.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : guest article
SEKALI LAGI: ETANOL DARI TEBU
01 Februari 2012

SEKALI LAGI: ETANOL DARI TEBU

Aris Toharisman

Indonesian Sugar Research Institute

atoharis@yahoo.com

 

Penggunaan Etanol

Gaung penggunaan etanol sebagai BBM terus bergema. Pada 26 Pebruari lalu, saat kunjungan ke Lampung, Presiden SBY kembali menekankan pentingnya pengembangan energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan batubara. Beliau merespon positif permintaan Sugar Group Company (SGC) yang membutuhkan area 600 ribu ha untuk mendukung peningkatan produksi gula dan etanol.

 

Pada saat ini luas area tebu di seluruh Indonesia hampir 400 ribu ha, dengan produksi 2,3 juta ton. Tambahan area 600 ribu ha seperti yang diajukan SGC akan meningkatkan produksi gula menjadi 5,8 juta ton. Gula sebanyak itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik hingga 5 tahun ke depan.

 

Dari tambahan area seluas 600 ribu ha juga diperoleh tetes (molasse) sebagai hasil samping tebu sedikitnya 1,7 juta ton, atau cukup untuk menghasilkan 500 juta liter etanol per tahun. Bila etanol yang dihasilkan ini kemudian dicampur dengan premium menghasilkan gasohol E-10 (etanol 10%), maka itu hanya cukup untuk 5 milyar liter saja. Sementara konsumsi premium saat ini sudah mencapai 17,5 milyar liter. Ke depan konsumsi premium akan terus menggelembung. Pada 2010 diperkirakan kebutuhan premium akan lebih dari 38 milyar liter.

 

Upaya penggunaan etanol sebagai alternatif BBM perlu didukung. Paling tidak, hal itu dilatarbelakangi oleh 2 hal. Pertama, adanya alasan ekonomi yang kuat berkaitan dengan berkurangnya cadangan minyak, fluktuasi harga dan ketidak stabilan politik di kawasan Timur Tengah sehingga mengganggu suplai BBM di beberapa negara importir termasuk Indonesia. Cadangan minyak di perut bumi Nusantara terus menyusut dan diperkirakan hanya cukup untuk 24 tahun ke depan (Kompas, 27 Perbuari 2007). Impor BBM kita setiap tahun terus bertambah. Dalam kurun dua dekade ke depan, kebutuhan BBM akan tergantung sepenuhnya dari impor. Akibat suhu politik yang memanas di Timur Tengah pada 2005 lalu harga minyak melonjak hingga USD 70 per barrel. BBM sempat menghilang di pasar dan konsumen harus antri panjang guna mengisi tangki bahan bakar

kendaraan dan kompor mereka. Situasi ini akan sangat tidak kondusif terutama bagi masyarakat dan kalangan industri.

 

untuk artikel lebih lengkap dapat meng-klik tautan berikut : (link)