.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Pertanian dan Masalah Besar Indonesia untuk Mewujudkan Rencana Masa Depan
04 Februari 2020

Agus Pakpahan  -   Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian INDONESIA (PERHEPI) Periode 2000-2003.

 

17 Dec 2019, 17:50 WIBEditor : Ahmad Soim

Sumber : Tabloid Sinartani

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Menjadikan Indonesia sebagai negara dengan nilai produk domestik bruto  (PDB) ke empat terbesar dunia pada 2045 merupakan tujuan mulia. Namun demikian, perjalanan panjang 25 tahun pertama, berakhir pada tahun 1997 dengan krisis ekonomi Indonesia yang menyebabkan, antara lain anjloknya pendapatan per kapita dari US$ 1200 pada 1996 menjadi  US$ 600 pada 1997, perlu menjadi cermin penting.  Tulisan ini menyampaikan tiga kendala besar yang perlu diatasi untuk meningkatkan peluang terwujudnya tujuan-tujuan pembangunan jangka panjang Indonesia mendatang.

 

Kendala Neraca Transaksi Internasional


Professor Hiroyoshi Kano (2008) menyimpulkan bahwa ternyata strategi pembangunan Indonesia dari zaman Belanda hingga sekarang belum banyak berubah.  Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan fakta bahwa hutang luar negeri yang masuk ke Indonesia ternyata tidak menghasilkan barang dan jasa yang melebihi dari nilai pengembalian hutang tersebut. Kondisi seperti ini membuat Indonesia pada 1997 mengalami krisis berat yang berakibat anjloknya nilai pendapatan per kapita setengahnya.

 

Pada tahun 2015 defisit transaksi berjalan melalui primary income mencapai -US$ 28,38 milyar.  Mengingat surplus dari ekspor-impor barang hanya mencapai nilai US$ 2,64 milyar dan defisit dalam transaksi jasa mencapai -US$ 8,69 milyar, maka total transaksi berjalan mengalami defisit -US$ 17,52 milyar. Perkembangan defisit transaksi berjalan tersebut terjadi kembali pada 2016 dengan nilai defisit primary income sebesar -US$ 29,64 milyar dan defisit total transaksi berjalan -US$ 16,95 (Bank Indonesia, 2017).  Primary income adalah pendapatan yang mengalir kepada pihak asing melalui pembayaran bunga, upah dan sejenisnya. Jadi, penyebab defisit transaksi berjalan ini bukan nilai ekspor barang, tetapi bocor melalui primary income.

 

Kendala utama yang diakibatkan oleh neraca transaksi berjalan yang defisitnya besar  dan permanen adalah keterbatasan Indonesia dalam mengimpor barang-barang modal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan.  Jadi, mengatasi kebocoran sebagaimana tergambar di atas sangat diperlukan agar Indonesia memiliki sumberdaya yang memadai pada masa yang akan datang untuk membiayai pertumbuhan dimaksud.

 

Industrialisasi yang Lamban


 

Kelemahan industrialisiasi kita diperlihatkan oleh nilai ekspor barang yang nilainya rendah. Sebagai ilustrasi total nilai ekspor Malaysia melebihi total nilai ekspor Indonesia yaitu masing-masing   US $188.2 milyar  dan US $157.8 milyar (2017).  Hal ini dijelaskan oleh nilai ECI (Economic Complexity Index) (2016) Indonesia yang rendah yaitu -0.253646 sedangkan  nilai ECI Malaysia 0.865661. Index ini menggambarkan intensitas pengetahuan yang berada  di dalam produk yang diekspor oleh suatu negara (MIT, 2018).

 

Pertanda yang lebih mudah dilihat sebagai keberhasilan industrialisasi adalah  meningkatnya luas lahan atau skala usahatani per petani dari waktu ke waktu.  Dengan kecepatan transformasi ekonomi Jepang sebesar 2 persen atau lebih tenaga kerja pertanian keluar dari pertanian  untuk setiap penurunan 1persen pangsa PDB pertanian dalam PDB nasional, rata-rata luas lahan usahatani per rumah tangga tani di Hokkaido (Jepang) meningkat dari 4 hektar  pada 1965 menjadi hampir 20 hektar sekarang.  Pola yang sama terjadi di Korea Selatan dan tentu saja telah terjadi sebelumnya di negara-negara maju Eropa Barat dan Amerika Serikat.  Kondisi yang terjadi di Indonesia belum memperlihatkan akan terjadinya proses tersebut, bahkan cenderung terbalik.

