.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (5)
23 Agustus 2020

Agus Pakpahan - Institutional Economist I www.aguspakpahan.com

 

Sumber : Tabloid Sinar Tani

 

TABLOIDSINARTANI.COM -  Pada empat artikel terdahulu dengan mengambil kasus Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan, telah disampaikan bahwa hubungan populasi penduduk dengan perkiraan akan terjadinya guremisasi adalah hanya suatu pendapat yang kebenarannya akan terjadi apabila negara yang bersangkutan mengalami kegagalan dalam proses evolusi sistem perekonomiannya dari sistem yang didominasi oleh pertanian ke sistem yang didominasi oleh kemajuan dalam industrinya. 

 Selanjutnya, negara-negara yang sudah mengalami kemajuan dalam sistem perekonomiannya ternyata menciptakan suatu sistem perekonomian yang memberikan tingkat pendapatan petani bisa lebih tinggi daripada tingkat pendapatan per kapita penduduk pada umumnya. Sumber lebih besarnya pendapatan petani tersebut bukan hasil dari pendapatan usahataninya melainkan dari pendapatan yang bersumber dari non-pertanian termasuk di dalamnya adalah transfer pendapatan dari Negara. 

BACA JUGA:

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (1)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (4)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (2)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (3)

 Panganmu adalah Indonesiamu

 Sumber pendapatan yang disebut terakhir ini dapat ditafsirkan bahwa negara maju menggunakan pemaknaan demi tidak melorotnya kembali tingkat peradaban yang telah dicapainya pada saat sekarang maka Negara “membelinya” dengan cara meningkatkan kemerdekaan para petaninya. Mereka mengambil makna bahwa apabila petaninya dieksploitasi (kemerdekaannya berkurang atau bahkan hilang), kemerdekaan seluruh penduduk negara akan hilang dengan runtuh atau mundurnya peradaban.

Artikel ini mencoba mengambil bahan pembelajaran dari Eropa Barat, sebagai kasus terakhir untuk mempelajari mengapa proses guremisasi terus terjadi di Indonesia dan kemungkinan besar juga terjadi di negara berkembang lainnya.  Untuk mempelajari perkembangan kemajuan perekonomian dunia posisi Eropa Barat sangatlah penting untuk, paling tidak, dua hal berikut:

 Pertama, revolusi Industri untuk pertama kalinya berkembang di England, kemudian menyebar ke wilayah dan negara-negara lainnya.  Kemajuan industri Amerika Serikat dan Jepang pun bersumber dari hasil revolusi Industri di England.  Dengan demikian sangat penting bagi kita untuk melihat perkembangan ukuran lahan usahatani atau skala usahatani di Inggris dan negara-negara Eropa lainnya yang telah mengawali proses revolusi industri. 

 Kedua, Eropa juga sangat penting bagi negara-negara berkembang mengingat Eropa merupakan benua yang mana negara-negara di benua ini merupakan negara yang mengembangkan kolonialisme atau imperialisme pada awal abad modern.  Untuk hal yang kedua ini mungkin kita bisa belajar bahwa industrialisasi itu juga sebagai proses perubahan budaya yang dengan sendirinya masyarakat mereka mampu melepaskan diri dari ketergantungan kekayaan terhadap lahan sebagaimana yang berkembang pada zaman kolonial, menjadi sistem yang menggantungkan kekayaan pada kemajuan teknologi dan sosial-budaya dalam memanfaatkan otak manusia sebagaimana yang digambarkan dalam istilah kreatifitas, inovasi atau R&D.

 Dengan mengambil pembelajaran dari ke dua hal di atas mudah-mudahan kita memperoleh pengetahuan untuk diolah selanjutnya dalam rangka menemukan pemahaman atau pemaknaan baru dalam membangun strategi industrialisasi di tanah air.

 Gambar 1 menunjukkan gambaran jumlah petani dan luas lahan pertanian (dalam perentase) di negara-negara yang bergabung dalam EU-28 pada tahun 2013.  Pada tahun 2013 jumlah petani di EU-28 adalah 10,8 juta unit petani (digunakan istilah number of agricultural holding).  Dari jumlah tersebut terdapat 6,5 juta petani (59,8 persen) menghasilkan nilai output melebihi Euro 2000.  Luas lahan yang digunakan kegiatan pertanian di seluruh UE-28 hampir mencapai 175 juta hektar, atau 40 persen dari luas lahan keseluruhan.

 Prancis dan Spanyol merupakan negara pengguna lahan pertanian terbesar di EU-28, yaitu masing-masing menggunakan lahannya untuk pertanian sebesar 15,9 persen and 13,3 persen.  Sementara itu, pangsa lahan pertanian di Inggris dan Jerman di bawah 10 persen.

 Jumlah petani yang paling banyak di antara negara EU-28 adalah Romania (3,6 juta petani).  Jumlah ini sekitar sepertiga (33,5 persen) dari seluruh petani di negara-negara tergolong EU-28.  Sedangkan Polandia merupakan negara kedua terbesar jumlah petaninya yaitu 13,2 persen.  Posisi ketiga dan keempat dilihat dari jumlah petani di EU-28 adalah Italia (9,3 persen) dan spanyol (8,9 persen) (Gambar 1,Statistics Explained (https://ec.europa.eu/eurostat/statisticsexplained/.

 Gambar 2 mencoba menyampaikan informasi tentang rata-rata luas lahan per unit petani di negara-negara yang tergolong EU-28.  Rata-rata luas lahan per unit petani adalah 14.4 hektar pada tahun 2010, meningkat menjadi 16.1 hektar pada tahun 2013.  Peningkatan rata-rata luas lahan usahatani per petani ini sebagai dampak dari penurunan jumlah unit petani sebesar 11,5 persen.

 Jumlah petani tampak berbading terbalik dengan luas areal per unit petani dan dengan pendapatan petani.  Gambar 3 menunjukkan keragaman pendapatan antarnegara di dalam kelompok EU-28 dan perbandingannya dengan rata-rata pendapatan petani di EU-28 secara keseluruhan. 

 Data menunjukkan bahwa pendapatan petani Slovakia (SK) merupakan yang tertinggi, diikuti oleh petani Belanda (NL), Czechia (CZ), Denmark (DK) dan petani Irlandia (IE) berada pada rata-rata pendapatan petani UE-28. Adapun Romania (RO) dan Slovenia (SI) berada pada lapisan pendapatan terendah. 

 Kembali kita mendapatkan pengetahuan bahwa data ini menunjukkan tingkat pendapatan petani dengan jumlah petani berbanding terbalik dan keduanya adalah berkaitan dengan industrialisasi.

 Proses transformasi ekonomi di Eropa sebagaimana digambarkan oleh EU-28 menunjukkan bahwa industrialisasi menentukan tidak terjadinya guremisasi dan kesejahteraan petani, sebagaimana juga yang telah diperlihatkan oleh kasus Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat yang telah diuraikan sebelumnya.