.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (11)
10 September 2020

31 Aug 2020, 16:18 WIBEditor : Ahmad Soim

 

Sumber : Tabloid Sinar Tani

 

Economic Complexity Index dan Pendapatan Ekspor

Agus Pakpahan -  Institutional Economist I www.aguspakpahan.com

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Pada artikel ke-10 ( https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/agri-tokoh/14259-Kemerdekaan-bagi-Petani-Kemerdekaan-bagi-Kita-Semua-10) dalam seri artikel KEMERDEKAAN BAGI PETANI KEMERDEKAAN BAGI KITA SEMUA telah disampaikan bahwa nilai hutang luar negeri kita pada posisi April 2020 secara total telah mencapai jumlah USD 400.2 milyar. 

Dengan nilai tukar 1.00 dollar AS terhadap Rupiah pada tangga 27 Agustus 2020 sebesar Rp 14,642.50, maka nilai utang luar negeri Indonesia di atas mencapai jumlah  Rp 5850 triliun.  Jumlah ini akan menjadi Rp 11700 triliun pada 18-24 tahun yang akan datang, yaitu pada tahun 2038-2044, persis menjelang peringatan 100 tahun Indonesia merdeka pada 2045, apabila dikenakan bunga pinjaman 3-4 persen per tahun, bunga berbunga, dan metoda pembayaran sekaligus.  

Pada artikel ke-10 tersebut juga disampaikan bahwa apabila komponen ekspor kita itu nilainya setara dengan nilai ekspor minyak sawit sekarang, maka dapat diperkirangan dari sekarang kemungkinan besar Indonesia tidak dapat membayar utang luar negerinya.  

Tulisan ini mencoba melihat potensi kemampuan Indonesia untuk membayar hutang tersebut dipandang dari kemampuan Indonesia menghasilkan devisa yang diperoleh dari ekspor barang dan jasa berdasarkan nilai Economic Complexity Index (ECI). Pada intinya indeks ECI menunjukkan intensitas kandungan ilmu pengetahuan dalam produk yang diekspor dari suatu negara.  Dengan demikian dapat diharapkan apabila Indonesia mampu membangun industrinya untuk menghasilkan barang dan jasa yang mengandung kadar ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi maka Indonesia akan mampu mendapatkan devisa yang lebih tinggi daripada hanya menjual bahan mentah saja. 

Data BPS pada 2018 menunjukkan bawa neraca impor-ekspor barang Indonesia mengalami defisit US$ 8.69 milyar dengan nilai ekspor USD 180.01 milyar dan nilai impor USD 188.7 milyar.  Pada tahun 2019, BPS mencapat nilai ekspor Indonesia turun dari jumlah tersebut di atas menjadi sebesar USD 167,53 miliar. Angka tersebut turun cukup tajam, yaitu sekitar 7 % persen dibanding pencapaian ekspor tahun sebelumnya. Sedangkan apabila nilai ekspor jasa digabungkan dengan nilai ekspor barang, Indonesia pada 2019 baru mampu mencapai nilai ekspor barang dan jasa senilai US$ 206.02 milyar.  Jumlah ini masih lebih tinggi daripada nilai ekspor barang dan jasa Indonesia pada 2017 yaitu USD 204.9 milyar.

Ternyata apabila nilai ekspor barang dan jasa Indonesia tersebut dibandingkan dengan nilai ekspor barang dan jasa negara-negara tetangga diperoleh gambaran seperti berikut:

Vietnam.   2019: USD  279.72 milyar

Malaysia   2019: USD  238.29 milyar

Thailand   2019:  USD  324.78 milyar

Indonesia 2019:  USD. 206.02 milyar

Sumber: https://data.worldbank.org/indicator/NE.EXP.GNFS.CD?locations=VN

Artinya, kemampuan untuk mendapatkan devisa dari hasil ekspor barang dan jasa Indonesia berada pada posisi relatif lebih rendah dibandingkan dengan Thailand, Malaysia dan Vietnam.  Data ini secara implisit menunjukkan bahwa kemampuan Indonesia untuk bisa membayar utang luar negerinya juga relatif lebih terbatas dibandingkan dengan negara-negara tersebut.  Kondisi ini akan semakin menekan Indonesia apabila defisit transaksi berjalan berlanjut.

