.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Bias Kebijakan Pergulaan Akibat Salah Melihat Harga
13 Agustus 2020

02 Aug 2020, 15:09 WIBEditor : Ahmad Soim

 

oleh : Agus Pakpahan Ketua Umum Perhepi 2000-2003 dan Dirjen Perkebunan 1998-2003

 

Klik : 

TABLOIDSINARTANI.COM - Harga merupakan aspek utama dalam setiap kebijakan ekonomi atau bisnis perusahaan.  Kalau tidak ada harga maka kita tidak akan bisa melakukan transaksi. 

Mengingat transaksi adalah persoalan inti dalam ekonomi maka tanpa harga tak akan ada ekonomi.  Yang dimaksud harga di sini bisa mulai berupa nilai tukar komoditas dengan komoditas seperti dalam ekonomi barter, atau mengacu pada harga yang terdaftar di pasar sebagai sarana pertukaran.

Bahkan, harga itu juga bisa terbentuk melalui mekanisme institusi pasar modern seperti dalam institusi future markets.  Dalam ruang lingkup tersebut kita juga mengenal harga komoditas pada tingkat petani (on farm), harga pada tingkat pabrik, dan tentu saja harga pada tingkat konsumen.  Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa dimensi harga itu relatif sangat kompleks, khususnya dalam sistem ekonomi pasar.

Gula merupakan komoditas yang telah berkembang sepanjang sejarah umat manusia.  Gula dapat dijadikan sebagai komoditas pertanian yang telah menjadi komoditas industri dengan struktur dan jenis pasar yang relatif sangat kompleks. 

Tren harga riil gula di pasar dunia dapat dikatakan relatif menurun pada tingkat harga yang rendah. Menurut data yang tersedia di dalam banyak publikasi harga riil gula secara jangka panjang mengalami penurunan. 

Harga gula dewasa ini di pasar dunia adalah sekitar US $ 0.28/kg atau Rp 4116/kg.  Banyak analis menggunakan data harga gula di pasar dunia ini sebagai patokan.  Berdasarkan patokan tersebut para analis menyampaikan pandangan bahwa harga gula di Indonesia ini terlalu tinggi, yaitu harga gula di Indonesia lebih dari tiga kali daripada harga gula di pasar dunia.

Harga gula Indonesia yang dimaksud para analis tersebut adalah harga gula pada tingkat eceran di pasar-pasar konsumen. Selanjutnya disampaikan bahwa tingginya harga gula tersebut disebabkan oleh industri pergulaan Indonesia tidak efisien dan karena itu impor gula merupakan solusi efisien untuk memenuhi kebutuhan gula nasional.

Sangatlah penting bagi kita untuk melihat harga gula eceran di negara-negara lain untuk dapat menilai secara lebih fair keberadaan dan kapabilitas industri pergulaan nasional kita.  Dengan menggunakan nilai tukar satu dollar Amerika Serikat dengan nilai tukar mata uang dari negara yang dijadikan pembelajaran, dan kemudian dikalkulasi ke dalam mata uang rupiah dengan nilai tukar satu dollar Amerika Serikat ke dalam rupiah pada 1 Agustus 2020 sebesar Rp 14700.5, menurut berbagai sumber internet yang diakses pada 2 Agustus 2020, diperoleh gambaran rata-rata harga gula eceran per satu kilogram sebagai berikut:

 Amerika Serikat: Rp 22.050

 Filipina: Rp 14.957

 Jepang: Rp 33.791

 Kanada: Rp 26.754

 Thailand: Rp 10.878

Data di atas ditujukan untuk sebatas melihat bahwa harga gula eceran itu relatif bervariasi dengan variasinya yang cukup tinggi.  Di Thailand, di mana negara ini dikenal sebagai negara pengekspor gula terbesar ke dua dunia, harga eceran gula ternyata berada pada tingkat dua kali lebih tinggi daripada rata-rata harga gula pasar dunia.  Demikian pun halnya dengan Filipina.  Sedangkan harga gula di Jepang mencapai 8.2 kali lebih tinggi daripada harga gula di pasar dunia.  Jadi, kalau harga gula Indonesia ditetapkan sebesar Rp 12.500 per kilogram, maka harga ini berada di bawah harga gula eceran di Filipina dan sedikit lebih tinggi daripada harga eceran di Thailand.

