.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Anti-Ilmu Pengetahuan
14 November 2011

 

 

Anti-Ilmu Pengetahuan

 

Agus Pakpahan, INSTITUTIONAL ECONOMIST

 

Kemunduran suatu bangsa dimulai dengan membudayanya sikap atau nilai anti-ilmu pengetahuan. Apakah kita memiliki sikap atau nilai anti-ilmu pengetahuan itu? Apa ukurannya? Sebagai ilustrasi saja, kita dapat membuat imajinasi kondisi masyarakat yang menghakimi Copernicus atau Galileo, karena sikapnya yang berbeda dengan otoritas kekuasaan pada waktu itu. Ibnu Rusdi atau Averroes juga menunjukkan bagaimana kemajuan ilmu kedokteran akan terhambat oleh tidak dibolehkannya melakukan bedah mayat.“Jangan banyak tanya!”Hardikan orang tua kepada anaknya semacam ini juga berperan dalam membentuk sikap tidak kritis anak-anak tersebut di kemudian hari.

Alam raya menyimpan semua rahasia ilmu Tuhan.Kemudian kaum ilmuwan membuka satu per satu, tahap per tahap rahasia-rahasia tersebut, yang kemudian menyimpannya dalam bentuk buku-buku atau artefak sejarah,misalnya Candi Borobudur. Wujud penyimpanan ilmu pengetahuan yang berkembang pada akhir abad ke-20 adalah perangkat lunak (software) komputer dan organisme hasil rekayasa genetik.Dalam konteks ini, sejarah mencatat bahwa penghancuran Perpustakaan Alexandria di Mesir, peninggalan hebat dari Alexander the Great, telah sempat menghancurkan peradaban yang mencapai hampir satu milenium untuk kembali pulih.

 

untuk lebih lengkap, klik link berikut : click

 

Sumber : Koran Tempo edisi Cetak, 14 November 2011, halaman A11