.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Makna Meningkatnya Harga Pangan
03 Agustus 2011

pdf Link

Makna Meningkatnya Harga Pangan

Agus Pakpahan, INSTITUTIONAL ECONOMIST

Tidak ada pangan, tidak ada perdamaian. Begitulah kira-kira pandangan para pemimpin dunia, khususnya para

pemimpin yang pernah merasakan langsung dampak dari kelaparan, kekurangan pangan, atau apa saja istilahnya. Karena itu pula, segera setelah Perang Dunia II usai, para pemimpin dunia, khususnya pemimpin dunia di negara maju, menggalang kerja sama masyarakat dunia untuk mencari jalan keluar di bidang pangan ini, agar pengalaman yang sangat pahit akibat kekurangan makanan pada masa perang tidak terulang lagi. Apalagi kekurangan pangan pada saat damai harus dicegah, karena apabila tidak, kedamaian akan berubah menjadi kekacauan atau bahkan peperangan.

Lembaga-lembaga riset dunia di bidang pangan, seperti International Rice Research Institute, CIAT, CIMMYT, ICRISAT, IFPRI, dan lembaga-lembaga riset lainnya yang bernaung di bawah institusi Consultative Group on International Agricultural Research, berdiri untuk mencari terobosan teknologi, kebijakan, dan investasi. Lembaga yang lebih operasional lagi secara global, yaitu Food and Agriculture Organization, di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, juga didirikan pada 1945.

Hasil kerja keras dunia sangat jelas terlihat. Produksi pangan dunia berlimpah, sebagaimana terlihat dari tren harga pangan yang menurun pada paruh terakhir abad ke-20. Penduduk dunia menikmati era pangan murah ini. Jumlah penduduk dunia pada 1950 sekitar 2 miliar jiwa, dan meningkat menjadi sekitar 6 miliar jiwa pada 2000. Jadi bisa dibayangkan pertambahannya saja dua kali lebih besar daripada jumlah awalnya, yaitu 4 miliar jiwa.

Apa maknanya? Hanya dalam keadaan dunia yang damai, penduduk akan bertambah banyak secara signifikan. Memang, selama 50 tahun setelah Perang Dunia II usai, situasi dunia relatif aman dan damai. Bahkan perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur juga usai pada 1990, dengan keruntuhan Uni Soviet, yang juga didera kelangkaan pangan pada waktu itu. Episode zaman baru berikutnya adalah globalisasi dengan tren harga pangan yang rendah, yang terus berlanjut.Tentu saja harga pangan yang rendah memberi makna pendapatan petani berkurang, kecuali untuk petani di negara maju yang mendapat subsidi yang besar dari negaranya.

Kurang-lebih 10 tahun kemudian, tren harga pangan berbalik. Zaman harga pangan murah dapat dikatakan sudah berakhir mulai awal abad ke-21 ini. Apa jadinya kalau tren ini terus berlangsung?

Ini adalah pertanda buruk. Alam tak lagi memberi berkah. Tandanya: manusia kesulitan pada zaman supermodern! Lebih buruk lagi: tidak ada pangan adalah pertanda sumber segala bencana, yaitu peperangan.

Tanda-tanda ke arah situasi itu makin jelas terlihat. Secara nyata kejadian perubahan politik di Afrika Utara akhir-akhir ini dan guncangan ekonomi di Uni Eropa serta merosotnya ekonomi di Amerika Serikat dapat dilihat sebagai suatu pertanda bahwa dunia menghadapi masalah besar. Perubahan di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan India, yang positif dalam pertumbuhan ekonominya yang pesat, juga bisa menjadi sumber kekacauan di belahan bumi lainnya.

Perlu dipahami bahwa kenaikan harga pangan ini disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, melemahnya inovasi dalam bidang teknologi pertanian sebagai akibat berkurangnya dukungan sumber daya, khususnya dana investasi di bidang riset pertanian dan pangan oleh negara-negara maju serta lembaga-lembaga donor internasional, tidak sebagaimana yang diberikan pada periode sebelum 1980-an.

Kedua, meningkatnya penduduk dunia lebih dari 4 miliar jiwa (dua kali dari kondisi awal) yang berasosiasi dengan meningkatnya pendapatan, perubahan gaya hidup, serta penggunaan komoditas pangan sebagai sumber energi, misalnya etanol atau biodiesel.Kejadian pertama diperkirakan berkaitan dengan bertumbuhkembangnya paham neoliberal yang menempatkan pasar bebas (free market) sebagai satu-satunya institusi ekonomi yang legitimate (absah). Perusahaan-perusahaan besar dunia melihat fenomena kecenderungan harga pangan yang meningkat ini sebagai suatu ancaman bagi dunia, tapi bisa menjadi kesempatan bisnis yang besar bagi perusahaan. Dorongan inilah yang melahirkan apa yang dewasa ini sering dinamakan dengan istilah land grabbing.

Bagi negara-negara yang mengalami penjajahan, fenomena land grabbing bukanlah hal yang baru. Namun sekarang ia dikemas dalam nama zaman globalisasi, zaman yang mengesahkan globalisme lebih tinggi daripada nasionalisme, ketika ekonomi dan perdagangan bergerak tidak mengenal batas-batas wilayah suatu negara. Mindset inilah yang dibangun negara adidaya, dan kita cenderung mengikutinya,walaupun tidak memahami apa yang akan kita hadapi, kecuali setelah terjadi: oh... kita belum siap! Maka jadilah kita korban globalisasi.

Ditambah perubahan iklim dengan asosiasinya, seperti hama penyakit, musim yang tidak menentu, air laut yang meningkat, lingkungan daerah aliran sungai di bagian hulu yang rusak, dan pelbagai jenis kerusakan lingkungan lainnya, maka tren meningkatnya harga pangan di satu pihak serta dikuasainya lahan-lahan pertanian oleh pihak asing di pihak lainnya serta terjadinya guremisasi pada pertanian tradisional kita, suasana yang kacau atau bahkan peperangan akan terjadi dengan skala yang makin meluas. Apa yang akan dilakukan RRT apabila wabah kelaparan terjadi di sana? Apa yang akan dilakukan Amerika Serikat atau negara-negara Eropa apabila wabah kelaparan akan terjadi di sana?

Kita melihat tidak ada satu pun negara yang akan dapat menyelesaikan persoalan pangan di negaranya secara sendiri-sendiri. Semangat dunia pasca-Perang Dunia II harus ditumbuhkembangkan kembali untuk mengatasi pangan global ini. Perbedaannya hanya satu, yaitu semangat dunia dalam penyelesaian pangan abad ke-21 ini harus menyejahterakan petaninya juga. ?