.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Motivasi
25 Mei 2011

Individu atau orang per orang adalah konsep fisik-bisa dilihat, bisa di pegang.  Sedangkan konsep masyarakat atau sosial adalah konsep yang abstrak-tidak bisa dilihat, tidak bisa dipegang, tetapi terasa dan ada.  Individu ibarat tanah, sedangkan masyarakat ibarat udara.

 Konsep Negara juga sama, tidak bisa dipegang atau dilihat, walaupun ada batas-batasnya baik itu batas di darat, di laut atau di udara.  Seperti tubuh manusia, yang terlihat adalah satu wujud manusia, padahal ia tersusun oleh lebih dari satu triliun sel dan lebih dari seratus ribu jenis protein yang berbeda.  Bukan hanya itu, menurut Lipton (2008) dalam The Biology of Belief, dewasa ini sudah berkembang cabang ilmu baru yang dikenal dengan nama Epigenetics yang secara harfiah berarti “control above genetics”.

Menurut ilmu ini yang mengatur hidup kita itu bukan gen melainkan lingkungan-di luar gen, termasuk makanan, tekanan atau stress dan emosi, dapat mengubah gen tanpa mengubah pola dasarnya (blueprint). Ilmu epigenetik menemukan bahwa modifikasi tersebut dapat menurun pada generasi yang akan datang seperti halnya saja blueprint DNA.

Jadi persoalan membangun masa depan rakyat dan bangsa itu tidak sebatas membangun kesehatan dalam pengertian biologis saja. Bahkan, menurut kacamata epigenetik ini kita mengetahui bahwa persoalan fisik-biologis-dan lingkungan sosial-kemasyarakatan itu menyatu dalam satu tubuh, jiwa dan ruh yang dinamakan rakyat dan bangsa Indonesia. Dengan kaca mata ini, kita bisa bertanya, misalnya, apakah nilai-nilai Pancasila menurun atau tidak dari satu generasi ke generasi berikutnya atau mengapa persoalan SARA sampai sekarang masih terus ada atau bahkan meningkat?

Ilmu ekonomi didasari oleh sifat-sifat individu yang dipandang sebagai makhluk yang selalu menggunakan akal-pikirannya (rasional) untuk memenuhi kepentingan atau keinginannya.  Dengan dasar ini maka diasumsikan seorang konsumen memaksimumkan utilitasnya, seorang produsen memaksimumkan keuntungannya, seorang politisi memaksimumkan suara yang memilihnya, dan seorang birokrat memaksimumkan keamanan kursinya. Singkat kata, semua orang mementingkan kepentingannya masing-masing.

(Agus Pakpahan)

 

sumber : http://pikirkanrakyat.com/editorial/motivasi.php