.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Peta Ekspor-Impor Pertanian Indonesia dalam Kancah Global, Kini dan Kedepan ?
04 Februari 2020

Agus Pakpahan - Ketua Umum PERHIMPUNAN EKONOMI PERTANIAN INDONESIA (PERHEPI) 2000-2003

19 Dec 2019, 11:16 WIBEditor : Ahmad Soim

 

Sumber : Tabloid Sinartani



Pertumbuhan ekspor pertanian Indonesia sudah cukup cepat yaitu 11.61 persen/ tahun dalam periode 1995-2017. Namun pertumbuhan impor pertanian dan pangannya jauh melebihi pertumbuhan nilai ekspornya. Pengendalian impor menjadi penting.


 
TABLOIDSINARTANI.COM - Untuk memahami kemajuan pertanian kita, kita perlu melihatnya dari sudut pandang global.  Dengan demikian kita akan mendapatkan pengetahuan tentang, antara lain, status dan posisi kita dibanding negara-negara lain. Pengetahuan ini akan menyadarkan kita, khususnya paling tidak mengenali diri sendiri dalam ruang lingkup global dan terbuka kekinian.
 
Dari https://commodity.com/indonesia/#Indonesias_Top_5_Commodity_Exports, kita mendapatkan gambaran bahwa di dalam kelompok lima komoditas terbesar yang diimpor Indonesia, ternyata terdapat empat komoditas pertanian dan pangan, yaitu gandum, gula, kapas dan kedelai dengan nilai masing-masing US$ 2.41 milyar, US$ 2.05 milyar, US$ 1.09, dan US$ 0.995 milyar.

 Bersamaan dengan nilai total  impor sebesar US$ 6.545 milyar tersebut, komoditas ekspor utama dari sektor pertanian Indonesia adalah minyak sawit dengan nilai ekspor US$ $14.4 milyar, karet US$ $3.33 milyar, minyak kelapa $2.73 milyar  (June 28, 2019 https://commodity.com/indonesia/#Indonesias_Top_5_Commodity_Exports.).

 Berdasarkan data tersebut kita mungkin bisa merasa tenang bahwa nilai ekspor tiga komoditas pertanian penghasil devisa terbesar tersebut  ternyata masih lebih besar daripada nilai impor dari empat komoditas pertanian dan pangan terbesar Indonesia.

 Akan terasa menyesakkan dada, pada saat kita melihat posisi Indonesia dalam lingkup global dimana kita membobot Indonesia dengan nilai ekspor dan impor dunia untuk komoditas pangan dan pertanian, yang mencakup: 1) Pangan dan binatang hidup (Food and live animals); 2) Daging dan daging olahan (Meat and meat preparations); 3) Susu dan produk dari susu dan telur (Dairy products and birds' eggs); 4) Ikan, udang, kerang, dan hasil olahannya (Fish, crustaceans, molluscs, and preparations thereof); 5) Serealia dan olahan sereal (Cereals and cereal preparations); 6) Sayuran dan buah (Vegetables and fruits); 7) Gula, hasil olahan gula, dan madu (Sugar, sugar preparations and honey); 8) Kopi, teh, kakao, rempah, dan hasil olahannya (Coffee, tea, cocoa, spices, and manufactures thereof); 9) Pakan (Feedstuff for animals (excluding unmilled cereals)); dan 10) Jenis pangan lain dan olahannya (Miscellaneous edible products and preparations). Data data mengenai hal ini dapat diakses pada: https://knoema.com/cduhihd/world-exports-and-imports-of-agricultural-products ).
 
Dengan menggunakan data dari 1995-2017 kita menyaksikan bahwa posisi Indonesia dari 24 negara pengekspor pangan dan komoditas pertanian utama di pasar dunia dapat dipahani sebagai berikut. Pertama, pada tahun 1995 nilai ekspor dunia mencapai US$ 360.9 milyar, meningkat menjadi US$ 1167.2 milyar pada 2017.  Bersamaan dengan perkembangan tersebut, nilai impor dunia meningkat dari US$ 375.1 milyar (1995) menjadi US$ 1150.5 Milyar (2017).  Nampak bahwa walaupun telah terjadi peningkatan nilai ekspor dan impor komoditas pangan dan pertanian dunia  ternyata nilai impor dunia pada tahun 2017 lebih rendah daripada nilai ekspor dunia.

 Kedua, negara pengekspor utama untuk komoditas pangan dan pertanian itu ternyata negara-negara maju.  Dari 24 negara eksportir utama pangan dan pertanian dunia ternyata 10 negara merupakan kelompok negara maju atau negara industri, yaitu: Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Perancis, Spanyol, Kanada, Belgia, Italia, Australia, Selandia Baru, Inggris, Denmark.  Jumlah negara tersebut akan bertambah apabila Rusia, Chili, dan Polandia dimasukkan.  Artinya, perdagangan pertanian dan pangan yang bersumber dari negara maju mendominasi dunia.
 