Apa yang menjadi faktor utama yang membuat nilai ekspor barang dan jasa suatu negara mendapatkan devisa yang tinggi?  Tulisan ini mencoba mengajukan hipotesa bahwa faktor utama dari suatu komoditas apakah itu berupa benda atau jasa yang akan memberikan nilai devisa yang tinggi adalah apabila barang dan jasa tersebut merupakan barang dan jasa yang berisi kandungan ilmu pengetahuan yang lengkap, kompleks dan tinggi.  Artinya, sangat jelas bukan sekedar berupa bahan mentah atau tenaga kasar saja.  Indeks ECI dijadikan parameter yang mencoba menggambarkan kualitas barang dan jasa dimaksud.  Artinya, semakin tinggi nilai indeks ECI dari suatu barang dan jasa, maka semakin canggih kandungan dimensi kualitas dari barang dan jasa tersebut.

Kita ambil kasus tahun 2017, tahun yang masih bersifat normal sebelum Covid-19 hadir.  Pada tahun 2017, nilai ekspor barang dan jasa Indonesia berdasarkan data dari Bank Dunia (https://data.worldbank.org/indicator/NE.EXP.GNFS.CD) pada tahun 2017 mencapai USD 2014.9 milyar.  Pada tahun ini nilai ECI Indonesia adalah -0.31.  

Berapa nilai ECI Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Jepang dan Amerika Serikat pada tahun 2017?  Nilai ECI Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Jepang dan Amerika Serikat masing-masing adalah +0.95, +0.71, +1.78, +1.3, Jepang + 2.31, dan +1.47.  Sedangkan nilai ECI Vietnam pada 2017 masih bertanda negatif seperti Indonesia yaitu -0.62  https://oec.world/en/rankings/legacy_eci

Pada tahun 2017 nilai ekspor barang dan jasa Thailand mencapai USD 304.2 milyar; Malaysia USD 238,2 milyar, Korea Selatan USD 654,1 milyar; RRT USD 2,641.2; Jepang (2018) USD 917.8 milyar; Amerika Serikat USD 2,504.2.  Sementara Vietnam mendapatkan devisa dari ekspor barang dan jasa sebesar USD 279.7, walaupun nilai ECI-nya masih berada pada posisi negatif (https://data.worldbank.org/indicator/NE.EXP.GNFS.CD).  Di sini kita menyaksikan bahwa walaupun nilai ECI Vietnam lebih rendah daripada Indonesia, nilai ekspor barang dan jasanya lebih tinggi daripada nilai yang dicapai Indonesia.

Kasus Vietnam perlu kita pelajari tersendiri.  Kasus umum menunjukkan bahwa negara yang memiliki ECI yang tinggi secara umum dapat dikatakan memiliki kapasitas untuk mendapatkan nilai ekspor barang dan jasa yang tinggi pula.  Kemampuan memperoleh pendapatan devisa yang tinggi ini memrupakan fungsi langsung apakah kita bisa atau tidak mengembalikan utang luar negeri.  Dengan demikian akan sangat strategis apabila utang luar negeri dialokasikan pada sektor ekonomi yang bisa memberikan nilai devisa yang sangat tinggi sebagai dasar kapasitas kita untuk bisa mengembalikan utang.  Strategi ini akan menjadi pembeda dengan strategi-strategi pemanfaatan utang luar negeri pada masa-masa sebelumnya, termasuk semasa penjajahan Belanda.  

Tahun 2045 akan menjadi tahun yang cerah dan penuh harapan bagi rakyat dan bangsa Indonesia apabila tahun tersebut bukan berupa tahun seperti yang pernah dialami bangsa ini pada 1998, akibat kita tidak mampu membayar utang luar negeri.  Tidak ada cara lain kecuali ada revolusi peningkatan konten kualitas yang bernilai tinggi dari barang dan jasa yang akan diekspor Indonesia.

Merdeka!