atau dua jenis komoditas baru.Dalam berbagai kesempatan, saya menamakan proses ini sebagai "tepungisasi", yaitu membuat tepung Nusantara berdasarkan seluruh produk lokal, seperti sagu, sukun, jagung, dan ubi sebagai basis ketahanan pangan, energi, dan ekologiIndonesia pada masa yang akan datang.

Tepungisasi, selain penting untuk pangan dan energi, turut mengurangi tekanan pertanian terhadap lingkungan, khususnya terhadap sumber daya air dan kemungkinan konflik akibat berbagai kepentingan terhadap sumber daya air.Perlu diingat bahwa Indonesia terdiri atas pulau-pulau.Sistem kepulauan dengan sendirinya memiliki potensi air lebih terbatas dibanding sistem benua.Sebagai ilustrasi, Chapagain dan Hoekstra (2011) menunjukkan bahwa rata-rata water footprint untuk produksi padi adalah 1325 meter kubik/ton. Artinya, dengan produksi padi 70 juta ton/tahun, air yang digunakan sebanyak 92.75 miliar meter kubik.

Jelas, meningkatnya jumlah penduduk Indonesia akan meningkatkan pula kebutuhan air. Dengan model tepung tersebut, kita tidak perlu menambah jumlah sawah secara besar-besaran, melainkan cukup mengolah hasil-hasil pertanian lokal yang sudah adaptif dengan lingkungannya, misalnya sagu yang sekarang jumlahnya masih jutaan hektare. Mulai sekarang, kita harus mempersiapkan sistem pertanian yang hemat air, hemat ruang, serta hemat energi. Hal ini akan berdampak positif, selain ketahanan pangan dan energi serta industrialisasi, terhadap sistem ekologi kepulauan dan menjadi faktor pemicu pertumbuhan serta pemerataan ekonomi secara regional.

 

sumber : tempo.co