Ketiga, dari 24 negara pengekspor pangan dan pertanian utama dunia tersebut, Indomesia masih beruntung karena Indonesia masih tergolong sebagai negara pengekspor komoditas pangan dan pertanian dunia walaupun hanya menempati pada urutan ke-24;
 
Keempat, dalam urusan ekspor komoditas pangan dan pertanian ternyata posisi Indonesia selama 24 tahun (1995-2017) tidak banyak berubah, yaitu hanya memberikan kontribusi terhadap nilai ekspor pangan dan pertanian dunia sebesar 1.0 persen pada tahun 1995 menjadi 1.1 persen  pada tahun 2017. Nilai ekspor pangan dan pertanian Indonesia pada 1995 mencapai US$ 3.6 milyar dan pada 2017 hanya mencapai US$ 12.8 milyar.
 
Kelima, negara ASEAN yang mencapai nilai ekspor komoditas pangan dan pertanian meningkat pesat adalah Vietnam, yaitu meningkat dari nilai US$ 1.6 milyar (1995) menjadi US$ 25.3 milyar (2017), atau posisi relatifnya di pasar dunia meningkat dari posisi 0.4 persen ke 2.2 persen pada periode tersebut. Posisi tersebut dicapai Vietnam dengan prestasi peningkatan nilai ekspor dalam periode di atas sebesar 1481 persen atau tumbuh 67.32 persen per tahun.  Peran Thailand dan India juga lebih besar dari Indonesia dalam mengisi pasar dunia.  India yang mampu meningkatkan nilai devisa dari ekspor pertanian dan pangan sebesar  US$ 5.4 milyar (1995) menjadi US$ 30.4 milyar (2017) merupakan prestasi luar biasa untuk negara berkembang dengan penduduk terbesar dunia. Hal serupa juga telah dicapai oleh RRT.
 
Sekarang, mari kita lihat perkembangan impor pangan dan pertanian di pasar dunia, dan kita coba melihat posisi Indonesia seperti apa. Dari sumber data yang sama kita mendapatkan informasi sebagai berikut. Pertama, Negara-negara pengimpor komoditas pangan dan pertanian utama juga negara-negara maju seperti: Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Belanda, Perancis, Italia, Kanada, Belgia, Spanyol, Korea Selatan, Swedia.  Rusia dan Polandia juga bisa kita masukkan ke dalam kelompok sebagai negara pengimpor pangan dan pertanian utama dunia.

 Kedua, sebagai ilustrasi, pada tahun 2017 negara maju yang berstatus sebagai negara net-exportir pangan dan pertanian adalah: Belanda dengan nilai surplus US$ 36.3 milyar, Kanada dengan nilai surplus US$ 7.9 milyar, Belgia dengan nilai surplus US$ 6.0 milyar, dan Spanyol US$ 11.0 milyar. Sedangkan Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Perancis, dan Italia merupakan negara dengan status net-importir yang mengalami defisit masing-masing sebesar US$ 8.5, US$ 8.6, US$ 31.5, US$ 5.7, dan US$ 5.9 milyar.
 
Ketiga, pada 2017, RRT, India, Vietnam, dan Thailand merupakan contoh negara Asia yang mengalami surplus perdagangan komoditas pangan dan pertanian dengan nilai surplus masing-masing sebesar US$ 9.1, US$ 18.8, US$ 10.2, dan US$ 18.2 milyar.  Fakta ini menunjukkan bahwa untuk negara dengan penduduk terbesar di dunia pun seperti India dan RRT ternyata mampu mencapai status negara net-exportir komoditas pangan dan pertanian.

 Keempat, posisi Indonesia berbeda dengan Thailand, Vietnam, India dan RRT yang berstatus sebagai net-exportir.  Indonesia selama 22 tahun, walaupun nilai ekspornya meningkat dari US$ 3.6 milyar (1995) menjadi US$ 12.8 milyar (2017) (meningkat 255.5 persen selama 22 tahun atau 11.61 persen/tahun), ternyata nilai kenaikan impornya melebihi kenaikan nilai ekspornya.  Pada tahun 2017, Indonesia berstatus net-importir dengan nilai defisit US$ 1.5 milyar.
 

Berapa cepat kenaikan ekspor di pasar dunia?
 
Dalam periode 1995-2017, dalam 22 tahun tersebut volume ekspor komoditas pangan dan pertanian di pasar dunia meningkat dari US$ 360 milyar (1995) menjadi US$ 1162.2 (2017).  Artinya, dalam kurun waktu 22 tahun nilai pasar komoditas pertanian dan pangan telah meningkat 222.0 persen atau meningkat sekitar 10.09 persen per tahun.
 
Prestasi luar biasa dalam peningkatan ekspor komoditas pertanian dan pangan ini diraih oleh Vietnam, India, Selandia Baru, Kanada, Spanyol dan Indonesia dengan masing-masing nilai pertumbuhan per tahun 67.32 persen, 21.04 persen, 12.58 persen, 11.77 persen dan 11.61 persen.