 

Industrialisasi sebagai alat transformasi ekonomi merupakan cara untuk meningkatkan nilai tambah yang bermanfaat baik untuk peningkatan ekonomi lokal maupun global. Karena itu, pertanian akan mendapatkan manfaat berupa peningkatan skala luas lahan usahatani apabila setiap 1 persen penurunan nilai PDB pertanian dalam PDB nasional disertai oleh penurunan tenaga kerja pertanian lebih dari 2 persen. Industrialisasi seperti itu baru merupakan industrialisasi yang akan menguntungkan pertanian. Industrialisasi tersebut juga menjadi faktor penting sebagai proses makro-ekonomi yang secara tidak langsung berpean sebagai reforma agraria.

 

Stunting dan Neglected Tropical Diseases

 

Fenomena stunting anak usia balita yang mencapai kurang lebih 30 persen secara nasional menandakan bahwa kita belum bisa mengelola sumberdaya yang maha penting dalam pembangunan, yaitu sumberdaya manusia.  Jumlah anak-anak balita yang terkena stunting itu bisa mencapai jumlah lebih dari 6 juta orang, lebih banyak dari penduduk Singapura atau Denmark sekarang pada 2017. Sesuai dengan kondisi tubuh dan kesehatannya nanti maka dapat dipastikan produktivitas dan kualitas kerjanya akan berada di bawah pekerja yang tubuh dan kesehatannya normal.

 

Neglected Tropical Diseases (NTD) merupakan bagian dari sifat intrinsik zona tropika sebagai “gudangnya” penyakit. Tan et. al., dalam artikelnya “Indonesia: An Emerging Market Economy Beset by Neglected Tropical Diseases (NTDs)”, yang diterbitkan dalam PLOS Neglected Tropical Diseases edisi Volume 8, Issue 2, 1 February 2014, menguraikan bahwa betapa pentingnya beban NTD ini untuk diperhatikan dalam rangka mencapai tujuan-tujuan mulia Indonesia pada tahun 2045 nanti. 

 

Penyebab utama dari proses di atas adalah kita tidak menyadari bahwa “rumah kita” yaitu iklim tropika itu merupakan gudangnya penyakit tetapi kita tidak membangun daya adaptasi terhadap gudang penyakit ini, tidak seperti bangsa-bangsa yang bermukim di wilayah iklim temperate membangun daya adaptasi terhadap musim winter yang suhu dinginnya bisa mematikan apabila hidup tanpa persiapan.

 

Strategi pembangunan kita perlu difokuskan pada peningkatan kapabilitas terhadap sifat intrinsik iklim tropika seperti kondisinya sebagai gudangnya penyakit tersebut. Prasyarat utama untuk terwujudnya lingkungan yang sehat adalah terbebasnya penduduk dari segala sumber penyakit atau bahan-bahan yang beracun dan membahayakan kesehatan publik.

 

Sumber penyakit tropika yang paling mudah dilihat tetapi paling rendah tingkat penangannannya adalah rendahnya budaya penanganan limbah atau sampah, khususnya sampah organik yang mudah membusuk sehingga menjadi sumber penyebaran patogen atau zat-zat yang beracun serta mencemari lingkungan.  Pencemaran air sungai, mata air atau air permukaan merupakan sumber penyakit tropika dan juga sebagai penyebab stunting.

 

Akar dari kesehatan adalah kecukupan pangan dengan nutrisi yang lengkap dan berimbang. Sumber pangan adalah pertanian.  Khusus untuk mengatasi stunting, hasil riset, antara lain, Heady et. al., “Animal Sourced Foods and Child Stunting”, American Journal of Agricultural Economics, Volume 100, Issue 5, 1 October 2018, menghasilkan pengetahuan yang sangat penting yaitu: solusi nyata untuk mengatasi stunting adalah makanan yang bersumber dari peternakan/perikanan seperti susu, daging, ikan, dan telur. Artinya, kita perlu membuat bidang integral antara pertanian, industri pangan, perdagangan, dan kesehatan.

 

Indonesia perlu menghilangkan stunting dan NTD segera melalui industrialisasi berbasis pertanian dan kesehatan.  Kelimpahan protein hewani menjadi fokus utama dan sekaligus pula dibuat sebagai sistem tertutup-sirkular yang terintegrasi dengan pemulihan, penyehatan dan penyelesaian permasalahan sampah organik dan sejenisnya untuk menghasilkan pupuk hayati atau pupuk organik yang melimpah.

 

Kelimpahan pangan bersumber dari peternakan (khususnya protein hewani) menjadi landasan utama meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Hal ini menjadi landasan untuk membangun daya saing industri berbasis sumberdaya yang berkualitas tinggi agar pada masa mendatang nilai neraca transaksi berjalan dapat diperbaiki mengingat pendapatan dari ekspor barang dan jasa sudah didasarkan atas nilai ECI yang jauh lebih tinggi.  Model ini dapat dikatakan sebagai model adaptasi pertanian, pangan, kesehatan dan industri untuk meningkatkan daya adaptasi terhadap sifat intrinsik iklim tropika.