.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Keluar dari Perangkap Pangan
06 Februari 2010

 

SUARA PEMBARUAN DAILY


Keluar dari Perangkap Pangan

Agus Pakpahan

Bayangkan apa yang akan terjadi apabila setiap peningkatan satu persen pendapatan rata-rata masyarakat Indonesia, sesuai dengan hasil penelitian Fabiosa (2006), sekitar 0,4 sampai dengan 0,84 persen dibelanjakan untuk membeli pangan dengan bahan utama terigu. Artinya, tren permintaan akan pangan apabila didasarkan atas keputusan konsumen sehubungan dengan perubahan pendapatan, menunjukkan bahwa tepung terigu, yang hampir seluruhnya diimpor, lebih superior daripada pangan yang dihasilkan di dalam negeri, seperti beras.

Apakah kandungan gizi terigu untuk kesehatan manusia lebih baik daripada beras? Saya kira tidak. Kemenangan terigu terletak pada "promosi" yang kira-kira menunjukkan bahwa terigu adalah makanan orang modern, sedangkan beras dan makanan lokal lainnya hanyalah makanan tradisional. Kita lupa bahwa apakah beras ataupun terigu pada dasarnya tergantung pada pasangan pangan lainnya yang memenuhi keseimbangan gizi yang kita perlukan. Keseimbangan gizi ini berhubungan dengan diversifikasi. Diversifikasi ini meru- pakan kata kunci yang sangat penting bukan hanya untuk kesehatan temelainkan juga untuk melepaskan diri dari ketergantungan akan satu atau dua jenis spesies tanaman/ternak saja. Artinya, diversifikasi pangan adalah kunci untuk konsumen dan sistem produksi pangan yang mendukungnya.

Kunci pertama untuk keberhasilan dalam pengembangan diversifikasi pangan adalah peningkatan pendapatan. Hasil riset menunjukkan bahwa diversifikasi pangan merupakan hal yang mewah, yaitu indeks diversifikasi pangan bersifat elastis terhadap perubahan pendapatan.

Artinya, peningkatan indeks diversifikasi pangan (misalnya kita gunakan indeks Entropy), meningkat nyata sehubungan dengan peningkatan pendapatan konsumen.

Sebagaimana telah disampaikan, kita menyaksikan bahwa persentase peningkatan pendapatan konsumen lebih besar dibelanjakan untuk membeli pangan bersumber terigu dibandingkan beras. Artinya, perangkap pangan yang lebih menakutkan bagi pertanian pangan kita adalah fenomena konsumen di dalam negeri meninggalkan pangan yang diproduksi oleh para petani di dalam negeri sendiri. Untuk apa ada pertumbuhan pendapatan apabila pendapatan itu dibelanjakan untuk produk-produk impor?

Artinya, potensi produksi di dalam negeri akan menciut mengingat nilai tambahnya dikirim ke luar negeri.

Mengingat pangan yang diimpor itu tidak lebih baik/lebih sehat daripada pangan yang dihasilkan di Tanah Air ini, maka apa sih yang mendasari berkembangnya tren sebagaimana yang diuraikan di atas?

Keputusan konsumen dasarnya adalah selera (preferensi) dan pendapatan. Selera itu tidak berdiri sendiri dan juga tidak bersifat konstan, apalagi selera antargenerasi. Industri pangan raksasa bukan hanya mempengaruhi pendapatan dunia, melainkan juga yang tidak boleh dilupakan adalah perusahaan pangan raksasa mempengaruhi selera dunia akan pangan masa sekarang dan masa depan. Dengan kreasi jenis pangan dan dengan promosinya dengan biaya yang sangat besar, maka pola pangan dunia akan dibentuknya.

Dapatkah kita mengatakan bahwa hal tersebut sebagai suatu perangkap? Bergantung dari mana kita melihatnya, namun saya lebih suka menggunakan kata strategi daripada perangkap. Apa yang dikembangkan oleh negara-negara maju yang memiliki industri pangan yang kuat menjalankan strategi besar untuk "menguasai" pasar pangan dunia. Jadi, apabila kita merasa diperangkap atau terperangkap, maka penyebabnya adalah karena kita kalah dalam pengembangan strategi pangan (konsumsi) masa depan. Kita kurang memanfaatkan potensi 230 juta penduduk Indonesia dan akan menjadi 270 juta jiwa pada 2020. Kita juga lupa bahwa penduduk dunia akan bertambah kurang lebih 2 miliar jiwa dari sekarang ke masa kurang dari 10 tahun lagi. Ini adalah pasar yang luar biasa besar.

Produsen pangan di dalam negeri, khususnya kalangan industri belum melihat hal di atas secara nyata. Dalam bidang pangan kita belum banyak melihat perkembangan industrinya. Padahal, dalam wujud padi saja, kita memiliki potensi industri pangan, energi, fiber yang luar biasa besarnya. Dalam bidang perkebunan, semua komoditas yang kita hasilkan kita ekspor dalam bentuk bahan mentah. Sedangkan dalam pergulaan, potensi produksi gula di dalam negeri pun didesak kuat oleh barang substitusi sempurnanya, yang bahan mentahnya didatangkan dari luar negeri.

Kalau kita mau keluar dari perangkap pangan sebagaimana yang banyak dibahas akhir-akhir ini, maka kita harus mampu mengembangkan strategi besar yang bisa bersaing dengan strategi yang dikembangkan oleh pihak lain, bukan menangisi nasib dan kita berkata bahwa kita diperangkap pihak lain.

Penulis adalah pengamat masalah pangan nasional


Last modified: 16/9/08