 Jadi, kita menyaksikan bahwa pertumbuhan nilai ekspor komoditas pangan dan pertanian pasar dunia cukup cepat. Hanya saja Indonesia tidak bisa menahan keinginan impor dari komoditas ini sehingga pada akhirnya Indonesia berstatus sebagai negara net-importir komoditas pertanian dan pangan.
 

Bagaimana dengan perilaku impor komoditas pertanian dan pangan oleh negara lain?
 
Vietnam merupakan negara terbuka yang dalam bilangan pertumbuhan ekspor-impor komoditas pertanian dan pangan sangat mencolok.
 
Peningkatan nilai impor komoditas pertanian dan pangan Vietnam selama periode 1995-2017 mencapai 4933.3 persen atau 224.2 persen/tahun.  Angka ini pasti akan mengejutkan apabila dibandingkan dengan pertumbuhan nilai impor komoditas pertanian dan pangan di pasar dunia yaitu 206.7 persen selama 22 tahun atau sekitar 9.26 persen/tahun.  Perlu diperhatikan bahwa walaupun Vietnam mengimpor komoditas pertanian dan pangan dengan pertumbuhan yang sangat cepat tersebut, Vietnam selain mampu memacu dan memicu pertumbuhan ekspornya yang cepat yaitu 1481 persen dalam periode 22 tahun atau 67.32 persen per tahun, Vietnam juga mampu membatasi jumlah absolut nilai impor berada di bawah nilai ekspor dari komoditas yang dibicarakan ini.  Sebagai gambaran, Vietnam pada 2017 hanya mengimpor komoditas pertanian dan pangan senilai US$ 15.1 milyar, sedangkan nilai ekspor komoditas pertanian dan pangan Vietnam mencapai US$ 25.3 milyar. Dengan demikian Vietnam menikmati surplus US$ 10.2 milyar.

 Pola yang sama juga dilakukan oleh India, RRT, dan Thailand. Negara-negara tersebut mengendalikan impor komoditas pertanian dan pangan jauh di bawah nilai ekspornya dengan nilai surplus masing-masing US$ 18.8 milyar, US$ 9.1 milyar, US$ 18.2 milyar.  Sebaliknya Indonesia kurang bisa menjaga arus impor sehingga Indonesia menderita defisit dalam perdagangan komoditas pertanian dan pangan ini.
 

Pengendalian Impor

Perlu ditegaskan kembali mengapa kita perlu menekankan bahwa pengendalian impor komoditas pertanian dan pangan ini merupakan hal yang penting? Karena data menunjukkan bahwa pertumbuhan ekspor komoditas pertanian Indonesia ini sudah cukup cepat yaitu 11.61 persen per tahun dalam periode 1995-2017.  Namun demikian pertumbuhan impor dari komoditas pertanian dan pangan oleh Indonesia jauh melebihi pertumbuhan nilai ekspornya, yaitu 18.66 persen/tahun.
 
Selain itu, nilai absolut impor komoditas pertanian dan pangan Indonesia pada 1995 masih di bawah nilai ekspornya, tetapi pada tahun 2017 perbandingan ekspor-impor berada pada posisi sebaliknya yaitu nilai absolut impor komoditas pertanian dan pangan sudah di atas nilai absolut ekspornya. Pada tahun 1995 nilai ekspor mencapai US$ 3.6 milyar dan nilai impornya sebesar US$ 2.8 milyar; sedangkan pada tahun 2017 nilai ekspor komoditas pertanian dan pangan Indonesia mencapai US$ 12.8 milyar sedangkan nilai impornya mencapai US$ 14.3 milyar.
 
Jadi, catatan utama kita di sini adalah bahwa diukur dalam kancah global pertanian dan pangan Indonesia sudah mampu berkembang.  Namun demikian perkembangannya relatif sangat lamban dibandingkan dengan Vietnam. Posisi Indonesia dalam perdagangan ekspor-impor komoditas pertanian dan pangan berada pada posisi net-importir.  Artinya, Indonesia mengimpor komoditas pertanian dan pangan lebih besar daripada nilai ekspor komoditas yang tergolong dalam komoditas tersebut.  Posisi ini berbeda dengan India, RRT, Vietnam, dan Thailand, misalnya, yang berstatus sebagai negara net-eksportir komoditas pertanian dan pangan dunia.  Negara-negara tersebut selain berhasil memacu nilai ekspor komoditas pertanian dan pangannya, juga sukses dalam mengendalikan nilai absolut impor dari komoditas tersebut berada di bawah nilai ekspornya.  Hal yang sebaliknya terjadi untuk Indonesia.
 

Bagaimana Indonesia ke depan?
 
Jawaban atas pertanyaan ini sangat tergantung pada Indonesia sendiri. Semuanya itu akan tergantung pada pemahaman apa itu pertanian dan akan dijadikan apa pertanian itu untuk masa depan bangsa dan NKRI.
 
Dalam tulisan ini, sebagai penutup, perlu dipahami bahwa pertanian itu perlu dilihat sebagai landasan peradaban bagi suatu bangsa dan negara.  Apabila pertanian suatu bangsa hancur maka peradaban bangsa tersebut juga akan punah.