.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Transformasi Industri Kelapa Sawit
20 Juni 2010

Oleh : Agus Pakpahan

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, setiap 4 tahun sekali melaksanakan International Oil Palm Conference (IOPC). Pertemuan IOPC ke-4 dilaksanakan di Yogyakarta, pada 1-3 Juni 2010 (semua pertemuan sebelumnya dilaksanakan di Bali), yang mana Bapak Wakil Presiden, Prof. Dr Boediono, memberikan arahan pada hari ke dua, di hadapan para peserta yang jumlahnya hampir 1000 orang, yang datang dari 23 negara.

Tulisan singkat ini tidak dimaksudkan untuk menyampaikan hasil dari sidang-sidang IOPC tersebut, melainkan lebih ditujukan untuk menjawab satu pertanyaan yang maha penting untuk Indonesia, yaitu: apakah posisi Indonesia sebagai penghasil kelapa sawit terbesar dunia ini akan terus berlanjut ataukah akan senasib dengan posisi komoditas utama pada masa lalu yang sebelumnya berjaya sebagai pemberi devisa utama tetapi kemudian ambruk?

Pelajaran dari Sejarah
Strategi orientasi ekspor yang dijalankan Indonesia telah berlaku sejak zaman Pemerintah Kolonial Belanda. Dengan dibukanya Terusan Suez pada 1869 maka jalan ke Nusantara dari Belanda makin pendek, ongkos makin murah, sehingga investasi di tanah jajahan menguntungkan. Untuk itu, peraturan perundangan yang menyuburkan investasi dilahirkan, yaitu Agrarischwet 1870. Kita mencatat bahwa pada era ini ekspor kopi menjadi sumber devisa penting bagi Belanda. Penerimaan devisa Belanda dari kopi ini merosot pada awal 1900-an.

Posisi kopi diganti oleh gula, yang juga berpusat di Jawa. Gula ini memberikan pendapatan devisa yang luar biasa besar juga bagi Belanda. Kejayaan gula berakhir pada 1930-an. Posisi gula kemudian diganti oleh karet. Karet, sebagai penghasil devisa merosot pada tahun 1960-an. Pasca karet ini lahir minyak bumi dan usaha kehutanan di luar Jawa, dengan model Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Sebagaimana usaha perkebunan lahir dengan landasan Agrarischwet 1870, maka HPH di luar Jawa lahir setelah diterbitkannya UU No 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan dan UU No 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing.

Hasilnya adalah kayu dari hutan alam di luar Jawa menjadi sumber devisa utama nomor kedua Indonesia setelah migas pada 1970-80-an awal. Namun demikian, ternyata menjelang abad ke-20 berakhir, posisi minyak bumi dan gas serta kayu dari hutan-hutan alam itu ternyata tidak lagi menjadi penghasil devisa utama Indonesia. Bahkan kita menyaksikan walaupun secara teoritis usaha kehutanan itu ditopang oleh ilmu kehutanan yang berpegang pada prinsip maximum sustained yield principle, dalam prakteknya ternyata tidak dapat diterapkan, khususnya di luar Jawa.

Mengapa Berguguran?
Komoditas yang diusahakan itu berguguran disebabkan oleh kekalahan dalam persaingan di pasar global. Banyak faktor yang menurunkan daya saing, tetapi untuk bulk commodities berupa bahan mentah/bahan baku, faktor utamanya adalah biaya produksi yang tidak bisa bersaing dengan produk yang sama atau substitusinya yang dihasilkan oleh negara-negara pesaing.

Memang benar bahwa penurunan biaya produksi ini ditentukan oleh banyak faktor, namun satu di antaranya yang sangat penting adalah terciptanya lingkungan/sistem ekonomi secara keseluruhan (economy-wide performance) yang efisien, maju dan sehat. Melemahnya sistem ekonomi dunia mengubah konfigurasi atau tatanan ekonomi global.

