.: News Detail :.
Kisah Buram dari Bavaria
14 September 2010

  • Kisah Buram dari Bavaria

    <!--foto-->

    TIGA puluh karyawan Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) bergerombol di depan kantor pusat perusahaan di Jalan Falatehan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin pagi pekan lalu. Sambil memegang spanduk biru dan putih, mereka berteriak lantang mengikuti komando seorang karyawan yang berorasi menggunakan pengeras suara. Belasan polisi dari Kepolisian Daerah Metro Jaya dan lima petugas satuan keamanan perusahaan hanya berjaga-jaga dari kejauhan.

    Pengunjuk rasa mengusung sejumlah isu sensitif. Mereka mendesak perbaikan kesejahteraan, peningkatan kinerja perusahaan, disharmonisasi direksi, hingga dugaan hubungan kedekatan makelar barang dan jasa dengan salah seorang pejabat di bagian logistik.

    Aksi tak berhenti di situ. Tiga hari kemudian, tujuh orang perwakilan Serikat Pekerja Peruri Bersatu mendatangi Deputi Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, Agus Pakpahan, di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. "Kami minta kementerian menyelesaikan masalah itu agar perusahaan tidak terganggu," kata penasihat Serikat Pekerja Peruri Bersatu, Fatah, kepada Tempo di Jakarta pekan lalu.

    Salah satu isu tentang pengadaan barang dan jasa di Peruri ternyata sudah ramai diberitakan di pelbagai media Jerman. Sejak Maret lalu, media terkemuka di negeri itu, seperti majalah Der Spiegel, harian Die Welt, dan koran Suddeutschezeitung, ramai-ramai melansir dugaan penyuapan oleh Ferrostaal AG kepada mitranya di Portugal, Venezuela, dan juga di Indonesia.

    Modusnya belum jelas. Tapi, menurut sejumlah media itu, pejabat Ferrostaal diduga memberikan pelicin-schmiergeld dalam bahasa Jerman-senilai 240 juta euro (sekitar Rp 3 triliun) agar mulus mendapatkan proyek dari mitra-mitranya. Kejaksaan dan polisi Jerman telah menahan Direktur Ferrostaal, Klaus Lesker. Suddeutschezeitung melansir, kasus Ferrostaal ini akan menyeret Giesecke & Devrient GmbH (G&D), yang punya banyak proyek pencetakan uang di Indonesia.

    l l l

    Giesecke & Devrient merupakan perusahaan pencetakan uang yang sebagian sahamnya dimiliki pemerintah Jerman. Perusahaan berbasis di Muenchen ini juga produsen mesin sortasi uang nomor wahid di dunia. Mesin sortirnya banyak digunakan bank sentral di dunia, termasuk Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat. Giesecke & Devrient punya anak perusahaan yang memproduksi kertas uang (bank note) bernama Louisenthal. Perusahaan ini satu dari delapan produsen kertas uang terbesar di dunia.

    Selama bertahun-tahun, Giesecke & Devrient telah memasok mesin sortasi dan kertas uang ke Bank Indonesia dan juga Peruri. Giesecke & Devrient tidak memiliki perwakilan di Indonesia. Dalam berhubungan dengan dua lembaga ini, perusahaan yang berdiri pada 1852 ini biasanya menggunakan jasa MAN Ferrostaal Indonesia sebagai perwakilan atau agen. Di Jakarta, Ferrostaal Indonesia dipimpin oleh Michael Groos.

    Sumber Tempo di Peruri mengungkapkan, saat direksi lama Peruri menjabat, Michael Groos tak dilirik sama sekali. Jangan heran bila produk-produk yang diageni Ferrostaal tak pernah bisa menembus Peruri. Manajemen Peruri lebih memilih barang dan jasa yang diusung oleh seseorang berjulukan "Napoleon". Sang Napoleon berhasil membantu Koenig & Bauer Aktiengesellschaft-Giori, produsen mesin cetak uang asal Swiss, menjual satu lini mesin cetak uang ke Peruri pada 2006. Dia juga berhasil memperantarai penjualan tinta uang Sicpa Group-produsen tinta uang terbesar di dunia yang berkantor pusat di Lausanne, Swiss, satu kota dengan Giori.

