Detail Berita

Industri Gula Dalam Negeri Mutlak Ditata Ulang

15 February 2010

Senin, 28 Mei 07

Penataan ulang atau re-desain industri gula dalam negeri mutlak dilakukan, terutama dalam hal sumber daya manusianya guna mendukung peningkatan produktivitas gula di masa mendatang.

Pernyataan itu disampaikan Deputi Bidang Agro Industri Kementerian BUMN Ir Agus Pakpahan, usai menjadi pembicara pada seminar nasional "Penataan SDM dalam Menunjang Rencana Swasembada Gula 2009" yang diadakan Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) di Surabaya, Jumat.

"Re-desain industri gula nasional mutlak dilakukan kalau kita menginginkan sebuah industri pergulaan yang kompetitif di tahun 2025 mendatang," katanya.

Agus Pakpahan menjelaskan konsep industri pergulaan nasional yang ada sekarang, merupakan peninggalan pemerintah Kolonial Belanda dan belum pernah dilakukan penataan ulang.

"Padahal kita tahu, industri gula dunia tumbuh begitu pesat dan hampir seluruh komponen dari tanaman tebu bisa dimanfaatkan untuk produksi, mulai dari gula, tetes hingga bahan bakar etanol," katanya.

"Kalau industri gula kita hanya terpaku pada apa yang ada sekarang, sudah barang tentu kita akan ketinggalan," tambahnya.

Menurut Agus Pakpahan, sumber daya manusia di industri pergulaan nasional sebenarnya sudah cukup bagus. Hal itu dibuktikan dengan terus meningkatnya produksi gula selama beberapa tahun terakhir.

Bahkan, target mencapai swasembada gula pada 2009 optimistis bisa diwujudkan, karena potensi yang ada masih belum dioptimalkan.

"Tapi tentu tidak cukup sampai disini, kualitas sumber daya manusia itu masih perlu dilipat-gandakan. Caranya, mungkin bisa dilakukan dengan membentuk sebuah lembaga pendidikan atau institut teknologi pergulaan guna mendidikan tenaga-tenaga berkualitas," ujarnya.

Gagasan membentuk institut teknologi pergulaan, lanjut Agus Pakpahan, tidak sulit direalisasikan, asalkan seluruh komponen industri gula nasional mendukung.

"Misalnya produksi gula kita sekitar 2,4 juta ton atau nominalnya setara Rp10 triliun lebih. Satu persennya saja dari angka itu sudah cukup untuk membangun sebuah lembaga pendidikan pergulaan yang berkualitas," jelasnya.

Ketua Umum Asosiasi petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) H Mohammad Arum Sabil menambahkan mewujudkan industri gula yang lebih modern dalam kaitan dengan swasembada gula, hanya dapat dilakukan kalau teknologi yang dimiliki pabrik gula juga diperbaiki.

"Tugas petani hanya memproduksi tebu dengan kualitas baik dan hasil yang melimpah. Tapi kalau tidak diikuti dengan perbaikan teknologi di pabrik gula, jelas sulit mencapai produktivitas gula yang tinggi," katanya.

Menurut Arum Sabil, tugas untuk memperbaiki teknologi pabrik gula ada di tangan PT Perkebunan Nusantara atau BUMN.

Direktur Utama PTPN X, Ir Adi Prasongko sepakat bahwa peningkatan industri gula harus dilakukan selaras antara perbaikan kualitas SDM dengan teknologi di pabrik gula.

"Kami di PTPN X juga terus berupaya meningkatkan hal itu. Untuk SDM-nya, kami secara berkala merekrut orang-orang terbaik dari perguruan tinggi ternama," ujarnya.copied/28/5/2007/KL