.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Respons Strategis atas Harga Pangan
06 September 2010

Respons Strategis atas Harga Pangan

Oleh Agus Pakpahan

 

Apa yang harus dilakukan menghadapi kelangkaan pangan dan kenaikan harga pangan akhir-akhir ini?

Apa pula yang harus dilakukan untuk menghadapi perubahan iklim global yang, selain membingungkan petani memilih pola usaha, akan menenggelamkan banyak pulau kita? Di masa nanti, kedua soal itu kian kompleks: selain karena jumlah penduduk yang besar (237,5 juta) dan terus meningkat (sekitar 3,5 juta jiwa per tahun), juga oleh ketimpangan persebaran penduduk antarpulau serta antara desa dan kota.

Berbeda dengan negara dalam sistem kontinen, struktur geografis Indonesia sebagai benua maritim perlu konsep, kebijaksanaan, dan strategi pengembangan pangan yang khas. Demikian pula setiap upaya mengatasi perubahan iklim global.

Revolusi hijau

Pada Repelita I ditegaskan, pembangunan pertanian bertujuan mencapai swasembada pangan (baca: beras). Caranya terencana dan terkomando melalui kebijakan bimas. Teknologi yang dipakai, paket revolusi hijau. Strateginya intensifikasi: meningkatkan hasil panen per hektar dengan pupuk kimia, benih unggul, pestisida, irigasi, dan ini disatupaketkan dengan penyuluhan dan pengawasan pelaksanaannya di lapangan. Petani padi jadi instrumen massal, produksi padi meningkat, dan swasembada beras dicapai pada 1984.

Penggunaan teknologi revolusi hijau ini sudah menunjukkan tanda-tanda berlakunya hukum keberkurangan hasil. Tingginya tingkat kemiskinan atau banyaknya warga berpendapatan rendah (50-60 persen atau lebih dari total pengeluaran untuk beli pangan) berimplikasi pada harga pangan, tidak boleh tidak, harus dapat mereka jangkau. Jika tidak, terjadi keresahan atau kelaparan. Di sinilah letak dilemanya! Kapasitas produksi terbatas, pertumbuhan produktivitas menurun, dan petani padi umumnya condong sebagai petani gurem. Di pihak lain, penduduk yang membutuhkan pangan meningkat dengan daya beli yang pada umumnya juga lemah.

Selain itu, teknologi revolusi hijau yang memasukkan bahan kimia ke mata rantai pangan dalam ekosistem, yang jumlah serta intensitasnya terus meningkat telah menyebabkan daya asimilasi lingkungan untuk memulihkan dirinya pada kondisi normal tidak dapat berlangsung. Kerusakan lingkungan terjadi. Perkembangannya makin mengkhawatirkan. Akibatnya, kita perlu memulainya kembali dari awal: restorasi kesuburan tanah dan konservasi tanah dan air di wilayah daerah aliran sungai hulu. Jadi, melanjutkan cara yang sama untuk menghasilkan kinerja yang berbeda nyata bukanlah cara cerdas dan arif.

Cara baru

Kelangkaan adalah fenomena normal selama kita berada di alam fana ini. Yang tidak normal adalah apabila sumber daya yang sebelumnya melimpah kemudian menjadi langka, tetapi tingkat kesejahteraan petani tidak berubah secara nyata. Ukuran kesejahteraan petani yang paling mudah ialah kapasitas produksi yang dimilikinya, sementara kapasitas produksi yang paling penting buat petani tak lain tak bukan adalah luas lahan yang dikelolanya.

Luas lahan mayoritas petani di AS mencapai 200 ha. Di Thailand 4-5 ha. Indonesia sebaliknya. Maka, dalam membangun kembali pertanian pangan dan perdesaan, kita perlu orientasi baru: beralih dari luas lahan per petani ke total volume/bobot hasil pertanian pangan yang dapat ditingkatkan nilai tambahnya lewat industrialisasi perdesaan atau pertanian.

Sebagai gambaran, kita fokus pada 66 juta ton gabah plus 66 juta ton jerami per tahun. Gabah dan jerami ini dapat diolah jadi beragam produk bernilai tinggi. BUMN bidang agro dan bidang terkait didorong berkonsentrasi pada bidang pangan dengan mengembangkan model dan organisasi kerja yang bisa memutus segala mata rantai transaksi yang merugikan petani. BUMN juga diharapkan melakukan investasi untuk menciptakan nilai tambah dari semua manfaat dari pertanian pangan.

BUMN ini juga memfasilitasi terbentuknya organisasi usaha petani dalam wadah badan usaha milik petani (BUMP). Dengan begitu, petani bisa bermitra secara jangka panjang dengan BUMN. Dengan mengembangkan unit usaha permanen BUMP seluas 10.000 ha per unit, di Jawa saja lebih kurang akan berdiri sekitar 400 BUMP. Nilai investasi per BUMP sekitar Rp 400 miliar per 10.000 ha adalah untuk membangun lahan sawah yang teknologinya lebih baik, pabrik pengolahan beras modern dengan kapasitas 400 ton per hari, pabrik pengolahan tepung menir, pembangkit listrik tenaga sekam dan jerami 3-5 MW, serta pabrik pupuk organik.

Dapat dibayangkan, ekonomi di Jawa akan bangkit dengan investasi sekitar Rp 160 triliun dan output sekitar 10 kali lipat. Kehidupan perdesaan akan sangat bersemarak dan bergairah.


Agus Pakpahan Pengamat Ekonomi Pangan

twitter : @aguspakpahan


sumber : Kompas, Kamis, 2 September 2010 | 03:35 WIB