.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Interview
Pendidikan Pertanian dan Pembangunan Pertanian
06 Februari 2010

WAWANCARA IMAGINER DENGAN

PROF. DR. ANDI HAKIM NASUTION:

Pendidikan Pertanian dan Pembangunan Pertanian 

Oleh: Agus Pakpahan 

      Terus terang saja, saya masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) ada hubungannya dengan sosok Prof. Dr. Andi Hakim Nasution (AHN). Sewaktu saya masih menjadi murid di SMA Negeri Sumedang (1972-1973), karena pada tahun 1971 saya menjadi murid di SMA PSKD II, Jakarta, saya pernah bertemu dengan AHN di Sumedang, pada saat beliau berkunjung ke Sumedang dalam rangka kerjasama IPB dengan 5 kabupaten di Jawa Barat. Pertemuan tersebut mengakar dan berpengaruh terhadap cita-cita saya untuk menjadi murid di IPB, yang Alhamdulillah cita-cita tersebut terlaksana.

      Pada kesempatan ini, saya ingin menuliskan apa yang saya pikirkan dengan menyambungkan imaginasi saya dengan pandangan AHN yang sebetulnya saya kenal secara terbatas. Namun demikian, saya melihat inti sari pemikiran AHN dalam hal pendidikan pertanian merupakan hal yang esensial untuk kita pahami dan kita melakukan reinterpretasi-reinterpretasi tentang apa yang telah digagas dan diciptakannya. Tentu saja AHN tidak berdiri sendiri melainkan dalam satu kesatuan pro-kontra dari komunitas IPB secara internal dan komunitas Indonesia secara keseluruhan.

      Baiklah saya akan memulainya. 

Agus Pakpahan (AP):  

Pak Andi, saya Agus Pakpahan, murid Bapak yang berasal dari Sumedang. (sebelum saya melanjutkan kalimat yang akan keluar dari mulut saya, beliau sudah memotongnya). 

AHN: Saya sudah tahu. 

Beliau berkata secara singkat. Saya sendiri kaget mengingat saya jarang bertemu dengan beliau. Tetapi memang beliau ini memiliki memory yang sangat kuat dalam mengingat muridnya. Mungkin karena saya agak badung. 

AP: Baik Pak, saya memohon kesediaan Pak Andi untuk dapat berbincang-bincang dengan saya tentang pendidikan pertanian di Indonesia, yang sementara ini banyak yang melihatnya kurang pas. Bahkan banyak kalangan yang memplesetkan IPB menjadi Institut Flexible Banget atau semua hal bisa dikerjakan IPB kecuali bidang pertanian. Apa tanggapan Bapak terhadap pandangan tersebut. 

AHN: Hmmm. Banyak orang bicara pertanian padahal mereka yang bicara itu banyak tak paham tentang pertanian. Banyak orang juga yang bicara pendidikan padahal yang bicara itu tak mengerti banyak tentang pendidikan. Itulah susahnya di Indonesia kalau kita berbicara tentang konsep dan praktek pertanian maka langsung saja mereka merasa yang paling bisa padahal pandangannya itu belum diujinya dengan baik.

AP: Maksud Bapak? 

AHN: Begini. Pertama, sebagian besar orang melihat pertanian ini hanyalah persoalan mencangkul saja. Karenanya, melihat teknologi pertanian itu hanyalah teknologi yang sederhana saja. Akibatnya, penghargaan terhadap pendidikan pertanian menjadi rendah. Padahal tidak ada bidang kerja manusia yang lebih kompleks dari pertanian. Mulai dari keharusan kita mengetahui secara mendalam tentang matahari, iklim, tanah, mikroorganisme, tanaman, ternak, cara-cara budidaya yang baik dan benar, gudang-gudang, trasportasi, pasar, politik dan lain sebagainya. Bidang pertanian memerlukan hampir seluruh cabang ilmu pengetahuan mulai dari matematika, statistika, fisika, kimia, biologi, filsafat, ekonomi, serta berbagai bidang ilmu teknik seperti rancang bangun wilayah, irigasi, industri pengolahan, system transportasi dan lain sebagainya. Hanyalah orang-orang yang memiliki kapasitas yang tinggi yang mampu menguasai ilmu, seni dan teknologi pertanian itu. Hal yang sifatnya mendasar ini belum banyak disadari oleh kita semua. 

AP: Kalau begitu, apanya yang salah menurut Pak Andi? 

