.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (8): Beratnya Tekanan Harga Bagi Petani
26 Agustus 2020

  Agus Pakpahan - Institutional Economist i www.aguspakpahan.com

 

Sumber : Tabloid Sinar Tani

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Di antara berita yang paling ditakutkan pengambil kebijakan adalah berita tentang kenaikan harga pangan. 

Berita seperti ini pasti akan melahirkan situasi politik-ekonomi yang hangat atau bahkan memanas.  Suara yang secara eksplisit dikemukakan adalah suara yang membela konsumen.  Bahkan, kenaikan harga pangan juga dikaitkan dengan kondisi makroekonomi seperti kenaikan harga pangan akan meningkatkan inflasi sekian poin.  Tidak kalah pentingnya juga pemahaman bahwa harga pangan yang murah diperlukan untuk mendukung proses industrialisasi.  Kebijakan ini dikenal dengan cheap food price policy, kebijakan harga pangan murah.

 Bagaimana dengan suara kepentingan petani?

Seperti apa kondisi pangan secara global? Secara ringkas dapat diuraikan bahwa dunia ini secara agregat sedang dalam keadaan surplus pangan. 

BACA JUGA:

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (7): Belajar dari buku Bad Samaritans

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (6): Tantangan Kano

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (1)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (4)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (2)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (3)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (5)

 Panganmu adalah Indonesiamu

 Memang pernah beberapa kali terjadi bencana kelaparan yang menelan korban jutaan jiwa.  Misalnya, bencana kelaparan di Tiongkok pada tahun 1958-62 yang menelan korban jiwa sekitar 36 juta jiwa, atau hampir mencapai jumlah seluruh penduduk Jawa Timur pada tahun 2019.  Jumlah korban jiwa yang sangat besar. 

Akibat dari berkembangnya surplus pangan tersebut maka tren harga rill pangan atau produk pertanian secara keseluruhan tampak terus menurun.  Menurut Fuglie (2012) trend penurunan indeks harga komoditas pertanian selama 1900-2010 adalah sekitar 1.0 persen per tahun (Gambar 1.)

 Jadi, Gambar 1 menunjukkan bahwa walaupun penduduk dunia meningkat dengan cepat, misalnya dari sekitar 2 milyar jiwa pada tahun 1940an menjadi lebih dari 7 milyar jiwa sekarang ini, atau hampir meningkat 4 kalinya, ternyata peningkatan jumlah permintaan tersebut dapat dijinakkan oleh perbaikan teknologi dan sistem pangan secara keseluruhan.

Memang benar pada saat ini masih terdapat hampir atau bahkan sekitar satu miliar penduduk mengalami kesulitan pangan, tetapi kasus ini lebih merupakan sebagai kasus distributif.  Artinya, dunia belum berhasil membangun sistem pangan yang mampu mendistribusikan pangan sesuai dengan kebutuhan dari setiap  kelompok masyarakat dunia.

Fenomena tren penurunan harga pangan juga tidak selalu baik untuk konsumen.  Misalnya, pangan murah banyak kaitannya dengan obesitas.  Terlebih penting lagi pangan murah juga banyak kaitannya dengan fenomena pemubaziran makanan atau food waste.  Dalam hal food waste ini, menurut The Economist, Indonesia tergolong sebagai bangsa terbesar kedua di dunia yang banyak memubazirkan makanan.

Dalam hubungannya dengan industrialisasi Indonesia, kebijakan pangan murah yang dulu dan mungkin sampai sekarang masih diterapkan, tidak menampakkan juga hubungannya dengan kemajuan industrialisasi sebagaimana yang diharapkan.  Guremisasi petani dan kurang berkembangnya diversifikasi pangan banyak kaitannya dengan kebijakan harga pangan murah ini.

Kebijakan pangan yang berlaku selama ini juga banyak berkaitan dengan tingginya nilai indeks kelaparan seperti diperlihatkan oleh nilai Global Hunger Index (GHI) senilai 20.1 pada tahun 2019.  Indeks GHI ini masih jauh dari indek GHI negara-negara maju (GHI kurang dari 5.0).

