.: Detail Tulisan :.
  
Kategori : Column
Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (19)
10 September 2020

10 Sep 2020, 12:25 WIBEditor : Ahmad Soim

Sumber : Tabloid Sinar Tani

 

Keterkaitan langsung antara pertanian pangan dan kualitas generasi mendatang

 

Agus Pakpahan - Institutional Economist I  www.aguspakpahan.com

TABLOIDSINARTANI.COM -  Pada artikel terdahulu telah disampaikan betapa pentingnya R&D sebagai pembuka jalan untuk membangun masa depan yang lebih baik.  Dalam hubungan ini, pada jurnal Eurasia J. Math.Sci.&Tech.Ed., 12 (4), 965-974, kita bisa membaca bahwa R&D berkorelasi positif dengan IQ, dengan nilai koefisien korelasi yang cukup besar yaitu 0.762. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa R&D penting untuk mencerdaskan kita semua.

 Gambar 1. Hubungan antara stunting dengan konsumsi daging sapi, daging babi, daging ayam dan daging domba ( OECD, 2018 dan UNICEF-WHO-World Bank, 2017).

 Pada artikel ke-19 ini secara khusus disampaikan hubungan antara stunting dan konsumsi pangan yang berasal dari hewan. 

 Agar kita bisa lebih merasakan fakta yang terjadi dengan stunting itu merupakan hal yang kritis dan merasakan juga bahwa peternakan dan perikanan merupakan kegiatan sosial-ekonomi yang penting untuk generasi yang akan datang, maka gambaran hubungan stunting dan tingkat konsumsi pangan yang bersumber dari peternakan seperti ikan, daging, daging ayam dan telur, dari pelbagai negara perlu dipandang sebagai input yang penting.

 Faktor-faktor dan proses yang mempengaruhi stunting cukup kompleks.  Namun demikian, hasil banyak penelitian menunjukkan bahwa salah satu penyebab utama mewabahnya fenomena stunting adalah rendahnya tingkat konsumsi pangan yang bersumber dari ternak.  Gambar 1 di atas menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat konsumsi pangan bersumber dari peternakan maka semakin rendah tingkat stunting anak-anak balita di suatu negara.  Indonesia, dalam Gambar 1 tersebut, dengan tingkat konsumsi pangan yang bersumber dari peternakan hanya 10 kg per kapita lebih sedikit, menderita stunting lebih dari 30 persen. 

 Dapat dibayangkan 3 dari 10 orang anak balita kita menderita stunting. Ini merupakan tragedi di era milenial.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dengan menggunakan perspektif pertanian yang memerdekakan petani memerdekakan kita semua?

 Di sinilah terletak keterkaitan langsung antara pertanian dengan peradaban-peradaban di atasnya.  Untuk apa pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pasar saham yang glamour, atau terbangunnya gedung-gedung pencakar langit di kota-kota besar sementara itu anak-cucu kita menderita stunting? Stunting itu bukan hanya tinggi badannya di bawah normal, tetapi juga ia berkaitan dengan permasalahan lain yang menjadikan beban kompleks bangsa dan negara secara keseluruhan, termasuk di dalamnya permasalahan kognitif dan juga perkembangan tingkat kesehatan. 

 Sebagai gambaran umum untuk melengkapi penjelasan Gambar 1 di atas, kita bisa membaca artikel  Andrew Speedy dalam “Global Production and Consumption of Animal Source Foods”, paper disampaikan pada conference ‘‘Animal Source Foods and Nutrition in Developing Countries’’ yang diadakan di Washington, D.C. June 24–26, 2002.  Walaupun data yang disampaikan sudah relatif tua, tetapi kondisi sekarang juga belum banyak berubah dibandingkan dengan kondisi pada waktu makalahnya disampaikan.  Pada Tabel 1, kita dapat melihat urutan negara berdasarkan tingkat konsumsi daging, susu, telur dan ikan. Uruguay menempati posisi pertama di atas Amerika Serikat dengan tingkat konsumsi daging, susu, telur dan ikan masing-masing 126.5, 131.6 dan 9.3, dan 8.6 kg per tahun.  Sementara itu, tingkat konsumsi daging, susu, telur dan ikan Indonesia masing-masing adalah 9.4, 3.2, 2, dan 22 kg per tahun.

Dengan pola konsumsi pangan di atas, Uruguay sebagai negara berkembang ternyata sudah mampu mencapai Global Hunger Index (GHI) pada 2019 sama dengan negara maju, yaitu nilai GHI Uruguay kurang dari 5.0.  Anak-anak balita Uruguay yang mengalami stunting, sebagai salah satu variabel penentu GHI, dapat dikatakan sudah berada pada posisi sangat minimal.  Sementara itu, GHI Indonesia pada 2019 masih bernilai 20.1 atau berstatus kelaparan serius.  Dalam tempo 19 tahun, ternyata nilai GHI Indonesia berkurang hanya 5.7 poin atau rata-rata per tahun hanya menurun 0.3 poin.  Artinya, untuk menurunkan nilai GHI Indonesia dari 20.1 ke  5.0 dengan laju penurunan 0.3 poin per tahun diperlukan waktu sekitar 50 tahun atau lebih.

Perbandingan GHI antar-negara yang sangat menarik adalah perbandingan antara GHI Indonesia dengan GHI Ukraina.  Apa yang membuat ceritera kedua negara ini sangat menarik? Tingkat pendapatan per kapita Ukraina adalah lebih rendah daripada tingkat pendapatan per kapita Indonesia.  Pendapatan per kapita Indonesia pada 2018 adalah USD 3871 dan pendapatan per kapita Ukraina adalah USD 3113. 