AHN: Sebetulnya tidak sulit untuk menemukan siapa yang salah, tetapi kalau kita menyampaikan itu sebagai focus analisis, kelihatanan itu kurang berguna. Orang Indonesia tidak suka kalau ia dikritik apalagi kalau ia dikatakan bersalah. Karena itu, saya lebih condong untuk mengatakannya marilah kita belajar dari pengalaman atau sejarah kita dalam mengembangkan system pendidikan pertanian dan dalam mengamalkannya untuk membangun kehidupan rakyat Indonesia yang lebih baik.  

AP: Baik Pak, saya akan mencatatnya. 

AHN: Ok. Saya mulai dari persyaratan sikap mental para pendidik yang kita perlukan dalam membangun dunia pendidikan. Para pendidik ini dapat dikatakan sebagai obor yang menerangi alam pikiran para mahasiswa dan masyarakat luas sekaligus. Sebagai obor maka ia harus tetap kuat menyala agar cahanyanya tidak pernah redup apalagi padam. Artinya, para pendidik ini harus terus belajar mengejar perkembangan-perkembangan yang terus terjadi di sekitarnya, baik di dalam maupun di luar kampus. Apalagi di zaman sekarang ini. Dengan kecepatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa, tanpa meningkatkan kecepatan kemampuan kita untuk menguasai perkembangan tersebut kita dalam hitungan bulan atau hari, akan makin tertinggal. Akibatnya, obor itu akan cepat padam. Dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi apabila maksud kita memberikan penerangan atau pencerahan kepada mahasiswa kita padahal yang kita bawa adalah obor yang sudah padam. Saya melihat hal ini sebagai suatu bahaya besar apabila sikap mental para pendidik itu lemah dalam karakternya untuk menjadi pelopor dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. 

AP: Apakah Bapak melikiki ukurannya? 

AHN: Ukurannya sangat sederhana. Kita pakai satu saja: Berapa buku yang berkualitas Textbook yang terus diperbaiki dan disempurnakan, yang telah kita hasilkan selama ini di IPB. Textbook dapat dijadikan sebagai patokan apakah kita sudah memberikan kemudahan bagi mahasiswa kita untuk mendapatkan ilmu dengan mudah, dan demikian pula Textbook menjadi bendera bagi IPB mengingat IPB adalah lembaga pendidikan, bukan lembaga lainnya. 

AP: Apa kaitan Textbook ini dengan Tridharma Perguruan Tinggi seperti Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat? 

AHN: Anda benar bahwa lembaga pendidikan tinggi ini memiliki multifungsi. Tetapi, perlu diingat mana yang pokok dan mana yang cabang. Textbook adalah hal yang pokok yang akan melahirkan cabang-cabangnya. Seperti dalam agama ada yang dinamakan Kitab, maka dalam bidang pendidikan ini kita perlukan banyak kitab. Ada kitab biologi yang mumpuni yang bisa menerangkan dengan baik fenomena biologi pertanian di Indonesia dengan segala keunikannya. Ada fenomena iklim yang menjadi kekhasan Indonesia yang perlu ada kitabnya. Dan seterusnya..Demikian pun dengan kitab tentang teknologi, yaitu cara atau modalitas. Kitab-kitab itu terus dikembangkan dan disempurnakan dari waktu ke waktu oleh generasi-generasi berikutnya.  

AP: IPB ini telah berusia 44 tahun lebih sedikit. Menurut pandangan Bapak apa yang kurang dari IPB sehingga belum bisa memenuhi harapan Bapak? 

AHN: Saya katakan bahwa hal yang disampaikan tadi adalah hal yang pertama, yaitu bagaimana IPB bisa melahirkan para pendidik yang bisa dan kuat terus menerus memperbaiki dirinya dengan lebih menguasai perkembangan di bidangnya masing-masing, sehingga tetap bisa dan kuat menjadi obor penerang dalam dunia pendidikan. Selanjutnya, persyaratan yang kedua adalah kemampuan pengamalannya.  

