.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (17)
10 September 2020

08 Sep 2020, 14:54 WIBEditor : Ahmad Soim

Agus Pakpahan - Institutional Economist I www.aguspakpahan.com

 

 Seperti Apa Gambaran ROI dari R&D Pertanian? 

TABLOIDSINARTANI.COM - Pada artikel ke-16 disampaikan gambaran ROI R&D pada kasus korporasi besar dunia secara umum. Distribusi dana R&D terbesar berada pada tiga sektor utama yaitu teknologi, farmasi dan bioteknologi serta otomobil & komponen dengan masing-masing besaran dana R&D mencapai USD 268.8 milyar, USD 160.7 milyar, USD dan 143.9 milyar.  Kontribusi ke tiga sektor tersebut mencapai 66.8 persen dari total R&D keseluruhan korporasi.

Apabila rasio jumlah pendapatan korporasi terhadap dana yang dialokasikan untuk R&D dibaca sebagai indikator kasar untuk mendapatkan nilai ROI dari R&D maka kita akan mendapatkan gambaran dari kelompok korporasi dunia yang menanamkan uangnya mencapai R&D Intensity lebih dari 10 persen, mendapatkan ROI dari R&D yang berada pada selang 383.8 persen hingga 995.4 persen (https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/agri-tokoh/14393-Kemerdekaan-bagi-Petani-Kemerdekaan-bagi-Kita-Semua-16-Seperti-Apa-Gambaran-ROI-dari-Riset).  Artinya, ROI R&D sangat tinggi.

J. Piesse dan C. Thirtle (2010) dalam artikelnya “Agricultural R&D, technology and productivity” yang diterbitkan pada Phil. Trans. R. Soc. B (2010) 365, 3035–3047, menyimpulkan bahwa pangsa pengeluaran R&D pemerintah dalam bidang pertanian tampak sudah menurun dan konsentrasi R&D pertanian yang dilaksanakan korporasi swasta meningkat pesat dengan dominasi enam perusahaan besar  multinasional swasta yang dinamakan The Big Six.  Perusahaan tersebut telah memiliki hak kepemilikan intelektual hingga membuat keadaan yang bisa mengancam situasi global di bidang teknologi pertanian dimana revolusi hijau tergantung pada kemajuan teknologi.

 The ‘big six’ adalah BASF, Bayer, Syngenta, Dupont, Dow and Monsanto. Ke enam perusahaan tersebut secara keseluruhan mengeluarkan dana sebsar USD 3.6 milyar. Sementara itu 249 perusahaan yang bekerja dalam bidang R&D pertanian hanya mengeluarkan dana sebesar USD 1.42 milyar.  Total pengeluaran korporasi swasta dalam bidang kimia terkait pertanian mencapai USD 2.65 milyar dan dalam bidang benih dan bioteknologi senilai USD 2.37 milyar (Piesse dan Thirtle, 2010). 

Bagaimana keadaan sekarang? Konsentrasi akan R&D di bidang ini tentu akan berpengaruh pada banyak hal yang mana hal ini perlu mendapatkan perhatian masyarakat dunia. Apa yang akan dilakukan Indonesia?

Menarik untuk menjadi pertanyaan kita semua yaitu mengapa korporasi swasta ternyata bukan hanya masuk ke dalam R&D pertanian tetapi bahkan sudah mendominasi R&D pertanian ini secara global mengalahkan sektor publik?

Mengingat korporasi swasta “DNA” dalam dirinya adalah mengejar keuntungan yang sebesar-besarnya maka ini merupakan indikator penting bahwa R&D pertanian menyediakan keuntungan yang besar sehingga melahirkan korporasi kelas dunia di bidang ini. 

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa di Indonesia tidak lahir dan berkembang korporasi swasta atau BUMN yang menjadi kelas dunia dalam bidang R&D pertanian ini? Untuk menjawab pertanyaan ini mungkin kita perlu menyediakan ruang tersendiri untuk membahas hal ini.

Sekarang mari kita lihat hasil estimasi besaran manfaat dari R&D pertanian yang telah banyak diteliti oleh para ekonom pertanian sejak tahun 1960-an.  Referensi lama ini dengan sengaja penulis gunakan untuk mencoba merangsang pemikiran kita bahwa para peneliti telah memberikan informasi tentang manfaat R&D pertanian sudah sejak lama.  Selain R&D pertanian itu memberikan nilai pengembalian yang besar terutama bagi kepentingan bangsa, negara dan ummat manusia secara keseluruhan, juga menguntungkan bagi perusahaan. 

Zvi Griliches merupakan salah seorang pionir dalam mencoba menduga tingkat pengembalian dari R&D pertanian.  Griliches (1964) menunjukkan bahwa secara agregat tingkat pengembalian tahunan R&D berkisar 35-40 persen.  Pada Tabel 1 kita dapat melihat hasil dugaan  tingkat pengembalian R&D pertanian secara agregat berkisar antara 7-110 persen.  Walaupun data menunjukkan suatu selang angka estimasi yang relatif besar, secara keseluruhan data menunjukkan tingkat pengembalian tahunan yang relatif besar.  Karena itu permasalahannya hanyalah terletak pada perencanaan, rancang bangun dan manajemen R&D pertanian saja untuk mencari nilai pengembalian yang optimal.

Tabel 2 menunjukkan hasil estimasi dampak R&D menurut komoditas pertanian yang diusahakan.  Tampak terlihat suatu variasi hasil estimasi, tetapi secara keseluruhan dapat dilihat bahwa tingkat pengembalian investasi di bidang riset pertanian ini memberikan nilai pengembalian tahunan yang relatif tinggi. 

Hasil penelitian jagung hibrida sering dijadikan sebagai ilustrasi kesuksesan R&D dengan tingkat pengembalian yang tinggi yaitu 35-40 persen per tahun.  Demikian pun halnya dengan R&D di bidang peternakan.  Secara khusus kita bisa melihat hasil Evenson (1979) yang menunjukkan tingginya hasil pengembalian per tahun dari R&D yang dialokasikan pada teknologi, science dan management (Lihat Tabel 2). 

Apa yang bisa kita simpulkan?  Kembali seperti yang telah disampaikan pada artikel ke-16, kita mendapatkan kesimpulan yang sama yaitu R&D, termasuk R&D pertanian, merupakan kegiatan utama yang telah memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan dunia termasuk dalam bidang ketahanan pangan global.  Tingkat pengembalian yang diberikan oleh kegiatan R&D pertanian ini juga relatif fantastis, jauh lebih tinggi daripada yang biasa kita bayangkan.  Bukan hanya itu, dampaknya tidak terbatas pada sekedar mendapatkan keuntungan tetapi juga langsung memberikan manfaat bagi kemanusiaan dan membangun landasan peradaban secara langsung.  Sisi manfaat ini jarang dilihat sehingga kita mengalokasikan dana R&D ini sangat rendah (0.08 persen dari PDB).  Di pihak lain korporasi multinasional berlomba masuk dan meraup benefit besar dari kegiatan R&D pertanian ini.  Tentu saja apabila R&D pertanian ini berkembang maka para petani akan sangat banyak terbantu, sedikit mengurangi dampak negatif dari proses guremisasi yang terus terjadi.

Merdeka!