Data pergulaan dunia menunjukkan bahwa pada intinya pasar dunia ini menghadapi situasi surplus, yaitu tingkat produksi ditambah stok melebihi kebutuhan konsumsi.  Akibatnya trend harga gula menurun atau relatif konstan.  Kondisi ini membuat situasi politik pergulaan dunia memiliki ciri tersendiri yaitu bisa terjadi biaya produksi melebihi harga pasar dunia dan bersamaan dengan itu konsumen membayar harga gula yang relatif tinggi. 

Data di atas menunjukkan bahwa dengan harga gula rata-rata di pasar dunia sebesar Rp 4116 per kilogram, konsumen gula, misalnya di Jepang, membayar jauh lebih tinggi daripada harga di pasar dunia tersebut.  

 

Mengapa bisa demikian?

Tentu jawabannya tidak sekedar dengan membuat kalkulasi seperti yang dikerjakan oleh para pedagang gula saja, yaitu untung-rugi secara finansial.  Amerika Serikat, misalnya, faham betul bahwa industri gulanya tidak kompetitif relatif terhadap harga gula di pasar dunia.  Amerika Serikat juga faham betul bahwa harga gula yang terbentuk di pasar dunia juga bukan murni hasil industri pergulaan yang efisien dengan harga gula dunia tanpa distorsi macam-macam. 

Demikian pun dengan Thailand yang membiarkan harga gula eceran di dalam negerinya jauh lebih tinggi daripada harga gula yang Thailand terima di pasar dunia. Kalau Jepang, mengingat ingin rakyatnya sehat, maka harga gula ditinggikan. 

Dengan latar beralakang seperti inilah strategi industrialisasi berbasis tebu atau tanaman lain untuk menghasilkan gula dan produk lainnya harus dibangun. Penyediaan lapangan pekerjaan dan pendapatan masyarakat perdesaan serta dampak ke depan dan ke belakang dalam proses industrialisasi, sering dipandang sebagai bagian penting dalam mempertahankan dan bahkan merevitalisasi industri pergulaan berbasis input seperti tebu atau tanaman lain yang dihasilkan di dalam negeri suatu negara. 

Sebagai ilustrasi, menurut Tabel Input-Output BPS (2010) setiap Indonesia mengimpor gula sebanyak 3 juta ton maka akan berdampak pada penurunan kesempatan kerja di perdesaan (on farm) sekitar 2.3 juta orang dan 800 ribu orang kehilangan pekerjaan di sektor terkait di perkotaan; output usahatani tebu akan menurun sebesar Rp 18.5 triliun dan pendapatan petani tebu akan berkurang sebesar Rp 12.8 triliun.  Adapun secara ekonomi total, Indonesia akan kehilangan dari sektor output, pendapatan dan tenaga kerja masing-masing Rp 87.7 triliun, 37.8 triliun dan 3.1 juta orang tenaga kerja. 

Jadi, dampak impor gula ini cukup signifikan terhadap penciutan ekonomi berbasis sumberdaya domestik, apalagi apabila diingat bahwa industri makanan dan minuman yang pasokan kebutuhan gulanya mendapatkan keistimewaan itu, ternyata statusnya masih bersifat net-importer.

Semua persoalan terkait dengan kebijakan pergulaan diawali dengan informasi harga gula di pasar dunia yang kemudian harga gula tersebut dijadikan patokan untuk menilai harga gula pada tingkat konsumen Indonesia.  Dengan cara tersebut maka ditemukan harga gula di Indonesia ini sangatlah tinggi.  Dengan cara berpikir ini kemudian impor gula dijadikan seolah-olah sebagai solusi cerdas dan efisien. 

Pada kenyataannya ternyata masyarakat dunia tidak melakukan cara berpikir tersebut.  Indonesia tentunya harus membangun cara berpikir sendiri.  Contoh keunikan cara berpikir Indonesia yang sukses di gelanggang global adalah cara berpikir Indonesia sebagai negara dan bangsa maritim.  Dengan cara tersebut lahirlah UNCLOS 1982 yang secara total mengubah dan memperkokoh kemajuan dan kedaulatan Indonesia secara geografis. 

Dalam bidang pembangunan pertanian atau khususnya pergulaan pun seharusnya begitu. Satu sumberdaya yang bisa mengubah wajah pergulaan Indonesia di mata dunia adalah pemanfaatan kelapa sawit yang akan diremajakan sebagai sumber gula Indonesia.  Dari peremajaan kelapa sawit petani seluas 3 juta hektar saja berpotensi menghasilkan gula sebanyak 45 juta ton. Jumlah ini hampir sebanyak dua kali produksi gula Brazil.

Sumber : Tabloid Sinar Tani