(Pak AHN berhenti sejenak, menarik nafas agak panjang dan kelihatan dahinya agak berkerut. Kemudian beliau melanjutkan): 

Begini, sewaktu saya menjabat Pembantu Rektor Bidang Akademis kita melahirkan program percepatan sarjana pertanian IPB dari program yang sebelumnya memerlukan waktu 6 tahun menjadi 4 tahun. Ini adalah suatu bentuk pengamalan yang mencoba menghemat waktu pendidikan kurang-lebih dua tahun. Potensi terjadinya mahasiswa abadi juga kita hilangkan. Ini adalah salah satu contoh pengamalan dari pendalaman pengetahuan kita dengan referensi system pendidikan yang berlaku di negara-negara maju. Hasilnya ternyata terbukti bahwa mutu pendidikan di IPB tidaklah kalah walaupun waktunya diperpendek 1/3-nya dari keadaan sebelumnya. Program kita ini akhirnya diadopsi menjadi model nasional. 

AP: Inovasi apa yang kita perlukan sekarang? 

(Saya menyela). 

AHN : Begini. Kita mari simak sekarang situasi pendidikan kita dibandingkan dengan apa yang berkembang di Malaysia, misalnya.  Pada era saya, jauh lebih banyak mahasiswa Malaysia yang belajar di IPB. Sekarang, posisi yang terjadi adalah sebaliknya. Mengapa ini terjadi? Jawaban yang objective yang bisa kita sampaikan adalah bahwa mereka sendiri sudah bisa atau bahkan merasa lebih maju dari kita sehingga mereka tidak memerlukan lagi mengirimkan calon-calon sarjananya ke IPB. Tentu mereka sendiri menyadari bahwa dosen-dosen yang mengajar di sana banyak yang lulusan dari IPB. Tetapi, mereka juga pasti mempelajari untung-ruginya apakah mereka melanjutkan program pengiriman mahasiswanya ke IPB atau tidak. Data jauh berkurangnya mahasiswa dari luar negeri ke IPB tentunya menunjukkan bahwa secara global kita kalah dalam persaingan dalam dunia pendidikan ini. Sekarang, yang perlu menjadi pertanyaan penting kita adalah bahwa kita tidak perlu ribut-ribut defensif mencari argumen apakah benar telah terjadi penurunan mutu di pihak kita atau tidak, tetapi jawab saja pertanyaan: mengapa dan apa sebabnya mereka tidak datang lagi kepada kita? 

AP: Mengapa kita perlu menggunakan partisipasi mahasiswa asing sebagai tolok ukur mutu pendidikan pertanian kita? 

AHN: Begini, saya hanya ingin menekankan bahwa zaman yang sekarang berlangsung adalah zamannya persaingan global. Hal inilah sebetulnya yang saya dan generasi saya telah letakkan fondasinya, sehingga dengan melihat fondasi itu banyak fihak datang belajar ke IPB. Kalau kita menggunakan ukuran ini sebagai salah satu tolok ukur utama, maka paling tidak kita menerapkan ukuran yang akan membawa kita bukan sebagai jago kandang karena kita tidak menempatkan diri kita sebagai katak di bawah tempurung. Karena kita terbiasa hanya melihat di sekitar kita saja, maka rasanya kita sudah menjadi jagoan. Padahal, kalau kita sedikit saja melebarkan pandangan kita, kita merasa mereka sudah tidak lagi memberikan rasa segan kepada kita ini.  

AP: Kalau begitu apakah IPB perlu memproklamirkan diri sebagai sekolah pertanian internasional dan memberikan bahan pembelajarannya dengan menggunakan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya? 

AHN: Saya pikir begitu. Ini adalah salah satu cara untuk bisa menguasai perkembangan ilmu yang akan makin cepat berkembang  pada waktu yang akan datang. Ini adalah konsekuensi perubahan zaman. Tidak berarti bahasa Indonesia ditinggalkan, yang ingin saya sampaikan adalah perlunya penguasaan bahasa asing untuk meningkatkan akses mahasiswa terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan untuk menarik minat mahasiswa dari luar negeri datang ke negri kita.  

AP: Tetapi bagaimana persoalannya dengan mahasiswa yang berasal dari daerah-daerah yang tentunya belum banyak mendapatkan pelajaran bahasa Inggris? 

AHN: Itu tidak menjadi soal besar. Ingat, dalam program penelusuran mahasiswa berdasarkan minat, untuk mahasiswa dari daerah kita secara khusus memberikan kelas matrikulasi untuk pelajaran Matematika, mengingat pada saat itu tidak di semua tempat siswa SMA mendapatkan pelajaran matematika modern. Hal yang sama bisa diberikan juga untuk pelajaran-pelajaran lainnya seperti Bahasa Inggris. 

