.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (9): Perspektif Melihat Bunga Bank
28 Agustus 2020

Agus Pakpahan - Institutional Economist

 

Sumber : Tabloid Sinar Tani

TABLOIDSINARTANI.COM - Pada artikel Kemerdekaan Bagi Petani Kemerdekaan Bagi Kita Semua-8 telah disampaikan bahwa sifat dasar dari komoditas pertanian, yang sebagian besar merupakan bahan mentah atau bahan pokok, adalah bersifat inelastis terhadap perubahan harga.  Dalam konteks tersebut pendapatan petani akan meningkat apabila harga produk yang dihasilkannya meningkat dan sebaliknya. 

 Sifat ini terbalik dengan produk industri yaitu penurunan harga akan meningkatkan pendapatan.  Jadi, kalau dalam kasus produk industri, menurunkan harga produk bisa menjadi strategi yang tepat untuk meningkatkan pendapatan mengingat permintaan akan produk industri biasanya bersifat elastis terhadap perubahan harga. 

Negara maju dalam menghadapi penurunan harga-harga komoditas pertanian menggunakan pendekatan transfer pendapatan kepada para petaninya.  Transfer pendapatan ini merupakan kompensasi agar petani mendapatkan pendapatan yang tetap atau bahkan meningkat. Hal ini tampak dari indikator yaitu transfer pendapatan jumlahnya bisa jauh melebihi pendapatan langsung petani dari hasil usahataninya. 

BACA JUGA:

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (8): Beratnya Tekanan Harga Bagi Petani

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (7): Belajar dari buku Bad Samaritans

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (6): Tantangan Kano

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (1)

 Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (4)

Di samping itu, dampak industrialisasi yang menyerap banyak tenaga kerja menciptakan peningkatan skala usaha melalui peningkatan ukuran lahan usahatani yang semakin luas.  Ternyata, walaupun skala usahatani meningkat secara signifikan, dampak peningkatan skala tersebut belum cukup memadai untuk mengkompensir penurunan pendapatan para petaninya sebagai akibat dari penurunan harga komoditas selama ini.  Di sinilah kita menyaksikan bahwa keberhasilan industrialisasi adalah syarat keharusan apabila kemerdekaan itu ingin bermakna positif bagi para petani dan tentunya juga bagi semua pihak dalam batas-batas yurisdiksi sebuah negara.

Pada artikel ke-9 ini penulis menyampaikan perspektif berkaitan dengan bunga bank (bank interest rate).  Pada artikel sebelumnya telah banyak disinggung mengenai bunga bank ini, tetapi belum diuraikan lebih terinci.

Mudah-mudahan kita bisa memulai dengan perspektif yang sama yaitu bahwa bunga bank adalah pendapatan seseorang atau lembaga yang diperolehnya bukan sebagai hasil dia bekerja.  Dalam bahasa Inggris, jenis pendapatan seperti ini dikenal dengan istilah unearned income atau economic rent

Penulis dengan sengaja menggunakan istilah bunga bank dalam tulisan ini mengingat istilah bunga dalam bahasa Indonesia bisa juga menggambarkan setangkai bunga yang indah dari sebuah tanaman.  Bunga bank juga merupakan “bunga yang indah” bagi para pemiliknya mengingat bangun kelembagaan bank atau lembaga ekonomi lainnya memberikan jaminan akses untuk mendapatkan aliran pendapatan dari bunga bank tersebut.  Di pihak lain, pada saat yang bersamaan, bunga bank juga merupakan biaya atau beban bagi para pengguna dari uang yang dipinjamnya dari lembaga perbankan atau lembaga lainnya.

Tabel 1 berikut memberikan gambaran berapa beban yang dipikul peminjam per Rp 1.0 pinjaman sesuai dengan lama periode pinjaman dan bunganya. Lama periode waktu di sini menggunakan tahun. Akan lebih cepat lagi apabila beban bunga dikenakan, misalnya, per minggu.

Seperti sudah diperkirakan bahwa semakin tinggi tingkat bunga bank yang dikenakan kepada peminjam maka semakin cepat yang bersangkutan akan mencapai jumlah pinjaman yang berlipat ganda.  Pada Tabel 1 digambarkan berapa lama pinjaman seseorang akan menjadi dua kali lipat pada tingkat bunga tertentu.  Misalnya, apabila seseorang meminjam uang ke bank atau pihak lain dikenakan bungan 0.25 persen per tahun maka apabila ia meminjam Rp 1.00, maka pinjaman tersebut akan menjadi Rp 2.00 pada waktu 240 tahun yang akan datang.  Sebaliknya, apabila bunga pinjaman yang dikenakan adalah 50 persen, maka nilai hutang menjadi dua kali lipat dalam tempo tidak sampai dua tahun.  Beban bunga KUR sebesar 7 persen (efektif), maka setiap Rp 1.00 pinjaman akan menjadi Rp 2 setelah periode 11 tahun. Akan tetapi apabila beban bunga pinjaman itu 7 persen flat, maka nilai pinjaman akan menjadi dobel pada tahun ke 6. 

Bunga kredit yang dikenakan perbankan di Indonesia berkisar antara 9 persen lebih hingga 11 persen untuk korporasi dan 17 persen lebih untuk usaha mikro.  Artinya, usaha kecil  (mikro) dibebani bunga bank lebih tinggi.  UKM ini harus bekerja lebih keras dibanding korporasi mengingat beban bunga yang dikenakan kepada UKM hampir dua kali lebih besar daripada beban bunga yang dikenakan kepada korporasi.


