.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Kepuasan Kreasi sebagai Dasar Industrialisasi Pertanian
05 Februari 2020

Agus Pakpahan - Institutional Economist

 

Ada tujuh butir intisari untuk mewujudkan “Pertanian Berkebudayaan Industri”

 

05 Feb 2020, 16:23 WIBEditor : Ahmad Soim

Sumber : Tabloid Sinartani

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Industrialisasi bukanlah berarti membangun pabrik dimana-mana.Kalau membangun pabrik semata, kita telah banyak melakukannya.

Tetapi mengapa pabrik yang kita bangun akhirnya tutup atau hanya beroperasi di bawah kapasitas, atau kita tidak mampu mengembangkan produk yang makin baik dari waktu ke waktu, hanya dapat diterangkan berdasarkan sudut pandang bahwa kita tidak memiliki kepuasan kreasi yang tinggi. Akibatnya kita tidak banyak melakukan inovasi. Akibat selanjutnya dari hal ini adalah kita tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terus terjadi di sekitar kita.

Kita ambil industri gula sebagai ilustrasi. Dari sudut pandang pasar, sangatlah jelas Indonesia membutuhkan gula yang makin meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk kita. Dipandang dari sudut potensi lahan, kita memiliki banyak lahan yang cocok dikembangkan untuk membangun perkebunan tebu dan industri gula. Dari kaca mata sejarah, Indonesia juga kaya akan pengalaman termasuk pernah menjadi pengekspor gula terbesar kedua dunia setelah Kuba. Tetapi mengapa kita sekarang menjadi pengimpor gula terbesar dunia?

Tentu kita dapat mengemukakan bahwa industri gula dunia penuh dengan unsur politik. Negara maju mensubsidi gulanya, sehingga Uni Eropa menjadi pengekspor gula.. Tapi pengalaman Thailand dalam menghasilkan gula yang mampu bersaing di pasar global sehingga Thailand menjadi negara pengekspor gula terbesar kedua dunia dapat mematahkan pandangan tersebut.

Selain masalah kuantitas, industri gula kita juga tertinggal dalam hal kualitas. Demikian pun dengan pengembangan produk non-gula berbasis tebu yang tidak banyak berkembang di Indonesia.
 
Ungkapan di atas tidak hanya berlaku untuk industri gula, melainkan berlaku juga untuk industri-industri lainnya. Dengan perkataan lain kita perlu bertanya dan mencari jawabnya: Bagaimana mengembangkan industri kita pada masa mendatang?
   
 Industrialisasi menyangkut persoalan yang sangat mendasar, yaitu persoalan membangun suatu budaya baru, budaya industri, yaitu the way of thinking, feeling, believing and behaving dari kita semua. Masyarakat yang berkebudayaan industri dicirikan oleh hal-hal berikut:

(1)               pengetahuan merupakan landasan utama dalam pengambilan keputusan, memperkuat intuisi, kebiasaan, atau tradisi;

(2)               kemajuan teknologi merupakan instrumen utama dalam pemanfaatan sumberdaya;

(3)               mekanisme pasar merupakan media utama dalam transaksi barang dan jasa;

(4)               efisiensi dan produktivitas sebagai dasar utama dalam alokasi sumberdaya dan karenanya membuat hemat dalam penggunaannya;

(5)               mutu dan keunggulan merupakan orientasi, wacana, sekaligus tujuan;

(6)               profesionalisme merupakan karakter yang menonjol; dan

(7)               perekayasaan merupakan inti penciptaan nilai tambah sehingga setiap produk yang dihasilkan selalu memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan lebih dahulu dalam mutu, jumlah, berat, volume, bentuk, warna, rasa, khasiat, dan sifat-sifat lainnya, dengan ketepatan waktu.
 

 Ke tujuh butir intisari di atas adalah pandangan Bappenas dalam merumuskan “Pertanian Berkebudayaan Industri” yang dikembangkan pada pertengahan 1990-an. Kesemuanya itu dasarnya adalah kepuasan kreasi. Tidak adanya kepuasan kreasi tidak bakal berkembang proses perbaikan dari apa yang kita kerjakan. Di pihak lain, masyarakat dunia terus mengembangkan daya kreasinya, yang terus menerus menghasilkan produk-produk baru yang makin baik, yang terus makin membanjiri kita.

 Kepuasan kreasi dasarnya bukanlah rasio atau kalkulasi untung-rugi. Memang rasio diperlukan tetapi rasio  sebatas menerangi bagaimana kita mengerjakannya secara sistimatis. Di balik rasio bekerja unsur yang lebih mendalam dan mendasar, yaitu spirit. Spirit berkreasi inilah yang sekarang ini belum tumbuh subur, namun sebaliknya dengan spirit konsumtif.

Bagaimana mengembangkan spirit budaya kreatif ini? Seperti halnya revolusi industri yang terjadi di Barat, lama sebelumnya telah berkembang Renaissance. Demikian juga di Jepang, Restorasi Meiji sering dipandang sebagai dasar kemajuan Jepang. Saya pikir, Indonesia juga perlu mencari pola atau model Renaissance atau Restorasi Meiji, yang pas untuk Indonesia.