AP: Hal apa lagi yang pak Andi lihat penting untuk menjadi bahan pembelajaran mahasiswa IPB pada waktu yang akan datang? 

AHN: Begini, segala hal itu perlu dilihat dari masalahnya terlebih dahulu. Masalah apa yang dihadapi Indonesia untuk waktu 25 tahun mendatang? Ingat, lulusan IPB tahun 2010, misalnya, akan matang di tempat kerjanya setelah 10 sampai 15 tahun yang bersangkutan bekerja. Jadi, substansi mata ajaran yang diberikan pada tahun sekarang ini adalah cara-cara menyelesaikan permasalahan yang kiranya akan muncul pada tahun 2020. Yang sekarang kita sering ajarkan banyak yang keliru, yaitu mengajarkan sesuatu untuk menyelesaikan persoalan sekarang. Kalau yang seperti ini mestinya bukan diajarkan di IPB  tetapi diajarkan di tempat-tempat pelatihan saja.  

AP: Mohon maaf, Pak Andi, dapatkah Bapak menguraikan lebih lanjut tentang yang Bapak maksud? 

AHN: Perlu dibedakan antara falsafah penyelenggaraan pendidikan di pendidikan tinggi sekelas IPB dengan pendidikan yang sebenarnya merupakan pelatihan saja. Persyaratan utama dari pendidikan tinggi adalah bahwa ia harus bersifat futuristic, yaitu mendalami sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi. Karenanya, kurikulum pendidikan tinggi haruslah mampu menangkap persoalan-persoalan masa depan yang secara teori atau menurut kacamata ilmu pengetahuan harus bisa dijawab pada hari ini. Persiapan sekitar 10 tahun itu adalah mematangkan cara-cara atau teknik-teknik untuk menyelesaikan persoalan secara riil. Kalau tidak begini cara pandangnya, maka kita akan selalu ketinggalan dan akan selalu menjadi bagian dari permasalahan, bukan menjadi bagian dari pihak yang meyelesaikan masalah. Di RRC, misalnya, kita bisa menyaksikan bagaimana Jilin University sudah mempersiapkan diri untuk menjawab permasalahan yang diperkirakan muncul pada tahun 2020-an. Hal tersebut dilaksanakan dengan dukungan pembiayaan dari Agricultral Bank of China (ABC) yang jumlahnya relatif besar, yaitu sekitar US$ 242 juta. Hal tersebut mestinya bisa kita hidupkan di Indonesia. Hal seperti inilah yang perlu kita hidupkan di sini. Sedangkan pelatihan-pelatihan yang perlu dikembangkan adalah kegiatan yang sifatnya untuk menyelesaikan kekurangan-kekurangan kita dalam mempraktekan suatu teknologi baru, misalnya, pelatihan montir mobil yang sebelumnya mereka memperbaiki mesin mobil yang rusak bisa dengan feeling yang mereka dapat dari kekayaan pengalamannya, setelah era mobil baru datang dan semuanya sudah terkomputerisasi, maka mereka harus dilatih untuk bisa menggunakan teknologi baru tersebut. Di bidang pendidikan tinggi, sifatnya tidaklah demikian.

AP: Apakah kita bisa meloncat begitu pada saat pertanian kita sekarang ini ada dalam posisi yang makin gurem saja? 

AHN: Benar, kita menghadapi persoalan yang sangat rumit, khususnya di bidang pertanian rakyat, yang didominasi oleh para petani yang luas lahannya semakin mengecil. Ini adalah masalah besar yang harus bisa dijawab oleh IPB khususnya dan perguruan tinggi pertanian pada umumnya. Dari dulu bidang keahlian sosiologi pedesaan dan ekonomi pertanian sudah banyak melakukan pengkajian-pengkajian. Saya melihat ada hal fundamental yang belum banyak dikerjakan IPB padahal IPB memiliki pengalaman. Tetapi, kekayaan pengalaman ini tidak mengalami kelanjutannya. Saya berikan ilustrasi mengenai BIMAS yang dilahirkan oleh IPB. Sebagai ahli Statistika saya melihat bahwa mandegnya inovasi selanjutnya yang dapat melahirkan breakthrough adalah disebabkan oleh melemahnya kemampuan experiment yang bisa melahirkan rancang bangun atau desain yang baru yang bisa menyelamatkan kita semua dari perangkap pemikiran masa lalu yang sudah usang. Perlu kita akui dalam bidang experiment ini kita kurang memberikan banyak perhatian relatif terhadap kebutuhan untuk melakukan hal tersebut. Saya pikir, letak perbedaan antara keahlian sosial-ekonomi di IPB dengan di Fakultas Ekonomi mestinya berada dalam substansi yang melekat pada gelar insinyur. Profesi insinyur adalah profesi untuk menyelesaikan masalah melalui penemuan-penemuan alat atau metode atau modalitas untuk menyelesaikan masalah, bukan mendeskripsikan suatu fenomena. Untuk meningkatkan kemampuan ini diperlukan experiment. Dalam kategori ini termasuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang bersifat sosiologis atau ekonomi. 