Bagi negara seperti Brazil, Thailand dan Australia maka jatuhnya pasar gula dunia, misalnya, dijadikan kesempatan untuk merebut posisi baru dalam pergulaan dunia. Hasilnya adalah jadilah negara-negara tersebut sebagai pemenang dalam hal gula dewasa ini. Adapun Malaysia merebut posisi Nigeria yang sebelumnya menguasai pasar sawit, maka jadilah kelapa sawit ini sebagai sumber kemakmuran, kesejahteraan, kemajuan dan kebanggaan Malaysia.

Inti-sari yang ingin disampaikan adalah bahwa jatuh-bangun dalam ekonomi itu hal biasa dan akan terus terjadi. Persoalannya adalah apakah kita bisa bangkit dan kembali menjadi pemenang. Kita belum memiliki bukti untuk hal tersebut. Karena itu, adalah tantangan kita semua, masyarakat perkelapasawitan Indonesia, bahwa kita harus bisa dan kuat membangun sistem yang tak terkalahkan.

Sistem yang tak terkalahkan adalah produk inovasi yang berkelanjutan dan berskala besar. Sebagai ilustrasi, Jepang dalam bidang kendaraan bermotor memulai produksinya pada tahun 1934 dengan mobil Toyopet pertama yang laku dijual di Amerika Serikat pada tahun 1958 (24 tahun). Sekarang, Jepang sudah sampai pada mobil Lexus-mobil berkelas yang tak kalah dibanding mobil mewah di Eropa atau Amerika Serikat. Industri mobil Jepang ini bahkan pada tahun 1980-an sempat memporak-porandakan pertahanan industri mobil Amerika dan Eropa. Sistem yang dibangun Jepang terus berevolusi ke arah sistem yang sulit untuk dikalahkan.

Dalam bidang pertanian, khususnya industri berbasis tebu, kita bisa melihat pada keberhasilan Brazil. Keputusan yang dibuat Brazil pada awalnya adalah bahwa Brazil harus bisa membebaskan diri akan ketergantungan energi BBM dari pasokan negeri asing. Maka pada awal 1970-an Brazil memutuskan untuk menanam dan memanen semua hasil dari tebu, termasuk program Proalcool yang melahirkan sistem permesinan dan transportasi yang menyesuaikan diri dengan energi yang bersumber dari tebu, yaitu etanol. Bersamaan dengan itu, Brazil juga menjadi pemenang dalam ekspor gula. Ini juga menjadi salah satu contoh “sistem yang tak terkalahkan”.

Kunci utama dari suatu sistem yang tak terkalahkan adalah hidupnya suatu budaya baru yang menghidupkan faham serba-baru, tetapi bukan asal baru. Misalnya, teknologi Jepang terus berkembang, walaupun adat-istiadat atau tatanan nilai Jepang yang luhur sifatnya terus dijaga dan dipelihara tetap seperti sediakala. Hal serba baru ini hanya akan didapat apabila pekerjaan yang dilaksanakan sehari-hari itu berbasis pada sistem inovasi yang telah membudaya yang akan memberikan ”darah segar” bagi keberlanjutan sistem perkelapasawitan Indonesia.

Malaysia sudah dikenal sebagai Palm Oil Knowledge Based Economy. Kita masih jauh tertinggal, sebagaimana dapat dilihat pada jumlah dan jenjang peneliti serta anggaran yang disediakan. Perusahaan-perusahaan sejenis yang mengolah bahan-bahan hasil pertanian, misalnya Hexion yang mengolah getah pinus, dengan nilai penjualan US$ 7 miliar, mengalokasikan dana riset sekitar 7 % dari nilai penjualan tersebut. Transformasi Industri Kelapa Sawit Indonesia hanya akan terjadi apabila kita melaksanakan utamanya satu dari 10 Arahan Presiden SBY di Tampak Siring belum lama ini, yaitu inovasi besar-besaran di bidang perkelapasawitan.

Penulis dari Agricultural, Natural Resource and Institutional Economist
www.aguspakpahan.com

sumber : http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=19559

suara pembaruan, 16 Juni 2010