.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Model "Sabilulungan" Teh Rp 530 Miliar
09 Februari 2010

 

 

Pikiran Rakyat, Selasa, 02 Agustus 2005

 

Model "Sabilulungan" Teh Rp 530 Miliar

Oleh: Agus Pakpahan

APA dan siapa kita, tergantung dari apa yang kita pikirkan dan apa yang bisa kita capai, tergantung dari sampai sejauh mana kita memanfaatkan pikiran tersebut dalam wujud amal perbuatan.

Ukuran objektif dari apa yang kita pikirkan dan apa yang kita amalkan, itu dapat dilihat dalam intensitas dan jumlah waktu yang kita gunakan untuk memikirkan dan mengamalkan dari semua yang kita pikirkan.

Dengan tersedianya jumlah waktu yang terbatas, yaitu 24 jam per hari untuk siapa saja, maka kita bisa mengukur diri apakah waktu tersebut sudah kita gunakan sebaik dan setepat mungkin.

Karena itu, kesabaran menggunakan waktu bukan diukur oleh ketahanan menunggu sesuatu secara pasif, tetapi ketahanan atau keuletan kita untuk mencapai hasil terbaik dari setiap apa yang kita pikirkan dan amalkan sejalan dengan perjalanan waktu itu.

Pada kesempatan ini, penulis ingin berbagi pemikiran sebagai wujud pemanfaatan waktu, yang dipusatkan pada upaya untuk mencari berkah dari perkebunan teh yang sudah menjadi warisan sejarah kita dewasa ini.

Persoalan dipusatkan pada menjawab pertanyaan: apa yang harus kita lakukan apabila kita ingin mendapatkan manfaat yang lebih besar dari teh ini? Lebih spesifik lagi: apa dan bagaimana caranya agar kita dapat memperoleh tambahan pendapatan dari ekspor teh senilai Rp 530 miliar per tahun?

Angka Rp 530 miliar ini merupakan perkiraan kehilangan kita pada tahun 2004, yaitu hasil perkalian antara volume ekspor teh sekira 100 ribu ton dengan selisih harga teh kita dengan harga teh di pasar internasional yaitu 0,53 dollar/kg.

Nilai kehilangan ini sangatlah besar, yaitu sekira 49,5% dari total penerimaan ekspor teh Indonesia pada tahun tersebut. Oleh karena itu pula menjadi hal yang sangat penting untuk mendapatkan perhatian kita semua, khususnya pemerintah, Pemerintah Daerah Jawa Barat, PTPN VIII, dan semua unsur masyarakat lainnya untuk ber-sabilulungan mengatasi masalah rendahnya harga ekspor teh kita selama ini, khususnya setelah tahun 1991.

Model sabilulungan teh Rp 530 miliar dalam tulisan ini digunakan sebagai istilah yang memusatkan perhatian kita semua untuk menciptakan nilai teh yang hilang selama ini, melalui perjuangan bersama agar harga teh Indonesia dapat ditingkatkan, dengan sasaran mendapatkan minimal tambahan nilai sebesar Rp 530 miliar. Mengingat Jawa Barat merupakan penghasil utama teh Indonesia, maka Jawa Barat diharapkan menjadi pelopornya.

Sering disampaikan bahwa harga adalah hasil interaksi antara penawaran dan permintaan. Penjelasan ini belumlah cukup mengingat kita harus menguji lebih jauh lagi apa di belakang permintaan dan penawaran tersebut. Pengetahuan mengenai hal ini merupakan pengetahuan awal yang diperlukan dalam membangun strategi, kebijaksanaan dan langkah-langkah operasional yang akan dilaksanakan.

Pengetahuan mengenai rendahnya harga teh kita yang jaraknya jauh dari harga rata-rata teh di pasar internasional sejak 1991, menunjukkan bahwa posisi dan kekuatan bersaing teh kita di pasar internasional sangatlah lemah. Pengalaman selama 14 tahun ini tentunya sudah memberikan pelajaran apakah kelemahan kita itu, misalnya, akibat dari lemahnya teknologi, manajemen atau ada hal lain. Pertanyaannya: Mengapa selama 14 tahun kita belum bisa dan kuat mengatasi masalah tersebut?

Apa pun yang menjadi penyebab kita belum mampu mengatasi masalah tersebut, solusinya sudah dapat dipastikan tidak dapat ditangani sendiri, misalnya, oleh PTPN VIII. Namun, mengingat PTPN VIII ini mendominasi produksi teh Indonesia, PTPN VIII menempati posisi leader. Artinya, keputusan yang dibuat PTPN VIII akan berpengaruh terhadap harga teh yang dihasilkan oleh perusahaan perkebunan teh lainnya, termasuk teh yang dihasilkan para petani.

Oleh karena itulah posisi, peran, dan fungsi PTPN VIII sangatlah strategis. Salah satu strategi yang harus dikembangkan oleh PTPN VIII adalah mengembangkan model sabilulungan (community corporate), yaitu model yang didasarkan atas kekuatan bersama dari seluruh elemen masyarakat Jawa Barat. Sasaran utama dari model ini adalah mewujudkan masyarakat perkebunan teh Jawa Barat sebagai masyarakat teh berkelas dunia. Hal ini penting mengingat hanya dengan mencapai kelas dunia tersebut produk teh kita akan mampu bersaing di pasar dunia.

