.: News :.
 1 2 3 >  Last ›
02 Desember 2014

Kamis, 20 November 2014, 11:00 WIB

Ada gula ada semut, sebuah ungkapan yang lazim dikenal. Tapi, di lingkungan perkebunan tebu tertua di Provinsi Lampung, ungkapan ini akan berubah menjadi ada gula ada lalat. 

Ya, kehadiran lalat di tempat ini memberikan manfaat tersendiri bagi kelangsungan hidup perusahaan perkebunan tebu milik PT Gunung Madu Plantation (GMP). Lalat adalah hewan yang identik dengan sampah. Masalah sampah menjadi masalah utama perkotaan di berbagai negara, termasuk Indonesia. 

Kehadiran sampah erat kaitannya dengan munculnya aroma tak sedap serta kehadiran lalat. Sebagian besar orang tentu jijik jika melihat lalat. Apalagi, saat bersarang di kumpulan sampah organik dan anorganik. Fenomena ada sampah ada lalat inilah yang  membuat mantan Dirjen Bina Perkebunan Departemen Pertanian Agus Pakpahan terinspirasi melakukan penelitian sampah dan lalat. 

Lalat hitam (Hermetia Illucens) menjadi fokus penelitiannya. Ia menjadikan kehadiran lalat di hamparan sampah yang teronggok menjadi karunia. Demi lalat, ia menyisihkan waktu berburu berbagai teferensi ke berbagai negara. "Saya ke luar negeri, tujuannya ke toko buku cari buku tentang lalat,'' kata Agus. 

Alumnus IPB Jurusan Studi Manajemen Hutan 1978 ini menceritakan, ia menemukan inspirasi setelah menelaah buku berjudul Flies karya Stephen A Marshall. Istilah yang tepat untuk jenis lalat tropis pengurai sampah pun ditemukannya, yakni black soldiers fly (BSF) atau tentara lalat hitam. ''Tentara lalat hitam menjadi panglima di tumpukan sampah," ujarnya.

Lalu, dipilihlah ladang penelitian pengolahan limbah sampah rumah tangga dan kebun menggunakan BSF di area perkebunan tebu milik PT GMP. Perkebunan yang berada sekitar 90 kilometer dari Kota Bandar Lampung ini merupakan perkebunan tebu dan pabrik gula tertua di Lampung. 

Setelah 30 tahun berproduksi, GMP saat ini mengelola lahan seluas 35 ribu hektare. Luas kebun produksinya 25 ribu hektare. Perusahaan ini mempekerjakan 1.800 pegawai dan memiliki 1.700 unit rumah dinas karyawan di areal tersebut. 

Maka, tak heran jika kehadiran limbah sampah rumah tangga dan pabrik di sekitar perkebunan menjadi masalah tersendiri di perusahaan ini. Dari situlah, Agus berinovasi. Agus kemudian memanfaatkan lahan seluas kurang dari setengah hektare di pinggir kebun tebu. Ia mendirikan rumah biokonversi BSF. Rumah biokonversi BSF ini diklaim sebagai yang pertama di Indonesia. 

Menurutnya, BSF dalam mengolah limbah sampah dapat menghasilkan rupiah yang sangat besar. Tentu saja, bila berkembang ke depan. Karena selain mengurai sampah, sarana yang diciptakanya juga menghasilkan pupuk untuk tanaman dan sumber protein tinggi bagi pakan ternak. 

Hasil olahan BSF, Agus mengatakan, memiliki kandungan protein larva mencapai 45 persen, lemak 35 persen, serta asam aminonya lengkap. Selain itu, BSF juga mengandung zat kitin yang baik untuk pupuk. Sisa larva BSF pun bisa dikembangkan menjadi bahan baku untuk komestik kulit. 

Proses penguraian limbah sampah oleh BSF berlangsung dalam dekomposer. Agus mengatakan, telur yang menjadi larva lalat atau magot menjadi unsur penghancur utama. Waktu yang dibutuhkan pun cukup singkat, sekitar 30 hari. 

Selama proses ini berlangsung, Agus mengatakan, tidak akan menimbulkan penyakit bagi manusia dan hewan. Selain itu, juga tidak menghasilkan limbah baru. "Pengolahan sampai dengan BSF 80 sampah tereduksi dan 20 persen menjadi manfaat. Ini zero waste," katanya menegaskan.

Kehadiran BSF, Agus mengatakan, dapat menjadi salah satu solusi mengatasi limbah sampah. Menurutnya, seekor lalat betina bisa menghasilkan telur hingga 500 butir. Setidaknya, dalam satu kali siklus kehidupan seekor lalat dalam sebulan, dari 2,5 kilogram sampah ia bisa menghasilkan 62,5 juta telur lalat. 

Sumber protein yang bisa menjadi pakan dari lalat ini terdapat pada fase larva. Menurutnya, pakan yang dihasilkan bila diberikan ke ayam dan ikan kemudian dimakan oleh manusia, kelak bisa menghasilkan orang-orang yang cerdas. 

Agus sendiri menekuni bidang budi daya lalat hitam ini selama empat tahun. Dan, yang terlama ditelitinya adalah perkawinan lalat. ''Ternyata, lalat itu kawin di udara pada siang hari,'' ujarnya. 

Yang menjadi masalah, Agus mengatakan, adalah perilaku masyarakat yang membuang sampah. Menurutnya, masyarakat perlu diberi edukasi agar bisa memilah sampah organik dan anorganik. Bila ada yang membuang sampah sebanyak satu kilogram, maka akan menghasilkan 100 ribu ekor lalat bertebaran. 

Ia berharap, bila biokonversi BSF ini terus berkembang, lalat hitam akan menghasilkan rupiah. Di sisi lain, sampah yang selama ini menjadi momok perkotaan bisa teratasi. 

Memberi keuntungan 
Pengolahan lalat sampah di areal perkebunan ini memberi keuntungan tersendiri bagi PT GMP. Setidaknya, ada dua keuntungan yang didapatkannya, yakni selain sebagai pupuk untuk kebun tebunya, juga untuk pakan ternak ayam dan ikan.

Manajer Pelayanan Bisnis dan Keuangan PT GMP Gunamarwan mengakui, selain mengurus kebun, koperasi GMP juga sekarang bergerak di peternakan ayam dan ikan. ''Karena pakan ternaknya tersedia di kebun sendiri,'' ujarnya.

Bagi PT GMP, kehadiran pupuk hasil olahan BSF yang baru berjalan sejak 5 September akan meningkatkan produksi kebunnya. Selain itu, kualitas lahan kebun pun akan menjadi kuat. 

Menurut Gunawarman, tingkat produksi kini mencapai rata-rata 2,0 juta ton tebu dan sekitar 180 ribu ton gula per tahun. "Sebagian dari kelebihan ampas kemudian dicampur blotong atau buangan dari stasiun penjernihan nira. Selanjutnya, diolah di biokonversi BSF ini," katanya.

Setelah limbah sampah rumah tangga dan pabrik, pihaknya juga sudah mengambil sampah dari TPA Metro dan Bandarjaya. Pengambilan sampah di dua TPA itu bertujuan melihat perbandingannya untuk diolah menjadi BSF.

Ia mengatakan, uji coba pengolahan limbah sampah organik rumah tangga ini sudah dilakukan sejak 28 April. Dan, hingga pertengahan November, sampah organik dari 300 rumah karyawan GMP sudah diolah dengan memanfaatkan pasukan 'tentara lalat hitam' .

PT GMP Lampung Gunawarman menjelaskan, dalam sekali panen mampu menghasilkan 80 ribu ton blotong. Blotong tersebut jika sudah diurai oleh BSF dapat memperbaiki lahan kebun. Menurutnya, hasil uji coba metoda biokonversi BSF terbukti mampu meningkatkan kandungan nitrogen (tanah) yang semula 0,2 meningkat menjadi 1,2 persen. Selain itu, tanah menjadi lebih gembur dan lapisan olahan yang semula 10 cm berubah menjadi 14 cm. 

rep: mursalin yasland 

ed: andi nur aminah

[...]

06 November 2014

Setelah tidak menjabat sebagai Deputi Bidang Agroindustri di Kementerian BUMN, Agus memiliki lebih banyak waktu untuk meneliti lalat. “Saya ini juga aneh. Latar belakang pendidikan saya manajemen sumber daya alam, tapi sekarang malah meneliti lalat,” katanya, sembari terkekeh.

[...]

06 November 2014

Setelah tidak menjabat deputi bidang agroindustri di Kementerian BUMN, Agus memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan penelitian. ”Mungkin saya ini termasuk aneh. Sebab, latar belakang pendidikan saya manajemen sumber daya alam, tapi sekarang malah meneliti lalat,” katanya ketika ditemui Jawa Pos Radar Jember di rumahnya di Jakarta pertengahan bulan lalu.

[...]