    Kiprah Napoleon di Peruri berakhir setelah terjadi pergantian direksi Peruri pada 2008. Saat itu Junino Jahja menjadi Direktur Utama Peruri. Sumber Tempo tadi mengatakan, giliran Groos dan Ferrostaal yang berjaya. Warga negara Jerman yang sudah lama menetap di Indonesia ini dekat dengan pejabat di bagian logistik dan pengadaan barang Peruri.

    Salah satu keberhasilan Groos dan Ferrostaal adalah mengegolkan penggunaan kertas uang Louisenthal ketika Peruri menang tender pencetakan uang kertas Nepal tahun lalu. Semula Peruri akan menggunakan seluruh kertas uang produksi PT Pura Barutama, produsen kertas sekuriti di Kudus, Jawa Tengah, untuk mencetak uang Nepal. Tapi rencana ini berubah. Peruri akhirnya menggunakan separuh kertas uang dari Louisenthal dan sisanya kertas uang dari Pura. "Itulah berkat Groos," ujarnya (lihat "Artha Yasa di Kaki Himalaya").

    Dengan bantuan Ferrostaal juga, Giesecke & Devrient hampir berhasil mendapat proyek besar lain di Peruri. Kisahnya bermula dari keinginan Peruri membeli satu unit mesin sortasi uang dari Giesecke & Devrient. Perusahaan itu menawarkan mesin seharga US$ 7 juta (sekitar Rp 65 miliar). Tapi, kata sumber Tempo, rencana itu batal lantaran Kementerian Badan Usaha Milik Negara mendapat laporan bahwa Bank Indonesia pernah membeli mesin sortir uang sejenis dari Giesecke & Devrient dengan harga hanya US$ 1,2 juta (sekitar Rp 11,2 miliar).

    Kementerian Badan Usaha Milik Negara juga telah mendengar ribut-ribut di Jerman. Khawatir masalah Ferrostaal dan Giesecke & Devrient merembet ke lingkungan perusahaan negara, akhirnya, kata dia, "Kementerian meminta Peruri mengkaji ulang rencana pembelian mesin sortasi ini."

    Menurut Agus Pakpahan kepada Tempo, bila pengadaan mesin sortasi uang sudah sesuai dengan rencana anggaran kerja perusahaan, Peruri sebenarnya bisa segera melaksanakannya. Tapi, lantaran ada ribut-ribut di Jerman, Peruri memang sebaiknya mengecek ulang pemasok mesin tersebut. "Jangan sampai ada masalah yang merembet ke sini," ujarnya.

    Junino mengakui, Peruri telah menunda rencana pembelian mesin sortasi uang dari Giesecke & Devrient. Alasannya, spesifikasi alat yang dibutuhkan tak sesuai dan harganya kemahalan. "Kami perlu yang sederhana saja," katanya. Junino justru lega Peruri menunda pembelian mesin sortasi uang itu karena Giesecke & Devrient dan Ferrostaal sedang tersandung masalah di negerinya. "Untunglah kami tak jadi," katanya kepada Tempo di Jakarta pekan lalu.

    Bagaimana dengan penggunaan kertas dari Louisenthal? Junino menegaskan bahwa tak ada yang salah dengan pilihan itu. "Mereka menang tender yang kami gelar," ujarnya. Penggunaan kertas uang dari Louisenthal, kata dia, semata-mata untuk cadangan dan mengantisipasi kemungkinan fitur keamanan kertas dari Pura belum lengkap.

    Junino meyakinkan tak ada lagi calo-caloan di Peruri. Mantan Direktur Intelijen Komisi Pemberantasan Korupsi itu mengatakan, memang pernah mendengar adanya tokoh Napoleon di Peruri. "Orang menyebut dia direksi keenam," ujarnya sambil tertawa. Kini, kata dia, Napoleon-Napoleon lain sudah tidak ada lagi di Peruri karena manajemen baru menginginkan pengadaan barang dan jasa dilakukan secara transparan dan sesuai dengan aturan. "Kami berhubungan langsung dengan produsen," katanya.