Jadi, pendapatan per kapita Indonesia 24.3 persen lebih tinggi daripada pendapatan per kapita Ukraina.  Namun demikian, nilai GHI Indonesia masih berada pada tingkat 20.1 sedangkan nilai GHI Ukraina sudah kurang dari 5.0, artinya diukur oleh GHI ini Ukraina, seperti halnya, Uruguay sudah mencapai tingkatan sama dengan GHI negara maju.  Mengapa demikian? Salah satu faktor pentingnya adalah perbedaan tingkat konsumsi sumber makanan yang berasal dari peternakan.  Tingkat konsumsi daging, susu, telur, dan ikan di Ukraina masing-masing adalah 32.4, 150.4, 9.6 dan 9.6 kg per kapita per tahun (Speedy, 2002).  Perlu dicatat bahwa Ukraina mampu menurunkan GHI dari 13.7 menjadi kurang dari 5.0 hanya dalam tempo 5 tahun.

Dari uraian di atas kita dapat melihat adanya dua persoalan besar yang dihadapi Indonesia sehingga kita belum bisa mencapai indikator GHI seperti yang telah dicapai Ukraina atau Uruguay (terdapat 17 negara berkembang yang telah mampu mencapai GHI sama dengan negara maju). 

Pertama adalah belum terwujudnya komplementaritas, suplementaritas dan sinergi antara kebijakan pembangunan pertanian dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia seperti halnya diperlihatkan oleh tingginya kasus stunting atau lambannya penurunan GHI Indonesia.  Kedua, bersamaan dengan hal tersebut adalah belum berkembangnya lembaga atau institusi yang bergerak secara khusus dan bersifat revolusioner dalam perbaikan gizi keluarga, khususnya keluarga miskin di perdesaan dan perkotaan.  

Kalau kita dalami inti kebijakan pembangunan pertanian kita hingga saat ini adalah tergambar dalam ungkapan, misalnya, intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi; atau dalam tujuan untuk mencapai suatu status produksi seperti swasembada padi, jagung dan kedelai.  Tampak bahwa dalam ungkapan tersebut orientasi pembangunan pertanian lebih bersifat pada pencapaian produksi dari komoditas tertentu.  Tentu saja pendekatan fungsi produksi tersebut tidak keliru, hanya saja masih ada yang belum tersambung dengan kebutuhan konsumen untuk mencapai tingkat kualitas sumberdaya manusia yang memadai sebagaimana, misalnya, diukur oleh GHI. 

Pendekatan fungsi produksi tersebut lebih didasari oleh landasan pemikiran yang bersifat teknikal produksi pertanian.  Apabila landasan pemikirannya diubah, misalnya, tujuan untuk mengatasi stunting, child wasting, infant mortality rate atau kurang gizi, sebagai kriteria untuk alokasi sumberdaya yang tersedia maka prioritas pertama adalah alokasi sumberdaya untuk menggerakkan semua elemen pembangunan dengan prioritas memperoduksi hasil-hasil peternakan dan perikanan sebagai sumber protein hewani dan produk peternakan/perikanan lainnya; kemudian alokasi berikutnya adalah untuk menghasilkan karbohidrat (energi) dari beragam jenis komoditas yang melimpah.  Bersamaan dengan hal tersebut juga produk hortikultura yang sehat atau aman dari pestisida dikembangkan. 

Dengan cara pandang ini kita mencoba membuat bidang integrasi antara aspek produksi dan aspek konsumsi sekaligus.  Bidang integral tersebut menjadi sasaran dan common denominator seluruh pihak terkait dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia.

Aspek kedua yang perlu dibangun adalah “dapur” dari proses pangan menjadi gizi atau nutrisi.  Pertanian ada di ladang dan kandang; pangan ada di dapur dan meja makan; sedangkan nutrisi lah yang masuk ke dalam tubuh manusia.  Dalam hubungan ini, Prof. Sajogyo dan Prof. Pudjiwati Sajogyo sejak awal 1970-an telah memiliki andil besar yaitu telah meletakkan dasar-dasar Usaha Perbaikan Gizi Keluarga dan Peranan Wanita dalam Keluarga, Rumah Tangga dan Masyarakat yang Lebih Luas di Pedesaan Jawa, khususnya bagi kalangan miskin baik di perdesaan dan perkotaan. 

Dalam mengatasi permasalahan betapa lemahnya kemampuan kita dalam mengatasi permasalahan semacam stunting, kita perlu menelaah kembali warisan Taman Gizi Sajogyo, misalnya.  Banyak warisan sejarah dalam bidang keilmuan dan praktek untuk mengatasi permasalahan yang membelenggu kita dewasa ini yang fondasinya telah diletakkan oleh para pendahulu kita.  Kita perlu menggalinya kembali lagi.

Sebelum beras, ikan dan daging ada di dapur, padi ditanam di sawah-ladang, ikan diperihara di kolam, tambak atau ditangkap di laut, dan daging masih menjadi ayam, domba atau sapi dipelihara di kandang-kandang, maka semua itu dinamakan pertanian, perikanan atau peternakan.  Semua itu tak akan sampai di dapur atau di meja makan, apabila petani dan peternaknya berhenti berproduksi, karena kehidupan pertanian/peternakan/perikanan menjadi semakin sulit.  Akibatnya stunting atau GHI tetap tinggi.  Karena itulah kemerdekaan bagi petani kemerdekaan bagi kita semua.

Merdeka!