Untuk membentuk masyarakat teh Jawa Barat berkelas dunia diperlukan langkah-langkah berikut: pertama, mewujudkan masyarakat pertehan berkelas dunia untuk menghasilkan produk teh dengan kualitas yang terbaik di dunia. Kualitas bukanlah produk individu, melainkan produk masyarakat. Perusahaan perkebunan harus mampu menghasilkan produknya yang terbaik, dan demikian juga hasil teh para petaninya. Mengingat kualitas ini merupakan produk masyarakat, kondisi awal yang harus dibangun adalah kondisi masyarakat yang cinta mendahulukan arti kualitas dalam arti yang mendalam dan luas. Untuk itu, kerja sama dan sekaligus juga persaingan untuk mencapai hasil yang terbaik perlu terus dipupuk.

Jadi, menurut cara pandang ini membangun perkebunan adalah membangun masyarakat perkebunan berkelas dunia, sedangkan teh hanyalah sebagai alat perjuangan dari masyarakat untuk mencapai wujud tersebut. Untuk mencapai tersebut diperlukan adanya cita-cita dan harapan yang sama dari seluruh masyarakat pertehan Jawa Barat pada khususnya dan masyarakat pertehan Indonesia pada umumnya.

Kedua, mengembangkan proses dan sistem komunikasi serta berlatih dengan tekun dan sungguh-sungguh untuk mencari dan mendalami permasalahan yang dihadapi dan merumuskan "mantra", cara dan substansi apa yang menjadi sasaran bersama yang menjadi makna dan keinginan bersama.

Untuk diwujudkan sebagai tolok ukur masyarakat berkelas dunia dan produknya yang berkelas dunia pula. Istilah civic entrepreneur untuk menggambarkan bahwa setiap pemimpin atau tokoh masyarakat memiliki karakter entrepreneur sebagaimana yang sekarang ini dipahami, tetapi ia menerjemahkan entrepreneurship tersebut bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan sebagai perjuangan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.

Dalam pandangan ini, baik perusahaan maupun pemerintahan atau wujud institusi lainnya adalah dipandang sebagai sarana untuk meningkatkan jenjang kemajuan bersama sebagai satu masyarakat. Kita memang harus bergerak cepat, tetapi senantiasa ingat "si lumpuh" di belakang ingin hidup, dijadikan sebagai prinsip.

Dengan menggunakan dasar pemikiran di atas, masyarakat bukan hanya akan menjadi lebih bergairah, tetapi juga akan hidup dan berkembangnya energi sosial dan sinergi regional dan nasional. Dari sinilah akan berkembang proses munculnya kekuatan yang berintikan pada energi yang hidup dalam seluruh lapisan masyarakat, ibarat munculnya gelombang di lautan yang bersumber pada gerakan air yang sebelumnya hanyalah suatu gerakan yang lemah.

Ketiga, kita pusatkan lahir-batin kita pada satu titik, yaitu menujudkan Rp 530 miliar atau lebih tambahan pendapatan dari teh per tahun, yang selama ini hilang begitu saja. Pemusatan seluruh kekuatan lahir batin ini sangat diperlukan untuk membangkitkan energi sosial dan sinergi masyarakat secara keseluruhan. Silih-wangi yang mengandung arti saling mengharumkan merupakan nilai yang perlu dikembangkan untuk menciptakan Kujang sebagai singkatan kesatuan umat jangka panjang, yang akan menjadi landasan bagi berkembangnya energi sosial dan sinergi masyarakat tersebut.

Dengan modal sosial dan kultural ini, maka kekuatan akan terwujud sehingga kita akan bisa dan kuat untuk menciptakan nilai tambah teh sebesar Rp 530 miliar/tahun atau lebih.

Kelompok civic entrepreneurs perlu berkembang di berbagai bidang, termasuk dalam urusan memberikan motivasi kepada masyarakat, mengembangkan jaringan, berperan sebagai guru, mengembangkan nilai dan institusi baru, mengintegrasikan elemen-elemen sistem yang saling berhubungan, menjalankan peran "sopir" dalam masyarakat, dan memainkan peran sebagai tokoh pembaru. Hal tersebut berlaku baik dalam bidang dunia usaha, pemerintahan, lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, polisi dan kejaksaan, alim ulama, dan sebagainya.

Model sabilulungan sebagaimana yang diuraikan hanya akan menjadi kenyataan yang akan memberikan pertambahan nilai yang sangat besar yang dapat diraih melalui teh apabila kita semua bisa dan kuat menjadi pelita dalam pertehan yang sedang berada dalam kegelapan. Dan ini hanya akan terwujud apabila kita bisa dan kuat membela kepentingan rakyat, bangsa, dan negara. Teh adalah medan perjuangannya. Apa dan siapa kita, tergantung dari apa yang kita pikirkan dan apa yang bisa kita capai, tergantung dari sampai sejauh mana kita memanfaatkan pikiran tersebut dalam wujud amal perbuatan. Mari kita ber-sabilulungan.