    Kepala Divisi Pengadaan Peruri Achmad Karunia juga menampik kedekatan salah seorang petinggi di bagian logistik dengan Groos membuatnya bisa memasok bahan baku ke Peruri. "Dia hanya memasok kertas uang untuk proyek di Nepal, itu pun dengan tender," ujarnya. Achmad menegaskan bahwa divisi logistik tak pernah menerima pelicin dari Ferrostaal atau Giesecke & Devrient. "Kalau Giesecke & Devrient memberikan komisi ke Ferrostaal, itu urusan mereka," katanya.

    l l l

    Jejak Ferrostaal dan Giesecke & Devrient juga terlihat di Bank Indonesia. Menurut sumber Tempo, Bank Indonesia pernah menggunakan kertas dari Louisenthal sebagai bahan baku pencetakan uang kertas. Anak perusahaan Giesecke & Devrient tersebut telah menjadi salah satu pemasok utama kertas uang ke Bank Indonesia.

    Bank Indonesia juga memesan mesin sortasi uang dari Giesecke & Devrient. Kebon Sirih-sebutan untuk Bank Indonesia-telah membeli mesin-mesin pemisah uang tersebut. "Nilainya jutaan euro," katanya. Ferrostaal, ujar dia, juga membantu Giesecke & Devrient masuk ke Bank Indonesia.

    Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Rochadi, dalam jawaban tertulisnya kepada Tempo menjelaskan, sejak 1998, Bank Indonesia memang telah membeli 53 unit mesin sortasi uang dari Giesecke & Devrient. Tapi Budi membantah membeli lewat Ferrostaal. "Kami membeli lewat agen lokal PT Startek Data System," tuturnya. Giesecke & Devrient, kata Budi, hanyalah salah satu produsen mesin sortir uang yang dipakai Bank Indonesia. Bank sentral membeli mesin sejenis dari De La Rue, Glory (Jepang), dan Toshiba (Jepang).

    Namun Budi membenarkan bahwa Bank Indonesia menggunakan kertas Louisenthal sejak 1990-an lantaran memenuhi syarat administrasi dan teknis. Namun, kata dia, "Kami tidak berhubungan dengan Ferrostaal, tapi langsung membeli dari Louisenthal." Selain dari Louisenthal, Bank Indonesia menggunakan kertas dari Amerika Serikat, Prancis, Belanda, Swedia, Italia, Inggris, Spanyol, Slovenia, Korea Selatan, Rusia, dan Indonesia.

    Adapun Groos menolak permintaan wawancara Tempo dengan alasan kejaksaan Jerman sedang menyelidiki kasus Ferrostaal. "Saya hanya bisa memastikan tidak ada masalah di Indonesia," ujarnya. Pemimpin Eksekutif Ferrostaal, Matthias Mitscherlich, membantah Ferrostaal telah melakukan suap di sejumlah negara. "Itu bukan suap, melainkan honor bagi mereka yang sudah berjasa memberikan input bisnis," katanya kepada media bisnis online Der Westen.

    Kasus ini membuat Ferrostaal dan Giesecke & Devrient kelimpungan. Mereka harus terbang ke Jakarta untuk meminta surat keterangan bersih. "Dua minggu lalu, pejabat tinggi Giesecke & Devrient mendatangi kami dan meminta surat klarifikasi tak pernah berbisnis langsung dengan Peruri," ujar Junino. "Groos juga sempat ketemu saya, meminta surat yang sama." Mantan Direktur Indosat itu tak khawatir persoalan yang menimpa perusahaan dari Bavaria itu menyeret Peruri. "Kami tak pernah melakukan perbuatan tercela," katanya. Jadi siapa yang akan kena getahnya?

    Padjar Iswara, Fery Firmansyah, Yandhrie Arvian (Jakarta), Tutty Baumeister (Frankfurt)