Tabel 1 mencoba menyampaikan ilustrasi sederhana yang kiranya mudah dipahami untuk menjawab pertanyaan: Mengapa negara-negara maju demi mempertahankan kelimpahan pangannya, dukungan untuk keberlanjutan peradaban, dan menciptakan spesialisasi yang sinergis antara pertanian dan industri, yang keduanya selalu beriringan dalam proses industrialisasinya, secara kolektif membelanjakan keuangan negaranya untuk menjaga pendapatan petani yang bahkan bisa lebih tinggi daripada pendapatan rata-rata pendapatan penduduk suatu negara secara keseluruhan?

Dari ilmu ekonomi pertanian dasar mahasiswa diajarkan bahwa sifat utama dari komoditas pertanian adalah berhadapan dengan kurva permintaan yang bersifat tidak elastis. 

Angka simulasi pada Tabel 1 menunjukkan, pada posisi kurva permintaan tidak elastis, kalau harga q turun dari Rp 4 ke Rp 1, penerimaan petani turun dari Rp 28 ke Rp 10, atau turun Rp 18.  Apabila pendapatan petani diharapkan tetap maka dengan jatuhnya harga dari Rp 4 per unit menjadi Rp 1 per unit diperlukan transfer kepada petani sebesar Rp 18 rupiah atau sebanyak 64.2 persen dari pendapatan awal. Jadi, dengan terjadinya penurunan harga q sebesar 64.2 persen dari harga semula Rp 4 per unit menjadi Rp 1.0 per unit, untuk menjaga pendapatan petani tetap seperti pada posisi harga per unit Rp 4 (harga awal) diperlukan transfer biaya dari luar usahanya sebesar Rp 18. 

Dalam teori kebijakan hal tersebut biasa dinamakan kompensasi untuk menjaga pendapatan petani relatif tetap.  Pada kondisi permintaan tidak elasitis, pendapatan petani hanya akan meningkat apabila harganya meningkat, walaupun peningkatan harga ini diikuti oleh penurunan permintaan akan komoditas yang dibicarakan.

Fenomena di atas menunjukkan bahwa penurunan harga komoditas pertanian tidak selalu berarti sama dengan atau otomatis pendapatan petaninya berkurang.  Artikel sebelumnya menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata petani di Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan Eropa Barat yang tergolong sebagai negara maju memberikan kompensasi kepada petaninya dalam jumlah yang cukup besar. 

Bebeda dengan sifat komoditas pertanian, sifat komoditas hasil industri pada umumnya memiliki hubungan antara pendapatan dengan harganya yang terbalik.  Pada bagian bawah Tabel 1 dapat terlihat dengan mudah bahwa pendapatan produsen q akan meningkat apabila harganya turun.  Komoditas seperti ini memiliki sifat permintaan yang elastis. 

Komoditas pertanian sewaktu masih bahan mentah bersifat inelastis, misalnya karet remah.  Tetapi apabila ia sudah diolah menjadi produk industri seperti ban mobil, misalnya, nilai elastisitasnya meningkat.  Kembali kita melihat bahwa industrialisasi, termasuk industrialisasi hasil-hasil pertanian merupakan persyaratan keharusan apabila peradaban kita ingin berlanjut.

Jadi, kemana pun kita mengarahkan kerangka berpikir untuk mengatasi permasalahan nasional dalam jangkan panjang, kita akan berakhir dengan perlunya mewujudkan syarat keharusan agar industrialisasi Indonesia sukses. 

Tapi perlu diingat bahwa industrialisasi itu tidak sama artinya dengan membangun pabrik-pabrik di mana-mana.  Pabrik berdiri memang mungkin merupakan wujud peningkatan Economic Complexity Index (ECI), tetapi itu wujud luarnya saja.  Wujud yang tak tampak adalah tekad yang kuat serta realisasinya dalam memanfaatkan budaya industrial di semua lini kegiatan produktif, termasuk di dalamnya lahir dan berkembang semacam heroisme yang pernah, telah dan terus bereplikasi dalam segala formatnya di negara-negara yang telah sukses menjadi negara maju.

Merdeka!