 

 Keterangan:  Estimasi lama periode untuk mencapai tingkat pinjaman dua kali lipat menurut tingkat bunga yang diterapkan menggunakan COMPOUND INTEREST TABLES, Appendix C. https://global.oup.com/us/companion.websites/9780199778126/pdf/Appendix_C_CITables.pdf.

 Bagaimana dengan usaha di bidang pertanian? Kita ambil contoh para petani karet. Karet disadap, katakanlah klon unggul, mulai tahun ke-5.  Jadi, petani karet harus menunggu datangnya masa sadap selama empat tahun.  Apabila ia meminjam uang ke bank dan dikenakan bunga bank  17 persen, seperti halnya dengan bunga yang berlaku bagi UKM, maka hutang petani karet tersebut sudah menjadi dua kali dari nilai pinjaman awal pada saat pinjaman tersebut memasuki  usia tahun ke-4.  Padahal ia baru mulai menyadap karetnya pada tahun ke-5.  Kalau harga karet turun dari prediksi awal, maka petani karet tersebut akan menderita beban dari dua sumber:, yaitu beban bunga bank yang sangat besar per satuan waktu dan dampak penurunan harga komoditas yang dia usahakan.  Bunga bank yang tinggi sangat tidak kompatibel dengan kegiatan usaha pertanian yang bersifat jangka panjang. 

 Secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin tinggi bunga bank maka semakin berkurang kesempatan untuk melaksanakan kegiatan investasi berjangka panjang.  Di sinilah letak strategis dari bunga bank, yaitu mengaitkan posisi hari ini dengan posisi masa depan secara langsung.  Kita memahami bahwa kondisi masa depan itu sangat tergantung pada investasi hari ini.  Dengan bunga bank yang tinggi maka kita tidak layak mengharapkan akan terwujud masa depan yang lebih baik.  Tingginya bunga bank di Indonesia selama ini memiliki dampak nyata terhadap rendahnya investasi di bidang pertanian, khususnya pertanian rakyat.

Bagaimana dengan bunga bank nol persen seperti yang digariskan dalam kebijaksanaan moneter di Jepang? Dengan bunga bank nol persen nilai jumlah hutang tidak akan bertambah.  Siapa yang “dirugikan” oleh kebijakan tersebut?  Penulis dengan sengaja menggunakan cara penulisan dirugikan dalam tanda petik mengingat di sinilah kunci untuk kita bisa memahami mengapa kebijakan tersebut lahir di Jepang pada 1999.  Para pemilik uang di Jepang, tentunya korporasi dan orang kaya Jepang, memberikan bobot masa depan bangsa dan negaranya jauh lebih besar daripada nilai hari ini. 

BACA JUGA:

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (2)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (3)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (5)

Panganmu adalah Indonesiamu

Bangsa Jepang sudah masuk dalam tataran bukan hanya membuat bunga bank rendah, misalnya, 0.25 persen sehingga nilai dobel pinjaman memerlukan waktu 240 tahun.  Periode 240 tahun yang sudah begitu panjang saja sudah dianggap oleh bangsa Jepang sebagai periode yang pendek sehingga mereka meng-nol-kan bunga bank mereka.  Pola bunga nol persen ini dapat dikatakan sebagai pola perencanaan tanpa batas waktu (infinite planing horizon).

Penerapan kebijakan bunga bank nol persen hanya bisa dilihat dengan menggunakan perspektif nasionalisme dan patriotisme ekonomi yang sangat tinggi.  Di pandang dari perspektif kebangsaan, bangsa Jepang sejak 1999 sudah berada pada posisi persenyawaan sempurna antara kalangan yang memiliki uang (kaya) dan kalangan yang memerlukan uang untuk investasi. 

Bahkan, dipandang dari sudut isme kapitalisme, mengenolkan bunga bank, adalah sama dengan menghibahkan bagian pendapatan dari bunga yang sebelumnya dimiliki oleh orang kaya Jepang,  tetapi sekarang dengan diterapkannya bunga nol persen, mereka tidak menikmatinya lagi.  Artinya juga peminjam kredit kepada perbankan dengan kebijakan sekarang mereka tidak dibebani lagi oleh bunga bank tersebut. Jadi, masyarakat Jepang sudah menjadi Jepang satu jiwa dalam raga berjuta manusia Nippon.  Itu berlaku sejak 1999 hingga sekarang.  Nilai patriotisme Jepang itu sekarang sudah diterapkan di beberapa negara Eropa Barat seperti Denmark.

Dapatkah tren bunga sangat rendah atau bahkan nol persen menjadi jiwa nilai pembangunan nasional Indonesia? Dapatkah para pemilik uang di Indonesia menghibahkan pendapatan dari bunga bank untuk kepentingan pertanian misalnya? Wallahualam bisawab, mengingat kebijakan tersebut memerlukan jiwa patriotisme seperti yang berlaku di Jepang atau di negara lain yang telah mengadopsinya. 

Apabila kebijakan tersebut diadopsi Indonesia, maka dalam waktu seketika kita akan “dipaksa” oleh budaya berpikir baru untuk bisa dan kuat memberikan nilai lebih tinggi untuk masa depan Indonesia.  Dengan demikian masa depan pertanian dan petaninya, dan demikian juga dengan industrialisas akan semakin berkembang mengingat pada kondisi baru tersebut kegiatan-kegiatan yang mendahulukan rente dari bunga bank (unearned income) daripada hasil kerja, akan segera sirna. 

Merdeka!