.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Silihwangi, Kujang dan Indonesia Mendatang
04 Februari 2020

Agus Pakpahan - Institutional Economist

28 Jan 2020, 16:42 WIBEditor : Ahmad Soim

Sumber: Tabloid Sinartani

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis, sebagai wujud kesadaran akan kewajiban sebagai warga negara, untuk turut berperanserta, sebatas kemampuan yang ada, dalam menyumbangkan pemikiran bagi Indonesia.

Sebagai negara kebangsaan dengan pola atau struktur wilayah kepulauan dengan segala aneka ragam budaya dan lingkungannya (keragaman horizontal), serta keragaman dalam tahap pencapaian perkembangan tingkatan posisi sosial ekonomi region secara vertikal (keragaman vertikal), menggambarkan keadaan struktur sosial-ekonomi-politik yang sangat kompleks.

Otonomi daerah yang menjadi pola penyelenggaraan negara sejak reformasi di satu pihak dan globalisasi yang terus meningkat intensitasnya, membuat kesadaraan akan suatu kenyataan sebagai negara bangsa menjadi penting untuk mendapatkan perhatian dan pemikiran bersama. Berbagai kasus ketegangan atau bahkan konflik yang cukup intensif dan telah berlangsung cukup lama seperti di NAD dan Maluku, ditambah dengan kasus-kasus di Kalimantan atau di Poso (Sulawesi) dan plus ketegangan dengan Malaysia (Ambalat), perlu dipandang sebagai input yang berdampak besar terhadap negara kebangsaan Indonesia. Oleh karena itu pula, kita semua menjadi berkewajiban untuk turut serta memikirkan dan membangun kesadaran bersama dalam mencari jalan keluar dari persoalan-persoalan yang kita hadapi itu.

Keaneka-ragaman mengandung hikmah bahwa kita memiliki masing-masing keunikan. Masing-masing keunikan itu dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran untuk mendapatkan manfaat dari satu jenis keunikan yang ada dalam satu kultur, untuk dapat digunakan bagi manfaat keseluruhan (bangsa Indonesia). Sifat pemanfaatan tersebut bukanlah sifat mendominasi atau bahkan intervensi dari satu kultur ke kultur lain, tetapi lebih bersifat mencari wujud persenyawaan kultur yang membangun kultur keindonesiaan yang kokoh.

Sebagai ilustrasi adalah penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional kita, Bahasa Indonesia. Bahasa Melayu bukanlah bahasa yang dominan menurut jumlah penggunanya pada waktu pilihan bahasa apa yang akan digunakan sebagai Bahasa Indonesia ditetapkan. Kesadaran akan kebangsaan Indonesia mengalahkan unsur mayoritas sehingga terciptalah Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional kita.

Istilah silih asah, asih dan asuh sudah sering kita mendengarnya. Moralitas yang terkandung di dalamnya menandakan bahwa kita saling bersaudara sehingga kita haruslah saling asah, saling asih dan saling asuh. Adapun istilah Silihwangi, terilhami oleh Siliwangi di Tanah Pasundan, dimaksudkan sebagai kondisi yang menggambarkan bahwa kita ini haruslah saling mengharumkan. Keharuman Indonesia, baik di antara kita maupun di mancanegara, akan sangat tergantung apakah kita semua bisa saling mengharumkan atau tidak.

Penulis berpandangan bahwa kita akan menjadi negara dan bangsa yang harum di dunia apabila kita semua bisa dan kuat membangun budaya saling mengharumkan. Oleh karena itulah kultur saling mengharumkan perlu diciptakan, sebagaimana para pendiri Bangsa dan Negara Indonesia telah berhasil menciptakan Bahasa Indonesia sebagaimana kita nikmati sekarang ini.

Di Tanah Pasundan dikenal pusaka yang dinamakan kujang. Kata kujang ini mengilhami penulis untuk membuat istilah singkatan yang dapat membangun prakondisi bagi Indonesia yang kekal-abadi. Yang dimaksud adalah: Kesatuan Umat Jangka Panjang (Kujang). Masyarakat bangsa Indonesia yang beranekaragam latar belakangnya, sukunya, agamanya, dan berbagai karakter budaya lainnya merupakan kelompok-kelompok “alamiah” yang satu dengan yang lainnya “seolah-olah terpisah-pisah”.

Bahasa Indonesia telah berberan sangat strategis dalam membangun masyarakat Bangsa Indonesia mengingat tidak mungkin suatu masyarakat terbentuk tanpa adanya komunikasi yang mampu membangun perasaan bersama sebagai satu kesatuan secara keseluruhan (sense of community). Memang kita melihat penggunaan Bahasa Inggris atau bahasa lainnya sebagai bahasa nasional di beberapa negara, tetapi kasusnya sangat berbeda dengan Indonesia. Perbedaannya adalah Indonesia berhasil menciptakan bahasa nasional yang bersumber dari dalam diri masyarakat bangsa kita, sedangkan negara-negara lain tidak, walaupun mereka menghendaki adanya satu bahasa nasional. Karena itu kita menyaksikan adanya lebih dari satu bahasa yang digunakan sebagai bahasa nasional. Dapatkah kita menghasilkan kesuksesan penciptaan Bahasa Indonesia sebagai dorongan untuk menciptakan keberhasilan-keberhasilan lainnya bagi Indonesia masa mendatang?