AP: Apa pandangan Pak Andi terhadap visi atau cara pandang bahwa kita harus melakukan pendekatan agribisnis dalam pembangunan pertanian? 

AHN: Pandangan tersebut boleh-boleh saja. Tetapi perlu kita waspadai bahwa dalam pandangan holistik itu kita perlu juga menempatkan diri bahwa keluaran IPB mestinya memiliki spesialisasi, khususnya untuk keluaran program S2 dan S3. Spesialisasi ini sangat penting mengingat suatu evolusi hanya akan berkembang apabila terjadi proses diferensiasi, seleksi dan akselerasi. Proses diferensiasi berawal dari proses spesialisasi, yang kemudian alam akan melakukan seleksi, dan hasil seleksinya itu akan menjadi energi untuk lahirnya akselerasi. Kalau proses semacam ini terus berlanjut, maka evolusi akan terjadi. Evolusi ini diartikan sebagai proses makin berkembangnya suatu sistem dari yang sederhana ke sistem yang makin kompleks. Namun demikian, apabila proses spesialisasi ini ketinggalan zaman, maka ia akan menciptakan perangkap sosial yang membelenggu kemajuan, mengingat sistem yang terdiferensiasi tidak akan berkembang apabila tingkatan spesialisasinya itu ketinggalan zaman. Dengan perkataan lain kita akan menyeleksi sesuatu yang sudah ketinggalan zaman dan akhirnya yang terjadi bukanlah evolusi tetapi devolusi atau involusi sistem pendidikan atau pertanian sebagaimana yang telah dikemukanan oleh Geertz pada tahun 1970-an. 

AP: Apa solusinya? 

AHN: Solusinya kembali ke membangun sistem pendidikan yang diarahkan untuk menjawab permasalahan yang akan datang dengan jarak waktu sekitar 10 sampai 15 tahun mendatang. 

AP: Maaf, pak Andi, apakah mungkin kita mengetahui persoalan yang akan datang dengan tenggang waktu 10-15 tahun itu? 

AHN: Jawabannya bukan mungkin atau tidak mungkin tetapi memang sudah seharusnya begitu apabila lembaga pendidikan tinggi ingin mendatap tempat dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk IPB dan perguruan tinggi lainnya agar meningkatkan kemampuannya dalam melakukan prediksi atau peramalan-peramalan yang baik. Perkembangan teknologi komputer, teknologi informasi, statistika, ekonometrika, teknik simulasi dan berbagai perkembangan yang cepat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan tersebut. 

AP: Kembali ke persoalan pertanian rakyat, khususnya tanaman pangan, atau lebih khusus lagi padi sawah, apa pandangan Pak Andi untuk menyelesaikan masalah ini? 

AHN: Saya tidak akhli dalam segala bidang. Menurut hemat saya, Anda sebagai generasi yang sekarang ini sudah berusia lebih dari 50 tahun tentunya harus bisa menemukan jawaban itu sendiri. Sekarang saya ingin bertanya atau bahkan menguji Anda, apa pendapat Anda sendiri? 

(Terus terang saya kaget dengan pertanyaan dari pak Andi ini. Saya juga merasakan bahwa ilmu yang saya miliki rasanya belum cukup tangguh untuk dipakai menyelesaikan masalah tersebut. Tetapi saya segera menjawabnya, sebelum muncul pertanyaan lainnya dari beliau.) 

AP: Maaf Pak Andi, sebetulnya tadi saya sudah akan mengakhiri wawancara imajiner ini. Tetapi Bapak langsung memberikan pertanyaan kepada saya. Baiklah Pak, menurut hemat saya begini.

