.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
SOS, Teh Indonesia!
03 Februari 2010

 

 

Kompas, Sabtu, 10 April 2004

SOS, Teh Indonesia!

Agus Pakpahan

TEH merupakan bagian budaya yang sudah berusia ribuan tahun. Diyakini bahwa teh ini berasal dari Negeri China. Konon pada zaman Kaisar Shen Nung (2737 SM), secara tidak sengaja selembar daun jatuh dan masuk ke dalam rebusan air dan terseduh oleh Sang Kaisar. Daun tersebut adalah daun teh dan Kaisar merasakan nikmatnya air seduhan tersebut. Setelah itu, teh mulai dikenal dan menyebar luas.

CERITA teh di Indonesia berawal dari Andreas Cleyer. Pada tahun 1686 ia membawanya ke Indonesia untuk tanaman hias. Lalu, 42 tahun kemudian, yaitu tahun 1728, Belanda mulai tertarik terhadap teh dan mulai mendatangkan benih teh dari China untuk dibudidayakan di Pulau Jawa.

Tahun 1824 Van Siebold melanjutkan upaya pengembangan teh yang benihnya berasal dari Jepang. Usaha perkebunan teh pertama di Indonesia dipelopori oleh Jacobson pada 1828. Teh mulai berkembang dan memberikan keuntungan bagi Belanda. Gubernur Van Den Bosh menjadikan teh sebagai salah satu komoditas Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel). Jawa Barat-lah yang menjadi pusat teh di Indonesia.

Sekarang teh sudah menjadi bagian dari kebudayaan dunia, minum teh adalah tradisi yang bukan hanya bersifat "ritual", "spiritual", tetapi dalam kehidupan beberapa golongan masyarakat di negara lain, sudah menjadi simbol kehidupan "glamor".

Sejarah panjang ini tentu memberikan makna besar bagi bangsa Indonesia. Data pada 2002 menunjukkan bahwa luas areal teh di Indonesia sudah mencapai lebih dari 157.000 hektar, yang terdiri atas perkebunan teh milik BUMN sekitar 49.000 hektar, swasta 43.000 hektar, dan petani 66.000 hektar. Sekitar 70-80 persen perkebunan teh ini berada di Jawa Barat, tanah Pasundan.

Pada 2002 Indonesia memproduksi 172.700 ton teh dari produksi dunia 3,05 juta ton. Jadi, pangsa (share) Indonesia 5,6 persen. Sebagai perbandingan, produksi negara lain, seperti India 826.200 ton, China 745.400 ton, Sri Lanka 310.600 ton, dan Kenya 287.000 ton (International Tea Committee, 2003).

Teh merupakan komoditas ekspor Indonesia, khususnya Jawa Barat. Pada tahun 2002 nilai ekspor teh Indonesia mencapai 103,4 juta dollar AS, dengan volume ekspor 94.700 ton untuk teh hitam dan 5.500 ton teh hijau. Tahun 1993 nilai ekspor teh Indonesia ini mencapai 155,7 juta dollar dengan volume ekspor 123.926 ton. Pada 1998 nilai ekspor teh Indonesia menurun menjadi 113,2 juta dollar dengan volume 67.219 ton.

Data ini menggambarkan bahwa penerimaan devisa dari ekspor teh Indonesia ternyata menurun dari 1993 dan 1998. Yang paling mengkhawatirkan adalah data 1998-2002, di mana volume ekspor meningkat 33.000 ton, tetapi pendapatan menurun 9,8 juta dollar atau Rp 83,3 miliar dalam empat tahun.

Tabel 1 mencoba memberikan gambaran melalui perbandingan kinerja antara Sri Lanka dan Indonesia dalam bidang pertehan ini. Data inilah yang mengungkapkan bahwa teh Indonesia berada dalam situasi gawat (SOS).

Hal ini diperlihatkan oleh, pertama, harga teh Sri Lanka selalu lebih tinggi daripada harga teh Indonesia dengan selisih terendah 0,6 dollar (1993) dan tertinggi 1,38 dollar (1996) per kilogram. Pada tahun 2002, selisih harga 1,21 dollar per kilogram.

Setelah tahun 1996, harga teh Sri Lanka selalu di atas 2,24 dollar per kilogram, sedangkan harga teh Indonesia pada periode yang sama sekitar 0,99- 1,68 dollar per kilogram. Harga teh Sri Lanka 48-130 persen lebih tinggi dari harga teh Indonesia (1993-2002). (Sebagai catatan, data harga ini merupakan hasil perhitungan nilai ekspor dibagi oleh volume ekspor, jadi bukan data transaksi).

Kedua, volume ekspor teh Sri Lanka relatif meningkat terus. Pada tahun 1993 ekspor Sri Lanka 209.942 ton, dan tahun 2002 menjadi 285.985 ton. Volume ekspor Indonesia berfluktuasi cukup tajam. Hal ini menandakan bahwa kontinuitas ekspor Indonesia lemah.

Ketiga, nilai ekspor teh Sri Lanka naik terus sejalan dengan kenaikan volume ekspor, tetapi nilai ekspor Indonesia fluktuatif. Bahkan, kenaikan volume ekspor teh Indonesia tidak selalu diikuti oleh kenaikan pendapatan dari ekspor ini. Contoh: volume ekspor Indonesia pada 1998 sebanyak 67.219 ribu ton memberikan pendapatan 113,2 juta dollar, tetapi dengan volume ekspor teh sebanyak 100.185 ribu ton (2002) memberikan pendapatan lebih rendah, yaitu 103,4 juta dollar AS.

Fluktuasi volume ekspor dan harga yang selalu lebih rendah, dan rendahnya harga itu jauh dari apa yang dicapai Sri Lanka, tentu menyembunyikan banyak persoalan. Persoalan tersebut bukan hanya terletak pada aspek budidaya teh, tetapi tentu lebih mendasar lagi. Hal ini didasari oleh argumen bahwa daya saing suatu produk tidak hanya terbatas pada aspek teknis saja, tetapi lebih luas daripada itu.

BANYAK teori atau pendapat tentang bagaimana kita dapat meningkatkan daya saing di pasar global. Di antaranya adalah dengan membaca dalam buku The Marketing of Nations karya Philip Kotler et al ( 1997) atau buku Creating Wealth karya Lester Thurow (1999) dan buku Lester Thurow (2003) Fortunes Favors The Bold.

Namun, apakah kita mampu membangun daya saing itu, pada akhirnya kembali pada kita sendiri. Apakah kita mau dan bisa membangun diri kita sendiri, masyarakat pertehan Indonesia, khususnya masyarakat pertehan Jawa Barat. Pihak lain hanyalah pihak yang hanya sampai sebatas membantu, bukan yang utama.

Apabila kehancuran teh Indonesia dibiarkan terjadi, dampaknya akan sangat luas. Bukan hanya ribuan petani kehilangan pekerjaan, para pekerja perkebunan kehilangan penghasilan, tetapi negara secara keseluruhan juga akan mengalami kerugian yang sangat besar.

Kerugian yang paling besar adalah kehilangan kepercayaan diri itu sendiri (social capital) yang sangat penting. Satu mata rantai budaya yang telah tumbuh di Indonesia bersamaan dengan berkembangnya teh selama ini akan punah. Apalagi yang dapat diceritakan oleh generasi kita kepada generasi selanjutnya, kecuali ketidakmampuan kita melanjutkan kejayaan masa lalu, yang sekaligus juga menjadi dan memberikan beban kepada anak-cucu kita.

SOS...SOS& siapa yang bisa menolong teh ini?

Agus Pakpahan, Ketua Badan Eksekutif Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia