.: Article :.
‹ First  < 5 6 7
11 Februari 2010

Sejarah pangan sama lamanya dengan sejarah umat manusia itu sediri. Mulai dari berburu, meramu, perladangan berpindah hingga pertanian menetap (agriculture) dan pertanian modern sebagaimana yang berkembang saat ini merupakan proses evolusi segala upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Lowdermilk (1948) bahkan menunjukkan bahwa dalam proses pencarian upaya pemenuhan kebutuhan pangan itu, manusia bukan hanya mendapatkan sumber pangan tetapi juga meninggalkan berbagai jenis kerusakan alam seperti gurun pasir atau kota mati.

10 Februari 2010

Pertanian Indonesia bercorak pertanian gurem. Pertanian yang berlandaskan pada luas areal usahatani yang terlalu sempit untuk dikatakan sebagai lahan usahatani yang pantas digarap petani. Dengan luas lahan usahatani rata-rata 0.2 ha per petani atau seluas seperlima lapangan sepak bola, maka sudah dapat dibayangkan berapa banyak produksi per petani yang dapat dihasilkan. Apabila petani menanam padi, maka hasilnya sekitar satu ton gabah atau 600 kg beras apabila hasil per hektar mencapai 5 ton dan rendemen dari gabah ke beras 60 %. Dengan anak dua orang dan seorang istri, maka rumahtangga tersebut membutuhkan beras sekitar 480 kg per tahun. Kelebihan beras 120 kg adalah surplus dengan nilai rupiah sekitar Rp 420 ribu. Jadi, apabila satu musim tanam sekitar 4 bulan, maka pendapatan petani per bulan adalah sekitar Rp 105 ribu. Apabila kebutuhan belanja per hari Rp 5000, maka diperlukan Rp 150 ribu per bulan, sehingga rumah tangga tani tersebut akan kekurangan anggaran belanja sekitar Rp 45 ribu per bulan. Dengan upah kerja di desa Rp 15 ribu per hari, maka dalam satu bulan diperlukan minimal 3 hari kerja apabila rumahtangga tani tersebut ingin memenuhi kebutuhan anggaran belanja rumah tangganya.

07 Februari 2010

Buku ini merupakan hasil karya tulis Prof. Dr. Totok Mardikanto, sebagai hasil pemikiran dan pengalamannya dalam proses pemberdayaan masyarakat petani pada khususnya dan ekonomi perdesaan pada umumnya. Diberi judul Badan Usaha Milik Petani (BUMP) karena buku ini berisikan hasil awal dari konsep yang kami kembangkan selama kurang lebih 10 tahun terakhir, yaitu pada saat kami mendapatkan amanah Direktur Jendral Perkebunan, Departemen Pertanian, antara tahun 1998-2002. Pada masa itu kami menamakannya “Corporate Community” yaitu perusahaan milik komunitas/masyarakat. Bersamaan dengan konsep tersebut juga dikembangkan apa yang biasa dinamakan KIMBUN singkatan dari Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan. Lahirnya Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTRI) dan asosiasi-asosiasi petani perkebunan lainnya merupakan keluaran dari konsep Corporate Community dan KIMBUN ini.

07 Februari 2010

Tulisan ini disusun dengan maksud untuk menyampaikan pandangan bahwa sumber kesulitan kita dalam membangun ekonomi pertanian, perdesaan atau bahkan ekonomi nasional secara keseluruhan adalah betapa beratnya kita harus mengatasi beban yang diakibatkan oleh bekerjanya hukum uang. Yang dimaksud dengan hukum uang adalah bekerjanya formula bunga-berbunga (compounding interest rate) dari ciptaan manusia yang dinamakan uang. Formula ini menghasilkan model pertumbuhan yang sifatnya eksponensial, sebaliknya sektor riil biasanya bertumbuh mengikuti model logarithmik. Divergensi dari ke dua hukum inilah apabila makin melebar akan menyebabkan depresi ekonomi terjadi.

06 Februari 2010

Let us first acknowledge our ancestors who had given us open-ended opportunities to gain benefits from natural rubber (NR). Mayan and Aztec could be the oldest culture that used NR not only for household-economics purpose but also for sports and rituals. The Latin name of NR, Hevea brasiliensis, by itself shows that the origin of NR is not from Asia or Europe, but from Brazil. Now, NR is becoming one of strategic commodities in mainly Asian countries. In fact, Indonesia, Malaysia and Thailand are three major rubber exporting countries in the world market. How come?

‹ First  < 5 6 7