.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Kearifan dan Kecerdasan Indonesia
23 Agustus 2010

Kearifan dan Kecerdasan Indonesia
Oleh : Agus Pakpahan

 

Apakah leluhur kita itu kaum yang bodoh dan terbelakang? Jawabnya: Tidak. Indonesia sebagai negara besar tentu tidak lahir dengan segala hal yang mudah. Negara ini lahir karena kebesaran jiwa, pikiran, perasaan dan jati dirinya—kami singkat dengan kata Kearifan dan Kecerdasan, yang dijadikan sebagai judul artikel ini. Hal ini perlu kita tanamkan dalam hati sanubari kita mengingat terdapat kemungkinan dengan arus informasi negatif tentang kita, kita melupakan atau terlupa akan jasa-jasa leluhur kita, jasa-jasa para pendiri Republik ini, dan kemudian kita tanpa menyadari terbawa arus dan hanyut entah kemana. Berikut ini kami sampaikan empat hal, yang kami coba tafsirkan merupakan Maha Karya Bangsa Indonesia, dan yang jarang ada bandingannya di negara-negara lain. Mudah-mudahan ke empat hal yang akan diuraikan secara singkat ini, walaupun bukan hal yang baru, dapat menjadi sumber motivasi dalam meningkatkan rasa kebangsaan kita, rasa nasionalisme kita atau rasa persaudaraan sebangsa dan se-tanah air Indonesia di antara kita semua.

Pancasila

Jangan kita lupakan bahwa seluruh bangsa Indonesia, yang berada di seluruh pelosok wilayah Indonesia, yang berada di desa-desa ataupun di kota-kota di Indonesia, atau warga Negara Indonesia yang berada di luar negeri, sampai pada puncak perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke- 65 tahun (17-8-2010). Dengan segala kelebihan-kekurangannya dan dengan pasang-surut yang kita alami, tentu kita wajib bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, bahwa kita mewarisi sebuah Negara yang merdeka, berdaulat dan bersatu. Perlu kita sadari bahwa yang kita nikmati ini adalah hasil kearifan, kecerdasan dan perjuangan para pendiri republik kita ini. Penemuan dan penerimaan Pancasila sebagai Dasar Negara adalah “kuncinya”. Karena itu pula kita harus bersyukur bahwa kita mewarisi nilai-nilai yang bersenyawa dalam Dasar Negara kita itu. Kita bersyukur bahwa kita adalah keturunan dari leluhur yang arif-bijaksana, cerdas dan memiliki daya juang luar biasa untuk dapat mewariskan kepada keturunannya dan juga kepada bangsa-bangsa di dunia, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tentu saja berbagai persoalan dan tantangan akan terus dihadapi. Di sinilah kita harus bisa dan kuat menunjukkan bahwa kita pun sebagai anak-bangsa yang arif-bijaksana, cerdas dan memiliki daya juang tinggi untuk mempercepat terwujudnya NKRI sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri republik kita ini. Inilah tantangan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bhinneka Tunggal Ika

Pemahaman saya, Bhinneka Tunggal Ika tidaklah sama dengan prularisme yang sekarang ini menjadi tema dunia. Prularisme adalah isme yang hanya menghargai perbedaan. Hebatnya para pendiri Republik kita adalah membangun faham perbedaan yang dijahit dalam ketunggalan, yaitu perbedaan-perbedaan dengan intinya satu: Indonesia.  Jadi, Indonesia adalah resultante, dan resultante bukanlah hasil kumpulan atau gugus mati dari suku-suku bangsa yang ada di nusantara. Bhinneka Tunggal Ika adalah faham kekeluargaan dengan latar belakang yang berbeda-beda tetapi mengambil formasi sinergi yang membentuk Indonesia. Ibaratnya Hidrogen dan Oksigen membentuk air (H2O), maka suku Sunda, Batak, Jawa, Padang, Papua, Dayak, Bugis, dan seterusnya adalah “hydrogen-hidrogen” atau “oksigen-oksigen ”-nya yang membentuk Indonesia.

Bahasa Indonesia

Negara maju saja seperti Kanada masih menggunakan dua bahasa resmi yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Perancis. India juga bekerja keras melembagakan Bahasa Urdu menjadi Bahasa India. Negara-negara lain di dunia, banyak yang menggunakan bahasa dari negara yang sebelumnya menjajahnya. Kita perlu bersyukur bahwa kita memiliki Bahasa Indonesia. Saya sering membayangkan seandainya suku Jawa dan Sunda (mayoritas) tidak mau menerima bahasa yang asalnya dari Melayu (minoritas), maka Bahasa Indonesia tidak akan terwujud. Apabila tidak ada Bahasa Indonesia, maka akan sangat sulit dibayangkan kita bisa menjadi Indonesia. Sekarang, Bahasa Indonesia ini sedang menghadapi tantangan berat sebagai dampak dari arus globalisasi. Karena itu perlu dicarikan solusinya, jangan sampai Maha Karya ini kehilangan ruhnya dalam menjiwai Indonesia.

Faham Kerakyatan

Berdasarkan Pancasila, yang menjadi Bab Pembukaan UUD 1945, bahwa Kerakyatan dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Perhatikan, faham ini mengedepankan nafas musyawarah untuk mencapai mufakat melalui perwakilan. Faham ini kelihatannya sudah ditinggalkan mengingat pengertian demokrasi/kerakyatan cara pengejewantahannya sudah menggunakan cara pemilihan langsung mulai dari pemilihan presiden hingga pemilihan bupati. Teknik berdemokrasi cara ini ternyata sangatlah mahal. Pada tahun 2010 Indonesia akan melaksanakan 244 pemilu kepala daerah: 7 pemilihan Gubernur, 202 pemilihan Bupati, dan 35 pemilihan Walikota. Biaya yang diperlukan, belum termasuk biaya yang dikeluarkan para calon adalah sekitar Rp 4 triliun. Adapun biaya politik kandidat bupati/walikota sekitar Rp 5 miliar dan untuk gubernur berkisar antara Rp 20 - Rp 100 miliar.  Apakah cara berdemokrasi ini telah menghasilkan pemimpin yang lebih baik sehingga telah menjadikan Indonesia menjadi lebih cepat mencapai cita-cita kemerdekaan, masih memerlukan waktu untuk membuktikannya.  Ke empat hal di atas merupakan Maha Karya Indonesia dan menjadi landasan utama berdirinya Indonesia hingga sekarang. Untuk keberlanjutan atau keabadian Indonesia mendatang, kita perlu selalu berpegang teguh pada nilai-nilai cita-cita kemerdekaan Indonesia. Dirgahayu Indonesia. Semoga abadi nan jaya.

 

Penulis adalah Peminat Studi Kebangkitan Nasional

 

Sumber : Suara Pembaruan