Pertama harus kita dudukan kembali persoalan, yaitu melihat dunia pendidikan tinggi sebagai input pokok dalam menyelesaikan berbagai persoalan besar. Saya melihat bahwa lembaga pendidikan tinggi merupakan faktor yang menentukan apakah kita bisa menjawab atau tidak persoalan tersebut yang kiranya sekarang ini sudah menjadi persoalan sejarah pembangunan pertanian di Indonesia. Khusus di bidang pembangunan pertanian saya melihat bahwa perguruan tinggi sebagai dapurnya ilmu pengetahuan belum menghasilkan resep yang jitu untuk menyelesaikan persoalan. Landasan argumen dari pernyataan saya tersebut adalah bahwa kerangka dasar teori yang kita pakai belum bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang khas ada di Indonesia.  Saya berikan ilustrasi berikut. Dalam hal padi, kita hanya melihat bahwa padi sebatas sebagai penghasil beras. Padahal di dalam padi itu tersimpan potensi energi, pangan dengan nilai tinggi seperti bekatul yang harganya apabila diolah menjadi stabilized rice bran bisa mencapai US$ 32/kg., kemudian abu sekamnya yang mengandung sekitar 90 % silica atau bahkan lebih, dan berbagai kandungan lainnya yang bisa menghasilkan nilai tambah lebih dari 5 kalinya dari yang sekarang ini dicapai. Dengan investasi sekitar Rp 400 milyar/10.000 ha, kita bisa mendapatkan nilai penjualan lebih dari Rp 1,02 triliun. Dari sekam saja tersedia potensi listrik hampir 9000 GWh, kita belum memanfaatkannya sebagai sumber listrik perdesaan. Dari kasus ini saja, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa perhatian kita masih kurang dalam bidang pengetahuan yang akan mencerahkan para pengambil kebijaksanaan dan para investor.  

AHN: Ok..Ok..Anda telah menemukan kata-kata yang tepat, yaitu kita belum memberikan perhatian yang besar dan secara sungguh-sungguh untuk memanfaatkan potensi tersebut. Perhatian ini sangat penting. Hanya dengan perhatian itu minat akan tumbuh. Selanjutnya bagaimana? 

(Pak AHN menyela.) 

AP: Saya pikir, IPB perlu mengembangkan sistem pendidikan yang saya beri nama IKEM yaitu kependekan dari Informasi, Komunikasi, Edukasi dan Modalitas. Yang saya maksud adalah bahwa sistem pendidikan yang perlu kita kembangkan ke depan adalah sistem yang terbuka, yang bisa meningkatkan proses pengayaan informasi melalui sistem komukinasi yang terbuka dengan semua pihak yang berkepentingan. Ini adalah dasar edukasi bersama untuk secara bersama-sama melihat persoalan sekarang dan persoalan yang akan datang 10 atau 15 tahun mendatang. Dengan demikian kita akan menghasilkan modalitas yang sudah menyatu dengan kapabilitas masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan tinggi selain menjadi obor juga menjadi fasilitator atau pelopor dalam proses perubahan tersebut. Mungkin itu sebagai ide dasarnya. 

AHN: Baiklah. Saya pikir Anda dan generasi Anda perlu lebih giat lagi dalam mencari jalan keluar dari permasalahan pertanian kita dan juga dalam memperbaiki sistem pendidikan pertanian kita ini. Mungkin sudah cukup waktu kita berbincang-bincang ini. 

AP: Baik Pak. Terima kasih banyak atas kesediaan Bapak. Mohon maaf apabila ada kekeliruan saya, termasuk memilih judul tulisan ini.

Saya lihat beliau tersenyum. Saya sendiri tidak mengetahui arti senyum beliau. Tapi saya merasa senang, paling tidak saya telah berhasil melatih imaginasi saya, yang kata Einstein ”imagination is more important than knowledge”. Mudah-mudahan, pembaca budiman dan kami sendiri mendapatkan hikmah dari apa yang telah kami tuliskan. 

Kami akhiri wawancara imajiner ini. Kami mohon maaf kepada Bapak Prof. Dr. Andi Hakim Nasoetion (alm), tokoh pendidikan yang kami kagumi, apabila ada hal-hal yang kurang berkenan dalam penulisan ini. Kita semua mendoakan semoga Allah SWT memberikan tempat terhormat di sisi-Nya dan kepada keluarga beliau semoga selalu mendapatkan rakhmat, hidayah dan innayah-Nya. Amin. 

 

Salam kami. 

Pewawancara Imajiner

Agus Pakpahan