23 April 2011

PUPUK
Lagi, Petani Dikorbankan

Erlangga Djumena | Selasa, 19 April 2011 | 09:13 WIB

KOMPAS.com — Di tengah "tangisan" petani akibat meluasnya serangan hama penyakit dan gagal panen, PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) berencana menstandardisasi pupuk majemuk atau nitrogen, fosfat, dan kalium (NPK).

Gebrakan baru induk perusahaan pupuk badan usaha milik negara (BUMN)—yang baru efektif sebagai holding pada Januari 2011—membuat petani dan kalangan pengusaha pupuk NPK blending (aduk) terenyak. Pasalnya, standardisasi pupuk majemuk bakal menghapus keberadaan pupuk NPK aduk dan menggantinya dengan NPK granula produksi PT Petrokimia Gresik bermerek Phonska.

Pupuk NPK lahir tahun sekitar tahun 2000. Pupuk NPK diciptakan sebagai solusi dalam menekan penggunaan pupuk tunggal urea. Bukan rahasia lagi bahwa penggunaan urea oleh petani berlebihan. Untuk menekannya, PT Petrokimia Gresik mengeluarkan jenis pupuk baru bernama Phonska.

Agar penurunan penggunaan urea lebih nyata, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian tahun 2006 mengeluarkan rekomendasi pemupukan urea.

Seiring dengan itu, pada masa Deputi Agroindustri, Kehutanan, Kertas, Percetakan, dan Penerbitan Kementerian BUMN dijabat Agus Pakpahan, muncul kebijakan lain meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan pupuk urea.

Pilihannya meningkatkan penggunaan pupuk NPK (majemuk) yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal dan dibuat dengan teknologi aduk. NPK aduk diproduksi PT Pupuk Kujang dan PT Pupuk Kaltim. Sebagian dikerjasamakan dengan pengusaha lokal.

Mengapa BUMN memilih NPK aduk? Pertama, karena pupuk NPK aduk teknologinya sederhana. Tiga jenis pupuk tunggal, yakni urea, fosfat, dan kalium, diaduk menjadi satu menggunakan mesin pengaduk sederhana. Komposisinya disesuaikan kebutuhan lokal.

Kedua, tidak perlu investasi besar karena teknologinya sederhana sehingga dapat mendorong tumbuhnya industri pupuk skala kecil di sentra-sentra produksi pangan. Sekadar gambaran, investasi satu pabrik pupuk NPK granula setara membangun pabrik NPK aduk di seluruh Indonesia.

Ketiga, karena teknologinya sederhana, mesin aduk bisa dibuat di dalam negeri. Ini dapat mendorong tumbuhnya industri pendukung. Hal itu berbeda dengan NPK granula yang mesinnya harus diimpor.

Yang juga tak kalah penting, menyebarnya industri pupuk NPK aduk di sentra-sentra produksi pangan memudahkan distribusi pupuk. Kawasan padi 100.000 hektar perlu satu pabrik pupuk NPK aduk. Kelangkaan pupuk akibat masalah distribusi bisa dihindari.

Silang pendapat boleh saja terjadi, tetapi di atas segalanya adalah kepentingan petani mengingat mereka konsumen. Sebagai konsumen, petani berhak memilih produk terbaik yang akan digunakan. Dengan standardisasi, hak petani untuk memilih sudah dirampas industri pupuk.

Apalagi kalau produk tersebut akan berdampak langsung pada penghasilan petani. Untuk menanam komoditas tanaman pangan, seperti padi, jagung, dan kedelai, petani mengeluarkan biaya sendiri, bukan dari industri pupuk.

Apakah kalau produksi gagal, industri pupuk yang bakal mengganti biaya produksi. Apakah kalau produktivitas turun, industri pupuk bakal menutupi defisit pendapatan petani?

Dalam situasi iklim tak bersahabat, pemerintah seharusnya bisa meringankan beban petani. (HERMAS E PRABOWO)

 

sumber :

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/04/19/09135960/Lagi.Petani.Dikorbankan

[...]

14 September 2010

Menurut Agus Pakpahan kepada Tempo, bila pengadaan mesin sortasi uang sudah sesuai dengan rencana anggaran kerja perusahaan, Peruri sebenarnya bisa segera melaksanakannya. Tapi, lantaran ada ribut-ribut di Jerman, Peruri memang sebaiknya mengecek ulang pemasok mesin tersebut. "Jangan sampai ada masalah yang merembet ke sini," ujarnya.

[...]

 1 2 3 >  Last ›