Kujang akan terwujud apabila kita bisa dan kuat untuk membangun budaya saling mengharumkan (Silihwangi) antara seluruh elemen keunikan masyarakat yang membangun Indonesia secara keseluruhan. Saling mengharumkan bukanlah saling menutupi keburukan kita, tetapi sebaliknya memanfaatkan energi sosial untuk membangun sinergi nasional antara kita semua. Oleh karena itu, perbedaan bukanlah batas yang memisahkan tetapi merupakan sumber bangkitnya energi sosial dan sinergi nasional. Oleh karena itu pula keanekaragaman horizontal dan vertikal menjadi sumber dinamika positif yang melahirkan dan membesarkan energi sosial dan sinergi nasional dimaksud. Bukankah energi listrik atau cahaya lahir dari adanya muatan positif dan negatif? Energi atau cahaya tersebut adalah hasil sinergi. Inilah makna perbedaan, bahkan perbedaan yang ekstrim sekalipun, apabila kita memiliki ilmunya, seperti ilmu listrik itu.

Persoalan mendasar menurut penulis adalah kita belum memiliki “ilmu listrik” itu dengan baik. Ketegangan atau konflik yang ada adalah menggambarkan adanya “sambungan pendek” sosial-budaya-politik di antara pihak-pihak yang bersitegang, baik secara horizontal maupun vertikal. Bagaimana kita dapat memiliki ilmu tersebut?

Semua jenis ilmu itu dapat dipastikan sebagai hasil riset. Tetapi penulis lebih suka menggunakan istilah “tirakat” atau “bertapa”. Dalam dalam istilah riset, mungkin karena diambil dari bahasa Inggris, makna proses penyatuan lahir-batin untuk memperoleh ilmu sering tidak dapat kita lihat dengan jelas. Akibatnya, kita tidak bisa menemukan hal-hal yang sifatnya mendasar. Padahal kita ini memerlukan penemuan-penemuan yang mendasar apabila kita menginginkan adanya kemajuan-kemajuan yang mendasar pula. Thomas Alpha Edison atau Einstein, menurut hemat penulis adalah tokoh-tokoh “ilmuwan pertapa” di antara para ilmuwan “pertapa besar “ dunia. Kita dapat mengambil pelajaran bagaimana Edison atau Einstein membangun proses hidup seorang ilmuwan pertapa dari kisah-kisah mereka.

Mengenali ruh dan jiwa setiap masyarakat bangsa Indonesia memerlukan “ilmuwan pertapa” yang mampu melihat yang tidak dapat dilihat oleh mata, mendengar yang tak dapat didengar oleh telinga, merasakan yang berada di luar kemampuan pancaindra. Ilmuwan pertapa akan memiliki “mata batin” (power of mind) yang kuat sehingga mampu menurunkan ciptaan-ciptaannya sebagaimana yang telah berlangsung di negara-negara besar. Kita tidak dapat dengan begitu saja mengambil dan menggunakan penemuan-penemuan sosial-budaya-politik yang dihasilkan di negara-negara lain, mengingat adanya perbedaan-perbedaan ruh dan jiwa antara kita dan mereka.

Seseorang dikatakan memiliki ilmu yang andal dan berguna apabila ia dapat dan kuat: “menghidupkan yang mati, menyehatkan yang sakit atau menerangkan yang gelap”? Jadi, ilmu itu diukur oleh amalannya, bukan oleh hapalannya. Kaliber “ilmuwan pertapa” Indonesia yang memenuhi kriteria inilah yang diperlukan segera.

“Ilmuwan pertapa” kaliber di atas akan mampu mengenali ruh dan jiwa setiap masyarakat Indonesia sehingga tabir misteri yang selama ini kita cari, yaitu sumber-sumber energi sosial dan sinergi nasional, akan didapat. Perlu disadari bahwa ketergantungan energi dari luar akan sangat ditentukan oleh motivasi dan tujuan pihak luar yang membantu, yang akan penuh dengan kepentingan dan strategi besar mereka. Bantuan yang sifatnya ikhlas berdasarkan kecintaan terhadap kita, Indonesia, tidak dapat dijadikan pegangan. Bukanlah kita membangun sikap curiga atau tidak menghendaki bantuan itu, tetapi memang secara alamiah, kalau kita mau tumbuh dan berkembang, kita harus mengandalkan energi dan sinergi dari dalam terlebih dahulu. Setelah kekuatan dan kehandalan terbangun maka barulah ada alasan rasional untuk dapat memanfaatkan energi dan sinergi secara global, yang akan melahirkan “tenaga dan cahaya” yang besar dan kekal.

Membangun budaya saling mengharumkan (Silihwangi) akan membangkitkan kesatuan umat jangka panjang (Kujang) bagi jayanya Indonesia tercinta sepanjang zaman. Tentu, akan banyak lagi sumber inspirasi atas dasar keunikan-keunikan yang hidup di berbagai budaya di seluruh Tanah Air. Silihwangi dan Kujang, serta keunikan-keunikan lainnya perlu digali dan dibangkitkan sebagai sumber energi dan sinergi untuk terwujudnya persenyawaan keindonesiaan yang lebih kokoh, langgeng, jaya dan harumnya Indonesia.